SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
USIA JANIN


__ADS_3

Tangan Aira dan Angga dingin, keduanya datang ke rumah sakit di temani oleh Mami Aliya, Mommy Anggun dan Diana.


Dokter khusus yang berpengalaman direkomendasikan langsung oleh Diana, selain harus bisa menjaga janin juga identitas Ai dan Angga sebagai selebriti.


Kehidupan mereka selalu menjadi perbincangan hangat, jika sampai publik tahu pasti akan heboh juga membuat media rusuh.


"Jangan tegang, santai saja." Diana merangkul Aira untuk masuk.


Senyuman Dokter terlihat, mempersilahkan duduk. Dokter menatap wajah cantik Aira yang berkali-kali lipat lebih cantik aslinya daripada yang dilihat di media, begitupun dengan suaminya.


"Sudah berapa bulan Aira?"


"Tidak tahu Dok, Ai tidak menyadarinya." Aira menceritakan jika sejak dirinya muda selalu terlambat mentruasi, sehingga tidak membuatnya terkejut.


"Kamu ada keluhan, sakit perut, mual atau ada gumpalan darah yang keluar?"


"Ada gumpalan kecil seperti kita bulanan, tapi lebih banyak bercak." Ai tidak memperhatikan detail.


Senyuman Dokter terlihat meminta Aira berbaring di ranjang, dokter mengecek kondisi Aira yang terlihat sangat baik.


Mata dokter terbelalak melihat memang ada janin, Diana juga mendekat melihat jelas janin kecil yang ada di monitor.


"Subhanallah, sudah bentuk bayi, dia jelas sekali terlihatnya." Diana ingin menyentuh monitor karena gemes.


Angga juga melihat janin yang bergerak, tanpa sadar air matanya jatuh melihat anaknya sangat kecil.


"Dokter, kenapa perut Aira sangat kecil, padahal bayi di kandungan terlihat jelas?" Mommy tidak bisa tersenyum karena masih sangat cemas.


"Nanti saya jelaskan, sejauh ini janin Aira sehat. Dan melihat dari ukurannya hampir masuk lima bulan." Dokter akan melakukan pemeriksaan lebih detail agar Aira dan keluarga tenang.


Semuanya berekspresi kaget, sudah masuk lima bulan ukuran perut Aira sangat kecil biasanya sudah membuncit besar.


Dokter memahami kecemasan Aira dan suami, tidak banyak orang yang hamil tidak terlihat bentuknya, biasanya paling jelas saat masuk delapan sembilan bulan. Meksipun berukuran kecil bukan berarti bayi tidak sehat. Ada banyak alasan kandungan berukuran kecil.


"Kenapa kita tidak merasakan seperti yang biasanya dirasakan saat pasangannya sedang hamil?"


"Kalian terlalu happy, sibuk dan santai sampai tidak memikirkan hal buruk, saya sebagai orang luar saja teduh sekali melihat pasangan selebriti yang nampak tenang." Dokter meminta Aira bangun dan duduk bersama suaminya.

__ADS_1


"Aira stres Dok, beberapa bulan ini emosi Aira mudah terpancing." Tangisan Aira terdengar karena perasaan melow.


"Itu bawaan hamil, ibu hamil sensitif, perasaan mudah sedih, bahagia, marah, kecewa. Hal yang normal dirasakan oleh beberapa ibu hamil. Kamu banyak makan tidak?"


"Aira pemakan segalanya dokter," ucap Angga.


Mata Aira langsung memicing, pukulannya mendarat langsung menangis lagi karena Angga menyebutnya rakus.


Aliya menutup mulut Aira, memintanya mendengarkan ucapan Dokter bukannya bertengkar.


Dokter menjelaskan kembali penyebab kandungan Aira kecil, tapi bukan menjadi patokan ukuran bayi kecil. Air ketuban yang sedikit juga menjadi penyebab, ukuran tinggi badan, kehamilan pertama, posisi bayi, juga usia Aira yang masih muda menyebabkan ototnya masih kuat.


Kepala Aira dan Angga mengangguk mengerti, dokter menujukkan perbedaan kehamilan agar Aira tidak stres berpikir bayinya tidak sehat.


"Syukurlah jika dia baik Dok, bayinya tidak kembar Dok?" tanya Angga.


"Melihat dari hasil USG tidak," balas Dokter.


"Kandungan Aira baik Dok, ini kasus pertama di keluarga kita padahal sudah banyak yang hamil." Aliya mengusap kepala Putrinya.


Kepala dokter mengangguk, memastikan jika janin Aira dalam keadaan baik. Dia sehat dan berkembang dengan baik.


"Terima kasih Dok, kita akan menyusahkan dokter. Mohon bantuannya." Angga menjabat tangan Dokter.


"Dokter ... emh, kira-kira boleh tidak ...."


"Boleh Aira." Diana dan Aliya langsung menutup mulut Aira agar menghentikan pertanyaan.


Diana dan Al sudah tahu apa yang dipikirkan Aira yang memiliki pikiran kotor, setiap malam menggoda suaminya. Dia tidak mungkin sanggup tidak menggangu ketenangan Blackat.


"Apa yang ingin kamu tanyakan Aira, apa kamu ingin tahu boleh tidaknya berhubungan?" Dokter langsung tertawa, diikuti oleh Aira yang tertunduk malu.


Kepala Angga dan Mommy geleng-geleng, para wanita berontak kotor. Bukan suami yang tidak bisa lama, tapi para istri yang tidak ingin berhenti.


Senyuman Aira lebar, memotret foto pertama anaknya. Hanya hitungan menit langsung heboh mencari pemberitaan soal kehamilan Aira yang dinantikan oleh jutaan penggemarnya.


"Kenapa kamu senyum licik Ai?" Aliya menatap Putrinya yang tersenyum jahil.

__ADS_1


Angga belum tahu berita yang menggemparkan dunia ulah istrinya, perusahaan saja belum tahu soal kehamilan Ai, tapi dia sudah mengumumkan secara pribadi di akun sosial medianya.


Suara panggilan di ponsel Angga terlihat, tapi sengaja diabaikan karena masih menyetir. Tidak ingin dirinya anaknya terluka Angga lebih pilih fokus sampai rumah.


"Dewa, handphone kamu berbunyi terus, panggilan dari perusahaan." Mommy yang duduk di samping Angga mengambil ponsel Putranya.


"Biarkan saja Ma, mungkin ada aktris yang membuat masalah." Angga tidak melirik sedikitpun ke arah ponselnya.


Aliya menatap Tika, aktris yang bermasalah pasti Aira yang sudah membuat rusuh soal kehamilannya.


"Ai, sementara waktu jangan dipublikasikan kehamilan kamu, nanti banyak komentar tidak baik sehingga mood kita rusak." Peringatan Angga terdengar, menbuat Aira menutup mulutnya.


"Ayang, jangan marah ya. Nanti Ayang lihat sendiri di rumah, tapi janji tidak boleh marah." Senyuman lebar Aira terlihat dia bahagia bisa membagikan foto USG anaknya.


Sampai di rumah keluarga kumpul, semuanya merasa penasaran dengan kehamilan Aira. Mereka berharap dalam keadaan baik, meksipun ada kabar tidak baik akan mensupport Aira untuk tetap kuat.


"Ayang berhenti di sini, Ai ingin mangga itu boleh?" tangan Aira menunjuk ke arah pohon.


"Masih kecil Ai, baru sebesar jempol, bagaimana kamu makannya. Nanti Mommy belikan." Mommy turun dari mobil melihat pohon mangga ada yang naik di atasnya.


"Ajun, turun sayang nanti jatuh," pinta Angga melihat Ajun mengecek sangkar burung.


"Ajun, Aunty mau satu," teriak Aira berharap Ajun mengambil mangga untuknya.


Senyuman lebar Ajun terlihat, dia berhasil mendarat dengan aman. Telapak tangan Aira terbuka, Ajun meletakkan genggaman tangannya.


Telur burung berukuran kecil terlihat di telapak tangan Aira, belum sempat Aira menyadarinya langsung dimasukkan ke dalam mulut.


"Aunty itu tidak boleh di makan," ucap Ajun kaget.


Angga membuka mulut Aira, memasukkan tangannya mencari telur yang hampir ditelan, Mommy dan Mami sampai panik teriak-teriak melihat Ai memakannya.


"Kenapa kamu makan?" Angga melihat telur burung di tangannya.


"Aira pikir mangga," balas Aira kaget melihat telur yang hampir pecah.


Ajun garuk-garuk kepala nyengir tidak merasa bersalah, dia pikir Aira menginginkan telur burung.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2