
Mata Black terbuka, melihat cahaya silau dari jendela yang sudah terbuka gordennya. Tubuh Black masih sakit semua menatap obat yang berhamburan sudah dibersihkan.
"Lang, Gilang," panggil Black menatap pintu.
Mata Black terbelalak melihat Aira muncul dari balik pintu meggunakan baju mandi, rambutnya masih basah tergerai.
"Good morning,"
"Kenapa kamu ada di sini?" Blackat tidak nyaman dengan penampilan Aira yang sangat minim.
"Ayo kita ke rumah sakit, kamu harus melakukan pemeriksaan." Ai duduk di pinggir ranjang menatap Blackat yang memegang dadanya.
Tidak ada yang Ai tutupi, Diana sudah memberikan peringatan jika kondisi Black tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dia harus melakukan pengobatan secara bertahap.
Senyuman Black terlihat, dia tidak akan melakukannya. Berapa lama waktu dirinya hidup tidak masalah bagi Blackat, dia tidak akan pernah melakukan operasi.
"Harapan hidup kecil, jika aku mati di meja operasi bagaimana dengan Lea? biarkan aku hidup dan bertahan selama aku bisa. Satu tahun dua tahun tidak masalah." Black menyentuh wajah Aira yang terlihat sedih.
"Lalu bagaimana dengan aku? Kenapa hanya Lea yang dicemaskan? Kakak hitam memiliki janji kepada Ai." Tangan Ai menepis kasar tangan Blackat yang menyentuhnya.
Pria dingin dihadapannya hanya mengkhawatirkan Lea, tidak memiliki alasan untuk hidup lebih lama.
"Aku akan menepati janji aku, kita lakukan sebisa kita." Black mengulurkan tangannya meminta Aira bekerja sama.
"Bisa tidak janji itu ditukar dengan pengobatan, dunia medis sekarang hebat tidak ada salahnya kita mencoba." Harapan Aira masih terlihat dia ingin Black hidup lama.
Kepala Blackat hanya bisa tertunduk, dia tidak bisa mengabulkan keinginan Aira. Blackat juga ingin hidup lama, tapi belum siap menjalani proses operasi yang membutuhkan waktu lama.
Air mata Aira menetes, jika Lea sampai tahu dia juga pasti akan menyesal tidak memohon agar Black diobati.
"Ai jangan menangis, aku lebih suka kamu marah-marah daripada menangis." Black memeluk Aira lembut, kedua tangan Aira juga mendekap sangat erat.
usapan tangan Black lembut, merasa jantungnya berdegup kencang. Mata Black juga berkedip dengan perasaannya.
Hal yang paling Blackat takuti, hatinya akan terketuk saat bersama Aira. Black tahu jika mereka tidak akan bersama, dan sangat berat bagi Blackat jika harus meninggalkan rasa sakit untuk wanita yang tersimpan di hatinya.
"Kakak hitam, ayo kita ikuti proses pengobatan,"
"Baiklah, kita lakukan setelah keadaan tenang. Aku juga masih memiliki banyak pekerjaan, saat ini masih jauh lebih baik untuk bertahan. Saat keadaan stabil, dan tidak ada hutang tanggung jawab aku akan melakukannya?"
__ADS_1
Jari kelingking Aira bersatu dengan jari kelingking Blackat, Ai tahu jika Black akan menepati janjinya.
Senyuman Black terlihat, mengusap wajah Aira yang tersenyum lebar. Mata Black tidak pernah berani menatap mata indah Aira, dia tidak ingin perasaan yang tidak seharusnya ada tumbuh.
"Kakak hitam, lihat mata Aira,"
"Kenapa? aku tidak nyaman bertatapan mata." Black memalingkan wajahnya.
Kedua tangan Aira menakup wajah Black untuk melihat ke arahnya, mata keduanya bertemu tanpa berkedip.
Jantung Aira berdegup kencang, bibir Ai mengecup bibir Blackat membuat mata Black terpejam.
"I love you,"
"Aira, kamu tidak boleh mengatakannya ...." ucapan Black tertahan karena Aira memeluknya erat.
"Itulah bedanya kakak hitam dan pria lain,"
Aira mengambil hairdryer mengeringkan rambutnya yang basah, senyuman puas membuat Blackat tidak berkutik.
Banyak pria yang mengagumi Aira, setiap hati penuh laki-laki yang menyatakan perasaan kepadanya baik dari selebriti, aktor, musisi bahkan pengusaha, tanpa orang tahu siapa Aira.
"Ai, aku tahu kamu jahil dan suka becanda, tapi jangan sentuh ...."
"Hidung ini milik Ai, bibir, mata, pipi, dagu dan kening semuanya milik Aira. Kamu milik aku Blackat, jangan macam-macam karena aku bisa saja menghancurkan kamu." Ai mengecup mata Blackat yang langsung terpejam.
"Aku laki-laki normal, dan bisa berbuat tidak sopan. Apa kamu tidak takut?"
"Coba, sejauh mana kamu berani?" Ai menantang Blackat yang langsung berdiri.
Bukan membalas Aira, Black langsung melangkah keluar kamarnya sambil mengacak-acak rambutnya.
Tawa kecil Aira terdengar, dia tahu jika Black sangat menghormati seorang wanita, dia tidak akan mengikuti nafsu semata apalagi merusak wanita.
Sekalipun Ai tidur tanpa busana, Blackat tidak mungkin melakukan apapun. Dia pasti akan melarikan diri.
"Kenapa otak aku kotor sekali? jika tidak demi harga diri sudah habis bibirnya. Keturunan siapa punya otak seperti ini? masa iya aku ingin menyerang lebih dulu." Tangan Ai tepuk jidat, heran dengan dirinya sendiri yang ketagihan mencium Blackat.
Di dapur Black sudah sibuk masak, Aira hanya duduk manis di atas meja memperhatikan saja tanpa melakukan apapun.
__ADS_1
Kedua tangan Aira melingkar di pinggang Blackat, kepalanya bersandar di dada Black merasa senang menjahili Blackat.
"Ya Tuhan! maaf maaf aku pikir Blackat sendirian." Gilang menatap Aira yang terlihat santai saja.
"Masuk saja, jangan hiraukan Aira." Black membawa makanan ke atas meja menawarkan sarapan kepada Gilang
Ai duduk memperhatikan Gilang, perasaan Gilang tidak nyaman ingin pamit menunggu di parkiran.
"Kenapa jadwal Blackat sangat padat?"
"Dia aktris yang sibuk tentu saja jika jadwalnya padat, bukannya kamu juga padat." Kepala Gilang menggeleng karena Aira bisa pergi ke manapun sesuka hatinya tanpa pengawalan.
Tatapan mata Ai sinis menikmati sarapannya, Blackat terlihat terburu-buru saat makan bergegas mandi untuk segera pergi shooting.
"Tadi malam Blackat sakit, aku menemukan dia tergeletak di lantai. Tolong temani dia selama mungkin,"
"Aku sudah lelah membujuk Black untuk diperiksa, tapi dia selalu menolak dan tetap memaksakan diri." Kepala Gilang juga pusing cara menahan Blackat dia terlalu keras kepala.
Aira menceritakan jika harapan Blackat bertahan hanya satu sampai dua tahun, Blackat harus segera menjalani proses operasi dan meninggalkan pekerjaannya sementara waktu.
"Dia pasti menolak, Black tidak ingin diobati,"
"Harus diobati, bagaimanpun caranya Black harus sembuh." Ai tidak ingin kehilangan Black, dia ingin selalu bersama menjelajahi dunia Maya.
Black keluar dari kamarnya, meminta Aira menutup pintu jika ingin pergi. Black kemungkinan tidak pulang karena ada pekerjaan keluar kota.
Tidak ada senyuman dari Aira, Black sangat egois kepada dirinya sendiri. Sakit bukan hal menakutkan baginya, dia terlihat santai saja padahal nyawanya diujung tanduk.
"Lang, kamu tunggu di mobil,"
"Baiklah, Aira aku pergi." Gilang melangkah keluar langsung menutup pintu.
Black berjalan ke arah Aira menegang kedua pundak meminta Ai tidak mengkhawatirkannya. Black berjanji akan baik-baik saja.
"Aku pergi dulu Ai." Bibir Blackat mengecup kening Aira langsung melangkah pergi.
Aira masih menjadi patung, tidak berapa lama langsung ambruk. Dia rasanya terhipnotis.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira