SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERANTAKAN


__ADS_3

Di depan kamar rias Isel tidak berhenti tertawa, dia tidak bisa membayangkan betapa lucunya di hari pesta pernikahannya.


Baju pengantin sudah melekat di tubuh Isel, makeup juga sudah menghias wajahnya membuat kecantikan Isel berkali-kali lipat.


"Sudah siap belum?" Diana masuk melihat Putrinya yang nampak sangat cantik.


Kedua tangan Diana memegang wajah putrinya, Diana menyatukan hidung keduanya karena hati Diana begitu kehilangan.


"Mama jangan pernah menangis, Isel tidak ingin melihat adanya air mata karena bagi Isel pernikahan bukan kesedihan," ujar Isel yang yakin sekali jika Mamanya pasti akan menangis histeris.


Pintu terbuka kembali, Gemal masuk dengan senyuman lebar di bibirnya. Isel langsung memeluk Papanya sangat erat karena akan ada lelaki lain yang menjaganya melanjutkan tugas Papanya.


"Pa, kasih tahu Mama jangan menangis, Papa juga. Isel tidak pergi jauh, jadi jangan sedih," pinta Isel dengan suara lembut karena paham rasa kehilangan orangtuanya.


"Kamu yang membuat kita pusing, menikah muda lebih parah lagi dengan Uncle sendiri. Binggung kita ingin mengatakan apa kepada banyak orang." Gemal menarik telinga putrinya yang selalu membuat pusing.


"Papa," panggil Isel mengecup pipi Papanya.


Gemal memeluk erat, mendoakan putrinya bahagia juga sakinah mawadah warahmah, penuh cinta dan mengikuti jejak mereka untuk menua bersama.


Di aula sudah siap semua, Gemal menggenggam tangan Diana untuk turun ke bawah karena akan segera memulai acara ijab kabul.


Di kamar, Isel hanya didampingi oleh Mora Mira dan Aira yang sedang menyusui Aura. Senyuman Isel mendadak hilang karena memikirkan ucapan Dean soal nafkah.


"Kenapa Kak Sel, tidak mendapatkan nafkah batin?"


"Darimana kamu tahu soal nafkah batin?" Isel menatap Mora tajam.


Mora menujukkan layar ponselnya, dia searching nafkah lahir batin, jika lahir Isel sudah memiliki segalanya. Mora juga tahu jika pernikahan Isel dan Dean tidak disadari cinta, maka tidak salah dirinya menebak jika Isel memikirkan hal kotor.


Wanita seperti Isel yang selalu membutuhkan belaian, tidak mungkin tidak terpikirkan soal sayang- sayangan.


"Mora, belajar saja apa yang seusia kamu pelajari, jangan melenceng kepada hal lain," pinta Aira yang tidak suka jika anak kecil ikut campur.


Tawa Isel terdengar, Mora sangat peka dan selalu mencari tahu apapun yang membuatnya penasaran.


"Sel, jangan menyerah menaklukan Dean, aku yakin dia sangat menyayangi kamu," ucap Ai yang tahu jika Isel bukan wanita yang pantang menyerah.


"Tidak ada sejarahnya Isel menyerah, tapi ada saatnya Isel mundur jika memang tidak memberikan hasil." Senyuman Isel terlihat menatap ke layar yang menunjukkan keramaian di aula.

__ADS_1


Suara pintu tertutup kuat terdengar, Isel langsung berdiri saat melihat asap mengepul dari arah pintu.


Aira juga langsung berdiri menggendong anaknya, tangan Aura langsung menutup mulut dan hidungnya .


"Sel, asap apa itu?"


"Asap beracun, Ai bawa Aura ke kamar mandi, tutup semua cela hubungan Kak Genta agar menyelamatkan kalian dari kamar mandi." Isel membuka pintu kamar mandi, meminta Mora dan Mira juga masuk.


"Mira, kamu bantu Aunty Isel, aku akan membawa Aunty Ai keluar dari kamar mandi." Mora menarik Aira yang mencemaskan putri kecilnya.


Mira membalut kepalanya mengunakan penutup agar tidak terkena asap. Isel sudah membalut wajahnya.


Di kamar mandi Aira tidak yakin mereka bisa keluar karena ventilasi udara terlalu kecil dan mereka berada di lantai yang sangat tinggi.


"Ura dengarkan Mimi, tutup hidup dan mulut Ura, kita keluar lewat pintu. Aura jangan membuka mulut sedikitpun." Ai menatap Mora yang sudah memanjat.


Gorden kamar mandi sudah lepas, Mora sudah bergelantung di lantai dua puluh padahal di lantai bawah sedang ramai.


"Aunty, serahkan Aura kepada Mora, kita turun ke lantai bawah." Kedua tangan Mora menyambut Aura yang langsung memeluknya erat.


"Mora, jaga Aura. Kak Ai keluar lewat pintu." Ai tersenyum melihat Mora yang ahlinya terjun ke bawah hanya menggunakan tali.


Langkah Mora terhenti, melihat seorang wanita melepaskan pakaian langsung menggunakan baju pesta.


"Sayang Dek jangan menangis terus, Mama lagi bekerja karena ada pesta di bawah." Mora berpura-pura menimang Ura agar tenang dan menidurkannya demi menghindari perhatian.


Di dalam kamar tendagan Isel dan Mira menghantam pintu berkali-kali, tapi tetap tidak bisa membukanya.


Tangan Aira menahan, menarik pundak Isel dan Mira untuk keluar lewat kamar mandi karena kemungkinan pintu menggunakan sandi.


Pintu kamar mandi terkunci, Mira langsung batuk membuat Ai dan Isel cemas. Wajah Mira juga merah


"Cepat keluar Mira," ucap Aira yang terjun lebih dulu untuk menyambut tangan Mira.


Baju Isel yang menggunakan kebaya langsung disobek diangkat sampai pahanya terlihat.


"Anjing yang menjebak di kamar ini." Isel langsung terjun ke lantai sembilan belas.


Di depan lift Mora dan Aura sudah duduk menunggu, Ai merangkul Mira yang nampak lemas.

__ADS_1


"Mira, kamu kenapa?" Mora langsung merangkul sepupunya yang menunjukkan senyuman kecil.


"Aku baik-baik saja," ucap Mora yang menatap Isel sudah berantakan.


Mora mengatakan jika pelakunya seorang wanita, dia sengaja ingin membunuh Isel di dalam kamar pengantin.


Isel langsung menekan lift ingin mengejar pelaku, tapi Aira langsung menahannya untuk tidak terpancing.


"Sel, kemungkinan ijab kabul dibawah sudah selesai, lebih baik kita turun, lagian rencananya juga gagal." Ai merapikan rambut Isel yang berantakan.


"Aku tidak akan melepaskan dia," ujar Isel yang berteriak kuat karena tidak bertemu dengan pelaku.


Suara Aliya memanggil terdengar, lantai dua puluh terkunci dan melihat pengantin wanita daam keadaan berantakan.


"Kenapa kalian di sini?" Shin melihat kebaya Isel sobek.


"Ada masalah di kamar Mi, kita tidak bisa keluar sehingga terjun melalui kaca toilet sampai bergelantungan." Ai menatap putrinya yang tersenyum manis.


"Ada yang ingin mencelakai Isel?" Tika nampak kaget.


Shin sudah berjongkok merapikan kebaya yang sobek sampai paha, Dean pasti tidak suka jika melihat Isel menggenakan baju seksi.


Melihat ekspresi Isel, Al langsung memeluknya untuk tenang karena tim keamanan akaan segera mencari pelaku.


"Jangan katakan kepada siapapun yang terjadi, Isel akan menemukannya setelah pesta." Senyuman Isel terlihat menekan lift untuk turun ke tempat acara.


"Lebih baik tidak ada yang tahu daripada pesta gagal," ucap Ai yang merasa ucapan Isel benar.


Acara ijab kabul selesai, Isel tidak melihat sama sekali dirinya dihalalkan oleh lelaki yang dicintainya.


"Brengssek, bisa tidak ijab kabulnya diulang, Isel belum melihat dan mendengar." Isel membenturkan kepalanya di lift.


"Terima nasib saja Sel, paling penting halal. Dean tidak terkendala apapun bisa menyelesaikan ijab kabul dengan lancar." Tika rasa tahu tidaknya Isel tidak ada pengaruh.


"Jadi Isel sah atau tidak?"


"Sah," balas semua orang yang ada di lift.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2