SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERBEDA


__ADS_3

Suasana mendadak hening karena kedatangn Isel yang marah-marah, pertengkarannya dengan Dean harus didengarkan oleh teman-temannya.


"Aku tidak mengerti apa yang membuat kamu kesal?"


"Uncle marah," balas Isel memukul Vio yang masih berguling di atas ranjang.


"Dia bukan marah, tapi menegur." Sahutan dari dalam kamar mandi terdengar, Weni melangkah keluar meminta Isel pulang agar lanjut bertengkar dengan suaminya.


Kepala Laura geleng-geleng karena Isel datang mengoceh tidak jelas, gayanya saja yang marah, tapi memantau Dean yang sedang bersantai di tempat nge-gym.


Suara Ren berdehem terdengar, meminta keempat wanita segera turun karena makanan sudah siap.


"Ren, kamu tahu tidak jika Bian ditahan?" Isel melangkah ke meja makan.


Suara langkah lari terdengar, tiga kursi ditarik mendekati Isel agar menceritakan soal Bian yang ditahan.


Vio paling semangat karena sangat penasaran rencana yang Bian atur tidak mungkin dia menyerahkan diri karena bertaubat.


"Minggir, Isel ingin makan." Senyuman Isel terlihat menatap makanan lezat karena dari malam dirinya menahan lapar.


"Cerita dulu Sel," pinta Vio tidak sabar lagi.


"Tidak bisa, aku harus makan." Isel makan dengan anggun tahan tawa melihat ketiga temannya yang menahan emosi.


Pukulan Laura kuat di atas meja membuat Isel teriak kaget, Weni dan Vio memegang meja karena panik mendengar teriakkan Isel yang sangat kuat.


Selera makan Isel langsung hilang, beranjak dari duduk bergegas ingin pulang tanpa mengatakan apapun.


Ren mengejar Isel memberikan peringatan agar Isel berhati-hati, jika Bian bebas Isel orang pertama yang akan dia cari.


"Kenapa Bian menginginkan aku?"


"Dia mencintai kamu Sel, aku hanya bisa mengatakan hati-hati. Bian tidak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai." Ren kembali ke dalam membiarkan Isel pergi.


Di dalam kamar rusuh karena pertama kalinya Isel mudah ngambek, hanya karena pukulan meja langsung pilih pulang tidak ingin bicara lagi.


Vio berlari mengejar Isel, dia masih penasaran dengan ucapan Isel soal Bian yang ditahan polisi.


"Sel, kamu belum selesai bicara." Vio menahan tangan Isel yang sedang termenung.


Dihadapan Isel ada Alika yang sedang berdiri ketakutan, langsung berlutut di kaki Isel memohon bantuan. Dia tidak ingin menjadi orang yang disalahkan oleh kepolisian, bagaimanapun Bian pelaku utama, dan mengendalikan segalanya.

__ADS_1


"Tolong selamatkan aku Sel?"


"Astaga, aku lapar. Kenapa kalian tidak mengizinkan aku untuk makan?" Isel tidak peduli sama sekali langsung masuk ke dalam restauran.


Mata Vio tidak berkedip, dia melihat Alika langsung. Cepat Alika mengejar Isel, sedangkan Vio menghubungi Dean karena Alika ada dihadapannya.


Mereka tidak boleh kehilangan Alika, dia harus menjadi saksi yang akan menuntun Bian agar menjadi tersangka.


Di dalam restoran, Isel makan santai. Apapun yang Lika jelaskan tidak menggubrisnya sama sekali, saat ini Isel tidak ingin mengurusi kasus yang Dean tanganin.


"Kenapa aku harus menolong aku?"


"Bian akan membunuh aku untuk menyelamatkan dia."


"Aku tanya kenapa aku? kalian pikir pekerjaan aku pahlawan kesiangan. Kamu akan tetap mati Lika, sejak awal kamu dibesarkan tugas kamu menyelamatkan dia. Sudah waktunya kamu membayar itu." Seharusnya Alika memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh Hairin sehingga dia bisa merasakan kasih sayang, tapi memilih menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Isel tidak akan membantu orang bodoh, mati ataupun hidupnya Alika tidak akan berpengaruh kepada Bian, jika ditetapkan sebagai tahanan maka puluhan pejabat, pengusaha bahkan petinggi akan terseret namanya.


"Kamu memperjelas jika sebaiknya aku mati?" tanya Alika kecewa.


"Lihat sekitar kamu, di beberapa posisi ada penembak jitu dan di dalam ini ada polisi yang sedang menyamar. Kamu pikir dia dari pihak mana?" tawa Isel terdengar dirinya tidak akan mempertaruhkan kebebasan hanya untuk seseorang yang tidak berguna baginya.


Isel meletakkan pisau daging di dekat Alika, langsung cepat diambil diarahkan ke leher isel mengancam akan membunuh jika sampai mendekat.


"Kamu ikut aku sekarang, jika kalian mendekat aku akan melenyapkan wanita ini." Lika membawa Isel keluar.


Vio yang berjaga di luar langsung panik, Isel berjalan dengan santai angkat tangan saat darah mengalir dilehernya karena ditancapkan kuat.


"Lepaskan dia," ujar Vio menghalangi jalan menbuat pisau semakin dalam.


Terpaksa Vio menyingkir bersamaan dengan Dean yang datang bersama kepolisian. Beberapa orang yang mengawasi sudah pergi saat tahu kepolisian datang, beberapa penembak juga menjauh.


"Pergilah ke arah barat, temukan seseorang yang bernama Brayen di area bar minta dia membawa kamu atas perintahku." Isel berbisik pelan.


Senjata Dean diarahkan kepada Alika, meminta istrinya dilepaskan karena dia hanya akan memperberat hukuman jika mencelakai orang lain.


"Lepaskan, selama aku masih bicara baik-baik." Dean mengarahkan senjata ke kaki, Isel langsung menepis pisau membuat kakinya yang tekena tembakan.


Cepat Alika berlari, beberapa polisi berlari mengejarnya sedangkan Dean dan Vio panik melihat Isel terluka.


"Sel, gila kamu." Vio memegang kaki Isel yang hanya tergores peluru.

__ADS_1


Wajah Dean langsung pucat, menutup luka di kaki Isel dan juga lehernya meminta mobil segera mendekat.


"Kenapa kamu tidak melawan, hanya karena pertengkaran kecil kita semalam kamu menghukum aku seperti ini?" Dean menggedong Isel yang memejamkan matanya.


Tangan Isel memegang dadanya, ada yang aneh dari dirinya. Isel tidak mengerti dengan sikapnya yang secara tiba-tiba berubah.


Niat hati tidak peduli, tapi secara tiba-tiba dirinya bertindak berlawanan. Hal yang belum pernah terjadi. Isel tidak berniat menolong Lika, tapi hati kecilnya yang mengambil alih.


"Isel ingin pulang, turunkan." Isel memukul dada Dean agar melepaskannya.


"Kamu harus ke rumah sakit." Dean akhirnya marah karena Isel tidak ingin mendengarkan ucapannya.


Semakin Dean marah, tingkat keegoisan Isel meninggi. Vio yang melihatnya merasa aneh, Isel tidak biasanya memiliki karakter yang berubah-ubah.


"Kamu kenapa Sel? nampak aneh." Dean mengenggam tangan erat.


"Aku muak melihat wajah kamu, jangan ganggu aku sementara waktu." Isel melangkah pergi menuju mobilnya.


Jantung Dean berdegup sakit, ucapan Isel sangat melukai dirinya. Meskipun marah, Isel tidak pernah mengeluarkan ucapan kasar apalagi kepada Dean.


"Sel, kamu kenapa?"


"Aku tidak tahu, temui Brayen karena Lika menemuinya. Tidak, aku harus menghubungi Hairin." Isel meminta Vio membawa mobil.


"Kamu stres atau depresi?" Vio merasa Isel aneh.


Kepala Isel menggeleng, Isel juga tidak tahu dengan perubahan sikapnya hanya karena Dean marah soal masakan sehingga emosi Isel tidak terkendali.


"Kamu harus ke dokter," pinta Vio yang mencari rumah sakit terdekat.


"Dokter apa?" tanya Isel memegang perutnya, satu tangan Isel menutup mulutnya merasa kaget.


"Dokter saraf," balas Vio yang melihat Isel secara tiba-tiba panik.


Kedua tangan Isel meremas rambutnya, tidak mungkin apa yang dia pikirkan benar adanya bisa hancur hidupnya.


"Ada apa?" tanya Vio.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2