
Dean masuk ke dalam kamar yang hanya ada satu, Angga tertidur di atas ranjang dengan meringkuk tubuhnya seperti anak kecil yang sedang bersedih di marah orang tuanya.
Air mata masih tersisa di pelipis mata, wajah pucat dan tidak bertenaga. Penampilan Angga tidak seperti awal mereka bertemu.
"Kenapa kita dipertemukan oleh takdir dengan cara seperti ini Kak? Pantas saja saat ada Kak Angga aku merasa aman, melihat senyuman Kak Angga terlalu menenangkan. Kita memiliki hubungan darah dan terikat ikatan batin. Maafkan Dean Kak." Tangan Dean mengusap air mata di pipi Angga yang sudah tidur.
Pelan-pelan Dean naik ke atas ranjang, memeluk Angga dengan sangat lembut dari belakang. Perasaan Dean sangat bahagia bisa tidur bersama Kakaknya.
Ternyata dirinya bukan hanya memiliki Kakak wanita, tapi Kakak laki-laki juga. Apa yang Dean takutkan saat kedua Kakaknya juga dua orang hebat.
Senyuman Dean terlihat memilih tidur karena lelah perjalan juga cuaca yang dingin.
Sudah larut malam Anggun dan Dimas juga masuk setelah keluar untuk membeli pakaian dan mencari obat setelah menemukan resep di tempat sampah.
Dimas menyelimuti kedua anaknya yang sedang tidur nyenyak karena cuaca yang sangat dingin.
"Dean mirip kamu sayang, hatinya lembut sekali, dia menerima Diana yang pasti tahu bukan saudara kandungnya, dan sekarang setelah dewasa dia menerima Angga degan penuh keikhlasan sebagai Kakak kandungnya." Dimas sangat mengangumi putranya yang luar biasa baiknya.
"Dan Angga mirip kamu, menutupi kesedihan seakan semuanya baik, tidak pernah menyakiti siapapun memilih melukai diri sendiri demi membahagiakan orang lain. Hatinya keras, tapi berusaha agar orang disekitar bahagia cukup dia yang penuh luka." Anggun mencintai suaminya karena selalu mementingkan orang lain dibalik kepentingan diri sendiri.
Merasa dirinya kuat, padahal membutuhkan sandaran. Dimas tidak pernah mengutarakan apa masalahnya, di depan siapapun dia baik.
Senyuman Dimas terlihat, memeluk istrinya yang sangat dicintainya. Jika tanpa Anggun di sisinya mungkin sudah sejak awal hidup Dimas berantakan dan penuh kekejaman.
Anggun merentangkan selimut tebal menumpuk beberapa pakaian mereka untuk bantal tidur. Di manapun tidur selama bersama keluarga pasti akan tidur nyenyak.
"Ayo tidur Daddy, biarkan anak-anak di atas ranjang, dan kita dibawah." Anggun tiduran bersama Dimas.
Keduanya saling berpelukan karena merasakan dingin, namun moments kebersamaan hangat.
__ADS_1
Mata Angga terbuka, merasakan kepalanya pusing karena terlalu banyak menangis. Tatapan binggung melihat ada tangan dan kaki yang melingkar di tubuhnya.
Kaki dan tangan dilepaskan secara perlahan, Angga duduk di atass ranjang melihat Dean yang tidur di sisinya.
Hati Angga teriris dan perih melihat Dimas dan Anggun tidur dalam keadaan kedinginan karena lantai yang dingin.
"Maafkan aku, Maafkan Kak Angga, Dek. Kamu memiliki keluarga yang harmonis dan hebat, Mommy kamu juga sangat baik. Terima kasih sudah datang, tapi aku tidak ingin menyakiti keluarga kamu. Kak Angga pamit." Dengan lembut Angga mengusap Kepala Dean, seandainya takdir mengizinkan dirinya terlahir kembali mungkin Angga akan memilih menjadi Kakak yang baik untuk adik lelakinya.
Kepala Angga tertunduk, turun perlahan dari atas ranjang, menarik selimut menutupi tubuh adiknya agar hangat.
Angga berjalan menjauh, sedih melihat kedua orang tua Dean yang berusaha berlapang dada menerimanya. Pasti begitu sakit menjadi Mommy Anggun mengetahui suami yang dicintainya puluhan tahun memiliki anak dari wanita lain.
"Maafkan Angga Tante, maaf karena aku lahir seperti ini. Jika Angga memilih boleh tidak aku lahir dari rahim Tante, dicintai selayaknya anak kandung." Angga mengambil selimut tebal di dalam lemari menutupi tubuh suami istri agar tidak merasakan dingin
Pintu kamar terbuka, Angga keluar dari kamar mengambil tas yang berisikan pasport juga identitasnya. Angga akan segera pergi meskipun beresiko dikenali banyak orang.
Langkah Angga terhenti saat melihat ada obat di atas meja, ada banyak sayur dan makanan yang baru dibeli.
Baju dibuka, Angga mengambil kapas membersihkan bekas sisa darah yang sudah mengering.
"Pagi sekali kamu bangun? Kompres dulu dengan air hangat." Dimas mengambil air hangat.
Angga hanya diam tidak menimpali, Dimas menarik tangan Angga yang keras kepala masih saja mengobati dirinya sendiri.
"Luka tembak itu sakit, dan membakar kulit. Daddy tahu rasa sakitnya karena pernah beberapa kali terkena tembakan," ucap Dimas pelan.
Luka Angga dibersihkan, wajahnya meringis karena rasa sakit. Bertahan tanpa obat membuat lukanya membengkak kembali.
"Berapa kali dada kamu di operasi, tapi masih berkeliaran sendirian." Kepala Dimas menggeleng, meskipun dia bukan Dokter namun terlatih dalam mengobati luka.
__ADS_1
Wajah Angga memperhatikan wajah lelaki yang tidak pernah dia sangka sebagai Ayahnya meskipun tidak bisa dia sebut sebagai orang tua.
"Maafkan saya Om, Angga akan pergi dari sini, Om dan keluarga juga sebaiknya pulang." Nada Angga sangat pelan.
"Panggil Daddy, jadi anak jangan kurang ajar kepada orang tua. Daddy dan Mommy rela pergi jauh hanya untuk menjemput kamu, tapi sekarang diusir." Mata Dimas melihat ke arah Putranya yang sudah menangis.
Tangan Angga menutup matanya tidak kuat dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Kenapa kamu menangis terus? laki-laki harus kuat. Kamu harus melindungi keluarga sebagai anak pertama lelaki. Jangan tunjukkan air mata lagi, Daddy tidak menyukainya." Pelukan Dimas lembut mengusap punggung anaknya yang tidak salah apapun.
Tangisan Angga semakin kuat, meremas kedua tangan. Sentuhan Dimas bagaikan mimpi baginya karena selama ini sangat takut menyakiti Dimas dan keluarganya karena Angga menyayangi Dean.
Air mata Dimas juga menetes tidak kuasa merasakan kesedihan Angga setelah mengetahui siapa dirinya. Kebenaran memang terkadang sangat menyakitkan.
"Lupakan apa yang Shena katakan, dia memang mengandung dan melahirkan kamu, tapi sekarang Ibu kamu Mommy Anggun. Daddy ingin kalian semua kumpul di masa tua Daddy." Setulus hati Dimas meminta maaf karena ketidaktahuannya dan keterlambatannya menemukan Angga.
Jika anak angkat juga dia cintai layaknya anak kandung, bagaimana mungkin darah dagingnya sendiri tidak dia cintai.
"Maafkan Angga Om, maaf karena aku hadir sebagaai anak haram yang menjadi dosa terbesar kalian. Om Dimas tidak salah, aku yang salah karena lahir ke dunia ini." Kedua tangan Angga mengusap air matanya.
Tatapan mata Dimas tajam, menjitak kepala Angga yang bicara hal bodoh. Bagaimana dia bisa menjadi anak haram dan sebuah dosa, semua anak lahir dalam keadaan suci.
Bukan anak yang salah lahir seperti apa? Tetapi orang tuanya yang salah karena tidak bertanggung jawab, seandainya Shena datang memberikan Angga kepada Dimas mungkin sudah lama mereka bertemu.
Angga tidak salah apapun karena dia juga korban dari orang yang tidak bertanggung jawab.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu lagi, kata-kata kamu menyakitkan. Daddy tidak ingin ada anak yang salah, kamu lelaki hebat yang mampu berdiri di kedua kaki sendiri. Daddy bangga sama kamu." Dimas mengeratkan pelukannya merasa takdir tidak adil untuk Angga yang tidak salah apapun, namun merasa dirinya bersalah.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira