SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TIDAK NYAMAN


__ADS_3

Pagi-pagi Isel sudah sibuk ingin pergi ke rumah sakit karena ingin melihat pertumbuhan anaknya.


"Abi, masih pagi sudah melamun." Isel mengecup bibir suaminya di depan Mommy Daddy yang cuek saja karena sudah terbiasa melihat keromantisan keduanya.


Tangan Dean menepuk sofa, meminta istrinya duduk diam di sampingnya. Ada hal penting yang ingin Dean bicarakan.


Cepat Isel duduk di samping suaminya, menatap wajah suaminya yang terlihat sangat serius.


"Ada apa Bi?"


"Kenapa Brayen menghubungi kamu larut malam, kata-kata yang keluar dari mulutnya juga tidak pantas?" tidak sedikitpun Dean mencurigai Isel apalagi menyalahkannya.


Hanya saja sebagai suami Dean merasa tidak nyaman dengan persahabatan lawan jenis, apalagi Isel sedang hamil tidak sepantasnya berkomunikasi sampai larut malam.


"Isel juga binggung, Brayen dan Laura sepertinya ada masalah." Isel menceritakan apa yang terjadi kepada Brayen sejak pertemuan mereka.


terlihat sekali jika hubungan keduanya tidak baik sama sekali. Brayen merasa dirinya sangat direndahkan.


"Sayang, jangan ikut campur. Kamu tidak harus menerima panggilan Brayen karena akan membuat suasana rumah tangga mereka lebih buruk lagi." Bukan maksudnya Dean membatasi pertemanan hanya saja tidak seharusnya dalam hubungan teman menghubungi tengah malam.


"Iya Bi, Isel sudah berusaha menghubungi Laura, tapi tidak ada respon sedikipun." Isel menunjukan panggilan yang sangat banyak, tapi tidak dijawab.


Kening Dean berkerut karena merasa sangat terganggu dengan sikap Brayen, saat mereka masih di apartemen Dean sangat mempercayai Brayen.


Isel paham jika suaminya tidak nyaman dengan sikap Brayen, berusaha untuk menjauh. Isel tidak ingin sibuk mengurus rumah tangga orang, tapi berakhir rumah tangganya yang berantakan.


"Kita ke rumah sakit sekarang," ujar Dean yang ingin pamit kepada kedua orangtuanya.


"Assalamualaikum Mommy Daddy, di mana Dean?" Angga mengecup lama tangan Mommy.


"Ada apa, pasti ada maunya?"


Senyuman Angga terlihat merangkul adik lelakinya ingin meminta bantuan agar Dean membawa Aira ke rumah sakit, dia juga harus periksa kandungan.


"Kenapa harus Dean, Kak Angga juga ikut pergi. Itu anak kalian berdua, kenapa dititip?"


Tawa Angga terdengar, dia ada perkejaan. Ada rapat penting bersama artis. Angga bisa saja meninggalkannya, tapi tidak enak dengan aktris yang berasal dari luar.


"Lebih penting artis daripada anak istri." Dean langsung menolak tidak ingin dititip istri.


Tatapan Mommy tajam, sesama saudara harus saling membantu, jika Angga tidak sempat Dean harus pergi begitupun sebaliknya.


"Apa susahnya pergi bersama?"


"Bukan masalah perginya Mommy," ujar Dean terduduk lemas mengurus Isel saja susah ditambah Aira.

__ADS_1


Panggilan dari luar terdengar, Juan tersenyum melihat ke arah Dean yang masih nampak kesal.


"Kenapa tersenyum?"


"Isel hari ini ada jadwal ke dokter, sekalian titip Lea."


Mendengar permintaan Juan, Dean langsung jungkir balik di sofa. Sudah cukup dirinya masak tiap malam untuk tiga bumil, ditambah lagi mengantar ke rumah sakit juga secara bersamaan.


"Tidak mau, kalian urus istri masing-masing!" teriak Dean kesal.


"Kenapa Dean, kamu tidak suka?" tatapan tajam Ai telihat.


Senyuman Dean terlihat, mempersilahkan dua bumil ikut. Dean tidak ingin dijambak, lebih baik mengikuti saja.


"Sayang, aku pergi ke kantor dulu ya." Angga mengecup kening istrinya, pamitan kepada Daddy Mommy.


Tangan Angga melambai melihat ke arah Dean, hanya mata Dean yang terlihat karena terpaksa membawa para bumil.


"Terima kasih Dean, titip istriku. Jaga baik-baik." Juan mengusap punggung Dean langsung pergi ke kampus karena ada jadwal pagi.


Senyuman Lea dan Isel terlihat, duduk manis menunggu Isel yang masih sibuk sendiri. Mommy memanggil Isel yang masih membawa makanan.


"Sayang, bagi makanannya."


"Dasar rakus," ujar Aira yang menyindir.


Mommy hanya tertawa melihat Isel yang bosan melihat Aira dan Lea selalu menumpang makan dan minum.


"Dean, kamu tahu soal Brayen menghubungi Isel?" bisik Aira pelan.


Kepala Dean mengangguk, dia baru saja tahu dan merasa risih karena itu hanya memperingati Isel.


Kepala Lea menoleh, meminta Dean mengawasi. Feeling-nya tidak bagus sejak pertama bertemu Brayen.


"Jangan diabaikan, jika perlu cari tahu. Apa alasan Brayen mendekati Isel, jika hanya sekedar persahabatan seharusnya ada batasan." Bagi Lea hubungan Dean dan Aira cukup dekat, tapi tahu batasan padahal keluarga, tapi Brayen melewati batas persahabatan.


Jempol Aira terangkat, tidak ada salahnya jika Dean mencari tahu. Sebelum ada masalah, lebih baik dihindari.


"Kasus apa yang sedang kamu tangani Dean?" Daddy menatap laporan, menujukkan kepada Dean yang sedang berbicara pelan bersama Ai dan Lea.


"Kematian seorang supir, tapi Dean merasa ada keanehan makanya melanjutkan penyelidikan." Dean masih menunggu hasil otopsi, baru bisa memastikan jasad siapa yang ditemukan.


Kepala Daddy mengangguk, meminta Dean bukan hanya mengikuti feeling, tapi bukti. Jangan mencari sesuatu hanya karena merasa ada yang tidak beres.


Ada banyak kasus kelas berat yang harus diselesaikan, apalagi Dean harus memiliki waktu bersama istrinya.

__ADS_1


"Ayo kita pergi Bi." Isel sudah siap dengan penampilan sederhananya.


"Kamu dari tadi, lama sekali make up hanya menghasilkan penampilan ini?" Ai tepuk jidat langsung pamit kepada Mommy Daddy.


Senyuman Mommy terlihat, mengusap perut tiga bumil yang sudah terlihat. Apalagi perut Isel yang diprediksi hamil kembar.


"Hati-hati bawa mobilnya Dean, tidak boleh menggunakan kecepatan tinggi."


"Iya Mommy, tidak mungkin juga Dean kebut-kebutan," jawab Dean pelan.


Suara tangisan terdengar dari luar, Dean melangkah mendekati Ura yang menangis karena ingin ikut.


"Siapa yang marah?"


"Aunty marah sama Ura," ucap Ura yang penuh air mata.


"Drama, tidak mungkin Aura menangis." Ai mencubit pipi Ura.


Dean menggedong, membawanya pergi ke dokter untuk melihat banyak baby karena perginya bersama-sama.


Tawa Aura terdengar, mengusap air matanya tidak ingin lanjut menangis lagi. Dia memang sengaja mengeluarkan air mata karena ada yang diinginkan.


"Bunda, Mimi, sama Mami uduk di bakang aja, Ura dicebelah Abi."


"Kenapa kamu yang mengatur Ura?" Isel menuruti langsung duduk di belakang karena bisa membuat keributan bersama Ura jika membantah.


"Kita pergi sekarang, jangan lupa bismillah dan berdoa." Dean mengajari Ura berdoa agar selamat di jalan.


Kedua tangan Ura menadah, mengusap wajahnya setelah mengucapkan amin. Ura meminta bantuan memasang sabuk pengaman.


"Subhanallah gemas sekali, masih kecil, tapi sudah banyak pengetahuannya." Lea menatap Ura yang tahu jika sabuk pengaman penting.


Mobil melaju pergi, sepanjang jalan berisikan pembicaraan antara Dean dan Ura yang bisa saling mengerti bahasa padahal Aira juga tidak paham ucapan Ura.


"Abi, dedek Ura ada belapa?"


"Ura maunya berapa?"


"Cepuluh." Kedua tangan Ura menunjukkan tangannya.


"Sobek bodoh, keluar satu kamu saja sobek." Aira mengacak-acak rambut putrinya yang sangat mengemaskan.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2