
Malam sangat hening, Aira tidak bisa tidur melihat Isel yang tidak satu kamar dengannya masih asik menikmati cahaya lampu yang begitu indah.
"Kenapa belum tidur? ada yang kamu pikirkan?"
"Berita kematian Ben sudah masuk pemberitaan, dia korban kecelakaan tanpa identitas. Satu orang lenyap, Kak Ai harus ingat masih ada satu lagi." Isel meletakkan ponselnya.
"Apa dia masih berani untuk maju?"
Kedua pundak Isel terangkat, jika seseorang memiliki dendam tidak ada yang tidak mungkin. Bahagia boleh, namun dilarang berlebihan karena apa yang direncanakan bisa diputar oleh takdir.
Tawa Aira terdengar, langsung duduk di samping Isel yang langsung menutup gorden. Aira sempat melihat sesuatu di lantai bawah.
"Sel kamu punya pacar?" Aira langsung berlari keluar kamar dikejar oleh Isel yang juga langsung berlari kencang.
Di depan lift keduanya jambak-jambakkan, pintu lift tidak bisa tertutup karena ulah keduanya yang saling tarik.
Pintu lift yang lain terbuka, Dean berjalan masuk bersama Angga, menatap aneh keduanya yang saling dorong.
"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" Dean menatap rambut Aira dan Isel berantakan.
Isel langsung lari ingin memeluk Angga, tangan Angga menahan karena dilarang peluk jika akhirnya ribut.
"Ayang dari mana?"
Angga menujukkan makanan yang dia pesan dari luar, Aira langsung mencium baunya ingin ikut makan juga.
"Kita makan di mana?"
Suara dentuman kuat terdengar dari salah satu kamar, Isel dan Aira langsung menempelkan telinganya mendengar suara yang cukup keras.
"Bukannya ini kamar Kak Juan dan Lea? astaga apa yang mereka lakukan? kenapa suara ah mantap." Isel tersenyum lebar terus menempelkan telinganya.
Pintu terbuka, dua wanita langsung tersungkur ke dalam. Juan yang panik berlari mencari kamar Diana untuk mengecek kondisi istrinya.
"Ada apa Kak?"
"Lea pendarahan,"
Dean langsung teriak kaget, meminta Juan kembali ke kamar untuk mengecek kondisi Lea yang terkulai lemas.
"Minggir kalian berdua!" Juan menendang Ai dan Isel yang langsung duduk dipojokan.
Lea keluar kamar mandi langsung tertawa melihat Isel dan Aira yang duduk diam, sambil menahan perut sakit ditambah tertawa semakin sakit.
"Kenapa kalian berdua?"
__ADS_1
"Dimarah," jawab Isel.
"Tadi suara apa Lea? kenapa besar sekali. Kamu dihantam sampai hampir gempa bumi?" Aira menutup mulutnya merasa takut.
Kepala Lea menggeleng, Juan yang jatuh karena kaget sampai menabrak lemari terlalu panik.
"Kenapa masih mengobrol bukannya ke rumah sakit?" Aliya dan Diana berlari masuk.
"Kenapa bisa pendarahan?" Diana memegang perut Lea.
Kepala Lea menggeleng, tiba-tiba saja perutnya teramat sakit dan sudah penuh darah di tempat tidur.
"Kamu lagi kedatangan tamu?" Aliya mengusap punggung Lea yang meringis kesakitan.
"Tidak Mami, Lea tidak bulanan kita bahkan tidak berhubungan malam ini. Tubuh Lea hanya lelah saja dan tiba-tiba kejadian ini." Lea meminta suaminya tenang, dirinya baik-baik saja dan sudah mendingan.
Papi Alt meminta Juan membawa istrinya langsung ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, Diana setuju. Lebih cepat lebih baik bisa tahu sebabnya.
Jantung semua orang berdegup kencang, merasa panik karena Juan yang membuat panik.
"Ada apa ini ada apa?" Mora juga ikutan bangun kebingungan karena tidak ada yang menghiraukannya.
"Bye Aunty, cepat sembuh ya." Tangan Mira melambai, matanya masih terpejam dalam gendongan Angga.
Gemal megambil Putrinya, meminta mendoakan semoga Aunty baik-baik saja dan bisa berkumpul segera bersama mereka kembali.
"Ah, Shin benar. Semoga saja aman." Tika menatap Aira yang baru panik.
Dirinya ingin pergi menyusul terlalu beresiko, lelahnya Lea karena dirinya yang tidak memiliki jadwal padat.
Keheningan terasa di lantai bawah, menatap ponsel yang ada di meja menunggu kabar berita dari keluarga yang ke rumah sakit.
"Kita sudah menunggu lebih dari lima jam, belum ada kabar juga." Ai mondar-mandir tidak sanggup menunggu lagi.
"Kita sarapan dulu saja, pasti mereka akan segera pulang." Gemal meminta semuanya mengisi tenaga dari pada berdiam penuh kegelisahan.
Tidak ada satupun yang berangkat untuk sarapan, Gemal akhirnya pergi sendiri meminta pelayan menyiapkan makanan.
Anak-anak juga sudah bangun, duduk di kursi masing-masing untuk sarapan. Jadwal untuk liburan akhirnya dibatalkan karena ada kejadian tidak terduga.
"Kenapa semua orang diam?" Hasan menatap Kakaknya yang makan dengan lahap.
"Anak kecil diam saja," balas Mora sinis.
Kedatangan Mommy Anggun dan Daddy membuat semuanya berdiri menunggu kabar soal kondisi Lea.
__ADS_1
"Mommy, bagaimana keadaan Lea?"
"Sudah ditangani dengan baik, tidak perlu ada yang khawatir. Dia hanya melakukan transfusi darah." Mommy tersenyum melihat anak-anak mengucap Alhamdulillah.
Aira langsung terduduk mengucapkan rasa syukur yang teramat dalam, dia sangat khawatir karena Lea bekerja begitu ekstra.
"Sudah jangan lebai, lagian Kak Lea wajar bekerja lebih karena di menjalankan tugasnya." Isel menenangkan Ai yang bisa tenang.
"Sudah berapa bulan Nenda?" Iyan yang paling tenang ternyata ikutan menyimak.
Setiap kepala melihat ke arah Iyan, tidak ada yang membahas soal hamil namun seakan dia tahu.
"Ada gumpalan darah," Iyan mendengar penjelasan Juan karena mereka paham soal medis.
"Jalan dua bulan." Mommy memukul lengan Daddy karena tidak ada yang bisa merahasiakan apapun.
Tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan karena anak-anak tumbuh dengan kemampuan masing-masing, dan fokus ke cita-cita dan mimpi.
Suara teriakkan bahagia terdengar, akan ada lagi tangisan bayi setelah hampir empat tahun tanpa tangisan bayi.
"Alhamdulillah, bagaimana kondisi janinnya Mommy?" Angga memberikan tempat agar Mommy duduk.
"Masih dalam pemeriksaan, Dokter sedang memastikan jika baby dalam keadaan sehat begitupun dengan ibunya. Hanya saja Lea terlalu lemah dan kurang darah." Mommy meyakinkan semuanya akan baik-baik saja.
Panggilan masuk di ponsel Tika, Mami Al meminta donor darah bagi siapapun darah yang sama dengan Lea.
Semua tunjuk tangan bersedia donor darah demi kesehatan Lea dan calon anaknya. Apalagi Aira paling bersemangat.
"Kamu darah apa Aira?"
"Darah manusia Kak Tika,"
Kue langsung melayang hampir mengenai wajah Aira, Tika bertanya serius dia menjawab dengan candaan.
"Pemarah sekali, Aira berikan semua darah Ai,"
"Lalu Kak Ai hidupnya bagaimana?" Isel geleng-geleng merasa geli melihat tingkah Aira.
"Aku hanya membutuhkan Dewa di hidupku, maka darah tidak perlu." Ai memeluk tubuhnya sendiri.
"Jijik." Mira menimpali Aira sambil menyemburkan ludahnya.
"Alai, lebai, norak." Mora juga menatap sinis meminta Aira makan karena tidak akan kenyang makan cinta.
Angga memeluk dua keponakan kesayangan yang sangat pintar, mereka masih delapan tahun namun pikirannya jauh lebih dewasa dari Aira.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira