
Suasana mendadak hening, Aira mengusap punggung Dean yang sudah meneteskan air mata. Tidak tahu mengapa hatinya begitu sakit mengetahui jika dirinya dan Blackat saudara kandung. Bukan sakit karena marah, tapi tidak bisa membayangkan betapa gelapnya jalan kakaknya yang selama puluhan tahun menyimpan sakitnya sendiri.
Bahkan saat tahu kebenaran dia memeluk Dean dan meminta menjaga wanita yang dicintainya meminta dijaga dan dilindungi. Demi keluarga yang harmonis, Black memilih pergi agar hanya dirinya yang tersakiti.
Berjuang selama dua tahun dengan rasa sakit, tidak ada rasa mengeluh ingin mendapatkan sedikit kasih sayang, Black menanggung semuanya sendiri.
Tangan Anggun mengusap air mata Putranya, memeluknya erat tidak boleh marah dengan takdir karena Dean tidak pernah tahu jalan apa yang dulunya Daddnya lalu.
"Nak, tanyakan apapun kepada Mommy. Jangan pendam sedih kamu sendiri, kita tunggu hasil DNA Black dan Daddy." Air mata Anggun juga menetes karena Dean jarang menangis.
Dimas berjalan ke arah Dean menyentuh kepala anak semata wayangnya, meminta maaf karena menggoreskan luka.
"Maafkan Daddy Dean, tidak ada alasan bagi Daddy untuk membela diri. Apa yang terjadi di luar sadar, Daddy jika tahu tidak mungkin diam saja, kebahagiaan kamu dan Mommy segalanya bagi Daddy." Dimas meneteskan air matanya memeluk anak dan istrinya yang masih menangis.
Mulut Dean pahit, tida ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Perasaan Dean campur aduk, meskipun sebenarnya dirinya tidak marah, hanya hatinya sedih.
"Dean, ini bukan salah Daddy, tapi Papi yang salah. Kita tidak bisa saling menjaga hari itu, maafkan Daddy kamu. Papi yang akan mengurus soal Black." Alt akan menemui Black dan berbicara dengannya jika semuanya tidak mereka ketahui soal siapa Blackat sebenarnya.
Tatapan mata Dean tajam, melihat ke arah Altha yang hanya memikirkan kebahagian keluarga tanpa merasakan perasaan Black.
"Kenapa meminta maaf kepada Dean? Seharusnya meminta maaf kepada kak Black. Pernah tidak kalian berpikir bagaimana perasaan dia?" Dean mengusap air matanya, tidak kuat menahan air mata yaang terus keluar.
Langkah Aliya mendekat memeluk Dean yang memiliki hati selembut Mommynya, dan karakter yang keras seperti Daddy-nya. Dean bukan anak yang egois dia tidak memikirkan dirinya, tapi kakaknya.
"Jangan menangis sayang, kamu tidak salah apapun, kamu tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Dean jangan menangis," pinta Aliya dengan suara pelan karena tidak tega dengan air mata Dean yang tidak berhenti keluar.
"Dean hanya sedih karena dipertemukan dengan Kakak Black, merasa marah kepadanya karena menghilang begitu saja tanpa kata perpisahan apalagi melihat banyaknya air mata yaang menangis karena dia." Dean tidak kuasa menahan kesedihannya.
Seandainya tidak mengenal Black, mungkin Dean tidak akan merasakan sakitnya, tapi mereka satu kamar, makan bersama, tertawa, dan berusaha bersama. Saat Black dijebak, dia secara langsung menghubungi Dean, dengan senang hati Dean bahagia bisa membantunya.
__ADS_1
"Mami tahu apa yang dia katakan dua tahun lalu, dengan senyuman dia mengusap kepala Dean mengatakan aku tampan sama seperti Daddy. Dia ingin aku bahagia, dan terus mengejar wanita yang aku cintai." Secara langsung Blackat merestui Dean dan Aira, meminta Dean menjaga kedua orangtuanya dengan baik.
Pertemuan terakhir mereka, Black meminta maaf karena dia akan menjadi duri kebahagiaan Dean, meminta maaf jika hadirnya dia merusak kebahagian.
Jika waktu bisa di ulang, Black memang tidak ingin lahir, tapi takdir membawanya sangat jauh, dan dia yang memutar takdir untuk pergi.
"Bukan aku yang berkorban, tapi kak Black. Jangan meminta maaf kepadaku." Ucap Dean sambil menguap air matanya.
Kedua tangan Anggun mengusap wajah putranya, tersenyum melihat kebesaran hati Dean yang tidak memikirkan sakitnya dia mengetahui jika ada anak lain.
"Dean marah sama Mommy and Daddy?"
"Tidak Mommy, kenapa Dean harus marah? Dean menerima siapapun Kak Black. Luka Dean bisa diobati karena Dean punya Mommy Daddy, tapi Kak Black akan terus membawa rasa sakitnya sampai mati." Dean melihat Juan yang tertunduk menangis bisa memahami perasaan Dean.
Black juga meninggalkan pesan kepada Juan untuk menjaga Dean karena dia sangat keras kepala dan ambisinya dalam bekerja terlalu berlebihan.
Sedikit saja Dean terluka, Juan harus mengobatinya tidak boleh mengabaikan karena Dean mengabaikan apapun hal kecil.
Lea memeluk Aira yang sudah menangis sesegukan, itulah alasan Black mengatakan kepada Aira jika mereka hanya sebatas hubungan pekerjaan, suatu hari mereka akan berpisah.
"Daddy, bagaimana cara memperbaiki keadaan ini? apa Daddy tidak merasa bersalah?" Dean berusaha menenangkan dirinya.
"Hanya ada dua solusinya, kita tetap diam atau menjemputnya kembali. Maafkan aku Anggun, Dean jika Papi juga sulit menerima dia. Ini seperti mimpi buruk." Dimas tidak sepemikiran dengan Shena, tapi karena tidak menyangka saja jika dia memiliki anak lain.
Segala keputusan tindakan selanjutnya ada pada Anggun dan Dean, Dimas tidak ingin menyakiti anak istrinya.
"Kita jemput dia pulang, meminta maaf juga belum tentu dimaafkan. Lukanya sudah terlalu besar, apalagi sempat bertemu dengan Shena yang pasti sudah menjatuhkan mentalnya." Anggun mengenggam tangan Dean, berharap anaknya bisa menerima apa yang Anggun putuskan.
Kepala Dean mengangguk, tersenyum melihat Mommynya yang sangat baik bahkan tidak menyalahkan siapapun.
__ADS_1
"Kita bawa Kak Black kembaali Mom, dia memiliki rumah dan keluarga untuk tinggal, bukan berada di luar sendiri." Dean memeluk Mommynya yang juga memeluk erat mengusap punggung anaknya.
"Aira ikut, Ai ingin bertemu,"
"Tidak Ai, Kak Black pergi bukan karena tidak mencintai kamu dia hanya tidak ingin menyakiti keluarga kami." Tangan Dean mengusap lengan Aira.
Dean berjanji akan membawa Black kembali dengan segala cara meskipun harus memohon.
"Kita tunggu hasil DNA dulu?" Alt menatap ponselnya.
Semua orang menatap ke arah Altha, lama Alt terdiam mendengarkan ucapan dokter yang diminta mempercepat hasil tes.
"Apa hasilnya Papi?" tanya Juan penasaran.
"99% dan dua tahun yang lalu Black juga melakukan tes DNA tentang dirinya Shena dan Dimas, hasilnya menunjukkan dia anak kalian, tapi Black langsung membuangnya membenci hasilnya." Alt menunjukkan gambar yang dikirimkan.
Ai memberikan pelacak yang diberikan oleh Mira, meminta Dean menepati ucapannya. Ai ingin egois karena tidak seharusnya Black pergi tanpa mengatakan kebenaran. Senyuman Dean terlihat mengambil pelacak yang akan membawanya kepada Black.
"Mungkin hari ini kak Black pindah negara, dia melangkah lebih jauh lagi." Ai menunjukkan handphonenya yang terhubung dengan lokasi Black.
Kepala Lea menggeleng lebih panik lagi, menepuk pundak Aira menunjukkan berita yang baru saja muncul.
"Berita apa ini? Black belum meninggal sudah di tayangkan dan membuat heboh." Lea melihat pemberitaan yang baru dua puluh menit namun menggemparkan dunia.
"Gawat, Kak Black sendirian tanpa keamanan." Juan mengacak rambutnya karena ada yang menyebarkan rumor soal Black yaang mash hidup.
Ai meminta tenang, meminta tim perusahaan melenyapkan pemberitaan soal Black jika tidak mungkin akan banyak orang yang menemukan dia di luar negeri.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira