SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
SEHIDUP SEMATI


__ADS_3

Hujan masih turun, Lea menaburkan bunga di atas makam kedua orangtuanya. Hujan menutupi air matanya sehingga tidak terlihat betapa banyak dia menangis.


Satu-persatu orang meninggalkan pemakaman, hanya ucapan turut berdukacita yang terdengar tidak ada yang tahu runtuhnya pertahanan Lea.


Ai juga berdiri di samping Lea, memegang payung membiarkan Lea berlama-lama mengusap nama kedua orangtuanya.


"Ayo kita pergi Ai." Lea tersenyum langsung memeluk Aira yang juga memeluknya erat.


Kedua melangkah meninggalkan pemakaman, langkah Lea terhenti menoleh kembali ke belakang.


Rasanya Lea ingin gila, tapi dirinya tidak boleh kalah dari orang-orang yang sedang tertawa melihatnya menderita.


Langkah kaki Aira dan berjalan bersamaan, tubuh Lea sempoyongan ke sampingnya memeluk pohon yang ada di sampingnya.


Juan yang berjalan di belakang berusaha bertahan, Blackat juga membantu Lea berdiri tegak.


"Kamu ingin digendong,"


"Tidak kak, Lea masih kuat." Senyuman Lea terlihat, pikiran Lea linglung binggung sebenarnya dirinya ingin pergi ke mana.


Tangan Ai mengenggam, menarik tangan Lea masuk ke dalam mobil. Ada Dean yang berada di dalam mobil hanya memperhatikan dari dalam.


"Bawa aku ke manapun, menghilang sejenak derita ini." Lea menatap Blackat yang menundukkan kepalanya.


Juan menjalankan mobil meninggalkan pemakaman, hujan berhenti menunjukkan sinar matahari secara tiba-tiba.


Lea hanya diam menatap ke depan, tidak ada air mata lagi yang menetes hanya tatapan matanya yang kosong.


Tatapan Aira juga ke depan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Terasa otaknya juga berhenti berpikir.


"Kenapa kalian berdua diam? ini suasana yang menakutkan. Biasanya dua anak ini debat." Kepala Dean menoleh ke belakang, memberikan air minum kepada Lea yang belum bisa fokus.


Dean meminta Lea menenangkan pikirannya agar tidak gila, ada banyak hal yang harus Lea lakukan. Dean juga sama kesalnya karena keberhasilan mereka, dibalas kepergian.


"Aku tidak haus,"


"Sama aku juga, tapi setidaknya minumlah agar ada gerakan jika kamu memiliki akal." Tangan Dean menarik tangan Lea, menyerahkan minuman.


Tangan Lea berusaha membuka botol minum, tapi tidak bisa sehingga tangisannya pecah langsung memeluk Black yang mengusap punggungnya.


"Kakak tolong, perasaan Lea hancur." Tangisan Lea pecah mencengkram kuat baju Black.

__ADS_1


"Minumlah." Aira membukakan botol, menyerahkan kepada Lea membantunya untuk minum.


Kedua tangan Lea memegang botol, menyudahi tangisannya. Menatap Dean yang masih menatapnya tajam.


"Sekarang kamu mengerti jika tidak sendiri,"


Kepala Lea mengangguk, meneguk kembali minumannya meminta Ai menutup kembali botol yang masih ada sisa.


Tatapan Juan lembut ke arah Dean, meksipun sikapnya keras dan dingin. Dean secara langsung menyadarkan Lea jika memiliki banyak orang baik depan dan samping. Lea tidak perlu menoleh ke belakang.


Mobil Juan memasuki perumahan keluarganya, Aira binggung kenapa Kakaknya memutuskan pulang.


"Rumah siapa ini?" Lea menatap dua anak kecil berlari kejar-kejaran saling memeluk dan bersenda gurau. Tidak berapa keduanya saling jambak-jambak.


Pintu mobil terbuka, Blackat tersenyum menatap si kembar beda rahim baru pulang sekolah, bukan berganti baju lanjut main.


Keduanya menatap ke arah mobil, mata indah keduanya menatap Lea yang berjalan di rangkul oleh Aira.


"Mira kenapa mata Aunty ini sembab sekali?"


"Mata sembab yang terjadi pada area mata bisa terjadi karena berbagai hal, diantaranya menangis semalaman, stress, dermatitis, bawaan genetik, kurang tidur dan alergi. Selain berdampak pada mata, mengalami mata sembab bisa membuat penampilan terlihat lelah, tidak segar bahkan seperti sakit. Itu penjelasan mata sembab. Tanyakan saja Aunty ini kenapa?"


"Bagaimana rasanya memiliki kembaran?"


Keduanya saling tatap, menggelengkan kepalanya. Kedua tidak kembar berlainan ibu dan ayah.


Mira mendekati Lea, menyentuh tangannya langsung melepaskan meminta Lea menunduk langsung dituruti oleh Lea.


"Pabo!"


"Aku bodoh?" Lea langsung melipat tangannya di tangan.


"Iya, Aunty bodoh. Kenapa Aunty menangis sampai jelek seperti itu?"


"Kalian mengatakan aku bodoh, tidak tahu rasanya kehilangan orang tua secara bersamaan, terus saudara kembar aku juga jahat. Masih kalian mengatakan aku pabo! kalian berdua yang pabo!" Lea meneriaki Mira dan Mora, Aira langsung geleng-geleng.


"Lea sabar, hanya anak kecil. Mereka si kembar beda rahim,"


"Apa? jadi mereka yang ditakuti oleh Isel dan kamu?" Lea melihat dua anak kecil berlari pulang.


Dean sudah menyingkir lebih dulu, dia tahu apa yang akan terjadi. Black dan Juan coba menjaga Lea dari amukan.

__ADS_1


"Matilah kamu Lea!" Aira bersiap lari melihat Mira dan Mora membawa pedang panjang lebih panjang dari milik Isel.


Keduanya berlari, Lea langsung teriak mengejar Aira yang sudah lari lebih dulu. Juan menarik dua anak kecil dibantu oleh Black.


"Sayang, Mora Mira Aunty sedang bersedih jangan dipukul." Juan terduduk tidak bisa menahan Mira yang tenaganya kuat.


"Mora tunggu." Balck menatap tangannya yang digigit.


Di dalam rumah Aira memanggil Maminya, Lea sudah teriak histeris menatap dua anak kecil yang marah karena dibentak dan dikatain pabo padahal mereka duluan yang mulai.


"Ada apa ini? Andriana, Almora, Almira ini anak siapa lagi satu?!" Aliya mengejar empat orang yang sudah lari-larian.


Tangisan Lea terdengar langsung berlutut di kaki Al, Mora dan Mira memukulinya dengan pedang sehingga membuat Aliya memeluk wanita yang tidak dia kenali menangis histeris.


"Mora Mira hentikan! Nenda marah jika kalian tidak berhenti." Al menatap tajam dua wanita yang menatapnya tidak kalah tajam.


"Aunty ini memarahi kita,"


"Tapi dia bukan lawan kalian, cari Isel atau Aira saja." Al meminta keduanya tarik napas buang napas.


"Mami jahat! anak sendiri dijadikan tumbal." Aira masih duduk di atas meja menatap Lea yang masih menangis.


Wajah kesal masih terlihat, Black dan Juan masuk menatap Lea yang masih memeluk kaki mami Al. Juan meminta Mora dan Mira pulang.


"Dasar babi." Lea menatap si kecil yang mengangkat pedang kembali.


"Mora dia menghina kita seperti babi,"


"Tidak ada babi di sini, Uncle yang mirip babi. Kalian pulang dulu kasihan Aunty ketakutan." Juan memeluk si kembar beda rahim.


Lea sudah cekikikan tertawa, tenaganya serasa kembali karena lari-larian. Ai juga mentertawakan Lea yang akhirnya terkena pukulan.


Dean juga tertawa, saat Black datang keduanya membuat pingsan, bertemu Lea kejar-kejaran sampai menangis.


"Aunty tertawa, tadi menangis. Nenda, aunty mengatakan jika Mama dan papanya meninggal secara bersamaan, sehingga dia merasa sedih. Kenapa bisa seperti itu Nenda?" Mira dan Mora memeluk Aliya yang langsung menatap Juan.


"Namanya juga takdir, mereka berjodoh hidup dan mati. Nenda juga ingin seperti itu, jika Kakek berpulang Nenda juga ingin ikut. Namanya juga cinta sehidup semati." Al memeluk kedua cucunya yang belum mengerti arti berpulang.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2