SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PUTUS HUBUNGAN


__ADS_3

Suara pertarungan di pelabuhan terdengar, Tika dan Shin melepaskan tembakan berkali-kali sampai puluhan hampir ratusan orang tergeletak memegang kaki yang ditembak.


Senyuman dua wanita terlihat, dikelilingi oleh banyak orang yang tergeletak. Shin melihat Ren lompat ke air, sedangkan Mimor yang ada di atas jetski beradu tembak.


"Sedikit saja putriku terluka, maka tidak ada satupun orang yang hidup di tempat ini." Shin mengarahkan senjatanya, tapi Tika menahan.


"Jika bisa menembak, mungkin Mira sudah melakukannya. Pasti ada hal yang membuatnya tidak bisa menembak ke arah kapal." Tika menatap jam tangannya karena puluhan mobil polisi akan segera sampai.


Keduanya berlari kencang ke arah kapal, Tika melihat Laura yang terkulai lemas bersama bom di tubuhnya.


"Shin, bersiaplah. Aku akan mematikan bom sekarang." Tika mendekati Laura melihat bom jenis apa yang dipasangkan ke tubuhnya.


Mata Laura terpejam karena memiliki banyak luka, kesadarannya hampir hilang. Dia sudah pasrah apapun yang akan terjadi.


Satu kabel digunting, Tika melakukannya dengan cepat. Tidak terlihat wajah takut sama sekali karena sudah biasa bermain bom.


"Berapa lama lagi Tika, anak-anak mendekati kapal. Jika mereka masuk, kita bertiga mati di sini." Shin memberikan peringatan keras agar Tika mempercepat gerakan.


"Sebentar lagi, aku tidak sehebat dulu. Mata aku mulai rabun, mana kabelnya kecil. Mereka membuat rakitan bom versi baru." Tika memotong hampir sepuluh kabel.


Tarikan napas Shin dan panjang, matanya menyipit mengarahkan senjata ke kapal yang tidak bisa melaju karena ada Ren dan Mimor yang coba menghentikan.


Tangan Tika terangkat, melepaskan bom dari tubuh Laura. Meminta Shin segera melepaskan tembakan agar mereka bisa melarikan diri sebelum kepolisian datang.


"Shin cepat," teriak Tika.


"Tika, aku kaget. Kalau aku jantungan bagaimana?" Shin mengumpat karena konsetrasi buyar, Tika hanya cengengesan memegang bom siap membuang ke laut.


Suara tembakan terdengar, beberapa penjaga di kapal berjatuhan. Tika melemparkan bom ke arah air membuat ledakan besar karena remote kontrol tertekan.


"Mama, ini giliran Mimor, jangan disudahi dulu." Mira naik ke atas kapal dengan wajah cemberut.


Suara pertarungan terdengar, begitupun dengan tembakan terdengar di dalam kapal. Dua kembar bertarung, berhasil menghindari tiap tembakan.


"Shin, kita pergi dari sini karena kepolisian tiba." Tika menepuk pundak sahabat yang masih cemas melihat kedua putrinya.


Mata Mira memberikan kode jika kepolisian sudah ada di pelabuhan dan mulai mendekati mereka.

__ADS_1


Mira melepaskan tembakan ke arah paha Kim yang langsung berlutut, Mora juga melepaskan tembakan ke arah tangan yang memegang senjata.


"Paman tua urus mereka, kita pergi dulu." Mora naik kembali ke jet ski begitupun dengan Mira.


Kepala Ren mengangguk, mengarahkan senjata tepat di kepala Kim. Meminta untuk tidak berkutik sama sekali.


"Lepaskan aku, maka kamu bisa mendapatkan apa yang aku cari." Kim menatap ke arah Ren memintanya bekerja sama.


Ren harus mengantikan dirinya di penjara, secepat mungkin akan dibebaskan. Kim sudah mengetahui letak pulau, setelah bebas Ren boleh bergabung dengannya sebagai tangan kanan.


"Daripada kamu menjadi polisi yang gajinya tidak seberapa," tawar Kim sungguh-sungguh sambil menahan rasa sakit.


Senyuman Ren terlihat, dirinya pernah satu kali berkhianat. Dibantu oleh seseorang yang terlihat jahat, tapi sangat baik.


Ren sudah bersumpah tidak akan mengecewakan adik perempuannya yang sudah membawanya ke tempat yang aman.


Beberapa polisi masuk, mengarahkan senjata. Tubuh Ren Langsung ambruk karena ada bekas tembakan di punggungnya.


"Pria ini pelaku utamanya." Kim menyalahkan Ren yang sudah tidak sadarkan diri.


"Bawa mereka semua," perintah Gemal untuk mengamankan para pelaku.


Suara langkah berlarian terdengar, Dean langsung masuk kapal melihat Ren luka parah.


"Bawa Ren ke rumah sakit sekarang!" Dean menatap Kim.


Tendangan Dean kuat membuat Kim muntah darah, mulutnya diremas kuat karena Kim yang menyebabkan istrinya hampir terluka.


"Kami tidak punya urusan dengan kamu, tapi kenapa mengusik ketenangan rumah tangga kami." Dean mendapatkan kabar jika obat suntikan bukan untuk mengugurkan, tapi membunuh ibu dan janin sekaligus.


"Putriku juga meninggal gara-gara Gemal, dia harus merasakan jika Putrinya juga harus mati." Kim meludah saat melihat Gemal yang menatap tajam.


"Kasus Putrimu karena dia memang salah, mabuk sambil mengemudi hingga menyebabkan kecelakan." Gemal hanya menjalankan tugas untuk menghukum siapapun yang salah, jika akhirnya memutuskan bunuh diri maka bukan urusannya lagi.


Teriakkan Kim terdengar saat dirinya dikeluarkan dari kapal, dibawa secara paksa ke kantor polisi.


"Lapor Pak, semua pelaku dinyatakan terluka, mereka tertembak senjata sendiri."

__ADS_1


Genta langsung geleng-geleng, bisa tahu siapa yang membantu Ren. Tangan Genta mengambil anting kecil milik Putrinya.


"Tika Shin, kenapa melibatkan anak-anak?" Genta menyimpan anting-anting untuk dijadikan barang bukti agar tidak ada yang mengelak lagi.


Laura dikelurkan dari kapal lain, langsung dilahirkan ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang terluka parah.


"Laura, kamu dengar aku. Jangan mati bodoh, katanya ingin melihat anaknya Isel." Vio mengusap wajah sahabatnya yang penuh luka.


Dari dalam mobil, Isel hanya duduk diam menatap banyaknya orang yang ditahan. Sahabatnya juga ditemukan dalam keadaan terluka parah.


"Mengapa kamu melakukan ini Brayen, hidup kamu sudah hancur sejak kecil, tapi karena hasutan dan harta membuat hidup semakin hancur." Isel menyentuh dadanya yang terasa sesak.


Teriakan Weni terdengar melihat Ren digendong, tangan Weni menyentuh wajah lelaki yang mengatakan ingin menjadi kakaknya, berjanji akan menghasilkan uang dengan kerja halal, memberikan untuk dirinya.


"Kenapa bisa terluka, katanya ingin bekerja." Weni menyentuh darah dari punggung Ren.


"Dia masih bernapas, kita larikan dulu ke rumah sakit."


Tatapan Weni tajam, ingin melayangkan pukulan karena dirinya juga tahu kakaknya masih bernapas, jika tidak nyawa Kim langsung dicabut.


Tangan Weni ditarik oleh Bian agar tidak menghalangi polisi melakukan evakuasi, mengamuk tidak akan menyelamatkan nyawa Ren.


Ketukan pintu mobil terdengar, Isel diminta pulang ke rumah untuk beristirahat. Sudah terlalu malam untuk wanita hamil berkeliaran.


"Sayang, kamu pulang di antar Vio, aku harus ke rumah sakit. Mungkin aku tidak pulang." Dean mengusap kepala istrinya yang tersenyum kecil.


Dean menatap Vio, meminta bantuan menemani Isel. Jika besok sore kondisinya baik, boleh berkunjung ke rumah sakit menjenguk Laura.


"Kak Dean kabari Isel terus, bagaimana kondisi di rumah sakit?" Isel menggenggam tangan Dean meminta izin untuk bertemu Brayen.


Kepala Dean mengangguk, jika kondisi sudah baik. Dan bisa dipastikan Isel tidak akan terluka, maka Dean akan mengizinkan untuk bertemu.


Persahabatan hanya ada di mata Isel, tapi di mata Brayen mereka pasangan yang serasi. Isel harus memutuskan hubungan sahabat.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2