
Kebahagiaan sedang dirasakan oleh Angga dan Aira yang melepaskan masa lajang dengan terikat pernikahan.
Cincin pernikahan terpasang di jari manis Angga dan Aira yang tersenyum lebar di hadapan seluruh keluarga, mata Aira bersinar merasa sangat bahagia mendapatkan izin dari keluarga untuk mencintai lelaki yang jauh dari keinginan mereka.
Keluarga yang tertutup, bahkan identitas juga dijaga dengan baik, tapi Ai memilih lelaki yang memiliki jutaan penggemar dan di kenal hampir seluruh penjuru dunia.
"Sekarang sudah sah, kiss Ai." Mata Ai menggoda Angga yang garuk-garuk tekuk leher.
"Malu Ai banyak anak-anak, bukan contoh yang baik." Mata Angga terpejam saat tangan Aira bergelantungan di leher langsung mencium bibir suaminya.
"Aira!" teriak Shin dan Tika yang menatap ke arah Mora dan Mira yang tersenyum dengan mata terbelalak besar, mulutnya tergagap melihat di depannya.
Tawa Aira terdengar merasa puas melihat wajah keluarga yang melihat ke arah lain semua, Ai mengejek Isel yang cemberut melihatnya.
Tamu undangan mulai berdatangan, orang-orang penting juga berpengaruh. Baik anggota keamanan, dokter dan pengusaha besar juga berkumpul menjadi satu.
"Ternyata aktris cantik itu anak kamu Alt? dia paling berani keluar dari zona aman." Sesama kepolisian tertawa melihat Altha yang hanya bisa pasrah karena putrinya memilih menjadi aktris.
Banyak yang lebih kaget soal Angga apalagi dia dinyatakan tidak memiliki keluarga, ternyata anak orang terpandang.
Hubungan Aira dan Angga yang di publish tidak diketahui banyak orang jika keluarga mereka sudah berhubungan baik sejak lama.
"Tampan putra kamu, aku juga ingin memiliki anak lelaki." Teman kerja Anggun memuji ketampanan Angga yang jauh lebih tampan aslinya daripada apa yang dilihat dibalik layar
"Dia lebih mirip Dimas, aku bahagia melihatnya tersenyum seperti itu," Anggun lega bisa menatap wajah bahagia anaknya.
Suara Angga bernyanyi membuat banyak orang berkumpul, menyaksikan betapa nyatanya ada manusia tampan dan memiliki banyak bakat.
Teriakan orang histeris saat Angga melambaikan tangannya, Aira tersenyum menatap suaminya yang digemari oleh banyak kalangan.
"Blackat,"
"Halo semuanya, mungkin tidak banyak yang tahu soal aku, bagi yang tahu dan hadir menjadi saksi pernikahan kami aku ucapkan terima kasih. Aku bahagia bisa kumpul bersama keluarga besar, tanpa adanya media. Kita bertemu lagi di acara selanjutnya aku akan menyapa di sana." Angga membungkuk sedikit tubuhnya mengucapkan terima kasih untuk doa di hari pernikahan.
"Uncle, Mora juga ingin bernyanyi," pinta Mora yang sudah naik ke atas panggung.
"Jangan Mora malu didengar banyak orang," balas Angga yang tahu batas kemampuan Mora, dia harus banyak belajar.
__ADS_1
Mira menarik tangan Mora, dia juga malu jika banyak yang mendengar suara Mora mirip orang tawuran tidak ada iramanya.
Sesi berfoto bersama keluarga diadakan, tangan Angga memeluk pinggang Aira yang juga memeluknya.
"Dimas, mereka datang." Altha menatap ke arah sepasang suami istri yang sedang berjalan mendekat bersama anak bujang dan gadisnya yang turut mendampingi.
Tangan Angga langsung dingin melihat kembali wanita yang melahirkannya datang sebagai tamu undangan.
Anggun dan Aira menggenggam erat, menyadari perasaan Angga yang sedang bercampur aduk.
"Altha, Dimas aku ucapkan selamat ya. Kalian menjadi besan, terima kasih atas undangannya." Pria tinggi memberikan selamat kepada Dimas dan Altha yang menyambut.
Senyuman Angga terlihat, menggenggam erat tangan Mommy dan istrinya, lalu melepaskan perlahan.
Tangan Angga menjabat lelaki yang dinikahi oleh wanita yang tidak bisa dirinya panggil Mama.
"Selamat ya, kamu tampan sekali sangat mirip Daddy kamu saat usia dua puluhan." Tawa terdengar karena tidak sengaja saling mengenal saat Dimas sedang menjalankan misi.
"Terima kasih Uncle sudah, suatu kehormatan untuk Angga kedatangan tamu jauh," ujar Angga merasa senang.
"Memangnya aku suka sama kamu," sindir Aira yang langsung memeluk lengan suaminya.
Angga berjabatan tangan dengan gadis cantik, menyambut baik pelukannya begitupun dengan pemuda tampan yang sangat sopan kepadanya.
"Terima kasih Tante sudah datang." Angga menundukkan kepalanya memberikan hormat tidak berani menyentuh tangan karena pernah dihina jijik bersentuhan.
"Kamu bahagia, aku tidak menyangka takdir membawa kamu sejauh ini?"
"Angga sangat bahagia, ada Daddy yang menerima Angga, juga sosok Mommy yang sangat luar biasa. Dia wanita bagaikan malaikat bagi Angga, meksipun baru bersama aku mendapatkan segalanya serasa puluhan tahun hidup dan terlahir darinya." Angga tersenyum bahagia selain mendapatkan kedua orang tua yang luar biasa Angga juga memiliki saudara yang tidak kalah hebatnya.
"Kamu tidak perlu pertanyakan bahagianya karena akan menjadi tugas kami," ujar Anggun penuh rasa sayang.
"Baguslah, aku harap kesialan tidak pernah datang." Wanita dihadapan Angga melangkah ingin turun dari pelaminan.
"Tante, terima kasih karena Tante aku hadir." Angga memeluk Mommynya karena dia tidak bisa memeluk wanita yang melahirkannya.
Mommy juga memeluk erat, melarang Angga untuk menunjukkan kesedihan, Anggun berjuang agar anaknya bahagia, tidak mengizinkan orang lain membuat menangis.
__ADS_1
"Terima kasih Mommy, Angga sayang sekali kepada mommy." Angga memeluk kembali wanita yang paling hangat pelukannya.
Ai megusap punggung suaminya, keduanya kaget mendengar suara teriakkan Isel yang sudah berdiri di depan ingin rebutan bunga.
"Acara belum selesai Isel, bagaimana bisa dia meminta bunga?" Ai menatap Angga yang sudah tertawa.
Para muda-mudi langsung berkumpul, Gion dan Isel sudah berada di paling depan, bersiap rebutan.
Hanya Dean dan Ian yang tidak ikut bergabung, menonton sambil duduk tenang melihat rusuhnya.
"Apa yang ingin direbutkan dari setangkai bunga?" Ian menggelengkan kepalanya.
"Kapan selesainya ini, aku masih ada sidang?" Dean tarik napas buang napas.
Angga dan Aira bersiap untuk melemparkan bunga, teriakan histeris terdengar. Pria besar tinggi mendorong Isel sambil tersungkur lalu bunga jatuh ditangannya.
Suasana langsung hening, Dean dan Ian juga spontan berdiri. Keluarga yang lain juga berdiri karena panik melihat Isel jatuh.
"Uncle," rengekan Isel terdengar menahan malu.
Dean langsung berjalan ke tengah menarik kerah baju pemuda yang mendorong Isel, merampas bunganya. Gemal langsung maju meminta Dean melepaskan karena ada banyak orang penting.
"Aku bisa membuat kamu tinggal nama di sini." Dean menatap tajam karena tidak ada yang boleh menyakiti Isel.
"Dean, sudah. Jangan membuat keributan." Gemal memeluk adik iparnya yang tersulit emosi.
Pemuda berbadan besar meminta maaf, pengawalnya juga langsung menarik untuk segera kembali.
"Sudah jangan emosian, seperti tidak tahu Isel saja," bisik Gemal yang tahu jika Dean memang sangat sensitif jika bersangkutan dengan Isel melebihi dirinya.
"Kenapa kamu bisa jatuh? membuat malu saja." Dean menyerahkan bunga yang Isel inginkan langsung melangkah pergi dari acara pesta.
Senyuman Angga terlihat, Isel memang selalu bisa membuat keadaan tegang tanpa ketenangan.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1