
Suara pintu terbuka terdengar, Dika melangkah masuk menatap kakaknya yang sudah menunggu kedatangannya.
"Di mana Devan?" terlihat sekali kemarahan di mata Dika.
"Duduk dulu Dika, jangan emosi. Segala sesuatu bisa dibicarakan," tegur Mommy Anggun yang memanggil Devan di kamar tamu.
Devan langsung keluar menatap Ayahnya yang nampak sangat emosional, menujuk wajahnya karena membuat malu keluarga.
"Jika kamu tidak ingin menikah maka jangan menikah, setidaknya masalah tidak sejauh ini," bentak Dika ke arah Devan yang berjalan mendekat.
Tangan Dika terangkat ingin menampar Putranya karena berhubungan sebelum menikah.
"Sedikit saja tangan kamu menyentuhnya maka aku akan membuat kamu merasakan tidur di jeruji besi," tegur Dimas yang menatap tenang keponakannya.
Senyuman Isel terlihat mendengar keributan, menyalahkan Devan karena menyakiti hati temannya.
Kepala Vio menggeleng menatap Devan yang nampak marah, Dean hanya duduk saja menonton.
"Siapa wanitanya Devan?" tanya Daddy Dimas.
"Katakan Devan, jadi laki-laki kamu harus tanggung jawab," ujar Isel duduk santai di atas meja tidak sadar jika tubuhnya mirip gajah.
Tidak ada jawaban dari Devan begitupun dengan Vio yang takut mengeluarkan suaranya, masih memilih diam.
"Aku tidak tahu jika dia hamil, tapi aku hanya berhubungan dengan satu wanita. Hubungan itu juga tidak ada paksaan karena sama-sama menikmatinya," jelas Devan tidak melakukan pembelaan karena sadar jika dirinya salah.
Masalah pernikahan juga atas keinginan orangtuanya, Devan tidak ingin membantah sehingga ikut saja karena tidak memiliki rencana keluarga bahagia.
"Apa tujuan kamu menikah Van?" Mommy mengerutkan keningnya.
"Tidak ada Mom, intinya menikah saja. Aku tidak menyukainya apalagi cinta. Devan tidak peduli akhir dari pernikahan ini," jelas Devan meminta maaf kepada Bundanya yang sudah menangis.
Tangan Dika menarik kerah baju Devan, mendekati hari H baru Devan mengutarakan apa yang diinginkannya selama ini hanya diam saja tidak ada pembicaraan apapun.
"Apa mau kamu?"
"Tidak ada Ayah, terserah kalian. Jika ingin melanjutkan pernikahan silahkan," ujar Devan yang tidak peduli dengan apapun.
__ADS_1
Pukulan tangan Dimas di sofa terdengar, meminta Devan dan Dika duduk. Tidak ada gunanya bicara dengan emosi.
Dimas tahun Devan sudah besar, tidak bisa dinasehati dengan kata-kata karena sudah tahu baik dan buruk tindakannya.
"Apa kamu mencintai wanita itu? Wanita yang tersimpan di hati kamu?"
"Tidak tahu," jawab Devan.
"Devan! jangan pancing amarah dengan jawaban terserah, tidak tahu, mungkin karena kita di sini ingin memutuskan tindakan yang tepat agar tidak ada yang dirugikan. Tidak ada orang tua yang ingin anak-anak tersakiti," bentak Dimas dengan nada yang masih penuh wibawa.
Aliya dan Altha melangkah masuk, binggung melihat orang kumpul. Hampir seluruh anggota keluarga bermunculan karena sudah pulang kerja.
Kepala Devan menggeleng, dirinya tidak berhak mencintai karena sejak awal semuanya salah dirinya.
"Dulu aku terlalu fokus mengejar gelar, aku anak orang berada, bisa mendapatkan wanita manapun yang aku inginkan, maka kehilangan dia bukan masalah." Air mata Devan menetes karena tidak ingin mendapatkan cinta lagi.
"Kamu meninggalkan dia, tapi berlaga menjadi korban?" tanya Isel memukul kepala Devan menbuat Dean menarik tangan istrinya.
"Bodoh, harta bisa habis. Kebanyakan makan tahi udang jadinya begitu." Aira yang mendengar menarik telinga Devan kuat.
"Ura juga suka makan udang, tahi udang ada di mana?" tanya Ura menatap Kakeknya langsung duduk dipangkuan.
"Sekarang apa maunya Devan, bicara sama Bunda?"
"Siapa yang ingin menikah?" tanya Aliya memegang undangan.
Langkah Aliya mendekat duduk santai di samping Aira yang menatap undangan pernikahan.
"Siapa wanita yang kamu cintai?"
Di dekat pintu Vio sudah meneteskan air matanya, sadar diri jika dirinya hanya orang miskin. Tidak heran dirinya ditinggalkan.
Tika menatap Vio yang nampak sedih, pasti menyakitkan sekali lelaki yang pernah dicintai memilih meninggalkan hanya karena berbeda status.
"Kenapa kamu menangis? apa yang kamu capai sampai saat ini sungguh luar biasa. Ghiselin lahir dari keluarga berada, begitupun dengan Laura sebagai Putri tunggal, Weni juga memiliki segudang bisnis, hanya kamu yang harus berjuang. Kamu sudah berhasil mengimbangi ketiga teman kamu, bahkan lebih dari mereka." Tika memeluk Vio yang berderai air mata.
Usapan tangan Tika lembut, kasihan melihat Vio yang banyak terluka, tapi masih terus maju untuk bisa membahagiakan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa salah aku lahir sebagai seseorang yang tidak punya?"
"Tidak ada manusia yang sempurna Vio, jika Allah mengambil nikmat itu tubuh yang sehat bisa saja langsung lumpuh." Shin mengusap kepala Vio.
Air mata Devan juga terus keluar, hal yang paling disesali dalam hidup karena membandingkan satu wanita yang menemaninya berjuang, dengan wanita yang menyambutnya setelah jaya.
"Kata maaf tidak pantas aku ucapkan, apalagi meminta kesempatan. Aku sadar diri soal itu," ujar Devan yang masih tertunduk.
"Saat itu kalian masih muda, wajar saja melakukan kesalahan. Hal seperti ini tidak harus kita ributkan, tapi diselesaikan. Kamu harus minta maaf jika salah, seumur hidup wanita itu masih mencintai kamu dan menunggu permintaan maaf kamu." Altha angkat bicara karena dirinya banyak diam dari segala masalah.
Alt tahu jika calon istri Devan seorang dokter, tapi saat ini sedang mengandung anak orang lain. Keluarga wanita sengaja menutupinya, tapi keluarga Devan tidak tahu.
"Kalian pasti terkejut, sama aku juga. Tanpa sengaja aku bertemu Devan di restoran setelah pertemuan. Kita berdua mengobrol santai, dan melihat calon istri Devan bersama lelaki lain membicarakan soal kehamilan, tapi enggan bertanggung jawab." Altha memberitahu semua orang karena Devan juga tahu semuanya, tapi memilih diam.
Mulut Isel menganga, tidak menyangka jika akan menemukan fakta yang sungguh mengejutkan.
Devan memang lelaki paling bodoh, dia tidak peduli dengan masa depannya karena kehilangan wanita yang dicintainya.
"Devan minta maaf, Ayah Bunda." Devan berdiri berjalan mendekati Vio yang masih menangis.
Tatapan mata Vio tajam, Weni dan Laura menutup mata sahabatnya yang mirip burung hantu jika marah.
"Ayo kita bicara, lebih baik diselesaikan berdua."
"Tidak, aku tidak ingin bicara apapun lagi." Tangan Vio ditarik paksa keluar rumah.
Isel langsung berdiri, dirinya binggung harus mengikuti Vio atau melihat tindakan Ayah Bunda yang marah besar ingin membatalkan pernikahan yang sudah mepet.
"Duduk sayang, kamu bisa melahirkan jika tegang," tegur Dean.
"Bi, tetap di sini dengarkan pembicara ayah bunda, Isel pergi dulu mengintip." Isel melangkah cepat diikuti oleh Weni, Laura, Aira, Lea bahkan Shin dan Tika juga ikut-ikutan.
Ada banyak kepala yang mengintip, memegang wajah karena Vio menampar Devan. Secara tiba-tiba Devan memeluk erat tidak peduli dengan Vio yang memberontak.
"Drama cinta, tidak jelas sekali." Suara dari atas pohon terdengar.
Semua Kepala melihat ke atas melihat dua remaja yang asik bersantai sambil melihat ke arah Devan dan Vio.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira