SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
LAHIRAN


__ADS_3

Wajah Juan tidak menunjukkan kecemasan sama sekali, meninggalkan pesta begitu saja tanpa memberitahu siapapun.


"Masih kuat jalan sayang, mau aku gendong?"


"Tidak Kak, Lea masih kuat jalan, tapi tidak sanggup sakitnya." Wajah Lea meringis meremas tangan suaminya yang setia mengandeng.


Tanpa sengaja di parkiran Juan bertemu Isel dan Dean yang baru sampai bersama Gion dan Ian yang kembali dari luar negeri.


"Kak Juan ingin pergi ke mana?" tanya Isel penasaran.


"Lahiran Isel, Lea sudah kontraksi." Juan melempar kunci mobil ke arah Dean yang langsung panik mencari keberadaan mobil.


"lahiran?" teriak Gion, Ian dan Isel yang langsung bergegas juga ingin masuk ke mobil.


Dua mobil berangkat ke rumah sakit, Isel meminta Lea tenang padahal dia yang tidak tenang karena gelisah.


Tangan Isel sampai gemetaran panas dingin, megusap keringat di kening yang mengalir seperti sedang olahraga.


"Kenapa kamu yang panik Sel, bukan kamu yang ingin lahiran?" Dean menarik tangan Isel agar sadar jika dia terlalu berlebihan.


"Hayo fokus, jangan lebai Sel." Tangan Juan memberikan tisu agar mengelap keringatnya.


"Kak Lea tidak takut, Isel panik rasanya ingin lahiran juga." Bibir bawah Isel digigit secara paksa karena dia tidak tega melihat kondisi Lea.


Tawa Lea terdengar, mengusap perutnya yang terasa sakit. Isel membuatnya geli karena anak nakal yang tidak ada tempat takutnya gemetaran.


"Ini sakit sekali, tapi aku bahagia karena akan segera bertemu. Selama sembilan bulan menantinya tumbuh dan sudah waktunya kita berjumpa." Air mata Lea menetes, selama sembilan bulan mereka berbagi makan dan minum, sekarang anaknya akan berjuang sendiri.


"Kamu pasti tidak akan takut jika merasakannya, setiap malam dia bergerak, menendang membuat kegaduhan agar Bunda dan Ayah tidak tidur." Usapan pelan tangan Juan di perut istrinya berusaha menenangkan karena Juan juga seorang Dokter yang tahu soal perkembangan janin.


Mata Isel berkedip-kedip, memperhatikan keromantisan keduanya yang saling menguatkan. Saat Lea meringis kesakitan, Juan mengusap pinggang istrinya meminta anaknya tenang.


"Isel ingin menikah, kenapa lama sekali lulus kuliahnya?" Isel memukul dasbor mobil membuat Dean kaget.

__ADS_1


"Gila kamu Sel!" bentak Dean dengan nada kasar sambil memegang jantungnya karena masih khawatir melihat Lea.


"Intinya tahun depan Isel harus menikah, lulus kuliah langsung naik pelaminan. Isel tidak akan menunda lagi," ujar Isel begitu yakin jika dia akan menikah muda.


"Kenapa kamu begitu ingin menikah muda?" Juan tidak setuju jika Isel menikah karena masa mudanya masih panjang.


"Kenapa begitu Kak? Mami Aliya juga menikah muda, lulus sekolah langsung menikah bahkan kuliah setelah punya anak. Mami Aliya nakal, bodoh, tapi bisa menjadi ibu yang hebat. Isel juga bisa." Senyuman Isel terlihat menatap Juan yang hanya bisa terdiam mendengar kompline Isel yang sepenuhnya benar.


Keadaan membuat Aliya telat lulus sekolah, saat lulus langsung menikah. Al tidak ingin memiliki pendidikan tinggi, dia wanita pintar hanya salah menempatkan diri.


"Iya, kamu tidak boleh mengikuti jejak buruknya," balas Juan mencoba mengalihkan pikiran Isel.


"Buruknya, Mami telat lulus dan lama kuliahnya, sedangkan Isel tepat waktu berarti Isel jauh lebih baik dari Mami." Kepala Isel menoleh ke depan fokus ke jalanan yang sudah sepi karena hampir tengah malam.


"Kamu boleh saja menikah Sel, asalkan tidak mendahului Uncle. Jangan gila kamu menikah lebih dulu, sedangkan Uncle enam tahun lebih tua dari kamu." Suara Dean menimpali terdengar tidak akan mengizinkan jika ada lelaki sembarangan yang mencoba mendekat.


Ekspresi kesal terlihat, Isel tidak menjawab masih fokus ke depan. Dia tidak peduli dengan ancaman Dean, saat Isel menginginkan maka dia akan mendapatkannya.


Sesampainya di rumah sakit, Lea sudah mencengkram kuat tangannya menahan sakitnya yang luar biasa. Dokter yang Juan hubungin sudah bersiap menyambut Lea yang masih nampak santai.


Pertanyaan Isel tidak memiliki jawaban karena tidak bisa diprediksi, jika mudah mungkin hanya dalam hitungan menit.


"Dean, hubungan Mami nanti setelah pesta di sana selesai." Juan melihat jam sudah pukul sebelas lewat seharusnya sudah selesai.


Kepala Dean mengangguk, menyemangati Juan agar fokus saja kepada anaknya yang hampir lahir.


Dean menghubungi Mommynya, menanyakan soal pesta yang ternyata masih berlangsung. Ada beberapa aktor dan aktris.


"Kenapa juga belum selesai, seharusnya jam sepuluh selesai Mom paling lama jam sebelas memangnya acara party bisa sampai subuh?" Dean merasa kesal karena seharusnya mereka tidak melewati jadwal.


"Mommy tidak tahu Dean, Aira dan Angga sudah turun, tapi ada pertemuan bisnis para selebriti." Anggun menjelaskan pesta para aktris berbeda dengan pernikahan normal.


"Kabari Mami jika kita ada di rumah sakit karena Lea ingin lahiran, masalahnya selain doa dan kunjungan, kita butuh pakaian bayi." Dean mematikan panggilan cukup Mommynya saja yang dia hubungi karena jika Aliya pasti heboh membawa orang sekampung.

__ADS_1


Isel menghitung jam yang mendekati pukul dua belas padahal dia ingin memberikan kejutan ulang tahun kepada Dean, tapi mereka ada di rumah sakit.


Di hotel, Mommy menarik Aliya untuk pulang karena ada hal yang lebih penting untuk mereka selesaikan.


"Mami, di mana Kak Juan. Dean juga belum terlihat batang hidungnya, Aira ingin merayakan ulang tahun bersama." Ai menujukkan pukul sebelas lewat, tiga puluh menit lagi waktu berganti.


"Besok saja Ai, kita ke rumah sakit sekarang Lea ingin lahiran." Aliya menghubungi pelayan membawa pakaian bayi yang sudah disiapkan, mereka cukup jauh menuju rumah sakit.


Perasaan Aira langsung deg-degan, menatap Angga yang juga sama khawatirnya namun dia tidak bisa meninggalkan pesta karena masih banyak tamu.


Semua memilih kembali, kecuali Angga. Aira ikut Mami Papi ke rumah sakit. Mereka tidak harus pulang ke rumah karena Gion dan Ian yang mengambil pakaian bayi.


"Ya Allah lindungilah Lea, kenapa mereka pergi tanpa mengatakan apapun." Papi meminta semuanya berdoa untuk keselamatan ibu dan bayi.


Aliya mengenggam tangan Aira yang terlihat panik, dia sangat mengkhawatirkan Lea karena pernah mengalami kecelakaan hebat.


"Pas sekali Mi, anak Kak Juan ingin lahir bersamaan dengan ulang tahun Papanya." Senyuman Aira terlihat memeluk Mamanya.


"Bismilah tahun depan Aira juga punya baby, semoga saja tidak nakal seperti Aira." Tangan Al mengusap kepala putrinya.


Mobil sampai di rumah sakit, Isel sudah berdiri di depan pintu masuk. Membawa kotak kecil, tapi langsung meyembunyikan dari Aira.


"Kenapa kamu disini, cepat masuk." Mami menarik tangan Isel yang meletakkan kotak kecil yang berisikan kue.


Jam berdentang, suara bayi terdengar bertepatan jam dua belas pas, jantung Juan tidak karuan mendengar suara tangisan bayinya.


"Kak Juan, sini sebentar." Lea meminta suaminya mendekat.


"Kenapa sayang?" Juan megusap kepala istrinya yang harus melahirkan satu bayi lagi.


"Happy birthday Kak Juan, selamat jadi Ayah." Senyuman Lea terlihat, meringis kembali saat rasa sakit kembali terasa.


Suara tangisan bayi kedua terdengar, Lea dan Juan berpelukan sambil menangis melihat dua baby Boy lahir.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2