
Di dalam kamar yang sunyi, Isel duduk di atas ranjang menatap wajah suaminya yang sedang tidur pulas menggenggam tangannya.
"Kenapa tidak tidur sayang, apa kamu mengiginkan sesuatu?" Dean duduk di samping istrinya karena cemas jika Isel kurang tidur.
"Isel tidak bisa tidur, baby ingin bergadang." Pelukan Isel erat arah tubuh suaminya.
"Ya sudah kamu ingin melakukan apa? Abi temani," ucap Dean yang menepuk wajahnya agat tidak tidur karena harus menjaga Isel.
Kepala Isel menggeleng, dirinya tidak ingin melakukan apapun. Isel hanya ingin berdiam diri menikmati malam yang sunyi.
Kerutan di kening Dean terlihat, turun dari atas ranjang karena ingin membuatkan makannya khusus untuk istrinya.
Senyuman Isel terlihat karena Dean sangat perhatian kepadanya terlihat sekali besarnya rasa sayangnya kepada buah hatinya.
"Isel ikut, Abi ingin masak apa?" tanya Isel yang mengikuti dari belakang.
"Hati-hati jalannya, pelan-pelan saja." Dean menarik kursi agar Isel duduk di kursi tidak melakukan apapun karena dirinya yang akan menyiapkan segalanya.
Penuh kesabaran Isel menunggu makan malam yang disiapkan, bau wanginya tercium sampai keluar rumah.
"Bi, bisa cepat tidak perut Isel jadinya lapar, butuh makanan ini." Tangan Isel mengusap perutnya yang tidak sabar lagi ingin melahap.
"Sabar sayang, sebentar lagi kamu bisa makan. Duduk diam saja jangan banyak gerak." Dean mendengar suara pintu diketuk tengah malam.
Wajah Dean dan Isel saling pandang karena mendengar jelas suara menangis di depan rumha, Isel langsung mendekati Dean memeluk erat karena suaranya semkin jelas.
"Aira, kenapa dia macam-macam di sini?" Dean sangat mengenali suara Ai jika menangis.
"Memangnya itu suara Kak Ai?"
Kepala Dean mengangguk, berjalan ke arah pintu membuka gorden jendela. Dean hampir berteriak karena wajah Aira menempel di kaca.
"Astaghfirullah Al azim Aira, candaan kamu tidak lucu sekali," kesal Dean karena Aira bertemu di jam satu malam.
"Buka, di luar dingin."
Pintu terbuak, senyuman Aira terlihat karena hidungnya mencium bau yang sangat wangi. Ai berjalan ke dapur melihat makan di atas meja.
"Kak Ai tidak tahu aturan sekali, datang ke rumah tengah malam." Isel mengambil makanan miliknya.
"Minta, aku lapar." Bibir Ai manyun mengusap perutnya.
"Tidak mau, ini punya Isel." Rebutan makanan terjadi antara dua bumil.
__ADS_1
Dean yang melihat menggelengkan kepala meminta keduanya berhenti karena bisa saja makan di tangan tumpah.
"Dibagi saja makannya. Kembalikan Sel," pinta Dean.
"Kenapa juga minta makan ke sini, suami kak Ai ada minta dia yang masak. Kenapa Isel harus membagi makanan?" suara tangisan Isel terdengar menghempaskan piringnya tidak ingin makan lagi.
Suara salam terdengar, Dean tercengang melihat Lea juga datang menatap makanan di tangan Dean langsung mengambil piring memintanya.
"Dean aku lapar, mau makan," pinta Lea yang juga mencium bau sampai rumahnya.
Tangisan Isel semakin besar, memeluk Dean dari belakang tidak ingin membagi makannya karena khusus untuk dirinya.
Dean berada dalam dilema, satu istrinya, satu istri kakaknya dan satunya istri sahabatnya. Jika membagi ketiganya Isel ngambek, jika tidak diberi dua bumil ngambek.
"Makanan ini tidak mampu dibagi tiga, jadi solusinya berikan ini kepada Isel kalian berdua duduk menunggu untuk masak ulang, tadi juga Isel menunggu. Bagaimana setuju?" Dean menatap dua bumil yang memegang piring minta makan, sedangkan Isel masih menangis memeluknya.
"Ai sudah lapar tidak bisa menunggu, jadinya semakin lapar."
"Lebih baik meenunggu daripada tdak makan." Dean menunggu persetujuan, semkain lama berpikir makan semkain lam juga untuk makan.
Akhirnya Dean mengambil jalan tengah lagi, Isel harus menunggu makanan Lea dan Aira masak baru boleh makan, jadi makannya bersama-sama.
Tiga wanita duduk menatap Dean, lirikan mata ketiganya sama-sama tajam. Dean merasakan bulu kuduknya merinding.
"Ke mana Kak Angga dan Juan, masa iya istrinya keluar rumah tidak tahu," gumam Dean dengan nada pelan karena moments romantis terganggu.
"Bi, masih lama tidak, Isel tidak sanggup lagi."
"Sabar sayang, tunggu ya." Senyuman Dean terlihat menatap istrinya yang sangat mengemaskan.
Tatapan mematikan Aira terlihat, meminta Dean masak dengan cepat tidak perlu mencuri pandang. Semakin lama Dean, maka mereka bisa mati kelaparan.
"Sabar Aira, kenapa kamu emosian sekali? jangan suka marah-marah, bawa happy." Tawa Dean terdengar merasa konyol karena dini hari sibuk masak untuk tiga bumil yang jauh-jauh datang.
Dean membawa tiga piring makanan, salut dengan penciuman ketiganya yang sangat tajam.
"Bi, Isel tidak mau yang tadi, mau yang baru." Bibir Isel manyun melihat punya Aira dan Isel berasap, sedangkan miliknya tidak.
Di dalam hati Dean memperbanyak istighfar, bersyukurnya dirinya sudah kebal mengahadapi wanita aneh.
Dean sengaja masak tiga karena tahu akan terjadi, sebelum dirinya gila maka harus menyiapkan mental.
"Bentar ya sayang, sudah aku siapkan punya kamu yang baru." Dean meletakkan tiga piring.
__ADS_1
"Terus yang satu itu buat siapa, boleh tidak untuk Lea?"
"Tidak boleh, Dean juga lapar Kak. Habiskan dulu nanti kita masak lagi." Dean tersenyum memberikan air minum.
Tangan Lea dan Isel terangkat untuk berdoa, sedangkan Aira langsung makan lupa membaca doa.
"Aira doa dulu," tegur Dean.
"Astaghfirullah lupa," jawab Aira yang mengeluarkan kembali.
Kepala Dean tertunduk menahan tawa, merasa bahagia melihat ketiganya makan dengan lahap. Senyuman lebar juga terlihat karena merasa puas.
"Enak, Kak Ai ingin mencicipi punya Isel tidak?"
"Mau, tapi kamu pasti ingin mencicipi punya Ai juga?" Aira sudah tahu niat busuk Isel.
"Lea juga mau."
Dean yang duduk di depan ketiganya hanya bisa melongo, makanan yang dibuat satu tempat, bumbu dan adukan sama tidak mungkin beda rasa.
Tarikan napas Dean karena ada saja tingkah laku jika sedang hamil, tidak bisa kontrol diri bertingkah aneh.
"Enak, punya Kak Ai enak, punya kak Lea juga enak, punya Isel lebih enak." Piring Isel bersih tidak tersisa sedikitpun.
"Wow kenyang." Aira mengusap perutnya, tapi matanya masih melihat ke arah piring Dean.
Tiga sendok masuk piring, Dean hanya bisa cemberut karena punyanya juga diambil. Padahal sisa sedikit.
"Punya Dean tidak enak." Ai langsung minum.
"Tidak enak, piring ini yang memanggil kalian berdua?!" perasaan Dean kesal karena mengucapkan tidak enak minta terus.
Selesai makan Dean meminta Aira dan Lea pulang, jangan sampai suami dan anak mencari-cari karena kehilangan istri.
"Cepat pulang, aku pantau dari depan pintu." Dean menarik tangan dua wanita.
"Besok Aira datang lagi, kita makan." Ai tersenyum melambaikan tangannya pamit pulang.
"Besok jam berapa Ai?"
"Jam satu, kita pergi sama-sama."
Dean geleng-geleng kepala, pada akhirnya dirinya dijadikan koki.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira