
Persiapan keberangkatan heboh, Angga melarang Mommynya, tapi ditambah lagi oleh yang lainnya ingin ikut pergi.
"Uncle Mira juga ikut ya? nanti Mira duduk di atas pundaknya Papa,"
"Lalu Adik kamu bagaimana?"
Mata Mira memicing memikirkan nasib adiknya jika dia ada di pundak Papanya, sedangkan Adiknya ada dua.
"Satunya sama Mama, dan satunya lagi sama Kakek Altha," senyuman manis terlihat setelah berhasil memecahkan misteri menonton konser.
"Lalu bagaimana dengan Mora dan kedua Adiknya?"
Mata Mira langsung melotot, Mora bisa duduk di pundak Papinya, satunya bersama Mami dan satunya lagi bersama Uncle Gemal.
Angga menepuk jidat, ada saja alasan Mira agar memiliki jalan untuk bisa melihat konser yang diadakan secara besar-besaran.
"Kenapa pusing harus dijaga oleh siapa? ada Uncle Gemal, Uncle Juan, Uncle Dean, Kakek Altha, Dimas dan masih banyak bodyguard. Jika niatnya menonton pasti ada saja jalannya dasar alasan saja tidak mengizinkan pergi. Jangan membuat kami anak kecil alasan, alasan yang sudah basi." Mora menggoyangkan kakinya sambil tiduran melihat langit.
Senyuman Angga terlihat hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ucapan Mora benar orang dewasa hanya membuat alasan dan mereka korbannya.
"Kapan berangkatnya Dek?"
"Malam ini Kak Di, tapi masih menunggu Aira yang mengemas barang seperti ingin pindah." Angga melihat ke arah rumah Aira yang sibuk bongkar masuk koper.
"Kak Di suntik vitamin dulu." Diana mengeluarkan jarum suntik, mengarahkan ke lengan.
Mora dan Mira sudah duduk dengan rapi, mereka juga ingin di suntik vitamin agar sehat selalu dan kebal sakit.
Diana hanya memberikan obat kepada kedunya, mengecup gemas karena semakin besar wajah keduanya tetap mirip.
"Uncle coba gombal lucu seperti artis lain yang selalu membuat tertawa," pinta Mira.
"Kalian tahu tidak jika tersenyum kita tidak bisa bernapas?" Tanya Aira yang duduk di dekat pepohonan rindang.
Semua orang tersenyum begitupun dengan Angga, Mora dan Mira yang langsung praktek senyum lebar.
"Nah, jika senyum ganteng." Tangan Aira menyentuh dagu Angga yang langsung tertawa menutup wajahnya merasa malu.
__ADS_1
Diana yang melihatnya langsung pulang, Aira memiliki seribu cara untuk menggoda Angga yang memang sangat polos.
"Ayo Mira kita pulang saja, percuma senyum lebar sampai gigi kering tidak akan dipuji cantik. Malu sama semut yang berjalan." Mora turun dari tempat duduknya menggandeng tangan Mira yang menatap Aira sinis.
"Dasar Aunty genit, menyebalkan sekali." Mira menjulurkan lidahnya kesal dengan Aira yang menunjukkan kemesraan di depan mereka.
Tawa Aira dan Angga tidak bisa berhenti merasa lucu melihat dua anak kecil yang pulang dalam keadaan marah.
"Sendal siapa ini?"
"Mereka pulang hanya menggunakan sendal sebelah?" Angga menepuk kening langsung memungut sendal yang hanya tersisa satu-satu.
Ai langsung duduk di samping Angga, membahas soal keamanan yang menjadi perdebatan di perusahaan.
Penggemar pasti sanagt membludak apalagi konser dua artis besar, Ai tidak menjamin jika hanya ratusan penjaga bisa menghandle.
"Bukannya sudah dibatasin?"
"Iya, perkiraan sudah jutaan tiket terjual padahal konser hanya satu jam setengah,"
"Mengerikan juga melihat manusia sebanyak itu dari belahan dunia,"
Ai sudah mencoba melacaknya namun gagal, pasti ada orang yang ingin Aira rusak baik di mata publik maupun secara langsung.
"Kamu jangan pernah sendiri, apalagi kita akan berada di negara orang. Apa Lea ikut dengan kamu?"
"Aira belum tahu, dia inginnya ikut jika diizinkan oleh Kak Juan,"
Selain perasaan senang akan mengadakan konser kembali, Angga juga merasakan khawatir tanpa alasan.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Dean duduk di samping Aira yang langsung menujukkan sesuatu.
Dean tidak terkejut sama sekali karena Isel yang sudah menghilangkan aku hater, Isel menghubungi Dean selama berjam-jam hanya untuk membicarakan soal hater yang ingin memperburuk reputasi Aira.
Sudah Aira duga jika Isel yang melakukannya, dia sangat suka mengikuti kemajuan para selebriti. Tidak mengizinkan ada yang menjatuhkan Blackat dan Aira tanpa tahu siapa mereka sebenarnya.
"Dean kamu ikut saja untuk menjaga Aira, kita berada di negara luar yang pasti akan bertemu banyak orang. Aku tidak ingin terjadi hal buruk,"
__ADS_1
"Tidak perlu dicemaskan, bukannya perusahaan sudah melakukan yang terbaik." Dean tidak bisa membatalkan sidang yang sudah terjadwal sejak lama.
Suara Lea menghampiri terdengar, dia tidak bisa ikut mengawasi sejak keberangkatan. Lea hanya akan datang mendekati hari H karena memang cukup banyak tim yang dikirim lebih dulu untuk mengecek persiapan.
"Ai, jika kamu merasa khawatir, kita pergi mendekati hari H saja, hanya Blackat yang harus pergi dulu. Dia sudah lebih dari dua tahun meninggalkan panggung sehingga membutuhkan adaptasi, berbeda dengan kamu." Lea tidak menghentikan penjualan tiket yang ternyata ditambah dari pihak luar karena tuntutan dari penggemar yang memaksa untuk penambahan tiket.
"Lea benar Ai, kamu pergi nanti saja,"
"Tidak mau, aku ingin pergi bersama. Kenapa mengkhawatirkan aku? ada Kakak hitam yang akan menjaga." Aira tidak akan jauh dari Black sehingga semuanya akan aman.
Semuanya mencoba tenang dan menepis pikiran buruk, meyakini jika semuanya akan aman dimulai dengan baik juga diakhiri secara baik.
Kekhwatiran yang berlebihan tidak baik untuk konsentrasi, Aira dan Black mencoba untuk fokus kepada konser tanpa memikirkan hal lain.
"Mata aku mengantuk," Angga memejamkan matanya yang ada efek dari obat yang Diana berikan.
Aira melihat ponsel Angga, langsung mengambilnya. Ada pesan dari akun yang sangat aneh meminta Angga menemuinya jika sudah sampai di hotel.
"Bagaimana akun ini bisa tahu jika kita menginap di hotel ini, jika hanya penggemar tidak mungkin tahu kecuali staf." Ai menujukkan pesan di aku sosial media milik Angga.
"Akun ini memang selalu spam, tapi bukannya itu normal antusias penggemar?"
"Masalahnya dia tahu soal hotel," Dean mengkhawatirkan Angga yang memiliki penggemar gila.
Lea menatap tajam, meminta Angga menyerahkan akunnya untuk diselidiki. Lea tidak ingin lengah dengan hater yang mengincar secara terang-terangan.
Kepala Angga bersandar di pohon, Dean langsung pindah duduk agar Kakaknya bisa bersandar.
Juan langsung membuka laptopnya untuk menyelidiki akun yang mengetahui letak hotel yang akan dituju, pasti orang dalam yang membocorkan.
"Kamu mencemaskan Blackat?" Ai menatap Dean yang nampak serius.
"Tentu, kamu tahu sendiri sikap Black yang cuek, dia tidak tahu jika ada banyak orang yang ingin menjatuhkannya." Dean fokus di depan laptopnya sambil sesekali melihat Angga yang tertidur di sampingnya.
"Dean, aku rasa kamu berubah. Selama ini sangat cuek, tapi bersama Angga terlihat peduli sekali,"
Senyuman Dean terlihat menatap Aira, memintanya mengingatkan kembali saat Anggrek melakukan penembakan. Angga pasang badan bukan untuk Aira karena ada Dean di depannya. Dia rela mati demi Dean, mana mungkin Dean rela ada yang menyakiti kakaknya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira