SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
SALAH JURUSAN


__ADS_3

Mobil yang Isel kemudikan melaju dengan kecepatan tinggi, emosinya sedang ada di puncaknya karena melihat pasien gila membuatnya juga ikutan gila.


Semua jenis binatang disebut, pukulan tangan Isel menghantam setir mobil membuat suara klakson terdengar.


Sampai di rumah Isel langsung banting pintu kamar, teriakkan menggema membuat kaca kamarnya bergetar.


Mommy Anggun yang sedang ada di dapur langsung berlari kencang, melihat arah kamar Isel menggema.


"Ada apa sayang kamu teriak seperti itu?"


"Bukan Anggun, tapi dari kamar Isel. Pemilik kamar masih ada di luar negeri, tapi kenapa?" Mommy memeluk lengan suaminya yang juga melangkah mundur.


Suara high heels terdengar dari luar, Aira tersenyum lebar membawa dua paper bag untuk Mommy yang memesan makanan.


"Mommy, ini diletakkan di mana?" Ai menatap kamar Isel yang tertutup rapat.


"Sini sayang, kita ke dapur saja." Mommy merangkul Aira yang berjalan ke dapur bersama Mommy.


Senyuman Aira terlihat, pasangan Mommy dan Daddy Dimas juga menjadi pasangan paling akur.


Keduanya tidak pernah terlibat masalah, selalu romantis juga sangat kompak. Aira sangat mengangumi kerukunan.


"Daddy, maafkan Aira." Ai tahu jika Dimas menginginkan cucu dari anak-anaknya, tapi sudah lama menunggu belum ada tanda Aira bisa memberikan.


"Maaf, kenapa harus meminta maaf Aira?" Daddy rasa kamu terlalu terbebani sehingga nampak terpuruk hanya karena terlambat memiliki anak." Dimas bisa memahami mata menantunya yang tidak ceria seperti dahulu.


"Ai, kamu tidak boleh berpikir jika kita kecewa hanya karena kamu belum bisa memberikan keturunan. Tidak ada yang salah sayang, jangan terburu-buru." Anggun mengusap kepala Aira lembut merasa kasihan melihat menantunya.


Apa yang Aira pikirkan juga pernah Anggun rasakan, setelah melahirkan Dean dokter memvonis Anggun tidak bisa memiliki anak lagi.


Sedih dan hancur, tapi Anggun yakin jika dirinya memiliki satu amanah untuk membesarkan anak semata wayangnya, bukan karena dirinya tidak sempurna, tapi memang rezekinya ada batasan.


"Beberapa bulan ini Aira sensitif sekali Mom, setiap orang bertanya kapan hamil, kapan berencana memiliki momongan, jangan menunda, kurangi pekerjaan jika ingin hamil, Aira sedih Mom. Aira sudah berusaha tidak menangapi, tapi ternyata perasaan Aira terluka." Tangisan Aira tidak tertahankan, akhirnya tumpah. Ai juga kesal dengan dirinya sendiri karena tidak bisa berhenti berharap hal yang belum waktunya.


Air mata Anggun juga menetes, Aira terlalu menginginkan hamil sampai selalu menangis karena takut mengecewakan banyak orang.


"Daddy minta maaf Ai, mungkin kita memberatkan kamu. Aira tidak perlu memaksa, kita di sini berharap kalian bahagia, soal anak jangan dipikirkan." Dimas menepuk pelan tangan Aira.

__ADS_1


Banyak di luaran anak-anak yang membutuhkan orang tua, mereka mengharapkan uluran tangan dari orang-orang berhati mulia.


Kepala Aira mengangguk, mengucapkan terima kasih karena Mommy Daddy mengerti dirinya.


"Kamu sekarang suka menangis?"


"Iya Mom, ini Aira juga ingin menangis lagi." Tangisan Aira terdengar sangat kuat membuat Dimas dan Anggun binggung.


"Kenapa menangis Aira?" Daddy binggung jika wanita sudah menangis.


Suara barang jatuh terdengar, Aira langsung berdiri mengusap air matanya berjalan ke arah suara berisik di dalam kamar Isel.


"Ada apa di dalam kamar ini?"


"Isel sudah pulang Mom." Aira langsung membuka pintu melihat Isel membuang tumpukan buku.


Dimas melangkah mundur melihat Isel membuang seluruh buku soal psikologi dan psikiater, dia tidak ingin melakukannya lagi.


"Kata Uncle hanya mendengarkan keluhan, tapi ternyata Isel harus sekolah kedokteran, setelah lulus diminta mengurus orang gila. Isel tidak ingin melihat buku sialan ini." Isel mengoceh mengeluarkan bukunya.


"Ada apa sayang?" Mommy Anggun memeluk Isel yang mengamuk.


"Uncle menipu Isel, katanya mengambil jurusan psikiater hanya mendengarkan dan memberikan saran, tapi ternyata Isel mengurusi orang gila." Isel memeluk Anggun erat karena tertipu oleh Dean.


Dimas menghubungi Dean yang masih belum kembali, dia mengejar mimpinya untuk menjadi Jaksa demi membela orang yang benar.


Suara Dimas marah-marah terdengar, menegur Dean yang membuat Isel mengamuk karena salah jurusan.


Tawa Dean terdengar melihat Isel yang menangis memeluk Mommy Anggun, dia sekolah psikiater atas saran Dean.


"Aku mengatakan psikologi Isel, bukan psikiater," ujar Dean masih tahan tawa melihat tingkah Isel.


"Apa bedanya?"


Panggilan langsung mati, Aira memukul kepala Isel yang sangat bodoh. Dia kuliah bertahun-tahun tidak tahu bedanya psikologi dan psikiater.


Isel tidak menyadari jika dia mengambil jurusan psikiater, baginya jurusan psikiater dan psikologis sama intinya kuliah saja tidak berpikir hal lain.

__ADS_1


Kepala Aira geleng-geleng, Isel seharusnya paham dan mengerti tujuannya kuliah bukan asal-asalan.


"Sel, kamu lulusan kedokteran, tapi tidak tahu bedanya?"


"Diamlah Aira, aku tidak ingin menjadi psikiater, pria tadi yang ingin bunuh diri saja hampir aku dorong ke bawah karena tidak alasan baginya untuk hidup." Isel terduduk, melihat namanya yang sudah ada gelar.


Teriakkan Diana terdengar, memeluk Putrinya dengan sangat. Diana bangga kepada Isel yang lulus dengan nilai terbaik, juga sangat cepat. Isel mengikuti jejak Diana yang mendapatkan gelar dengan cepat.


"Mama diam dulu, Isel kehilangan akal karena menjadi dokter orang gila." Isel terduduk lemas.


Langkah Gemal terdengar, masih menggunakan seragam lengkap merentangkan tangannya meminta Putri kesayangannya memeluknya.


Senyuman Isel terlihat langsung memeluk Papanya dengan sangat erat karena Isel sangat merindukan Papanya.


Tangisan Isel terdengar membuat Gemal terdiam. Mengusap lembut punggung Putrinya agar bisa tenang.


"Kamu terharu ya sayang


karena bisa lulus dengan sangat cepat. Papa bangga sekali kepada kamu." Gemal mengecup kening Putrinya.


"Papa, Isel salah jurusan. Ternyata Isel menjadi dokter orang gila." Isel menangis histeris karena usaha dan kerja kerasnya sia-sia.


Tawa Gemal terdengar, mendengar cerita Isel jika dia hanya ingin bekerja mendengarkan curahan hati, tapi ternyata salah. Proses pembelajaran yang dia ikuti selama ini bukan sekedar untuk modal dan pengetahuan, namun memang kewajiban.


Dirinya psikiater yang menangani langsung di orang-orang yang sudah termasuk sakit jiwa, bukan untuk mendengar konsultasi.


"Bagus sayang jika kamu menjadi dokter orang gila, ada banyak pasien yang harus kamu obati agar dia kembali ke jalan yang benar." Gemal menyemangati anaknya yang kembali ke kamarnya untuk menenangkan diri.


Tatapan mata Isel tajam, saat dia duduk di pinggir ranjang sudah bolong. Tawa Aira pecah melihat Isel yang nampak kesakitan.


"Kenapa kamu mengumpulkan emas ini Sel? Kak Ai boleh minta tidak?" Aira memegang batang emas.


"Kamu cari mati Aira, kembalikan jika tidak ingin celaka, jangan salahkan aku jika kamu masuk rumah sakit." Isel mengambil bongkahan batang emas menyusunya kembali.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2