SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERTEMU KAKAK


__ADS_3

Lama Blackat berdiam diri melihat dua anak kecil yang sedang adik memancing di kolam berenang. Ada banyak Ikan yang mereka masukkan lalu memancingnya kembali.


"Uncle memikirkan apa? kenapa Uncle tidak menjadi selebriti lagi?" Mira menatap Black sambil memancing ikan.


Kepala Black menggeleng, tidak memiliki jawaban atas pertanyaan dua anak kecil yang baru pulang sekolah langsung membuat masalah.


"Mora, Mira. Jika kalian ada masalah apa yang dilakukan?"


"Uncle, masalahnya kita tidak pernah terkena masalah, tapi menyebabkan masalah." Tawa Mora terdengar, begitu dengan Mira yang cekikikan tertawa.


Tawa Blackat juga terdengar, merasa lucu dengan keduanya yang tidak memiliki beban pikiran. Black langsung terbelalak kaget, melihat Mora lompat ke dalam air langsung mengejar ikan menggunakan serok ikan.


Suara teriakan Mira terdengar mengarahkan Mora untuk mengejar ikan sambil berenang, dan memarahi Mora yang kalah cepat dengan ikan.


Kepala Blackat yang melihatnya saja pusing apalagi ikan di dalam kolam sudah pasti stress.


"Lama sekali Mora,"


"Kamu saja yang menyelam, Mora capek harus mengejar ke sana sini, sunu sene. Kamu saja yang menyelam." Teriakan Mora terdengar memarahi Mira yang menolak menceburkan diri.


Suara teriakan memanggil terdengar, Mira langsung berlari bersembunyi di samping tiang, sedang Mora menyelam saat mendengar suara Shin memanggilnya.


Black langsung berdiri, menatap Shin yang mengendong anak kecil yang sangat tampan. Mata Shin juga terbelalak melihat keberadaan Blackat.


"Kamu ... Blackat, Angga." Shin menatap serius Black yang pernah dia kenal beberapa tahun yang lalu ada di perumahannya.


Mora muncul dari air, naik pelan-pelan berjalan ke atas melarikan diri dari Shin yang sudah membawa kayu kecil.


Mira juga merangkak pelan, langsung berlari kencang mengejar Mora yang sudah menghilang lebih dulu.


"Kenapa kamu ada di sini?"


"Aku sedang bersembunyi Kak, soalnya terkena kasus obat terlarang." Kepala Black tertunduk tidak nyaman melihat Shin yang muncul secara tiba-tiba.


Tangan Shin mengusap punggung Black, meksipun jarang memperhatikan perkembangan Black, Shin tahu dia anak baik.


"Sudah lama tidak bertemu, kamu memiliki janji yang harus ditepati. Dulu kamu menyelamatkan Kak Shin, dan berjanji akan menjadi aktris hebat." Shin meminta Black membuktikan jika dirinya tidak bersalah.


Kepala Black mengangguk, dia tidak sedang mengundur waktu hanya saja memulihkan tubuhnya, juga merendam kehebohan berita.


"Dia anaknya Kak Shin?" Black mengulurkan tangannya menyambut bayi kecil berusia satu tahun.

__ADS_1


"Dia putra bungsu Kakak, kamu melihat dua anak kembar? dia pasti ada di sini,"


Senyuman Blackat terlihat, menggelengkan kepalanya jika dia tidak melihat Mora dan Mira. Sejak awal Black hanya sendiri.


"Siapa namanya Kak?"


"Arvino, panggilan Vino." Shin menatap Putranya yang lebih mirip suaminya yang sangat pendiam.


"Anaknya Kak Shin, Mora atau Mira?"


"Mora,"


Kepala Blackat mengangguk, Shin menawarkan Black untuk main ke rumahnya dan menceritakan apa yang terjadi kepada Black sehingga menghacurkan karirnya.


Black berjalan sambil menggendong Vino yang diam tidak banyak protes. Sesekali tersenyum melihat Blackat yang mengecup pipinya.


"Sampai di rumah Shin, Black melihat dua anak laki-laki yang duduk sambil belajar membaca. Black terheran-herna karena masih kecil, tapi sudah bisa membaca.


"Jangan binggung, otaknya cepat menangkap materi." Shin meminta Black duduk, Shin ingin membuat sesuatu.


Suara berlarian terdengar dari lantai atas, Mora sudah berganti baju menggunakan gaun merah, menarik rambut adiknya langsung dibanting.


Hasan yang melihat Adiknya diserang langsung berlari kencang, Mora sedang mencari lawan, tapi Adiknya tidak pernah menanggapi.


"Sekali lagi menyakiti adik kamu, lihat saja." Shin menatap tajam putrinya yang berjalan melenggak-lenggok seperti artis.


Senyuman Blackat terlihat, hanya baja banyak istighfar memiliki Putri seperti Mora dan Mira yang sangat aktif.


Langkah kaki berlari terdengar, menatap Black sambil tersenyum langsung duduk dipangkuan. Sesekali tangannya mengusap wajah Vino yang masih diam saja.


"Aduh siapa nama anak ini? dia pasti Adiknya Mira yang berusia dua tahun." Batin Black di dalam hatinya.


"Nama aku Ajun Uncle,"


"Hai Ajun,"


"Uncle siapa?"


Black memperkenalkan dirinya, Ajun hanya mengangguk tidak paham apa yang Black katakan. Televisi langsung dihidupkan menayangkan pemberitaan soal Black yang belum juga ditemukan.


"Uncle penjahat ya? Kenapa bersembunyi di sini?" Ajun memanggil Kakaknya menujuk wajah Black.

__ADS_1


Senyuman terlihat, televisi langsung dimatikan. Hasan meminta adiknya tidak menghakimi orang.


"Papa selalu mengatakan, jangan jadikan penjahat seperti dia orang paling salah di dunia ini." Senyuman Hasan terlihat, dia percaya Black memiliki alasan. Mereka anak kecil tidak berhak tahu.


Senyuman Black terlihat, mengangumi cara didik keluarga Aira. Anak perempuan dan laki-laki memang berbeda jauh.


"Boleh televisinya dihidupkan lagi, Uncle ingin melihat berita,"


"Jangan dipaksa, jika tahu akan terluka." Husein duduk di samping Adiknya menatap televisi.


Sudah cukup lama sejak Black menghilang, namun media masih menunggu kemunculannya. Pihak agensi juga sibuk mencari, bahkan Gilang juga memohon kepada pihak yang menemukan Black segera menghubunginya.


Gilang tahu Blackat bukan seseorang yang akan melarikan diri dari masalah. Berharap Black mendengarkannya, Gilang akan memastikan Black akan baik-baik saja.


Tatapan anak-anak yang duduk terarah kepada Blackat, bahkan Mora dan Mira juga sudah bergabung dengan Black.


"Dia bohong, lihat matanya yang ketakutan. Ada yang mengancamnya agar aku keluar." Senyuman Black terlihat merasa tidak ada siapapun di sisinya.


"Lalu apa yang akan Uncle lakukan?" Mira mendekati televisi, dia tidak bisa membedakan orang jujur dan bohong.


"Naka kecil tidak harus tahu," ucap Hasan melihat Kakaknya.


Ketukan pintu terdengar, Dean muncul namun anak-anak tidak ada yang berhamburan kepada karena Dean sangat dingin dan pemarah.


"Dugaan kamu tepat Black, sudah waktunya kita membongkar kasus ini." Dean menatap sinis membuat Hasan dan Husein pergi.


"Uncle, katanya Kak Isel akan pulang hari ini?"


"Anak kecil tidak harus tahu!" tatapan mata Dean tajam melihat si kembar beda rahim.


Keduanya melangkah pergi, bukan untuk diam, namun mengambil sapu memukuli Dean agar pergi dari rumahnya.


Tawa Blackat terdengar melihat Dean di serang dua wanita yang digendong tinggi jika masih bersikap kasar.


Mora melihat Mira diangkat ke atas langsung memanjat Dean, menjambak rambutnya kuat menjadikan kuda.


Tawa Black tidak bisa berhenti, Shin yang sedang masak berlari melihat adegan perang Dean dan si kembar beda rahim.


Dena meladeni keduanya, dua sapu terangkat Dean hanya mengunakan kemoceng untuk menangkis dua sapu.


Shin memijit pelipisnya, dua anak kecil tidak menyerah terus memojokkan Dean. Kemampuan pedang Dean cukup baik karena sering berlatih bersama Isel sang ratu pedang.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2