SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
OBAT HAMIL


__ADS_3

Dean berjalan ke dapur melihat keluarganya masih kumpul mengobrol, bahkan ada Mam Jes dan Papa Calvin.


"Halo Uncle, Rara lagi makan buah asam," ucap Rara yang duduk dipangkuan kakeknya.


"Silahkan Ra, di mana Mama dan Papa kamu?"


"Siapa itu Mama Papa, Ra endak au." Tawa Rara terdengar karena bicaranya tidak jelas.


Senyuman Dean terlihat, menatap Haidir yang berlari kencang membawa banyak makanan dari pusat perbelanjaan.


"Di mana Isel?" Rindi menatap Dean yang belum mandi.


"Masih tidur," balas Dean yang duduk di samping Mommynya untuk makan.


"Dean, berikan ini kepada Isel agar dia cepat hamil." Rindi menyerahkan sesuatu di samping Dean.


Suara Dean batuk terdengar, langsung berjalan ke arah kamar mandi ulah Rindi yang membuatnya tersedak.


Kepala Diana geleng-geleng, Rindi otaknya memang sudah miring. Dia tidak tahu dilema yang sedang dihadapi oleh Dean.


Rindi tidak memperdulikan tatapan tajam Di, dia membawa kembali obat subur untuk diberikan kepada Isel.


"Rindi, duduk," pinta Hendrik agar istrinya tidak menganggu Isel.


"Sebentar Yah, Rindi memberikan ini dulu untuk Isel," balas Rindi yang cemberut karena suaminya sudah menatap sangat tajam.


"Pergilah Rin, bangunkan Isel agar makan." Diana tersenyum melihat Rindi yang langsung berlari ke arah kamar Dean.


Pintu kamar terbuka, Rindi melihat Isel yang masih tidur di ranjang. Menutup pelan kembali pintu melangkah ke dapur.


Semua orang melihat ke arah Rindi yang berjalan sambil wajahnya menunjukkan ekspresi banyak pikiran.


Dean juga sudah duduk kembali untuk melanjutkan makan, dia tidak nyaman bicara dengan Rindi yang ucapannya tidak pernah disaring.


"Dean akan menunda memiliki anak, aku harap kalian mengerti." Dean tahu jika kedua orangtuanya mengiginkan Dean memiliki anak secepatnya, tapi terlalu sulit bagi Dean.


Keadaan semakin hening saat Dean mengatakan soal anak, hal yang ditakuti keluarga jika hubungan Dean dan Isel sangat sulit disatukan.


"Besok Dan akan berangkat keluar negeri bersama Isel, kita akan menetap di sana selama satu tahun karena Dean ada kontrak pekerjaan dengan kasus besar." Tatapan Dean terarah kepada satu-persatu keluarga yang memberikan senyuman.

__ADS_1


"Bagus rencana kamu Dean, mungkin lebih baik kalian tinggal berdua untuk saling mendekatkan diri." Diana tersenyum melihat adiknya yang mencari jalan untuk bisa menghabiskan waktu berdua tanpa campur tangan siapapun.


"Bian itu siapa, kenapa Isel mengigau nama Bian, apa dia selingkuhan Isel?" tanya Rindi yang kaget mendengar Isel mengigau nama pria lain.


Mam Jes mengusap punggung Rindi untuk menjaga ucapannya, tidak baik membuat suasana panas.


Dean langsung berhenti dari makannya, berjalan ke kamar untuk membangunkan Isel agar stop mengigau sesuatu yang tidak jelas. Apalagi menyebut lelaki lain.


Diana dan Rindi yang penasaran langsung berjalan ke kamar ingin menguping pembicaraan pengantin baru.


Tangan Dean menarik Isel agar bangun, sudah siang dan waktunya dia untuk bangun dan sadar dari mimpi gilanya.


"Isel," panggil Dean.


"Lepaskan aku Bian!" Isel kaget saat melihat Dean di hadapannya.


"Bian," ucap Dean mengulangi ucapan Isel.


"Maksudnya Dean, kenapa Uncle menganggu tidur Isel?" Isel balik lagi untuk tidur.


"Bangun sekarang atau kamu aku lempar ke dalam kolam," ancam Dean yang membuat Isel langsung duduk.


Kepala Isel tertunduk mengingat mimpinya yang melihat Bian bersama banyak wanita muda yang memiliki wajah cantik.


Kepala Isel menggeleng, dia masih menyimpan lembaran kertas yaang dikirim kepadanya, bahkan memohon bantuan diselamatkan dari tangan Bian.


"Sekarang melamun apa?"


"Tidak ada, kepala Isel pusing karena kurang tidur," jawab Isel menunjukkan senyuman manisnya.


"Mandi sekarang," pinta Dean dengan nada lembut.


Isel turun ranjang, merapikan rambutnya yang panjang dan berantakan. Pintu kamar terbuka, Isel melihat Mama Di dan Rindi yang nyengir kuda dihadapannya.


Diana kaget melihat baju Isel yang sangat pendek, dia tidak menggunakan celana yang menutupi kaki panjangnya.


Tangan Isel ditarik ke dalam kamar, langsung terduduk di pinggir ranjang. Pintu tertutup kuat karena Dean baru sadar baju Isel sangat pendek.


Kenapa keluar kamar dengan baju pendek itu?" tanya Dean marah.

__ADS_1


"Isel tidak punya baju Uncle, ini Isel harus pulang dulu rumah Mama," teriak Isel yang menghentikan kakinya.


"Tidak harus menggunakan baju ini, aku yang akan mengambilkan baju. Kamu mandi dulu di kamar mandi." Dean keluar kamar meminta maid mengambil baju Isel.


Pintu kamar mandi Isel banting kuat, dia tidak memiliki ponsel karena ada di dalam mobilnya. Mobil Isel sedang ada di rumah temannya.


"Uncle pinjam ponsel," ucap Isel langsung menghubungi nomor temannya agar mengantarkan ponselnya.


"Sel, ada yang menghubungi kamu ribuan kali, aku pikir penting ternyata tidak, namanya Bian dia akan segera datang ke sini untuk menjemput kamu." Vio merasa Bian orang yang aneh karena setiap bicara selalu tertawa kemungkinan juga sedang mabuk.


"Buang saja ponsel itu, aku tidak membutuhkannya lagi. Ingat dibuang jika kalian ingin aman." Isel mematikan panggilan memesan ponsel baru agar tetap aman.


Suara ketukan pintu terdengar, Isel keluar hanya mengunakan handuk di depan Dean yang menyerahkan baju.


"Ini ponsel Uncle soalnya Isel hanya menggunakan untuk memanggil ponsel Isel yang hilang." Isel meletakkan ponsel di atas meja hias.


"Hilang di mana? kamu bohong. Aku tahu kamu menghubungi Vio yang bekerja sebagai polisi." Dean menunjukkan jam tangannya yang bisa tahu apa yang terjadi kepada ponselnya.


"Isel bertanya soal ponsel Isel." Bibir Isel manyun karena dia tidak berbohong.


Senyuman Dean terlihat, mengambil ponselnya berjalan ke kamar mandi karena Dean juga belum mandi.


Di depan kaca rias Isel menatap wajahnya yang sangat cantik, pikiran Isel kembali memikirkan Bian yang mengatakan akan datang menemuinya.


"Kenapa aku merasakan ketakutan, apa aku mampu menyingkirkan Bian yang sudah menjadi aku target selanjutnya." Isel membenturkan kepalanya di meja karena dirinya salah sudah membuat Bian terpesona.


Sampai Dean selesai mandi, Isel masih belum selesai dengan bajunya. Masih duduk hanya menggunakan handuk.


"Kamu mengenal baik Bian, dia berbahaya Sel, aku memiliki pekerjaan menyelidiki Bian karena ada banyak wanita yang sempat dekat dengannya mendadak hilang." Dean menatap istrinya.


"Isel tidak kenal baik, tapi tau jika dia seorang penjaga. Apa kasus yang Uncle selidiki ada sangkut pautnya dengan istri tersembunyi?"


Kepala Dean mengangguk, dia memiliki waktu satu tahun untuk memecahkan misteri istri tersembunyi milik Bian.


Dean tahu Bian sangat berbahaya, ada banyak orang berpengaruh yang melindunginya sehingga tidak mudah menjatuhkan Bian.


"Perusahaannya ada dua yang jatuh, tapi Bian dinyatakan tidak salah karena ada dalang lain yang bersedia disalahkan." Dean meminta Isel berhati-hati dan tidak ikut campur


***

__ADS_1


jangan lupa follow Instagram author Vhiaazaira.


Author akan mengadakan give away untuk pembaca setia.


__ADS_2