
Sampai di apartemen Isel langsung masuk kamarnya, menatap langit-langit kamar yang nampak hampa.
"Bi, kapan kita pulang?"
"Secepatnya sayang, kamu tidak nyaman lagi di rumah ini?"
Senyuman Isel terlihat, memeluk suaminya manja karena terlalu banyak kenangan rasa bersalah sehingga perasaan Isel sedikit sedih.
Ketukan pintu terdengar, Isel membukakan pintu melihat mommy Anggun yang pamit pulang karena Dean masih ada urusan penting sehingga kepulangannya diperlambat.
"Tidak bisakah Nenda di sini bersama Isel?"
"Maaf sayang, ada sidang penting di sana." Mommy Anggun mengecup kening Isel lama karena tidak tega meninggalkan keduanya.
"Dean tidak lama Mi, palingan dua atau tiga lagi."
"Apa lagi yang ingin kamu kerjakan, apa kurang menumpuk pekerjaan kamu di rumah?" Daddy menatap sinis karena dan Dean dan Angga sama saja sudah sekali punya waktu.
Senyuman Dean terlihat, memeluk Daddy-nya yang masih saja emosian. Sikap lembutnya hanya khusus untuk para wanita, tapi kepada Dean selalu menatap tajam.
Tangan Dimas mengusap kepala putranya, meminta berhati-hati dan secepatnya pulang karena ada kasus penting yang harus Dean selesaikan.
"Harus malam ini Kakek Daddy?" Isel nampak cemberut.
"Iya sayang, atau kamu ikut saja pulang. Tinggalkan saja Dean di sini."
"Oh tidak bisa, bagiamana Isel bernapas jika separuhnya ada di sini?" tawa Isel terdengar melihat Daddy Dimas yang melangkah pergi tidak ingin mendengar gombalan.
Tawa Dean dan Mommy Anggun juga terdengar, Daddy memang tidak suka mendengar kata romantis.
"Dean, Mommy pulang dulu. Kamu jaga Isel, jangan nakal." Mommy mencubit perut Dean pelan, tapi suara Dean meringis kesakitan terdengar.
"Kita antar Mommy Daddy ke bandara?" Isel berlari mengambil jaket.
"Tidak perlu Isel, kamu harus banyak istirahat." Daddy meminta Isel mendekat memeluknya lembut sambil mengecup kepala Isel.
Tangan Isel dan Dean melambai, menutup pintu kembali untuk beristirahat. Isel menatap dapur yang nampak lusuh karena lama tidak digunakan.
"Bi, Bunda boleh masak tidak?"
"Masak apa sayang, tidak ada bahan." Dean meminta Brayen membersihkan bahan makanan agar tidak membusuk.
"Brayen di mana sekarang, sejak dekat dengan Laura tidak pernah datang lagi." Isel menghubungi teman lelaki yang biasanya biang rusuh.
"Brayen pulang bersama Kak Di. Ada masalah perjodohan, tahu sendiri sikap Kak Di dan Mami Al." Dean membuka lemari pendingin yang sudah full isi.
__ADS_1
Senyuman Isel terlihat, menatap Dean agar mendapatkan izin untuk masak makanan kesukaannya.
Kepala Dean mengangguk mengizikan Isel menghacurkan dapur, Dean hanya duduk menunggu makanan siap dihidangkan.
"Bi," panggil Isel yang menatap suaminya tertidur di meja makan.
"Tampannya suamiku." Isel mengecup bibir suaminya lembut.
"Sudah masak belum?" Dean membuka matanya melihat Isel yang berlari karena masakannya gosong.
Helaan napas Dean terdengar karena seisi dapur berhamburan, peralatan makan di rak kotor semua sampai kosong.
"Apa ini keistimewaan kamu Sel?"
Dean memejamkan kembali matanya, menikmati suara penggorengan yang beradu. Barang berjatuhan juga silih berganti.
"Abi, masakan sudah siap." Isel meletakkan di atas meja.
Bau wangi menyengat hidung, Dean mengangkat kepalanya menatap masakan yang mengunggah selera.
"Istriku sangat hebat masak, lain kali lebih berhati-hati ya sayang agar kamu tidak terluka."
Tawa Isel terdengar merasa geli mendengar panggilan Dean yang tidak biasanya, kebiasaan Isel yang genit berubah Dean yang romantis.
Keduanya makan dengan lahap, Isel menyuapi Dean yang menolak tangannya kotor.
"Gendut dari mana hanya sedikit cabi." Isel megusap wajah suaminya yang sedikit berisi.
Makanan habis, Dean tidak tahu berapa banyak dirinya makan karena disuapi sehingga tidak sadar.
"Sayang, siapa yang menghabiskan semuanya?"
"Kita berdua, ternyata kita berdua rakus." Isel memasukkan suapan terakhir ke dalam mulut suaminya.
Cepat Dean minum bergegas ke kamar mandi karena perutnya terasa penuh. Isel hanya menahan tawa melihat Dean yang biasanya makan sedikit untuk menjaga tubuhnya, secara tiba-tiba menghabiskan satu kali makan.
Di dapur Isel sibuk membersihkan bekas kekacauan, mengusap keringat yang mengalir. Berjalan sempoyongan ke dalam kamar karena tubuhnya lelah.
"Kenapa lemas sekali?"
"Capek beres rumah," balas Isel yang mencium bau tubuh suaminya yang baru selesai mandi.
Pelukan Isel semakin erat, mengecup leher suaminya lama membuat Dean mencengkram tangannya kuat.
"Sayang, kita tidak boleh melakukannya sekarang, tolong jangan menyiksa." Dean memejamkan matanya yang tidak kuat.
__ADS_1
"Siapa yang melarang?" Isel mengecup bibir membuat Dean yang semakin tidak kuat.
"Isel, kepala aku sakit." Dean meremas kepalanya karena mudah sekali terpancing jika Isel mulai jahil.
Tawa Isel terdengar bergegas mandi karena tubuhnya berkeringat, meninggalkan Dean yang berusaha menahan diri.
Di dalam selimut Dean memejamkan matanya, tidak ingin menjawab panggilan Isel yang mulai lagi.
"Bi, Isel mau dipeluk."
"Nanti saja Sel, aku takut jika tidak bisa tahan."
"Jika tidak tahan, lakukan saja." Isel masuk ke dalam selimut tidak memberikan ruang Dean bertahan.
Suara Isel terdengar, mengigit bibir bawahnya yang sangat menikmati jika Dean sudah terbakar hasrat.
Kedua tangan Isel memeluk erat, meremas rambut suaminya yang berada di atas tubuhnya tidak bisa bergerak pelan.
"I Love you my wife." Dean memeluk erat Isel melepaskan rasa yang menyiksanya.
"Love you too Bi." Isel mengusap punggung merasa bahagia karena cintanya terbalaskan.
Perjalanan cinta Isel tidak rumit karena mencinta orang terdekatnya, tapi menahan rasa bertahun-tahun tanpa ada yang tahu sangat menyiksa keduanya.
Keduanya berpelukan, Dean tidak tahu menyesal atau bahagia karena sulit mengendalikan dirinya sendiri.
"Sayang, besok kita ke dokter agar bisa mengontrol kesehatan kamu," ujar Dean yang masih khawatir.
"Kenapa ke dokter?" Isel baik-baik saja."
"Kita belum diizinkan berhubungan, takutnya kamu hamil lagi terus beresiko lebih baik dokter tahu dan memberikan solusinya." Dean tidak ingin kejadian Diana terulang kembali.
"Dokter mengatakan jika Isel kemungkinan sulit memiliki anak kembali, bagaimana bisa kebobolan lagi? apa Isel harus minum obat?"
Dean tersentak kaget, tidak setuju jika Isel minum obat penunda hamil. Dean bicara tegas untuk periksa ke dokter atau mereka tidak akan berhubungan sampai waktu yang cukup lama.
Terpaksa Isel mengangguk, menyetujui keinginan suaminya kontrol ke dokter karena tidak bisa menahan diri setelah sekian lama tidak berhubungan.
"Abi tidak malu mengatakan kepada dokter jika kita tidak kuat?"
"Lalu aku harus bagaimana? keselamatan dan kesehatan kamu prioritas aku Sel." Dean sangat malu jika dokter tahu, tapi dirinya tidak punya pilihan.
Pelukan Dean erat, meminta Isel beristirahat. Dean mengambil ponselnya, mencari tahu resikonya dan cara mengatakan kepada dokter agar tidak malu.
Isel yang berpura-pura tidur menahan tawa karena suaminya sangat lucu.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira