SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
SELALU RUSUH


__ADS_3

Mobil tiba di rumah, Mora langsung berlari mencari Papinya karena kepalanya masih mengeluarkan darah.


"Papi, kepala Mora bocor," teriakkan Mora mengejutkan banyak orang yang masih menunggu.


Juna yang pulang dadakan langsung berlari mendengar suara putrinya yang mengeluh sakit, kepalanya berdarah dan tidak ingin berhenti.


"Mora, di mana yang luka?" Juna menatap senyuman Mora yang menunjukkan luka di kepalanya.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Altha melihat cucunya terluka.


"Kepala Mora berdarah bukan karena dipukul, tapi jatuh dari sepeda listrik." Tawa Mora terdengar langsung duduk menunggu Papinya mengecek luka.


Dari jauh Mira sudah naik punggung Papanya, bukan karena mengeluh sakit, tapi selalu bersikap manja.


Isel dan Dean mendekati dua gadis remaja yang bukannya mengadu sakit, tapi bercerita jika pria yang datang bukan lawan yang imbang.


Tangan Mira mengusap lembut perut besar Isel, tidak ada yang boleh menyakiti salah satu anggota keluarga selama Mimor masih bernapas.


"Terima kasih Mira, terima kasih Mora. Aunty Isel tidak sia-sia mengajar kalian bela diri." Tawa Isel terdengar membuat mata Mimor tajam.


"Sejak kapan Aunty Isel yang mengajari, ini berkat Nenda Di." Tawa Mimor terdengar menatap Diana yang masih menjadi orang terkuat dibandingkan yang lainnya.


"Kalian lupa dengan Nenda Al?" lirikan mata Aliya tajam.


"Nenda Al hebat, tapi banyak takutnya. Mira tidak boleh di situ nanti tangan kamu lecet, Mora jangan arah sana nanti wajah kamu tergores. Kita serba salah banyak tidak bolehnya." Bibir Mora monyong, menyentuh kain putih yang melilit di kepalnya.


Tawa Aura terdengar melihat Mora terluka, apalagi ada kain putih. Hatinya bahagia sekali jika dua jagoan terluka.


"Ura, jika ada penjahat seharusnya kamu menghindar, bukan berjalan layaknya model" ucap Mira menatap Ura yang masih saja tertawa.


"Ura anaknya artis." Lidah Ura terjulur karena tidak ada yang bisa menyakitinya selama ada Mimor.


Shin dan Tika mengecek seluruh tubuh Mimor tidak ingin ada luka sedikipun. Jika keduanya terluka karena bertarung dan berlatih bisa dimaklumi, tapi jika luka karena disakiti tidak akan pernah Shin dan Tika biarkan siapapun bisa menyentuh dua putri kesayangannya.


"Mora baik-baik saja Mi, tolong ganti sepeda Ajun, juga sepeda listrik Mimor yang lama sudah hancur." Gigi Mora nyengir, memelas kepada Maminya karena tidak sengaja merusak.


"Mora, kamu harus kontrol emosi, Mami sudah mengecek CCTV, seandainya kamu tidak berlagak hebat dan menganggap kuat tidak mungkin berlari menggunakan sepeda lawan mobil." Shin ingin Mora menggunakan logikanya jika sudah tahu akan gagal.

__ADS_1


Setiap rumah memiliki panggilan keamanan juga alarm yang akan menutup segala gerbang dari segala arah.


Mora tidak bisa berlari kencang, dia harus mencari bantuan untuk menghentikan bukan pergi sendiri.


"Kamu mendengar suara senjata, Mira ada di depan seharusnya kamu mengecek kondisi Mira terlebih dahulu, bagaimana jika dia tertembak apa menangkap penjahat lebih penting daripada menyelamatkan saudara?" perasaan Shin kagum kepada putrinya dan mengakui kemampuan Mora, tapi sikap emosi Mora terlalu besar sehingga tidak sadar jika selamat tim jauh lebih penting.


Tatapaan Shin terarah kepada Mira yang sudah tertunduk, paham jika diirnya juga salah karena tidak mencari bantuan terlebih dahulu.


"Mira, kamu bukan Spiderman, tidak juga memiliki sembilan nyawa seperti kucing, jangan bergelantungan di mobil seperti tadi, jika kamu jatuh lalu terlindas maka sisa nama." Tatapan Shin tajam memberikan peringatan.


Kepala Tika mengangguk, sekalipun Brayen lolos dari kejaran Mimor tidak akan membuatnya lolos dari kejaran yang lain.


Sekuat apapun kemampuan akan ada yang lebih kuat, tapi seseorang yang kuat dan pintar menggunakan logika jarang ditemukan.


"Mama tidak ingin melihat sikap kalian yang memaksa harus dapat hari ini, hingga tiak ada lagi hari esok. Paham tidak?"


"Paham Ma, Mimor mangaku salah," jawab keduanya kompak.


Teriakan Ura terdengar memarahi Shin dan Tika, tidak boleh memarahi kedua kakaknya karena apa yaang dilakukan oleh Mimor sudah sangat hebat.


"Aunty beldua tidak lakukan apapun, tapi omel-omel Mimor. Ura idak suka begitu." Lirikan mata sinis terlihat membuat Tika dan Shin kaget.


"Ura, bukan soal itu, Aunty hanya mengajari Mimor agar lebih berhati-hati," ucap Tika melirik sinis.


"Aunty tadi malah-malah. Ura dengel tahu, memangnya Ura tuli." Kedua tangan Ura bertolak pinggang menantang Shin Tika yang tergagap melihat si kecil yang suka mengejek Mimor, tapi maju paling depan jika ada yang memarahi Mimor.


Angga berlari menggendong Ura, meminta diam karena dua Aunty yang sedang di marahnya memiliki tenaga kuat.


"Ibu sama anak sama aja, dulu Ria yang selalu mengacau, sekarang anaknya juga ikut-ikutan." Tika mentap Aira yang cengengesan karena tahu mulut Ura sangat tajam mengalahkan silet.


Dean sudah menyingkir, menerima panggilan jika kasus yang sedang diselidiki ada sangkut pautnya dengan keluarga kaya, baru saja kepolisian menemukan jenazah wanita paruh baya yang mengapung di sungai.


Genta menatap Dean yang sedang bicara serius soal jenazah yang diperkirakan ibunya Laura, korban kemungkinan melakukan bunuh diri.


"Ada kasus baru Dean?"


"Iya Kak, kasus pembunuhan bermotif bunuh diri, ini soal keluarga Laura." Dean menatap Isel, tidak tega memberitahu karena Isel harus fokus kepada kehamilannya, tidak boleh banyak pikiran.

__ADS_1


Kepala Genta mengangguk, kemungkinan besar pelakunya Brayen, dia tidak memiliki banyak pengalaman mungkin karena motif dendam, iri dan merasa terhina.


"Aku akan menyelidiki kasusnya, secepat mungkin mengabari kamu." Genta menepuk pundak Dean untuk tidak terlalu memikirkan.


Keberanian Brayen bukan karena dirinya hebat, tapi ketidaktahuan siapa Isel dan Dean. Dia hanya tahunya pasangan biasa, tidak tahu siapa saja yang ada di sekeliling Isel Dean.


Suara tangisan Andra Andri terdengar, diikuti oleh Ajun yang sudah berlari histeris, ketiganya menangis secara bersamanya.


"Ada apa?"Juan yang mengobati Mira bergegas mendekati kedua putranya.


"Kakak Ajun nakal, kucingnya Ura digantung," ucap Andri yang merasa sedih.


"Kenapa Andra menangis?" Lea menatap Putranya yang jarang sekali menangis.


Andra menunjukkan punggungnya penuh cairan kucing, bajunya sampai sobek membuat Aliya histeris melihat cucu lelakinya terluka.


Langkah Shin dan Tika berlari kencang bukan menyambut Ajun yang nakal, tapi mengkhawatirkan Vino yang pasti berada dalam masalah.


"Astagfirullah al azim Nak, kenapa wajah kamu penuh cakaran, bagaimana jika terkena mata?" Shin menggendong Vino yang menutupi wajahnya karena penuh cakar.


"Di man ucing Ura?" mata Ura menatap ke arah Ajun yang jahil, langsung mengejarnya.


"Mora saja belum selesai, nambah lagi berdua penuh luka cakar." Juna meremas kepalanya melihat putra putrinya terluka.


"Ajuun, apa yang kamu lakukan?" Genta pusing jika Ajun sudah berulah.


Melihat punggung Andra luka sampai bajunya sobek membuat Lea tertawa bukan kasihan melihat anaknya, tapi merasa lucu karena Andra jarang menangis.


"Lea, anak kamu luka bukannya dipeluk, tapi tertawa." Ai juga ikutan tertawa,melihat Andra menangis.


Dimas dan Altha saling pandang jika kumpul ada sama tangisan dan tawa, begitulah keluarga mereka yang selamanya akan terus rusuh.


"Genta, Gemal dan kamu Dean seliddki kasus Brayen dia terlibat pembunuhan berencana." Dimas menatap anak-anaknya untuk bergerak.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2