SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
JANGAN SAKIT


__ADS_3

Pintu kamar terbuka, Al menatap Putrinya tidur bersama Lea yang juga terlelap tidur. Melihat kondisi Lea mengingat masa kelam Aliya yang sangat menyakitkan.


Al mencari tahu soal Imel, mengetahui ada sangkut pautnya dengan keluarga Taher bukan hal yang mudah bagi Lea untuk mengambil Adiknya.


"Kenapa kamu meminta aku datang di jam dua malam? kita sudah mirip hantu Al?" Diana duduk di samping adiknya yang melihat ke arah air kolam, ada pantulan sinar bulan yang sangat indah.


"Kak, bagaimana perasaan Kak Alin saat tahu kita kembar?"


"Biasa saja, meksipun kembar karakter sikap dan cara berpikir kita berbeda, jangan menganggap orang kembar bisa sama segalanya." Di memperhatikan wajah Al yang nampak sedih.


"Kak, Aliya pernah berpikir ingin mati saja dan membiarkan kak Alina mengambil posisi Al. Apa alasan kak Alin tidak menginginkan posisi Al?"


"Suami kamu, aku tidak ingin berhubungan dengan lelaki yang mencintai wanita lain. Beda cerita jika mencintai lelaki yang sama,"


Aliya memberikan foto Lea dan Imelda, dua anak kembar yang terpisahkan sejak kecil dan tidak memiliki ikatan batin yang kuat.


"Ai turunlah, jangan menguping dari atas." Alin melihat bayangan Aira di air kolam.


Tawa Aira terdengar memeluk Diana dari belakang, menggunakan paha Alin menjadi bantal.


"Bukannya ini wanita yang bersama Juan?"


"Betul, kedua orangtuanya baru saja meninggal, satunya menangis hancur dan satunya lagi tertawa bahagia." Ai menghela napasnya.


"Sama kita dulu juga begitu, satunya hilang ingatan dan yang satunya stres." Diana mengusap rambut Aira lembut.


Perasaan Aliya sedikit tidak enak, hubungan Lea dan Juan pasti ada sesuatu, dan di pesta Imel menatap benci kepada Lea, tapi tersenyum manis melihat Juan.


Putranya bisa dalam masalah, Al tidak rela jika Putranya mendapatkan wanita yang salah apalagi hatinya tertutup keserakahan.


"Juan itu laki-laki, dia harus berani dengan masalahnya begitupun dengan Lea, aku yakin dia bukan wanita yang penurut." Melihat mata Lea saat di pesta bisa Diana baca pikirannya.


Jika Al memandang hanya Imel yang kejam, dia salah besar. Lea juga wanita yang kejam, dia bisa mudah menghacurkan orang karena Lea juga anak yang pintar juga licik.


"Aira setuju sama Aunty, Lea wanita licik. Aku pikir dia wanita jahat, tapi ternyata ...."

__ADS_1


"Dia hanya wanita tidak ingin dikalahkan, sama seperti kita. Kamu juga tidak ada sisi baiknya Al, sama aku juga." Tawa kecil Diana terdengar meyadarkan Aliya untuk tidak mengkhawatirkan Putranya.


"Satu-satunya wanita baik hanya Mommy Anggun,"


Tawa Aliya dan Diana terdengar, Aira belum tahu siapa Anggun. Dia hanya baik dari luar saja dan dalam keluarganya, tapi di meja persidangan nama Anggun pengacara yang paling menakutkan.


Dia bisa mengalahkan hakim sekalipun, tidak ada sopan santun dan kelembutan, Anggun mirip iblis berwajah malaikat.


"Mami juga takut kepada Anggun jika dia marah, bahkan dia pernah memukul penjahat sampai giginya rontok semua karena kasus pelecehan anak dibawah umur. Suaminya saja tidak berani pulang." Kepala Aliya geleng-geleng marahnya orang pendiam sangat mengerikan.


"Benar sekali. Mommy pernah marah, kursi biasanya digunakan untuk duduk, tapi ditangan Mommy senjata untuk memukul. Siap saja gegar otak." Kepala Diana geleng-geleng setelah itu dia tahu jika Mommy Anggun sama seperti mereka.


Aira yang baru mengetahuinya terdiam, jangankan bicara kasar Anggun hanya menunjukkan Senyuman setiap menegur.


"Aira, hubungan kamu dan Blackat sejauh apa?"


"Tidak ada apapun, kita hanya status saja,"


"Black harus segera di operasi, luka di dadanya semakin lama akan terus parah. Bujuk dia untuk beristirahat total setidaknya satu tahun, jika terus memaksa dia tidak mungkin bisa bertahan lebih dari dua tahun. Ini hanya prediksi Dokter, bukan Tuhan." Diana pamit ingin pulang, suaminya nanti bangun kaget tidak ada orang.


Kepala Diana mengangguk, luka yang sudah tujuh tahun berada di dalam tubuh hanya diobatin dengan obat-obatan. Nyawa Blackat hanya bisa diselamatkan dengan operasi, itupun belum tentu bisa menyelematkan.


Kepala Aira tertunduk, Ai sempat melihat jadwal pekerjaan Blackat yang sangat padat. Di tengah masalah Lea, Blackat tidak pernah menunjukkan jika dirinya lemah, dia tetap berdiri tanpa mengeluh.


"Apa sangat menyakitkan? kenapa menahannya sendiri?" Ai mengkhawatirkan Black apalagi Diana hanya memberikan gambaran yang menakutkan.


"Mami perhatian kamu menyukai Black?"


"Tidak, Ai hanya nyaman bersamanya,"


"Baiklah, Mami harap kamu bisa kontrol perasaan. Sebaiknya balik ke kamar untuk istirahat." Aliya merangkul Putrinya, Al juga balik ke kamarnya.


Di dalam kamar, Aira menatap Lea yang tidur lelap, jika Lea tahu kondisi Black yang tidak baik pasti akan membuatnya semakin terluka.


Ai mengambil ponselnya menghubungi Blackat, tidak ada jawaban sama sekali. Berkali-kali Aira memanggil.

__ADS_1


"Mungkin dia masih tidur, coba satu kali lagi,"


Black menjawab panggilan, suaranya serak membuat Aira bangkit dari atas ranjang. Suara Black tidak seperti biasanya.


[Kamu baik-baik saja?]


[Ya,] jawab Black singkat.


Panggilan langsung Aira matikan, dia harus pergi menjenguk Blackat sebelum terlambat. Dari suara Black seperti sedang menahan sakit.


Di dalam apartemennya, Black terduduk di lantai meremas dadanya yang terasa amat sakit, kening Blackat mengeluarkan keringat dingin.


Tangan Black terulur ingin mengambil obat yang jatuh dan berhamburan dilantai, cepat Black mengambil satu butir langsung menelannya.


Lanjut lagi empat pil langsung masuk, Blackat berguling di antara obat. Mata Black melihat ke arah lampu kamarnya.


"Jika aku harus mati jangan sekarang, kasihan Lea yang hidup sendirian setidaknya sampai dia baik-baik saja." Black meneteskan air matanya memegang dadanya yang sering sekali sakit.


Terlalu banyak minum obat, Black tidur dilantai tanpa bisa bangun. Tubuhnya lemas dan kehabisan tenaga karena menahan sakit yang hampir membunuhnya.


Pintu kamar Blackat terbuka, Aira langsung mendekati tubuhnya menyentuh pergelangan tangannya.


"Syukurlah masih hidup." Ai membantu Blackat untuk pindah tidur di atas ranjangnya.


Pengaruh obat yang kuat, membuat Black tidak sadar kehadiran Aira. Obat dikumpulkan dimasukkan ke dalam wadahnya.


"Kamu harus segera melakukan operasi, jika tidak bisa mati." Ai mengusap wajah Black.


Tangan Aira mengenggam jari jemari, bisa merasakan tubuh Blackat yang dingin. Ai rindu suasana bertengkar dengan Black, dia lelaki yang unik di mata Ai.


"Sembuh ya Kakak hitam, Aira masih ingin bersama. Kita memiliki banyak rencana di dalam film, drama bahkan kakak hitam juga ingin menjadi produsen film Aira. Tujuan Ai ingin menjadi seperti sekarang karena Kakak hitam." Kepala Ai tertunduk, jika tidak ada Black maka masa depan Aira di industri hiburan tidak ada tujuannya.


Tujuan Aira bisa menjadi wanita satu-satunya di sisi Blackat yang diakui oleh dunia, Ai ingin mereka memiliki banyak proyek bersama.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2