
Sepanjang perjalanan pulang, Dean hanya diam saja. Masih tidak habis pikir dengan perbuatan Isel yang membahayakan kandungannya.
"Bi, aku baik-baik saja," ujar Isel mencoba membujuk suaminya.
"Aku tahu, tapi cara kamu yang salah. Masih ingat apa yang dokter bicarakan, bagaimana kondisi kandungan kamu?" kepala Ian menggeleng, Isel terlalu meremehkan kondisi tubuhnya.
Hanya karena terlihat baik, mencoba mengabaikan. Tidak memikirkan apa kedepannya.
"Maafkan Isel, ini tidak terjadi lagi." Isel tidak bisa diam saja karena Brayen memutuskan untuk tutup mulut.
Tarikan napas Dean panjang, tidak menimpali Isel sama sekali. Mengantar Istrinya pulang agar tidak melakukan hal yang berbahaya.
Panggilan dari Bian masuk mengabari Isel jika dia berhasil membawa wanita yang Weni inginkan.
"Bi, kita ke hotel sekarang. Wanita itu kunci keberadaan Laura." Air mata Isel sampai menetes memohon agar diizinkan pergi ke hotel.
"Tidak perlu menangis, jika kamu ingin pergi maka aku turuti." Dean mempercepat laju mobil menuju hotel.
Isel juga menghubungi Weni dan Vio untuk bergerak ke hotel. Ada target yang harus mereka dapatkan informasi.
"Sel, kamu jangan keluar mobil, aku sendiri yang akan masuk. Vio berjaga di luar hotel karena takutnya kita juga ditargetkan." Weni menutup panggilan bergegas menuju hotel.
Beberapa polisi yang digerakkan oleh Dean mengawasi hotel, sedangkan Ghion ada di gedung sebelah memantau siapa saja yang mungkin akan terlibat.
Weni tiba di hotel, tangan Vio menahannya agar berhati-hati. Brayen memilih diam, berarti siapapun yang kemungkinan terlibat akan dilenyapkan.
"Wen, aku tahu kamu merasa bersalah, tapi keselamatan juga penting. Ingat apa yang Isel pesan, jika kamu mati sama saja gagal, sekalipun korban selamat." Senyuman Vio terlihat menatap Weni yang berjalan ke dalam hotel untuk segera bertindak.
"Kenapa dada aku semakin besar?" Weni menarik bajunya karena ingin memukul orang.
Di dalam kamar hotel, wanita yang Bian bawa sedang asik bersenda gurau karena tidak menyangka bisa bertemu Bian.
Pria dewasa yang terkenal kaya raya dan memiliki ketampanan, ucapan banyak orang benar.
"Kenapa kamu tampan sekali?"
"Kamu juga cantik sekali?" bibir Bian menyentuh bibir hangat wanita cantik di sisinya.
Kancing baju Bian perlahan dibuka, aksi panas terjadi di sofa membuat suara yang sangat sensitif.
"Bukannya kamu memiliki suami?" tanya Bian menghentikan permainannya.
__ADS_1
"Emh ... kita baru menikah setelah dia kaya. Sayangnya suami aku tidak setampan kamu."
Kepala Bian mengangguk, mengancing kembali bajunya tidak bisa melanjutkan cinta satu malam mereka.
"Kenapa berhenti?"
"Aku tidak berani melawan suami kamu dia memiliki kekayaan juga kekuasaan. Bukannya dia yang merampas kekayaan Mami Rose?"
Wanita di samping Bian terdiam cukup lama sampai akhirnya Bian ingin pergi. Meminta maaf karena membuat kecewa.
"Dia melakukannya bersama suaminya Laura, lelaki itu yang serakah harta. Dia membunuh mertuanya, dan Kim yang mengurusnya."
Wajah Bian terlihat terkejut, menanyakan soal suami Laura, baru pertama kali mendengar menantu membunuh mertua demi harta.
Wanita yang bersama Bian memilih diam, dia tidak bisa bicara banyak. Kepalanya bisa dipenggal oleh suaminya jika sampai membocorkan rahasia Brayen.
Tawa Weni terdengar karena sudah sejak awal berada di balik dinding mendengarkan pembicaraan.
"Siapa kamu?"
"Seharusnya kamu tutup mulut sejak awal, jika keceplosan berarti harus cerita dari awal sampai akhir." Weni menatap tajam bekas merah di leher Bian.
"Urus dia, jangan lupa kirim hadiahnya." Bian menepuk pundak Weni melangkah pergi.
"Katakan siapa Kim?"
Wajah Weni terkejut, Kim ternyata kepala kepolisian di kota. Dia juga seorang pengusaha dan penjabat yang berkuasa.
Hubungan dengan Mami Rose sangat dekat, dia yang melindungi bisnis Mami selama ini sehingga tidak ada yang bisa mengusik.
"Di mana Laura, apa yang Brayen lakukan kepadanya?"
"Lepaskan aku terlebih dahulu baru aku akan menjawabnya." Senyuman sinis terlihat karena tidak mudah bagi Weni mendapatkan informasi.
"Maka diamlah sampah mati!" Weni mengambil asbak rokok melemparnya ke arah istrinya Kim.
"Kurang ajar!"
Pertengkaran dua wanita terjadi, Weni yang lepas kendali menginjak-injaknya sampai penuh darah.
Pukulan dan tamparan tidak terhitung lagi, Weni ingin Kim menyambut jasad istrinya yang sudah mengkhianati cintanya.
__ADS_1
"Hentikan Wen, dia hanya wanita simpanan Kim!" Isel masuk bersama Dean.
"Tidak peduli siapapun dia, aku akan mencabut nyawanya." Leher wanita dihadapan Weni tercekik.
"Katakan di mana Laura?" Isel menaikkan nadanya.
"Di rumahnya," jawab wanita yang tergantung, langsung Weni melepaskannya.
"Tidak ada siapapun di rumah itu, aku sudah mengirim polisi ke sana?" Dean melihat identitas kepala kepolisian Kim.
Tangan Dean tergempal, lelaki yang bekerja dengan Brayen mantan polisi. Dia sudah mengundurkan diri selama tujuh tahun, dan bekerja sebagai pengusaha.
"Dia ada di sana, suaminya mengurung dan menyiksanya di sana."
Isel dan Weni saling pandang, bagaimana bisa Laura ditahan di rumahnya sendiri. Dia hebat dalam bertarung, tapi bisa terperangkap di tempatnya sendiri, tidak mampu melawan Brayen.
"Polisi yang dikirim pasti bawahan Kim, tertangkapnya Brayen akan membawa nama Kim. Mereka pasti akan mengeluarkan Laura dari rumah itu." Dean menghubungi Ghion untuk mengirim pasukan ke rumah Laura.
Weni menghubungi Adiknya, polisi yang pernah bekerja dengan Rain dan Vio. Ren harus segera menemukan Laura sebelum bawahan Kim mengambilnya.
"Ren, apa kamu masih di wilayah rumah Laura, tahan siapapun yang keluar dari rumah itu."
"Terlambat Kak, mereka sudah membawa Laura pelabuhan. Aku sekarang ada di pelabuhan, melawan juga hanya mengantarkan nyawa. Bisa minta Kak Shin dan Tika saja yang ke sini." Ren melihat ada banyak polisi bersenjata, tidak mungkin dirinya keluar dari persembunyian.
Jika meminta polisi datang maka nyawa Laura tidak mungkin selamat. Kepolisian yang berjaga orang-orang yang mengkhianati Genta pada masanya.
"Mereka sebenarnya bukan menginginkan Laura, tapi Putrinya Gemal." Ren hanya percaya kepada Tika Shin karena mengakui kemampuan bela dirinya.
"Bertahanlah di sana, kami akan datang." Dean menggenggam tangan Isel menghubungi Shin yang sedang bertarung dengan Mimor.
Panggilan telepon dijawab oleh Ajun, menolak memberikan ponsel sebelum Dean berjanji membelinya mobil baru.
"Ajun, rasanya ingin aku pecahkan kepalanya." Isel mengambil ponselnya untuk meminta bantuan Aira, Tika pasti bisa mengontrol pelabuhan agar kedatangan mereka tidak ada yang tahu.
"Ajun, jika kamu tidak memberikan ponsel, Uncle akan memberitahu Mira agar hidung kamu dipatahkan." Dean menarik napas panjang langsung lega karena mendengar suara Shin.
Permintaan Dean di dengarkan, Shin langsung berlari ke ruangan kontrol untuk melihat kondisi pelabuhan.
"Laura pasti akan baik-baik saja, benarkan Bi?" Isel menyentuh perutnya merasa sedih karena sahabatnya saling menyakiti, bukan berakhir penuh cinta, tapi luka.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira