SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MAMA JANGAN PERGI


__ADS_3

Hentakan kaki Weni terdengar langsung berjalan masuk kembali ke dalam kamar, Isel melangkah mendekati suaminya.


"Kenapa kamu di sini bukannya pulang?"


"Ini juga mau pulang," jawab Isel santai.


Pukulan tangan Isel mendarat ke arah Ren yang masih tertunduk karena belum sadar sepenuhnya, Bian memutuskan balik lagi karena mendapatkan informasi ada penyusup.


"Kenapa kalian minum-minum di siang hari?" Isel menatap wajah Ren yang lesu.


"Malamnya aku bekerja," jawab Ren yang pamit ingin pulang.


Dean melarang menyetir karena belum sadar sepenuhnya, Laura juga langsung pamit karena ingin mengantar Ren pulang.


"By Isel, Vio, kirim salam ke Weni." Laura mengusap wajah Ren memeluk lengannya untuk keluar.


Kepala Isel geleng-geleng bersama Vio, Weni memang sangat mudah move on apalagi dari orang yang sudah melukai hatinya.


"Bian, kita pulang dulu karena anak-anak membutuhkan Isel. Dia tidak mungkin pulang jika tidak dijemput." Dean menarik telinga istrinya untuk segera keluar.


"Bagaimana dengan aku?" Vio manyun melihat ke arah Isel.


"Kamu juga pulang, lagi hamil banyak tingkah. Bukannya diam di rumah, tapi sibuk keluyuran." Dean meminta Vio segera pulang.


Panggilan di ponsel Dean masuk, tahan napas karena pihak rumah sakit mencoba menghubungi Bian, tapi tidak aktif.


Kondisi mamanya stabil, tapi secara tiba-tiba drop. Belum sempat melakukan operasi lebih lanjut.


"Bian, ke rumah sakit sekarang." Dean meminta cepat.


"Ada apa dengan Mama, bukannya operasi malam ini?" tanya Bian panik.


"Operasi digagalkan karena kondisi pasien drop, sebaiknya kamu segera datang. Biar aku yang menyetir mobil." Dean meninggal Isel yang masih termenung kasihan kepada Bian karena usia mamanya tidak akan lama.


Weni keluar dari kamar, menatap Bian yang sudah pergi tanpa pamitan, bahkan tidak tahu ingin pergi ke mana.


"Wen, kita ke rumah sakit sekarang," pinta Isel melangkah pelan.


"Kalian pergi saja berdua, aku bisa pulang sendiri." Vio meminta Isel berhati-hati dan Weni jangan membuat keributan.

__ADS_1


"Kamu juga hati-hati Vio." Isel dan Weni masuk mobil untuk segera pergi ke rumah sakit.


Mobil Bian tidak terlihat lagi, dia mengambil jalan cepat karena cemas dengan Mamanya. Padahal Bian sudah berharap kondisi Mamanya akan membaik.


"Pelan-pelan saja Sel, jangan terburu-buru kita tidak bisa menyelamatkannya." Kepala Weni tertunduk berdoa di dalam hati semoga baik-baik saja.


Mobil Bian tiba lebih dulu, langsung berlari kencang ke arah ruangan mamanya. Dean meminta hati-hati karena sampai jatuh di tangga.


"Ya Allah, semoga baik-baik saja." Dean tidak tega melihat Bian yang terburu-buru ingin bertemu.


Sampai di ruangan rawat sudah banyak dokter termasuk Diana, Bian melangkah mendekat melihat ada banyak alat terpasang ditubuh Mamanya.


"Ma, bangun. Ini Bian Ma," panggil Bian dengan nada pelan.


Tangan Diana terangkat, meminta dokter lain keluar. Membiarkan Bian bicara bersama Mamanya.


Pintu terbuka Isel, Weni dan Dean melangkah mendekat. Diana mengusap punggung Bian agar lebih kuat.


"Jangan disiksa Bian, Mama kamu sudah terlalu lama menanggung sakit." Dokter Di mengusap kepala.


"Ma, lakukan operasi satu kali lagi, Kak Diana dokter hebat, dia sangat jenius. Dia bisa menyelematkan Mama." Tangisan Bian pecah, melihat ada banyak alat bantu.


"Mama, ini Bian."


"Kamu sudah besar, jaga diri." Mata Mama terpejam, mengulurkan tangannya menyambut tangan Weni.


Dua tangan tergenggam erat, Mama ingin melihat cucunya lahir, tapi waktunya terlalu singkat.


"Ma, Weni ingin memberikan Mama cucu, setidaknya bermainlah bersamanya," pinta Weni penuh kepalsuan.


"Kamu bilang saya gila." Suara samar terdengar, Weni bisa mendengar jelas begitupun dengan Bian.


"Terkadang aku tidak bisa membedakan siapa yang gila dan waras, hidup aku berantakan sekali. Apa manusia pendosa seperti aku memiliki kesempatan untuk bahagia?" Air mata Weni menetes karena selama ini dirinya berusaha tegar karena tidak ada yang akan melindunginya.


Genggaman tangan semakin erat, Bian mengusap kepala mamanya. Jika begitu sakit untuk bertahan, maka dirinya rela melepaskan.


"Terima kasih Ma sudah bertahan sampai bertemu Bian kembali, maaf jika aku belum bisa berbakti."


Teriakkan Weni terdengar sambil menangis karena genggaman tangan mereka dilepas, monitor juga langsung berubah.

__ADS_1


"Kenapa ini, aku bahkan belum selesai curhat." Tangisan Weni kencang karena pertama kalinya merasa ada orang yang bisa begitu nyaman dirinya panggil Mama.


Tubuh Bian terduduk di lantai, kepala bersandar di pinggir ranjang. Tangisannya tertahan karena harapannya bisa hidup bersama mamanya kandas.


"Sabar Bian, Kamu sudah berusaha. Kita kalah melawan penyakit Mama, kamu begitu hebat sehingga diuji begini." Diana meminta maaf karena dirinya tidak bisa menepati ucapannya untuk menolong.


Kepala Bian mengangguk, tidak pernah menyalahkan siapapun. Bian sejak awal sudah tahu, tapi dirinya masih begitu jahat memaksakan Mama untuk bertahan.


Bahkan bekali-kali Isel sudah memberikan peringatan, sikap Bian masih egois percaya jika mamanya bisa sembuh.


"Aku gagal dan kalah, tapi tidak ada lagi penyesalan aku. Ma, Bian akan antar Mama ke tempat peristirahatan terakhir." Kecupan lembut mendarat di kening mamanya mengucapkan selamat tinggal.


Satu hari bersama mamanya terasa seperti tiga puluh lima tahun, sebegitu indahnya satu hari bagi Bian yang bisa menggenggam tangan mamanya.


Isel dan Dean sudah keluar kamar lebih dulu, membiarkan dokter yang mengurus jenazah yang akan dipulangkan.


"Isel sedih melihat Bian begitu." Air mata Isel tidak berhenti menetes.


"Emh, dia sudah luar biasa sayang. Aku belum tentu sehebat Bian yang begitu merindukan Ibunya. Dia sanggup menerima, bahkan berusaha hingga akhirnya melepaskan." Kepala Dean tertunduk karena ada banyak pelajaran yang dirinya lihat.


Sudah lama Dean mengenal Bian, dia manusia tidak berhati, tapi melihat kasih sayangnya kepada seorang ibu tidak banyak yang memiliki perasaan itu.


"Bi, kenapa diam?"


"Bian yang kejam saja begitu tunduk kepada Ibunya, tapi kita yang dibesarkan masih bisa melawan. Semoga anak-anak kita sehebat Bian, hatinya besar dan penuh kasih sayang kepada ibunya."


Kepala Isel mengangguk, tidak begitu yakin. Pasti anak-anak lebih menyayangi Dean, tidak mungkin dirinya yang bisa menjadi musuh bebuyutan.


Mama Diana keluar bersama Weni dan Bian, membiarkan perawat mengurus proses pulang.


"Dean, kamu dampingi Bian dia membutuhkan teman." Diana menepuk pundak Dean melangkah pergi.


"Isel menemani siapa Ma?"


"Anak kamu urus, bisa membuat anak, tapi sibuk keluyuran," bisik Diana meminta Isel segera pulang.


Kepala Isel tertunduk, melirik tajam Mamanya yang sudah berlalu pergi. Ucapannya tidak pernah benar.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2