
Pintu kamar dibanting kuat, Dean langsung berlari kencang keluar rumah karena mendapatkan panggilan dari Brayen soal Isel yang bertarung di tempat hiburan.
Saat tiba di tempat sudah penuh orang karena rusuh setelah tiga wanita bertengkar dengan belasan laki-laki.
"Kenapa badan aku semakin panas?"
"Kamu tadi minum apa?" Vio mengusap darah yang keluar dari hidungnya.
"Orange juice," balas Weni yang duduk di pinggir jalan dengan rambut yang sudah mengembang.
Kepala Isel menggeleng, dia hanya minum satu teguk, setelahnya hanya minum air putih. Isel merasa kepalanya pusing, memejamkan mata ingin tidur, lalu ada minuman dingin dan langsung dihabiskan.
"Ada apa di minuman itu, aku tidak mungkin mabuk?" Isel menatap tangannya yang terasa panas, seluruh tubuhnya panas.
Brayen keluar setelah menyelesaikan masalah, menatap Vio yang merapikan rambut Weni. Kedua tangan Weni mengusap wajah Vio mengucapkan terima kasih.
"Mama yang terbaik," ucap Weni sambil tertawa.
"Lebih baik kamu tidur." Vio memukul kepala Weni yang langsung tidur di jalan.
"Sel, ayo berdiri." Brayen membantu Isel berdiri, kedua tangan Isel memeluk erat.
Dorongan kuat Brayen membuat Isel jatuh tersungkur karena merasa geli saat napas Isel terkena lehernya.
Melihat Isel jatuh, Vio langsung menangkap tangan Isel agar segera berdiri. Dirinya pusing melihat Isel dan Weni yang sangat mengacaukan harinya.
"Isel minum obat perangsang, setidaknya dia harus bertahan selama empat jam." Brayen melangkah mundur melihat Isel yang matanya sudah merah masih berusaha menahan diri.
"Kamu bawa Isel pulang," pinta Vio karena tidak mungkin Isel bersamaan.
"Gila kamu, jika tiba-tiba di mobil terjadi sesuatu kepada kita? aku lelaki normal apalagi wanita secantik Isel." Brayen merinding karena dia belum siap memiliki pasangan.
Vio menatap tajam ingin mematahkan leher Brayen jika sampai melukai sahabatnya, Isel wanita terhormat yang dijaga keluarganya.
Dari jauh Dean sudah melihat Isel, bahkan saat dia memeluk Brayen. Perasaan Dean terasa sakit dan dadanya sesak merasa rasa yang tidak pernah dirasakan.
"Aku kenapa, dulu saat Aira mengatakan hanya mencintai Kak Angga rasanya tidak sesakit ini?" Dean memegang dadanya berpikir positif jika perasaan karena status Isel istrinya.
Teriak Brayen terdengar memanggil Dean untuk membawa Isel, kasihan melihat Isel yang meremas rambutnya kuat.
__ADS_1
"Apa yang terjadi kepada Isel, berapa banyak dia minum?"
Vio menjelaskan jika Isel hanya minum satu gelas, tubuh tidak terbiasa sehingga langsung pusing. Masalahnya Isel dikerjain orang karena mengiginkan sesuatu.
"Kenapa penampilan Isel berantakan?"
"Kita bertarung di dalam karena belasan orang ingin melecehkan. Aku tidak bisa bertarung sendiri sehingga mereka juga terlibat." Vio meminta Dean membawa Isel pulang, dan dia harus membawa Weni ke hotel.
Kepala Dean mengangguk, masih diam saja melihat Isel yang mengaruk-garuk kepalanya. Merasa matanya panas, tubuhnya juga ada hal aneh yang tidak dapat Isel mengerti.
"Ayo pulang, sampai kapan kamu ingin duduk di situ?" Dean tidak menyambut tangan Isel sama sekali.
"Berdiri sendiri, aku menunggu kamu untuk makan bersama, tapi kenapa ada di sini?"
"Uncle, kepala Isel rasanya berputar-putar." Isel memukul kepalanya.
Tidak tega melihat kondisi Isel, Dean menarik tangan untuk berjalan ke mobil. Sepanjang jalan Isel mengoceh tidak nyaman dengan bajunya.
"Buka saja bajunya," ujar Dean yang masih fokus menyetir.
Kepala Isel mengangguk langsung buka baju mengipas tubuhnya yang merasakan tidak nyaman.
"Isel ingin berpesta," balas Isel memeluk tubuhnya sendiri karena hanya menggunakan baju satu jari.
"Apa itu penting Sel, kamu sudah menikah. Ubah sikap kamu yang ingin bersenang-senang, masa depan kamu panjang." Dean hanya khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Kepala Isel menoleh ke arah lain, setidaknya lebih baik dirinya yang secara terang-terangan menujukkan betapa buruknya dirinya, daripada Dean yang menutupi perasaannya.
Keadaan di dalam mobil hening, sampai tiba di apartemen Isel langsung berlari keluar untuk berendam air dingin karena tubuhnya sangat panas dan terpancing nafsu.
"Apa Uncle sadar jika dia memimpikan wanita lain padahal sudah beristri?" Isel membuka seluruh bajunya berendam di dalam bathub.
Dean menatap meja makan yang tidak tersentuh, hatinya merasa tidak nyaman dengan hubungan keduanya yang masih tidak jelas.
Di ruangan kerjanya, Dean tidak bisa konsentrasi, pikirannya masih kepada Isel yang sudah pulang namun secara tiba-tiba pergi lagi dari rumah.
"Kenapa Isel pergi, apa ada sesuatu yang aku lakukan menyakitinya?" Dean mencoba mengingat, tapi tidak tahu apapun.
Rekaman CCTV menujukkan dua eksepsi Isel yang berbeda, saat pulang dia happy, namun pergi lagi sambil mengusap mata.
__ADS_1
Dean melangkah ke kamar berpikir Isel sudah tidur, tapi ranjang masih kosong hanya suara air yang terdengar.
"Sel, berapa lama lagi kamu di kamar mandi?"
"Jangan ganggu Isel, Uncle tidur saja." Kuku Isel menancap ke lengannya karena meremas kuat.
"Buka pintunya atau aku buka paksa?" Dean mendengar suara rintihan Isel.
"Jangan paksa Isel, lebih baik jaga jarak sampai efek obat ini hilang." Isel melihat darah di kukunya.
Pintu terbuka paksa, Dean memegang kedua tangan Isel yang menyakiti tubuhnya sendiri. Napas Isel juga tidak beraturan.
"Kenapa air dingin, seharusnya air panas." Dean mengusap wajah Isel yang sudah lemas karena tubuhnya menggigil berjam di dalam air.
Dean mengambil handuk, menggedong Isel kembali ke kamar karena tidak tega melihat menyakiti tubuhnya sendiri.
"Uncle keluar dari kamar?" Isel menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
Suara tangisan Isel terdengar, dia tidak kuat dan tidak mengerti apa yang dirasakannya. Tubuh Isel panas dan terasa sakit.
"Aku rasa efeknya lebih dari empat jam, sudah dua jam tidak ada perubahan." Dean menarik napas panjang.
Selimut Dean singkirkan, memeluk tubuh Isel yang juga langsung memeluk erat. Bibir keduanya bertemu, mata Isel dan Dean terpejam mengikuti hati nurani apa yang membuat keduanya nyaman.
"Aku harap besok pagi kita tidak menyesalinya." Dean membuka bajunya tidak peduli lagi dengan hubungan apa yang dulunya mengikat mereka.
Selimut ditarik menutupi tubuh, suara Isel meringis kesakitan terdengar. Dia sadar sepenuhnya jika Dean yang ada di atas tubuhnya.
"Uncle, kenapa Uncle berani melakukan ini?" Isel mendekap tubuh Dean sangat kuat sambil merasakan sakit.
Kedua tangan Dean memeluk erat tubuh kecil yang sedari kecil dirinya jaga, tapi setelah dewasa Dean sendiri yang merenggutnya.
Senyuman Isel terlihat merasakan tubuh Dean penuh keringat, merasa senang karena bukan dirinya yang meminta, tapi Dean yang melakukannya lebih dulu.
Napas Dean terasa berhembus di wajah isel, menatap mata Isel yang tidak berani menatapnya setelah melepaskan kepuasan masing-masing.
"Kenapa menghindari mata aku, di mana keberanian kamu yang suka mengecup bibir aku?" Dean memeluk Isel erat memejamkan matanya karena merasa ngantuk.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira