SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
HAPPY BIRTHDAY


__ADS_3

Pesta yang diimpikan oleh Blackat dan Aira sebagai publik figur diadakan secara besar-besaran, tamu undangan juga mencapai ribuan dikunjungi oleh jutaan sesama selebriti dari berbagai belahan dunia.


"Aira," teriakkan histeris terdengar melihat Ai keluar bersama suaminya bagaikan raja dan ratu yang melambaikan tangannya.


Ratusan kamera diarahkan kepada keduanya, ditambah ribuan ponsel yang mengikuti langkah ke atas singgasana mewah.


"Ai tidak menyangka seramai ini," ujar Ai mengangumi betapa banyaknya yang mencintai mereka juga mensupport pernikahan.


"Tim yang bekerja dibaliknya juga bukan orang sembarangan, aku mempersembahkan pesta pernikahan ini untuk kamu." Angga mengusap wajah istrinya yang tersenyum lebar.


Teriakkan histeris terdengar, mengangumi dua manusia yang nampak sempurna di mata sesama manusia.


Dari lantai atas seluruh keluarga juga menyaksikan, tersenyum bahagia melihat tawa Aira yang begitu puas dengan pesta yang dirinya impikan disaksikan oleh jutaan orang.


"Berbahagialah Nak, Papi bahagia melihat senyuman kamu yang begitu bahagia, sekarang tidak ada yang perlu Papi khawatirkan lagi ada lelaki hebat yang akan menjaga dan mencintai kamu." Altha mengusap air matanya.


"Bukan itu selebriti luar, aslinya jauh lebih tampan." Diana menujuk ke arah pemuda yang mendekati Blackat.


"Ah iya, kira-kira Blackat ingin memperkenalkan kita tidak?" Aliya teriak bisa melihat banyak selebriti.


"Diana, sejak kapan kamu sibuk melihat selebriti? fokus saja kepada pasien kamu." Gemal mencubit pipi istrinya.


"Kak Di lihat perempuan itu, dia aktris penggoda yang mengambil suami orang, dasar perempuan tidak tahu malu." Tika mengumpat artis cantik yang sedang menikmati makanannya.


"Iya, perempuan sialan. Coba saja jika kamu berurusan dengan aku, mati muda kamu." Cacian Diana terdengar melihat banyak selebriti yang dia kenal meksipun tidak tahu namanya.


"Mereka pelakorr saja bisa hidup bahagia, dasar aktris binatang." Tatapan mata Shin sinis melihat baju salah satu selebriti yang memperlihatkan belahan dada.


Mam Jes dan Anggun saling pandang, memilih diam mendengar ocehan para wanita yang berlagak tahu dengan kehidupan selebriti.


"Tujuan kita ada di sini untuk turut bahagia menyambut pernikahan anak-anak, bukan menambah dosa dengan mengkritik orang lain." Kepala Papa Calvin hanya bisa menggeleng tidak paham dengan mulut yang begitu aktif.


Dimas dan Altha hanya tersenyum kecil, ucapan Calvin benar namun tidak heran lagi, beginilah nasib mereka memilih para wanita bar-bar.


Mata Genta melotot, menepuk pundak Juna menujuk ke arah dua anak kecil yang menggunakan gaun mewah pemberian Blackat.

__ADS_1


Tanpa ragu Mora dan Mira naik ke atas singgasana, berdiri di samping Angga menerima tamu.


Tawa Angga tidak tertahankan hanya bisa mengusap kepala dua queen kesayangannya, keduanya juga menggunakan mahkota sama seperti Aira.


"Ada saja tingkah laku keduanya, kita di sini melihat banyaknya Aktor dan aktris sedangkan mereka berdua bisa bersentuhan." Kesal Aliya karena dia hanya bisa melihat dari jauh.


Tangan Angga meminta kamera menyingkir, dilarang mengenai Mira dan Mora demi keamanannya.


"Uncle, Mora ingin difoto juga, nanti bisa masuk tv." Wajah memelas terlihat, memohon agar Angga mengizinkan.


Mata Angga melihat ke lantai atas, meminta ponselnya kepada Gilang menghubungi Juna atas permintaan keduanya.


Setelah mendapatkan izin barulah Angga membiarkan kamera mengarah kepada keduanya.


"Hore Mira masuk berita." Cepat Mira naik kursi bersama Mora untuk berfoto bersama.


"Dasar tuyul pengacau, bisa-bisanya kalian ada di tengah sebagai pembatas." Ai menarik tangan Mora agar turun dan pergi.


Senyuman Angga terlihat, meminta Aira membiarkan keduanya daripada kelayapan tidak ada penjaga.


"Ayang, Aira ingin duduk, tapi ada mereka di sini." Ai memeluk lengan suaminya menutupi dua anak yang duduk di kursi.


"Memangnya kamu menunggu tua," balas Ai sambil tersenyum sindiran.


"Mulut istri kamu harus banyak diajar." Langkah kaki meninggalkan pelaminan.


"Seburuk apapun dirinya, aku sangat mencintainya. Aku senang jika orang luar menatapnya seperti itu karena cukup aku yang tahu betapa istimewanya dirinya." Angga mengecup kening istrinya.


"Tumben sekali berani di depan umum, Aira merasa ada yang aneh jika begini?" Aira memicingkan matanya.


Kepala Angga menggeleng tidak fokus kepada orang-orang yang memperhatikan mereka, Angga hanya mengutarakan betapa bahagianya dirinya.


"Boleh aku meminta perhatian sebentar, aku dan Aira sudah menikah satu bulan yang lalu, tapi kita berdua sibuk bahkan jarang bertemu." Angga tersenyum sambil menghela napasnya. Dia berpikir jika menikah pasti akan memiliki waktu yang banyak, namun kenyataannya pekerjaan menyita semuanya.


Permintaan maaf Angga terdengar, mungkin dia akan mengurangi kesibukannya bukan berarti dirinya mundur, Angga hanya ingin menghabiskan sedikit waktu bersama istrinya, dan menikmati kebersamaan.

__ADS_1


"Maafkan Aira yang ternyata juga salah, Ai terlalu sibuk namun menyalahkan kamu yang tidak peduli. Aira akan memperbaiki diri." Ai memeluk erat suaminya membuat orang yang menyaksikan terharu.


Beberapa pelayan berjalan mendekat membawakan kue ulang tahun, Aira tersentak kaget karena semua tamu undangan menyalakan lilin di atas mini cake yang dibagikan.


Kedua tangan Aira menutup mulutnya karena kaget, tidak menyangka akan ada kejutan padahal jam belum berganti sudah mendapatkan ucapan birthday.


"Ulang tahunnya besok, Aira bahkan lupa jika besok hari lahir Aira ke dunia ini. Mami, Papi kalian bisa melihat Aira yang berdiri di sini. Menjadi selebriti tidak pernah mendapat restu juga izin dari Mami, tapi Aira berhasil membuktikan. Maaf, jika Putri yang Mami lahiran puluhan tahun yang lalu tumbuh menjadi pembangkang." Aira meneteskan air matanya, merasa bahagia karena di depan jutaan orang dirinya bisa jujur jika dirinya mengejar mimpi tanpa dukungan, namun kedua orang tuanya tidak pernah meninggalkan Aira.


"Papi bangga sama kamu Nak," balas Altha mengusap air matanya.


"Mami Papi bahagia saat Aira lahir, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu sekarang kamu sudah menikah." Aliya juga meneteskan air matanya.


Suara para tamu undangan bernyanyi bersama terdengar, meniup lilin secara bersamaan.


Mata Aira dan Angga terpejam saling mengenggam berharap bertambahnya usia maka bertambah juga kedewasaan.


Pelukan Aira dan Angga sangat kuat, hadiah terindah bagi Aira hadirnya Angga di dalam hidupnya.


"Aku bersyukur hadirnya kamu, berharap tahun depan akan hadir malaikat kecil diantara kita, sehingga bahagia ini terus bertambah."


"Amin, semoga doa kita terkabul," ujar Angga yang tersenyum manis.


Di lantai atas Lea sudah bolak-balik, Juan hanya tersenyum melihat istrinya yang sedang merasakan kontraksi, tapi sangat tenang.


"Sudah siap ke rumah sakit belum?"


"Nanti Kak, Lea masih ingin merayakan ulang tahun kamu menjadi yang pertama mengucapkan, menunggu jam dua belas lama sekali." Lea mengigit bibir bawahnya merasakan anaknya mulai ingin keluar.


Suara Aira mengucapkan happy birthday untuk Kakaknya dan adik lelakinya yang juga berperan besar dalam karirnya. Jika tanpa dua lelakinya sudah lama dirinya berhenti dari karirnya.


"Aira sialan!" teriak Lea meminta diantar ke rumah sakit.


Juan hanya menahan tawa melihat kekesalan istrinya karena didahului oleh Aira yang diumumkan secara publik.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


***


__ADS_2