
Pukulan Vio menghantam Ren bertubi-tubi, Isel dan kedua temannya yang datang kaget melihat Vio marah besar.
"Jika kamu sudah tidak berguna, setidaknya jangan merugikan orang lain." Vio mencekik leher Ren yang meneteskan air mata.
Cengkraman langsung terlepas saat Weni menghantam tangan Vio agar tidak menyerang orang yang sudah lemah.
"Kamu bisa tidak mencari lawan yang lebih kuat lagi, kita tidak pernah tahu seberat apa hidup yang dia jalani." Kedua tangan Weni membantu Ren berdiri meskipun tubuh tersungkur kembali.
Helaan napas Isel terdengar, tidak tega melihat kondisi Ren yang memprihatinkan. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun karena masih bertahan untuk menutup rahasia serapat mungkin.
"Ayo bangun, laki-laki tidak boleh lemah. Jika kamu masih bernapas berarti hidup ini belum berakhir." Melihat Weni kesulitan, Laura langsung membungkuk meminta Ren digendong karena Vio membuat kakinya patah.
Langkah Isel berjalan lebih dulu, sesekali melihat ketiga sahabatnya yang saling bantu untuk membawa Ren keluar dari hutan dalam keadaan selamat.
Tangan Isel terangkat, satu-persatu drone lenyap, menyisakan satu yang terbang paling tinggi.
Drone menangkap sekumpulan orang-orang yang melarikan diri, tempat yang menjadi persinggahan Alika sudah dikepung oleh segerombolan polisi dan ada Dean juga.
"Kita tidak bisa keluar dari jalur tadi," ujar Isel yang langsung balik badan menatap teman-temannya yang saling pandang.
"Aku akan mencari jalan lain. Tempat seluas ini tidak mungkin hanya memiliki satu jalur." Laura mengambil ponselnya untuk mencari jalan.
"Jalur lain banyak, tapi semuanya memiliki rute berbahaya." Weni menatap Ren yang memiliki tatapan kosong.
Tidak memiliki cara, Vio akan memimpin untuk tetap keluar jalur pertama, mereka harus bertarung tanpa peduli siapa lawan.
"Kamu berlari karena tahu arah paling aman, bawa kami keluar dalam keadaan baik. Bisakah kamu selamatkan kami, aku tidak akan melupakan kebaikan kamu." Suara pelan dan lembut Weni terdengar mentap Ren yang melirik ke arah matanya.
"Apa kamu percaya aku?"
"Apa ...." Vio menatap Isel yang menarik tangannya membiarkan Weni bicara dengan Ren dari hati ke hti.
Kepala Weni mengaangguk meletakkan tangan Ren lehernya untuk melangkah bersama. Laura juga membantu jalan agar mereka bisa keluar dengan cepat.
"Kalian keluar bertiga, aku dan Vio akan lewat jalur utama karena ada mobil kita di sana yang pasti sedang diawasi." Isel menatap serius meminta kedua temannya keluar dalam keadaan hidup.
"Baiklah, kita pisah di sini." Dua kelompok pisah melewati dua jalan karena tujuan mereka membawa Ren.
__ADS_1
Di jalanan Isel dan Vio berlari kencang, keduanya mengambil beberapa tumbuhan bunga hutan agar ada yang bisa mereka bawa kembali.
"Kamu yakin Dean tidak akan mengenali kita?"
"Aku harap kali ini kita juga aman, apapun yang terjadi kita tidak boleh ketahuan." Isel berlari kecil diikuti Vio yang deg-degan karena jarak mereka semakin dekat.
Dari belakang suara beberapa orang berlari dan meminta berhenti terdengar. Isel dan Vio menoleh pelan, membungkukkan sedikit punggung lalu berdiri tegak.
Vio menatap Dean yang melangkah mendekat bersama beberapa polisi berpangkat tinggi, melihat ke arah mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" beberapa polisi melangkah mendekat.
Langkah dua wanita yang menggunakan baju mewah melangkah mundur, nampak ketakutan karena melihat banyak orang.
"Jangan takut kita bukan orang jahat, kalian masuk kawasan yang sedang dicurigai menjadi tempat persembunyian buronan" Dean melangkah mendekat melihat dari ujung kaki sampai kepala.
Dean merasa tidak asing dari tinggi badan, namun ukuran tubuh tidak sesuai dengaan istrinya karenaa Isel memiliki tubuh yang indah.
Mata Dean juga melihat ke arah kuku yang tidak mirip dengaan istrinya, tapi bau tubuh mirip Isel.
"Bukannya ini pelecehan, bagaimana bisa kalian mengelilingi dua wanita yang tidak tahu apapun. Apa perlu kami tanpa busana hanya karena kalian mencari buronan?" tanya Vio yang melepaskan bunga hutan yang dia bawa.
"Periksa saja aku, tapi bebaskan adikku," pinta Vio menenangkan Isel.
"Apa kalian pemilik dua mobil di depan?" tanya Dean.
Kepala Vio mengangguk, dia dan adiknya sedang bermain setelah membeli mobil baru, mencari bunga yang tumbuh liar karena setelahnya mereka harus berpisah.
"Kenapa menggunakan dua mobil, bukannya lebih menyenangkan jika satu mobil?" tanya Dean kembali.
Di dalam hati Vio mengumpat karena Dean terlalu jeli mengurusi hidup orang, masalah dua mobil juga dipertanyakan.
"Bagaimana caranya kita bisa satu mobil, bukannya sudah aku katakan kita akan berpisah." Vio mulai kesal dan ingin memukul Dean yang masih banyak tanya.
Kepala Dean mengangguk, meminta izin untuk mengecek perekam di dalam mobil agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Isel dan Vio tidak punya pilihan, mereka mengikuti Dean ke arah mobil mengambil memori dasbor untuk dicek siapa saja yang ada di mobil.
__ADS_1
Dengan cepat memori dikembalikan ke mobil karena keterangan yang diberikan sesuai dengan apa yang direkam.
"Kenapa rasanya tidak nyaman di dalam mobil sendiri, bagaimana jika ada yang melihat aku sedang ganti baju. Dasar polisi kurang ajar." Isel membuang memori dasbor karena sudah tidak membutuhkannya lagi.
Dua mobil melaju pergi ke arah yang berbeda, Dean merasa kemarahan wanita yang pergi mirip Isel yang suka ngambek.
"Kenapa aku terpikirkan dengan Isel terus?' Dean menghubungi istrinya.
Cepat Isel menjawab sambil tertawa karenaa dia sedang menonton kartun kesukaannya sebelum pergi ke rumah sakit.
"Kmau di mana Sel?"
"Di apartemen, memangnya kenapa Uncle?"
"Tidak, aku hanya bertemu dengan seseorang waanita yang hampir mirip kamu," ujar Dean yang meminta Isel bersiap ke rumah sakit.
Tawa Isel terdengar di dalam mobilnya, mematikan rekaman kartun agar Dean tidak curiga.
Penyamaran yang Isel lakuakn sudah lebih dari sepuluh tahun dirinya lakukan tidak mungkin Dean bisa mengenalinya kecuali mandi bersamanya.
Rekaman CCTV di mobil juga tidak akan menemukan apapun karena memang sudah Isel setting
"Sel, kalian selamat?" Laura membuka pintu meminta Ren masuk bersama mereka.
"Apa wajah aku seutuhnya beda sehingga merek tidak mengenali aku." Isel menatap Ren yang menatapnya.
Ren juga tidak mengenali Isel dan Vio, sekalipun mendengar suara tetap saja dia tidak tahu karena wajah Isel berubah total.
Wanita cantik, tapi berubah menjadi wajah biasa dan terlihat menor sehingga tidak mungkin ada yang kenal.
"Kita kembali sekarang," ujar Isel yang menjalankan mobil ke tempat tujuan karena setidaknya mereka lolos dari Dean dan bawahannya.
Melihat senyuman Isel, Ren merasa tidak asing namun dia tidak bisa mengingat sedikitpun.
"Dean, bukannya dia jaksa muda yang mengejar Bian. Memangnya ini kasus apa?" Laura yang tidak tahu apapun binggung.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira