
Di dalam kamar rawat, Weni meneteskan air matanya mengusap tangan wanita yang sudah tua, juga mengalami gangguan jiwa.
"Akhirnya ditemukan, aku sudah mencoba mencari, tapi tidak berhasil. Maafkan keluarga Weni Tante, meksipun aku tidak tahu apa yang terjadi." Air mata semakin banyak tumpah, mengusap kening yang terasa sakit.
Tangan yang digenggam bergerak, wanita yang sudah beberapa hari tidak sadarkan diri akhirnya membuka mata.
Tatapan matanya kosong, gerakan mulutnya mampu Weni tebak, terus memanggil anaknya meskipun tanpa suara.
"Dia ada Tante, anak Tante ada di sini. Aku panggil sebentar ya," pinta Weni agar menunggu.
"Anakku belum meninggal."
"Iya, dia belum meninggal." Senyuman Weni terlihat menenangkan agar tidak memberontak.
Suara Weni yang biasanya teriak-teriak berubah lembut, meminta tenang karena sedang di infus. Jika mengamuk akan terjadi pendarahan dan beresiko.
Daripada keadaan panik dan gagal bertemu maka harus tenang, tangan Weni menekan ponselnya menghubungi Isel karena lebih tahu cara menangani orang yang mengalami gangguan mental.
"Isel sialan, saat dibutuhkan saja tidak muncul. Pasti dia sedang bergoyang di ranjang, kebiasaan." Weni memanggil dengan tatapan tajam.
Berkali-kali panggilan masuk barulah Isel menjawab, suaranya terdengar sedang tidur meminta Weni berhenti menganggu.
"Dia sadar, aku tidak tahu Bian di mana, minta dia datang ke ruangan."
"Bian itu siapa, kamu siapa?" kesadaran Isel belum pulih karena baru saja tidur setelah menyusui.
"Sel, jangan bercanda. Cepat bangun!" teriakkan Weni menggema di ruangan membuat wanita yang berbaring menatapnya tajam.
Isel bangkit dari atas ranjang, melihat suaminya belum pulang. Dean memberikan kabar jika berkunjung ke rumah sakit.
"Abi ada di rumah sakit tidak mengajak Isel." Panggilan masuk, tapi tidak dijawab.
Panggilan balik terlihat, Isel langsung menjawab meminta suaminya dan Bian segera ke ruangan karena Mama Bian sudah sadarkan diri.
"Bian, Mama kamu sadar." Dean menatap lelaki di sampingnya menjatuhkan minuman langsung berlari kencang.
Dean tidak mengizinkan Isel ke rumah sakit karena sudah terlalu malam, apalagi meninggalkan anak-anak yang masih kecil.
Suara langkah kaki berlarian terdengar, tangan Bian mencengkram kuat handle pintu membukanya secara perlahan.
"Maafkan Weni ya Tante, tadi tidak sengaja." Suara memelas terdengar, melakukan hukuman.
__ADS_1
"Kamu nakal, tidak boleh teriak nanti ganggu anak Tante yang sedang tidur." Tatapan wanita di atas ranjang tajam.
Meksipun suaranya tidak terdengar jelas, tapi Weni bisa memahaminya karena pernah berdebat dengan Ura yang memiliki mulut super cerewet.
"Anak Tante sudah tua, hampir jadi kakek-kakek. Jam segini tidak mungkin sedang tidur, Tante terlalu lama hidup di dalam lingkaran." Weni juga menatap sinis.
"Anak saya masih bayi," jawab wanita yang ada di ranjang atas.
"Itu tiga puluh lima tahu yang lalu, Tante ini membesarkan anak atau boneka santet, kenapa tidak tumbuh besar? Pohon saja bisa membesar, apalagi manusia untungnya belum mati." Bibir Weni monyong karena disuruh jalan jongkok.
"Ya tuhan, kamu menyumpahi anak saya mati, di mana orang tua kamu?"
Helaan napas Weni terdengar, orang tuanya sudah meninggal. Tidak tahu detail apa terjadi saat sadar dari lamunan dirinya sudah yatim piatu.
Suara tangisan terdengar, kedua tangan Weni meremas kepalanya karena menbuat Mamanya Bian menangis.
"Sini Tante peluk," pintanya ingin menenangkan.
Weni nampak terkejut, sebenarnya siapa yang gila. Padahal Weni hanya asal bicara saja tidak bermaksud membuat sedih.
"Tante ini sadar atau tidak jika dia sedang gila?"
"Nah, itu anak Tante. Akhirnya dia datang, saatnya Weni pulang."
"Anakku besar sekali?"
"Sudah Weni katakan dia manusia bukan boneka santet yang tidak bisa tumbuh. Coba saja dicium mungkin anak Tante sudah bau tanah." Suara Weni mengoceh terdengar, memasang high heels yang ribet karena memiliki banyak tali.
Senyuman Bian terlihat mengenggam tangan Mamanya sambil meneteskan air mata, ingin memeluk namun ragu jika keberadaannya ditolak.
"Bayan, ini kamu sudah besar." Air mata menetes, berusaha mengangkat tangan menyentuh wajah lembut.
"Bayam atau ayam, kenapa namanya aneh sekali?" Weni merapikan bajunya ingin melangkah pergi.
Suara tangisan Bian terdengar, memeluk mamanya sambil meminta maaf karena terlalu lama dirinya untuk datang menjemput.
Mata Dean juga berkaca-kaca melihat Bian yang nampak terpukul, sekaligus senang bisa memeluk Mamanya.
Perlahan langkah Weni mendekati pintu, bersiap ingin melarikan diri dari Bian yang mungkin menjambak kembali.
"Mau ke mana kamu?" Dean menatap tajam Weni.
__ADS_1
"Apa aku terlihat seperti ini pergi berenang, pastinya mau pulang. Lihat kening aku benjol ulah Bian, apa kamu pikir aku masih harus di sini?" Weni meminta Dean menyingkir jika tidak akan dilaporkan kepada Isel jika Dean digoda perawat.
Kepala Dean menggeleng, langsung menyingkir karena tahu akal licik Weni yang bisa membuat rumah tangganya bertengkar.
Panggilan Bian terdengar, meminta Weni meminta maaf atas ucapannya yang kasar kepada Mamanya.
"Apa Tante baik-baik saja?" Weni tersenyum membungkukkan tubuhnya meminta maaf.
"Apa dia istri kamu?"
"Aku, jadi istri. Oh tidak mungkin, Tante tolong buka mata mana mungkin gadis muda dan cantik ini menikahi pria tua dan kejam ini." Kepala Weni menggeleng sambil tertawa lucu.
"Iya Ma, dia sedang mengandung cucu Mama." Senyuman Bian terlihat meminta Mamanya istirahat agar cepat pulih.
Kepala Weni menggeleng langsung terduduk di lantai, hidupnya benar-benar sial. Berada di dalam genggaman tangan Bian dan meladeni wanita gila.
Tatapan mata Bian dingin, menatap Weni yang sedang berpikir. Mencari cara agar Mama Bian membencinya.
"Tante, aku hamil anak lelaki lain." Weni berdiri melihat wanita yang tadinya bangun sudah terlelap tidur.
Tawa Dean tertahan karena melihat hubungan aneh di depannya, rasanya sungguh konyol karena wanita setengah waras bertemu lelaki psikopat.
"Bian, ada dokter." Dean mempersilahkan dokter untuk memeriksa.
Dokter mengecek kondisi pasien yang sempat bangun, bahkan berkomunikasi. Dokter menatap Dean meminta bantuan agar besok pagi Diana bisa memeriksa langsung kondisi pasien.
"Dean, tolong hubungi Dokter Di."
"Baik Dok, besok pagi Kak Diana akan segera datang ke rumah sakit. Kira-kira apa kondisinya memburuk?"
"Operasi berjalan lancar, tumor berhasil di angkat, tapi sudah dijelaskan tidak bisa menyembuhkan. Dokter Di akan memeriksa kondisi terkininya setelah operasi." Dokter pamit kepada Bian yang sangat setia menemani Mamanya tanpa henti.
Tumbuh Bian membungkuk mengucapkan terima kasih kepada Dean karena sudah banyak membantunya.
Jika tanpa Isel tidak mungkin mendapatkan dokter terbaik untuk menangani operasi, dan Dean juga sudah membuat pikiran dan hatinya tenang.
Meksipun ada satu wanita yang membuat darahnya naik.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1