
Diruang kerjanya Dean melihat beberapa laporan yang sudah dikirimkan kepadanya untuk menyelidiki Bian.
Ada banyak daftar wanita hilang diyakini ada sangkut-pautnya dengan Bian, semua wanita yang dinyatakan hilang mengenal Bian.
Meskipun memiliki jarak kenal yaang berbeda, Bian pernah kencan tanpa ada yang tahu hubungan apa yang kedua belah pihak jalani.
"Di mana mereka semua, kenapa menghilang tanpa jejak?" Dean menarik napas panjang karena tidak ada petunjuk sama sekali.
Ketukan pintu terdengar, Isel melangkah masuk meminta izin untuk pergi ke rumah salah satu pasien yang ingin dirawat di rumah.
"Uncle, kemungkinan Isel pulang malam, jangan tunggu Isel," pinta Isel karena dia ingin bertemu dengan temannya.
"Di mana lokasinya, kamu hanya boleh pergi sampai jam delapan malam, jika lewat aku laporkan agar dicari oleh tim khusus." Dean tidak menatap Isel sedikitpun, asih fokus di depan komputernya.
Bibir Isel monyong, merasa kesal melihat Dean yang mengekang dirinya. Jika hanya sampai jam delapan malam, hanya pulang dari rumah pasiennya saja, tidak sempat makan dan minum, belum lagi jika terjadi macet.
Mata Isel melihat layar yang menunjukkan beberapa wanita yang hilang, lebih buruknya lagi kehilangan mereka bersamaan dengan keluarganya.
"Siapa ini Uncle?"
"Belum tahu, aku hanya binggung karena tidak ada petunjuk." Dean merasa jalannya buntu.
"Uncle masih menyelidiki soal Bian?" kedua tangan Isel memeluk leher Dean dari belakang, kepalanya disandarkan di pundak sambil ikut melihat folder yang Dean periksa.
Kepala Dean mengangguk, semua wanita yang hilang memiliki satu kesamaan ada luka di punggung.
"Luka, luka apa?"
"Luka bakar bertuliskan nama dirinya, hanya itu informasi yang Isel tahu. Wanita yang Bian miliki mungkin bukan satu, tapi ada banyak." Isel mengakui jika semua wanita yang hilang memiliki wajah yang cantik.
"Mereka semua cantik, Bian sangat menyukai wanita cantik." Dean tersenyum manis karena selera Bian sangat tinggi.
"Uncle suka tidak dengan wanita cantik?"
Dean menoleh ke arah Isel, menatap wajah cantik istrinya membandingkan dengan wanita yang hilang.
__ADS_1
"Aku tidak terlalu menyukai wanita cantik," balas Dean pelan.
Bibir Isel manyun, Dean tidak pernah memujinya cantik padahal dibandingkan wanita Bian dirinya jauh lebih cantik.
Dean mengatur napasnya, dia mengakui Isel memiliki wajah yang sangat cantik. Selain usia muda, dia juga memiliki tubuh yang indah.
Sayangnya Dean tidak bisa mengatakan soal betapa cantiknya Isel, Dean sendiri tidak yakin dengan perasaannya yang penuh keraguan.
"Ya sudah Isel pergi dulu. Uncle, hati-hati jika ingin keluar apalagi menyelidiki Bian." Isel mengecup bibir Dean sesuka hatinya.
Tangan Dean menyentuh bibirnya yang selalu mendapatkan sentuhan dari bibir Isel, baru tahu juga jika kecupan Isel tidak mengusik Dean sama sekali.
Suara pesan email masuk, Dean langsung membukanya melihat kirimkan dari beberapa orang yang sudah beberapa bulan menyelidiki Bian.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi kita Bian, aku pastikan kamu hancur di tanganku. Sudah terlalu banyak korban yang menderita ulah kamu." Dean mematikan laptopnya, berjalan keluar dari rumah.
Isel yang juga sudah pergi lebih dulu merasa ada yang aneh, tiba di tempat pasiennya juga penuh penjagaan ketat.
Tanpa rasa takut, Isel berjalan masuk ingin menemui pasien yang ingin dirinya tangani. Mata Isel memincing saat melihat sebuah lambang.
"Masuk dulu Sel, kamu harus bertemu langsung. Bukannya sudah tugas kamu untuk melayani," balas pria berbadan tinggi tegap.
Tawa Isel terdengar dirinya tidak berkewajiban melayani siapapun, Bian menipu dirinya mengatasnamakan pasien padahal semua sudah diatur oleh Bian.
"Aku datang untuk menjemput kamu masuk, atau kita pindah rumah yang lebih mewah lagi. Aku tahu kamu menyukai kemewahan, bahkan dinding emas juga bisa aku berikan." Bian berjalan dengan gagah diikuti oleh banyak pengawal yang sudah membawa Brayen.
"Lepaskan Brayen," pinta Isel dengan nada pelan dan lembut.
Dikelilingi banyak penjahat sudah biasa bagi Isel, dia tidak takut apapun dan pertarungan sudah menjadi makannya sejak kecil, tapi Isel tidak ingin terpancing.
"Sel, berhentilah menolak aku. Apa aku terlihat begitu bajingan bagi kamu sehingga selalu menghindar?"
"Kenapa kamu memaksa, bukannya seharusnya meencari tahu terlebih dahulu identitas aku." Isel berjalan ke arah pengawal menarik Brayen yang ditangkap karena ketahuan mengantar Isel setelah mempermainkan sopir Bian.
Pukulan Isel kuat ke arah sopir, merasa emosi karena ada saja orang yang mengusiknya. Apa lagi melibatkan orang yang tidak bersalah.
__ADS_1
"Apa mereka memukuli kamu?"
"Ya, mereka mengancam agar aku mengatakan di mana kamu, tanpa sengaja menemukan kartu nama kamu sebagai dokter psikiater sehingga meminta rencana ini." Brayen tidak mengatakan sepatah katapun karena dia memang tidak banyak tahu soal Isel.
Senyuman Isel terlihat, berjalan ingin pergi bersama Brayen, kemarahan terlihat di mata Bian yang kecewa untuk kesekian kalinya.
Pergelangan tangan Isel ditahan, Bian menariknya ke dalam pelukan. Brayen langsung menarik Isel karena jika suami Isel tahu pasti akan terjadi perang.
"Kamu menginginkan wanita yang salah, aku pastikan nanti akan ada yang mengalahkan kamu," ujar Brayen menatap Isel yang terkejut karena ditarik Bian.
Isel sekuat tenaga meminta Bian melepaskan tangannya karena Isel tidak akan memberikan ampun.
"Lepaskan Isel Bian," pinta Brayen yang dipegang oleh dua bodyguard.
Tangan Bian yang memegang pergelangan Isel digenggam kuat, tancap kuku mengenai pergelangan tangan Bian.
"Lepaskan istriku jika kamu masih ingin tetap aman." Dean mendorong kuat Bian yang beberapa langkah mundur sampai hampir jauh jika penjaganya tidak maju.
Dean mengambil pergelangan tangan Isel membersihkannya agar tidak ada bekas sentuhan lelaki lain.
"Katanya ke tempat pasien, kenapa bertemu bajingan ini? Kamu tahu jika aku marah bisa lepas kendali?" tanya Dean menhan marah karena tidak suka Isel bohong.
"Isel tidak bohong, tapi dia yang menipu bahkan menyakiti Brayen." Isel membela diri karena salah dirinya yang tidak menyelidiki lebih dulu sebelum datang.
Mata Dean melihat ke arah Bian yang ternyata menjadikan Iseel target selanjutnya, dia mengagumi kecantikan Isel.
"Kenapa kamu mengatakan jika dia istri kamu?"
"Kak Dean memang suaminya Isel, aku juga sampai dipukul menggunakan panci karena mendekati istrinya, sebentar lagi peluru bisa menembus kepala kamu karena menyentuhnya." Lidah Brayen terjulur karena Bian tidak berani maju menyerang Dean.
Langkah Dean mendekati Bian, berbisik ke arah telinga membuat wajah Bian merah menahan marah karena Dean satu-satunya orang yang selalu berani kepadanya sampai Bian harus melarikan diri karena kejaran Dean.
"Jika satu kali aku melihat, tangan berharga kamu bisa putus," ancaman Dean terdengar menggenggam jari-jemari Isel untuk pergi.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira