SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
SIDANG


__ADS_3

Pintu persidangan terbuka, Dean melangkah dengan santai menyapa hakim yang betugas. Dari jauh Anggun melihat Putranya yang menyempatkan menyapa Jaksa juga para pengacara lain.


Tubuh Dean membungkuk di depan Papinya Lea, tersenyum manis langsung duduk mendampingi.


"Salam kenal Om, saya Dean pengacara yang akan membela Om. Maaf jika terlambat,"


"Kamu terlihat sangat muda, seumur Putri saya." Papi tersenyum mengucapkan terima kasih.


"Ya, kita memang seumuran Om. Anggap saja ini hadiah karena Lea membuat Kakak saya jatuh cinta." Tawa Dean tertahankan.


Sidang di mulai, dari pihak lawan terus memojokkan dan menyalakan Papi. Dean hanya diam saja tidak melakukan pembelaan apapun. Dia masih tersenyum santai mendengarkan dengan seksama.


Aira yang melihat ekspresi Dean menahan tawa, pasti akan segera ada kejutan yang memecah rekor.


"Apa yang Dean lakukan? kenapa dia diam saja? Apa mulutnya bisu?" Lea menatap Maminya yang masih terus menangis.


Pengacara dari pihak keluarga Taher memberikan bukti jika pemimpin yang disegani masyarakat, tidak lain Ayah kandung yang kejam.


"Pak hakim saya tidak tahu soal ini, demi Allah jika tahu pasti akan mencintai keduanya." Air mata Papi menetes, menangis sesenggukan karena dia dituduh sebagai tangan kanan pembunuhan Putrinya sendiri.


"Bagaimana Pengacara Dean kamu akan melakukan pembelaan?"


"Tidak, silahkan dilanjut,"


Juan duduk di samping Aira menatap Lea dan Maminya saling berpelukan, keduanya tidak kuasa menahan tangis karena pihak Taher menutup kurungan seumur hidup karena pembunuhan berencana.


"Tidak! suami saya tidak pernah melakukannya, dia pemimpin yang jujur dan bijaksana." Teriakkan Mami terdengar kecewa.


"Tante tenanglah, persidangan belum selesai." Ai mengusap air mata, Black juga terlihat mulai gelisah.


"Apa yang Dean pikirkan? dua makan tidak tidur apa dia hanya ingin menjadi penonton." Juan menatap ke arah mata Adiknya yang terlihat emosi, tapi Dean masih tetap diam.

__ADS_1


Seluruh barang bukti terlihat, kondisi Dean sudah tidak memiliki jalan untuk melakukan pembelaan, hakim menatap Anggun yang hanya geleng-geleng.


Hanya hakim yang tahu jika Dean Putra semata wayang Anggun, melihatnya diam pasti mengecewakan Anggun.


"Sudah selesai semuanya. Hakim yang terhormat aku hanya kecewa dan merasa hukum tidak adil. Jika diizinkan aku ingin membela diri sebagai seorang Ayah, Ibu dan anak. Apa yang tunjukkan dari pihak lawan tidak akan aku tepis, tapi coba dengarkan apa yang ingin aku tunjukkan." Senyuman Dean terlihat meminta bantuan seseorang untuk menayangkan sesuatu.


Kedua tangan Lea menutup mulutnya, suara tangisan seorang Ayah yang memohon kepada Putrinya untuk kembali.


Papi rela berada di penjara karena dia memang salah, tapi tidak ingin anaknya berpikir jika sebagai orang tua tidak menginginkan salah satu anaknya.


Segala kronologi kejadian detail, hakim dan Jaksa hanya bisa terdiam tanpa mengatakan apapun karena Dean memiliki bukti jika segala yang ditunjukkan di depan hakim tidak resmi.


Pengacara yang dipekerjakan oleh keluarga Taher tidak mengetahui apapun kejadian, mereka hanya memiliki surat perintah untuk menjatuhkan pihak lawan, tanpa riset apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa kita harus menuntut balik? berapa banyak yang akan terlibat? lima pengacara, dua jaksa, delapan polisi, dan beberapa dokter yang sudah melakukan penipuan juga harus dipanggil dan diselidiki. Jujur sebagai pengacara muda ini sangat memalukan karena uang bisa membuat seorang ayah yang mencintai anaknya dicap sebagai Ayah yang jahat." Suara Dean berdecak terdengar, matanya merah karena emosi.


Semakin tinggi pangkat seseorang, maka semakin lupa diri. Banyak orang lemah yang membutuhkan pembelaan, tapi Pengacara hanya bekerja untuk orang yang beruang.


Hakim tersenyum meminta semua bukti dikumpulkan, dan meminta kepolisian menyelidiki keluarga Taher karena bisa saja mereka melakukan penculikan terhadap Imelda yang sebenarnya Anggrek.


Keputusan hakim tidak bisa diganggu gugat, demi membuktikan jika hukum itu adil maka dari pihak Dean dinyatakan menang dan bebas.


Pengacara dan Jaksa yang melakukan suap akan tekena sangsi juga kemungkinan besar akan dikeluarkan.


"Terima kasih anak muda,"


Senyuman Dean terlihat, suaranya tangisan terdengar Lea langsung berlari memeluk Papinya dengan sangat erat bahkan tidak ingin melepaskan.


Air mata Dean menetes, ada bukti lain yang Dean miliki. Namun dia tidak bisa mengungkapnya, kasihan Lea dan Ibunya jika tahu pembuatan Imel yang keji.


Dia bahkan datang ke kantor polisi, memaksa Papinya untuk di penjara agar menghilangkan rasa bersalah, Imel bahkan meminta seluruh harta warisan dibagi.

__ADS_1


"Perempuan gila, dia bahkan tega memukul Papinya yang tidak tahu apapun. Sudah terluka karena tidak tahu kebenaran, dan ditampar oleh kenyataan jika Putrinya wanita kejam." Batin Dean di dalam hatinya sambil melihat Papi memeluk Lea dan istrinya.


Di kursi yang jauh, Anggun tersenyum lebar. Melihat Putranya seperti menatap suaminya di masa muda. Lelaki dingin yang jarang berbicara, memilih jalan berbahaya. Diam bukan tidak tahu apapun, tapi karena dia tahu segalanya dan menunggu waktu yang tepat.


"Sayang, kamu harus melihat putramu akhirnya dewasa." Anggun tersenyum melihat suaminya yang masih melakukan panggilan video.


Di kursi yang berbeda, Aira dan Juan bertepuk tangan begitupun dengan Blackat yang terkagum-kagum melihat Dean.


Tidak sia-sia perjuangan Dean mengurung diri dengan tumpukan buku tebal. Juga banyaknya rekaman yang harus dia pelajari.


"Dean, terima kasih. Aku tidak tahu cara membalaskan,"


"Cukup cintai Juan setulus hati kamu. Atau jangan lupa traktir makan." Senyuman Juan terlihat menerima jabatan tangan Dean dengan penuh kebahagiaan.


Mami dan Papi langsung memeluk Dean, mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan pembelaan.


"Kami akan tetap berjuang membawa Imel kembali, dia juga Putriku." Papi berharap Dean juga bisa membantu membuka pintu hati Imel.


Senyuman Dean terlihat, jangankan membuka hati Imel, hati Dean baru saja terbuka langsung hancur dan patah berkeping. Membuka hati bukan hal yang mudah.


"Dean hari ini kamu hebat sekali, kenapa aku merasa Papinya Imel menjodohkan kalian?"


"Kamu suka sekali jika melihat aku menderita. Wanita sekejam Imel bersama aku, bisa cepat dia aku masukan ke dalam penjara, jika perlu kuburan." Lirikan mata Dean tajam dia kesal dengan ucapan Aira tanpa sadar menyakiti hatinya.


Seseorang melewati Aira, Black menarik tangannya untuk memeluk. Darah mengalir dari tangan Black mengejutkan Aira.


"Jangan dikejar, dia ingin mencelakai Dean karena menang persidangan." Black menatap tangannya yang terluka.


"Darimana kamu tahu?" Dean menatap Black tajam seperti mengenali orang yang menyerangnya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2