SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
CEMBURU KECIL


__ADS_3

Semua yang tergabung di dalam acara berkumpul, Aira dan Blackat juga sudah menjalani latihan untuk persiapan.


"Ai, kenapa secara tiba-tiba ada fotografer baru?" Ben mendekati Aira saat dia baru sampai dan sempat bergabung.


"Aku tidak tahu, ini rekomendasi dari perusahaan karena kamu tidak bisa pergi dari awal. Dia juga sangat baik dalam pekerjaan." Ai tidak ingin mempermasalahkan, lagian mereka memang membutuhkan banyak tim fotografer juga kameraman.


Tangan Ai ditarik ke tempat yang sepi, Blackat yang melihatnya langsung menahan tangan Aira.


Ai berdiri di belakang Blackat yang nampak marah, seorang staf lancang menyentuh artisnya.


"Berapa lama kamu bekerja? kenapa lancang sekali menyentuh dia. Jika sampai media luar tahu, maka akan ada berita yang bisa membuat tambah banyak pekerjaan." Black mendekati wajah Ben.


Tawa kecil Ben terdengar, hasil tes Black maupun Aira normal, seharusnya Black dinyatakan menggunakan obat terlarang, tapi rencana Ben gagal.


"Kenapa kamu menarik paksa?"


"Aku hanya ingin bicara karena secara tiba-tiba fotografer tim Aira diganti," jelas Ben singkat.


"Apa ini menjadi urusan Ai? tim setiap artist ada sepuluh, bahkan terkandung lebih. Ada manager yang bertanggung jawab, tapi kenapa Aira yang ditanya?"


Emosi Ben tidak terbendung, langsung mengarahkan tangannya ingin memeluk. Tapi genggaman seseorang menahan.


Black cukup kaget, ada dua tangan berotot yang sedang beradu kuat. Tangan Ben langsung dipelintir ke kebelakang.


"Ada apa ini? kamu bisa dinyatakan melakukan penyerangan." Gion mengedipkan matanya kepada Uncle gantengnya yang tidak boleh tergores.


Beberapa staf keamanan langsung berkumpul, menanyakan yang terjadi. Wajah Blackat terlihat marah karena staf yang banyak tidak berguna.


Sikap pemarah Black kembali, membentak semua orang yang tidak bisa mengawasi Aira. Seharusnya Ai tidak ditinggalkan sendiri.


"Maaf ...."


Ponsel staf langsung Black lempar sampai pecah karena lebih memilih mengurus pesan daripada mengawasi artis.


"Satu detik saja kalian lalai, nyawa taruhannya. Selesaikan masalah ini, cek CCTV apa yang dia lakukan,"


"CCTV mati,"


Black ingin melayangkan pukulan, tapi Aira dan Gilang menahannya langsung membawanya pergi ke tempat lain.


Tatapan mata Black tajam, Ai mendekatkan wajahnya mengecup hidung karena gemas. Jika marah Black memang kasar, tapi Ai lebih yakin kerasnya hanya untuk orang yang dicintai.

__ADS_1


"Ai bukan wanita lemah, tidak perlu khawatir begitu,"


Black memalingkan wajahnya, tangannya masih tergempal kuat. Aira langsung mengigit lengan Black sampai suaranya meringis terdengar.


Gigitan Aira semakin kuat membuat Black teriak, tangan Black mengusap lengannya sampai bajunya basah.


"Sakit Ai," ujar Black.


"Berhenti marahnya, tidak akan ada yang bisa menyakiti Aira." Pelukan Aira erat, mengacak rambut kekasihnya yang masih marah.


"Jika ada lelaki yang menarik seharusnya teriak, apa gunanya mulut kamu?"


"Gunanya untuk ini." Belum sempat bibir Aira menyentuh bibir Blackat rambutnya sudah ditarik oleh Gion.


Kepala Gion geleng-geleng melihat sepupunya yang tidak normal, Aira selalu menyerang lebih dulu.


Ai menepis tangan Gion, memintanya pergi agar tidak menganggu kemesraaan mereka. Aira ingin berdua sebelum jadwal latihan.


"Terima kasih Gion, jika kamu tidak cepat mungkin hidung aku sudah bengkak,"


Tawa Gion terdengar, pamit ingin pergi sebentar menemui Isel yang sedang ada di Bar berpesta bersama teman-temannya.


Mendengar Isel di Bar, Angga langsung cemas mengambil handphone menghubunginya


Ai tahu, jika Isel sudah banyak berkorban. Dia penyelamat hidup Angga, setia mendampingi sampai akhir.


Orang yang paling pantas di sisi Angga sudah pasti Isel, tidak salah jika Angga juga sangat memprioritaskan.


"Aku latihan dulu," ucap Ai namun tidak mendapatkan tanggapan dari Angga yang masih melakukan panggilan.


Isel langsung melangkah pergi, hatinya terasa sakit melihat Angga begitu dekat dengan Isel. Rasanya dirinya dinomor duakan.


"Aku tidak seharusnya cemburu kepada Isel, dia dan Angga hanya sebatas Uncle dan keponakan." Ai duduk sendirian di depan kaca rias.


Meskipun sudah mencoba menghibur dirinya sendiri, Aira masih merasa sedih. Kesedihannya tidak beralasan karena cemburu kepada remaja yang baru ingin menginjak tujuh belas tahun.


"Ada apa Aira? kamu tidak latihan?"


"Kita bisa pulang ke hotel sekarang tidak, soalnya tiba-tiba aku merasa tidak enak badan." Ai bicara pelan, tubuhnya memang mendadak lemas.


Wajah make up artist lemas, tim sedang sibuk untuk persiapan. Aira akan diantar bodyguard ke hotel karena jaraknya juga tidak terlalu jauh.

__ADS_1


Ai tidak masalah, dia langsung bergegas untuk kembali ke hotel. Tanpa sengaja Aira mendengar pembicaraan jika Ben mengkonsumi obat, dia juga dikeluarkan dari perusahaan dan dilaporkan kepada pihak berwajib.


Ben melarikan diri, tim khusus sudah dikirim oleh perusahaan untuk mencari keberadaannya dibantu kepolisian.


"Dia tidak akan semudah itu tertangkap," ucap Ai.


Bodyguard yang mendampingi Aira hanya berjalan di belakang, supir juga langsung mengantar ke hotel.


Baru melaju sebentar mobil sudah berhenti lagi, bodyguard membuat supir jatuh pingsan. Tawa kecil Aira terdengar melambaikan pelan tangannya.


"Kamu sudah tahu jika ini aku?"


"Tentu aku tahu, kita hanya perlu mengakhirinya sampai tuntas tanpa ada yang tahu." Ai sedang mencari lawan untuk meluapkan amarahnya karena merasakan patah hati.


Kecemburuan Aira memang konyol, hanya saja Angga tidak pernah mencemaskan siapapun. Saat tahu Isel di Bar langsung panik, padahal Bar sudah menjadi tempat bermain bagi Isel.


"Apa yang harus kita lakukan, Ai?"


"Terserah, carilah tempat yang sepi untuk kita bersenang-senang." Ai tersenyum manis tanpa rasa takut.


Kepala Ben menggeleng, Aira memang wanita yang menantang. Dia sungguh memiliki pesona untuk menarik kaum Adam.


Tatapan mata yang indah, juga senyuman yang manis membuat pikiran Ben sangat liar. Dia ingin menikmati kecantikan Aira lebih dekat lagi.


"Cari mati," batin Ai melihat pria di depannya yang menjalankan mobil.


Panggilan dari staf masuk, Aira menjawab dan mengatakan jika dirinya hampir sampai. Ai akan segera beristirahat.


"Kamu memang pintar berbohong,"


"Tentu, aku ingin bersenang-senang, maka tidak ada yang boleh menganggu." Ai tersenyum kecil.


"Aku menyukai gaya kamu Aira," ucap Ben bersemangat mempercepat laju mobil.


"Nanti kamu akan lebih puas lagi jika kita sudah sampai." Ai meniup tekuk leher Ben membuat seluruh tubuh Ben merinding karena terasa tersengat.


Kacamata terpasang, Ai meminta Ben membangunkannya jika sudah sampai. Aira sebenarnya tidak tidur dia hanya ingin mengawasi lokasi untuk mengecek kemungkinan Ben ada komplotan.


Ai tidak menemukan hal yang mencurigai, Ben bekerja sendiri. Nyali yang sangat berani, dia tidak tahu saja jika nyawanya sedang terancam.


"Sebentar lagi kita bersenang-senang," Ben nampak sangat semangat.

__ADS_1


***.


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2