
Perayaan ulang tahun yang biasanya setiap tahun ramai kini terasa sepi, suara Isel yang biasanya teriak-teriak dan membuat keributan mendadak lenyap.
"Kita hanya mengadakan makan malam, kenapa juga suasananya sedih?" Gion menatap lemas kue miliknya karena tidak ada canda tawa seperti sebelumnya.
"Uncle, ada apa ini sepi sekali?" Mora dan Mira yang datang menggunakan gaun terasa sia-sia karena tidak menarik sama sekali.
"Apa acaranya dibatalkan Kak karena Aunty Isel tidak kembali?" tanya Ajun yang sudah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Di mana kira-kira Aunty Isel saat ini?" Mora duduk manis menatap foto Isel yang terpajang di dinding.
Makan malam terasa tenang, anak-anak yang biasanya aktif kini hening hanya bicara saling berbisik.
Pandangan Diana tidak beralih dari ponselnya, masih menunggu panggilan dari putrinya.
Tangan Gemal mengusap punggung istrinya, Gemal paham jika Diana rindu dan khawatir karena Isel belum juga berkabar.
"Kak Di, sampai kapan kita berdiam begini, jika rindu hubungi saja. Bukan hanya Isel yang berulang tahun, ada Ian dan Gion. Hargai mereka juga." Aliya kehilangan selera makan karena pemilik rumah tida ada semangat hidup.
"Rasanya ada uang kurang Al, di mana keributan dulu. Kamu pasti bisa merasakan hati seorang ibu." Diana menatap dua putranya yang duduk diam menatap kue masing-masing.
Teriakan Aura memanggil Ian terdengar, tangannya terulur ingin mengambil kue. Senyuman Ian terlihat menggendong bayi kecil yang sudah bisa mengoceh meskipun tidak jelas.
"Aura mengiginkan cake?" Ian mengambil sedikit meletakan di bibir Aura agar bisa merasakan terlebih dahulu.
Tubuh Aura bergerak aktif, tertawa manis melihat ada tiga kue cantik yang ingin dipegang.
Suara salam terdengar, Dean melangkah masuk membawa kopernya menatap rumah yang terasa hening.
Teriakan Mora dan Mira terdengar, mereka berharap Isel juga kembali namun yang diharapkan tidak muncul.
Tangisan Diana langsung pecah, berjalan ke arah adiknya langsung memeluk Dean erat. Kedua tangan Dean juga memeluk erat.
"Isel tidak pulang, dia masih keras dengan keinginannya, Kak Di rindu." Diana terus menangis tersedu-sedu.
"Sudah jangan menangis, ini hari bahagia seharusnya juga disambut baik." Dean mengusap air mata Kakaknya yang lagi-lagi mengadu kewalahan dengan sikap Isel.
Suara panggilan khas terdengar, meminta Dean membawa kopernya yang sangat berat, sedangkan Isel baru bangun tidur.
"Uncle, koper sialan. Arg ... Serah kamu saja jika tidak ingin masuk." Isel langsung berjalan masuk menatap Mamanya yang berdiri di ruang tamu.
Air mata Diana yang awalnya membanjiri pipinya langsung lenyap, menunjukkan sikapnya nyang angkuh, tidak menyapa Isel sama sekali.
"Malam Ma," sapa Isel.
__ADS_1
"Masih tahu jalan pulang kamu." Diana meninggalkan begitu saja.
Bibir Isel langsung monyong, Dean memintanya menyapa keluarga lain dan meminta maaf karena datang terlambat.
"Sepertinya mereka tidak mengharapkan Isel pulang." Air mata Isel langsung menetes, berjongkok di lantai.
Tangan Dean terulur membujuk Isel untuk meminta maaf lebih dulu, dirinya sudah dewasa bukan anak-anak lagi yang harus dituruti apapun yang diinginkan.
Kepala Isel menggeleng, Gemal melihat Putrinya yang sedang menangis harus dibujuk dulu oleh Dean.
Helaan napas Gemal terdengar, dirinya memang tidak punya pilihan lain kecuali Dean. Dia satu-satunya yang sanggup menghadapi sikap Isel.
"Sel, cepatlah. Aku capek, apa susahnya meminta maaf," teriakkan Dean terdengar masih mengulurkan tangannya.
"Uncle, jangan marah terus." Isel menyambut tangan Dean yang masih menunggunya.
"Minta maaf kepada kedua orang tua kamu dan keluarga besar, mereka menunggu kamu jadi jangan membuat masalah." Dean menatap tajam meminta Isel bergerak.
Kepala Isel mengangguk, berjalan ke dalam menatap Papanya yang berdiri tegak menatap tidak kalah tajam.
"Papa maafkan Isel meksipun Isel tidak merasa salah, boleh peluk tidak?" tanya Isel tidak ingin berlari ke dalam pelukan Papanya seperti biasanya.
Gemal berjalan mendekat, langsung memeluk Putrinya dengan sangat erat. Gemal begitu merindukan Isel namun dirinya tidak bisa mengutarakan.
"Selamat ulang tahun sayang, kenapa pulang terlambat?"
Kepala Gemal mengangguk, Isel langsung berlari ke ruang makan memeluk nenek Kakeknya yang kaget melihat Isel pulang.
"Mama, maafkan Isel pulang telat." Isel memeluk dari belakang mengecup pipi Diana.
Senyuman Isel terlihat masuk ke dalam pelukan Dimas yang mengusap kepalanya lembut, Dimas tidak menyangka jika jodoh putranya begitu dekat.
"Mana kue Isel?"
"Kamu pulang telat jadinya dimakan oleh Aura," balas Aira menunjuk Putrinya yang main kue.
"Aura!" seru Isel dengan teriakkan sangat besar.
Semua orang yang ada di ruangan langsung terkejut, meja makan sampai bergetar. Aura yang memegang kue juga langsung diremas-remas sambil mengamuk.
"Aduh kue Andri hilang." Kepala Andri celingak-celinguk mencari, menatap adiknya yang memasang wajah menyeramkan karena kue Andri terlempar ke bajunya.
Teriakkan Aura terdengar menatap Isel, tangan Isel mencubit pipi Aura namun tidak membuatnya membuatnya menangis.
__ADS_1
"Aunty sudah pulang, Mira pikir sudah betah di luar rumah," sindir Mira membawa semangkok makanan.
"Kamu belum berubah masih kuat makan." Isel langsung berlari memeluk kedua kakaknya yang juga pulang untuk merayakan ulang tahun mereka.
Tatapan mematikan Ian terlihat, memperingati Isel untuk tahu batasan. Dia pergi sesuka hatinya padahal banyak yang mencemaskan.
Kemarahan Ian beralasan, tidak peduli sekeras apapun Isel setidaknya harus pulang. Salah tidak salah tetap meminta maaf kepada orang tua, bukan berlama-lama di luar negeri dengan dunia bebas.
Semakin dewasa seseorang seharusnya pikiran semakin luas, bukan bertambah kekanakan.
"Kenapa marah-marah terus?"
"Itu bukan marah Sel, tapi teguran." Gion membela Ian dan menegur Isel agar tidak selalu membuat cemas.
"Salah Isel apa? aku hanya ingin menikah. Setuju tidaknya Isel tidak memaksa," ucap Isel kesal.
"Mengatakan menikah itu mudah, tapi berkomitmen yang sulit. Apa kamu pikir setelah menikah semuanya akan baik?"
"Jika menikah tidak baik, maka Isel tidak akan pernah menikah. Apa perlu zina saja agar bisa komitmen?" tangan Isel menyentuh wajahnya yang mendapatkan tamparan dari Ian yan terbawa emosi karena ucapan adiknya yang tidak masuk akal.
Air mata Isel menetes, langsung diam tidak mengeluarkan suara apapun meksipun air matanya terus menetes.
Semua orang berdiri melihat pertengkaran tiga kembar, Diana hanya bisa diam melihat Isel yang semakin keras.
"Sebelum bicara gunanya otak kamu, keluarga ini memiliki aturan. Kamu dibesarkan dan dididik bukan untuk menjadi pembangkang." Ian merasa bersalah melihat adiknya menangis tanpa suara.
Tangan Mora menarik Dean yang masih duduk di ruang tamu, mengatakan jika Isel ditampar.
Dean langsung berlari melihat suasana tegang, berdiri di antara Isel dan kedua saudaranya.
"Sel," panggil Dean membalik tubuh Isel ke arahnya.
"Siapa yang menampar?" tanya Dean dengan nada yang sangat dingin.
"Aku tanya satu kali lagi, siapa yang menampar?" teriak Dean dengan nada tinggi.
Baru saja Ian ingin mengangkat tangan namun Gion angkat tangan lebih dulu. Suara tamparan kuat terdengar menghantam wajah Gion.
"Apa begini cara kalian mendidik, apa menyakiti fisik solusinya?" Dean menatap tajam.
"Aku minta maaf kepada semua orang jika apa yang aku inginkan aib, Isel salah dan siap menanggung konsekuensinya. Aku tidak akan menikah, seumur hidup ...."
"Aku yang akan menikahi kamu." Dean menutup mulut Isel yang ingin bicara sembarangan.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira