SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
CINTA PERTAMA


__ADS_3

Pintu ruangan terbuka, Aira mentap Isel yang suah mulai pulih. Dia hanya membutuhkan istirahat setelah melewati masa kritisnya.


"Aku pikir ujian berat terlambat memiliki anak, ternyata salah, kehilangan anak jauh lebih menyakitkan meskipun masih dalam kandungan." Ai duduk di samping Isel, mengusap tangannya agar menjadi Isel yang dirinya kenal.


Gadis kecil pengacau yang selalu membuat darah Aira mendidih, tidak menyangka kini mereka sudah dewasa.


"Kamu harus kuat Sel, banyak sekali yang mencinta kamu." Ai menggenggam tangan Isel berharap Isel jauh lebih tangguh.


Mata Isel terbuka, terdiam cukup lama menatap Aira yang duduk di sampingnya. Mata keduanya berkaca-kaca sampai buliran air menetes.


"Di mana Uncle, kenapa tidak ada di sini?" Isel melihat sekelilingnya hanya ada dirinya dan Aira.


"Dean masih dirawat, tapi kamu tidak perlu cemas. Secepatnya Dean akan menemani kamu," ujar Ai menenangkan adiknya.


Tangan Isel mengusap perutnya lembut, bibir bawah Isel digigit kuat tidak kuasa menahan air matanya.


"Dia baik-baik saja, benarkan Kak Ai?' tangisan Isel terdengar bibirnya sampai gemetaran meremas perutnya yang sudah rata kembali.


"Kak Ai hanya bisa meminta kamu sabar, rumah tangga Isel sedang diuji. Tidak ada rumah tangga yang sempurna, pasti ada saja ujiannya dan kamu harus kuat." Tangan Aira mengusap air mata Isel yang sudah menagis histeris.


Tangisan Isel pecah , suaranya tertahan karena sakit hatinya kehilangan anak yang sangat dirinya inginkan. Belum sempat mereka saling menyapa bahkan mengecek kepada dokter juga belum.


"Sel, harus kuat sayang. Isel tidak boleh seperti ini," pinta Ai yang memeluk Isel sambil menagis sesegukan tidak kuasa menahan kesedihannya.


Hati Aira saja patah dan hancur apalagi Isel yang baru saja ingin menjadi seorang ibu. Dirinyaa pasti merasa gagal menjadi orang tua.


"Menangis saja, setelah ini sudah. Jangan berlarut, Kak Ai tau hancurnya kamu, tapi tidak boleh menyakiti diri sendiri. Insyaallah nanti diganti dengan anak-anak yang baik, sholeh dan sholeha." Ai tidak kasa menahan tangisan yang pecah bersama Isel.


Dokter yang berencana masuk juga membatalkan niatnya, Brayen dan Vio yang ada di depan pintu juga menangis sesegukan karna merasa kasihan kepada Isel.


Mereka tahu betapa antusiasnya Isel saat ingin menikah. Dia sangat mencintai calon suaminya.

__ADS_1


"Di mana adikku?" Ghio yang baru sampai menatap Vio yang mengusap air matanya.


"Kamu siapa?' Brayen melarang sembarangan orang menemui Isel.


"Dia Kakaknya Isel," ucap Vio yang sengaja memberitahu Ghio soal adiknya.


Pintu terbuka, Ghio tersenyum kecil melihat adiknya yang menangis sesenggukan. Isel memeluk Kakaknya sangat erat.


"Sekarang kamu mengerti kenapa ditentang mencintai Uncle Dean, hanya dia orang yang bisa menenangkan kamu, tapi jika begini siapa yang akan menenangkan." Ghio mengusap punggung adiknya.


"Isel ... anak Isel tidak ada lagi Kak," ujar Isel yang langsung menangis kembali.


"Menangis boleh, kehilangan juga wajar, tapi ingat batasan, anak itu titipan jangan memaksa jika memang belum waktunya. Anggap saja ujian ini cara pendewasaan diri." Ghio memintai Isel menjadi pribadi yang lebih baik menjadikan ujian hidupnya sebagai pelajaran.


Kepala Isel mengangguk cepat, dia akan mencoba ikhlas dan menerima kegagalanya. Apapun yang diinginkan pasti akan Isel dapatkan, meskipun satu kegagalan menghancurkan hatinya.


Air mata Ghion juga menetes, hatinya juga sakit mendegaar tangisan adiknya yang begitu menyayat hati.


"Kak, di mana Uncle?"


"Uncle Dean belum sadar, dia jauh lebih terpukul dari kamu karena tidak meluapkan kesedihan hatinya menahan sendirian." Ghion meminta Isel beristirahat agar bisa bertemu Dean secepatnya.


Ghion juga menghubungi kedua orangtuanya dan kakek neneknya agar segera datang. Saat ini keluarga sangat dibutuhkan oleh Isel dan Dean.


Ketukan pintu terdengar, Juan melangkah masuk dengan senyuman kecil di wajahnya. Mata Juan merah setelah keluar dari ruangan Dean.


"Kak, Uncle tidak mengatakan ingin menceraikan Isel? Apa Uncle marah?"


"Kenapa Kamu berpikir seperti itu, kenapa Isel begitu takut kehilangan?" Juan mengusap air matanya yang tidak kuasa ditahannya.


"Isel sangat mencintai ...."

__ADS_1


"Dean lebih mencintai kamu dari perasaan kamu, ada perasan cinta yang tidak bisa diutarakan itulah cinta Dean. Jika aku diposisi dia mungkin akan gila." Juan meminta Isel cepat sehat agar mereka bisa meniti hati kembali secara bersama-sama.


Tangan Juan ditahan oleh Isel, meminta penjelasan dari ucapan Juan jika perasan Dean jauh lebih besar dari apapun


Isel tidak paham, setahunya Dean hanya menganggapnya layaknya keponakan. Dean tidak bisa mencintai Isel.


''Ini sebenarnya rahasia aku dan Dean, sepuluh tahun yang lalu Dean mengatakan jika dia ingin pergi dan sekolah jauh. Dia membenci mata dan perasaannya, cinta pertamanya bukan Aira, tapi Ghiselin. Sejak itu Dean mulai pacaran tanpa kejelasan untuk menghilangkan perasaanya juga takut mengecewakan keluarganya. Dean tahu diri siapa dirinya." Tatapan Juan lembut, dia senang saat pertama kali Isel mengatakan ingin menikahi Dean, tapi sedih juga karena takdir mengangguk dan mempermainkan hati Dean.


Ujian kembali menimpa Dean, setelah menikah Dean menghubungi Juan mengatakan jika dirinya bahagia, tapi juga takut.


Tangisan Isel pecah kembali, dia selalu mengatakan jika Dean untuk menceraikannya tahun depan padahal Dean selalu mengatakan tidak akan berpisah. Pernah mengungkapan perasan cintanya, tapi Isel tidak merasakannya karena Cinta Dean selalu dirinya rasakan sejak kecil.


"Kamu tahu apa yang dia katakan minggu kemarin, Dean menghubungi aku menanyakan kabar Andra dan Andri dan dia juga ingin menjadi ayah, tapi dirinya tidak bisa terburu demi Isel. Dean mencemaskan kamu Sel, tidak ingin kejadian Kak Di terulang." Ingatan Juan mah sangat jelas saat kehamilan Diana yang memiliki proses panjang.


Dean orang terdekat Diana meskipun masih kecil, dia selalu bercerita berdua pergerakan bayi bahkan saat diana sakit persiapan lahiran Dean masih saja mengawasinya.


"Bagaimana kondisi Dean Kak?" tanya Aira.


Kepala Juan menggeleng, mereka hanya bisa menunggu Mommy Anggun datang agar Dean bersedia bicara. Perasan seorang ibu pasti sangat kuat menyadarkan anaknya agar bisa berdamai dengan hati dan pikirannya.


Dean menyadari keberadaan mereka, tapi kehadiran siapapun di sisinya tidak mengubah pikirannya.


"Isel ingin bertemu Uncle," pinta Isel sambil menangis.


"Jangan Sel, kamu harus pulih dan dalam keadaan baik agar hati Dean lebih tenang dan tidak merasa bersalah," pinta Juan mengusap kepala Isel.


"Kenapa rumah tangga Isel diuji begini, jahat sekali orang yang menabrak Isel. Dia membunuh anak kami, haruskan Isel melenyapkannya?" Isel sadar jika kecelakaannya disengaja karena jauh dari jalan dan sudah area pakir.


Mustahil jika hanya kecelakan biasa, dan dikatakan tabrak lari. Isel tidak akan melepaskannya termasuk Bian karena sudah membuat rencana bahagianya hancur.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2