SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TERLALU TEROBSESI


__ADS_3

Obrolan Tika dan Vio terasa nyambung, Tika tidak berhenti tertawa karena Vio sangat lucu tidak heran jika Isel begitu nyaman bersahabat dengannya.


"Sudah berapa lama kamu bersahabat dengan Isel?"


"Sejak kita sekolah dasar, Kak Tika tahu sendiri jika Isel penjelajah sekolahan." Vio tertawa, Isel sejak dulu sangat unik.


Meksipun bersahabat sejak kecil, Vio tidak pernah tahu jika Isel ternyata anak orang kaya. Saat menikah saja, Isel tidak mengundang.


Senyuman Tika terlihat, keluarga Isel sangat terpandang maka hal yang wajar jika keberadaannya juga dirahasiakan.


"Aku juga tidak menyangka Isel akan menikahi Dean, padahal Dean dijodohkan dengan Putri seorang perwira." Tatapan Tika fokus ke depan.


"Hairin, hubungan mereka hanya sebatas pekerjaan," balas Vio menepis jika ada hubungan spesial.


"Kamu mengenal baik Dean?"


Kepala Tika menoleh ke arah jendela, merasa lucu dengan kisah cinta. Ekspresi Shin memang sangat tepat menggambarkan ketidaksukaan dengan Vio.


Mungkin dia sangat baik sebelum tahu jika pria yang dicintainya menikahi sahabatnya sendiri, menutup diri agar tidak menjalin hubungan dengan siapapun, tapi akhirnya dikecewakan oleh perasaan yang patah.


"Kita sudah sampai Kak Tika?"


"Wanita yang bernama Glora tidak ada lagi di sini, dia sudah melarikan diri setelah seseorang menghubunginya agar pergi." Tika duduk santai menatap rumah yang sudah kosong.


Pintu mobil yang dibuka oleh Vio ditutup kembali, Vio menatap Tika yang begitu santai. Tidak ada keseriusannya untuk menemui Glora.


"Kita harus mengungkap kejahatan Bian, dia harus di penjara bagaimanapun caranya." Vio menujukkan sesuatu kepada Tika untuk membantunya menyelidiki Bian.


Kepala Tika menggeleng pelan, cara bermain Vio belum terlalu jauh. Tika pernah melewati rintangan terberat, pertarungan hebat bahkan Tika masih aktif sebagai agen rahasia.


Jantung Vio berdegup kencang, kerutan di keningnya terlihat karena baru tahu jika Tika jauh lebih hebat dari Isel soal teknologi. Dia bahkan bisa mengontrol sekitarnya hanya dengan kedipan mata.


Hacker terbaik yang tidak pernah mampu diselidiki, tim yang Tika bentuk sudah tersebar di beberapa negara.

__ADS_1


"Apa kamu pikir aku hanya seorang pengusaha biasa, kamu salah Vio. Segala penjuru hampir aku kuasai, menangkap Glora itu kecil, tapi aku lebih tertarik kepada kamu." Tika tertawa kencang karena kasihan kepada Isel yang dikhianati oleh sahabatnya.


"Apa Kak Tika berpikir aku orang jahat? Bian yang jahat, lagian aku tidak ada sangkut-pautnya dengan kecelakaan Isel."


"Aku tahu, tapi obsesi kamu yang sangat ingin menahan Bian. Salah satu korban Bian Kakak kamu," ucap Tika yang masih sangat tenang, padahal Vio mulai emosian.


Seharusnya Vio tidak memojokkan Bian, tanyakan kepada Kakaknya kenapa dia mengejar cinta Bian setelah jatuh cinta dia berkhianat. Kakak Vio mengkhianati Bian, membocorkan bisnis Bian hingga dia mengalami kerugian, pergi meninggalkan tanpa belas kasihan.


Suami mana yang tidak marah, jika istrinya berkhianat. Hukuman terberat memang penyiksaan, seorang anak yang depresi, haus kasih sayang maka bukan hal mengejutkan jika dia melakukan penyiksaan.


"Kamu pikir bisa memanfaatkan aku, kamu salah orang." Tika mengacak rambut Vio.


Tangan Tika langsung ditepis, meminta Tika merasakan jika ada diposisi dirinya yang harus kehilangan penunjang hidup.


"Jika aku diposisi kamu tetap berada di jalan kebenaran, biarkan takdir yang mengatur semuanya. Dua saudara kembar saja bisa saling membunuh selama berada di jalan yang salah, tapi coba tarik ke jalan yang benar. Jangan kamu menjadi penjahat juga, menyalahkan orang lain dengan kesengsaraan kamu sungguh menyedihkan." Tika memincingan matanya menatap tajam menahan tangan Vio yang ingin melepaskan tembakan.


Wajah Vio meringis kesakitan, tangannya dicengkeram kuat. Puluhan petarung juga tidak mampu mengalahkan Tika, dirinya hanya kalah di atas ranjang saat melayani suaminya, tapi soal pertarungan tenaga Vio terlalu kecil bagi Tika.


"Aku tidak terlibat dengan kecelakaan Isel," ucap Vio masih tetap pada pendiriannya.


Tika keluar dari mobil, melangkah pergi. Menyetop taksi untuk mengantarnya kembali ke rumah sakit.


Kepala Tika menoleh ke belakang melihat Vio mengusap air matanya, penyesalan memang selalu ada di akhir.


Kepala Tika geleng-geleng, membahas soal persahabatan memang sangat menyedihkan apalagi Isel begitu percaya dengan sahabatnya.


"Kamu menangis Tik?" tanya Shin yang menyamar menjadi supir.


"Dikit, hanya aku yang paling beruntung karena memiliki kamu." Tika memeluk Shin dari belakang karena mereka bersahabat sejak dalam kandungan hingga tua.


Shin mengusap lengan Tika, meminta pindah tempat duduk. Perasaan Shin sangat cemas, dia takut sahabatnya terluka.


"Kenapa kamu sangat peka Shin, hanya satu kali tatap?"

__ADS_1


"Hanya kebetulan saja, aku melihat gadis itu di parkiran, tapi dia hanya menatap kita. Menyaksikan kita yang nampak bodoh."


"Apa Vio memang terlibat dengan kecelakaan Isel? apa dia memang mencintai Dean?"


"Semoga saja tidak terlibat, dia hanya ingin sekali memenjarakan Bian. Memberikan hukuman berat demi Kakaknya. Vio itu tidak punya kuasa, dia bergantung kepada Isel, dan teman lainnya agar bisa terlihat tangguh." Shin merasa kasihan kepada Vio, tapi tetap saja dia salah karena membiarkan Glora lolos, memindahkan kesalahan kepada Bian dengan mengganti mobil.


Kepala Tika mengangguk, tidak mengizinkan Shin memberitahu Dean soal perasaan Vio. Pasti sangat sulit bagi Vio damai dengan perasaannya. Melarang juga memberitahu Isel demi persahabatan mereka.


Jika Isel harus tahu dendam di hati sahabatnya maka cukup Isel yang menyelesaikan, Tika dan Shin tidak ingin mengadu keduanya.


Kehilangan sahabat jauh lebih sakit daripada pacar, Tika dan Shin sangat tahu rasanya karena sahabat ada di tempat yang istimewa.


"Sekarang di mana Glora?" tanya Shin.


Tika sudah melacak keberadaan Glora, menunjukkan kepada Shin lokasinya. Mereka akan segera menangkap Glora, sebelum melakukannya akan memberikan hadiah manis terlebih dahulu.


"Apa yang dilakukan Mira dan Mora, kenapa mereka memanjat rumah?" Tika menunjukkan rekaman di rumah.


"Anak monyet dua ini, apalagi yang mereka lakukan?" Shin mengusap dadanya karena dua wanitanya tidak pernah berhenti berulah.


Teriakkan Tika terdengar, mobil yang Shin kemudi langsung berhenti secara tiba-tiba. Seluruh jaringan Tika mati, Mora mengambil alih dan mendapatkan kesempatan untuk memantau ribuan CCTV di satu negara.


"Ada apa Tika?"


"Mora, dia tahu jika aku hacker." Tika langsung mengambil ponselnya menghubungi suaminya.


Tawa Shin terdengar, Putrinya memang sangat peka sehingga bisa tahu hanya melihat ekspresi orang.


Keistimewaan Mora, berlawanan dengan Mira yang begitu lelet sehingga malas berpikir. Tetapi masalah bela diri Mira paling unggul, bahkan Shin berkali-kali melangkah mundur jika Mira menyerang.


"Dua Putri kecilku," ucap Shin begitu menyayangi si kembar beda rahim.


"Aku akan memasukkan kamu lagi ke dalam rahim Mora Mira." Tika meremas ponselnya.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2