SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
HILANG INGATAN


__ADS_3

Kabar Lea bangun membuat Juan berlari menuju kamar Lea, melihat wanita yang dicintainya tersadar dari komanya setelah beberapa minggu.


"Dia belum bicara apapun, hanya melihat sekitarnya saja," ucap Juna yang masih mengawasi.


"Apa yang kamu rasakan Lea? bagian mana yang sakit?"


"Siapa kamu?" Lea menatap Juan dengan wajah binggung.


Kepala Juan tertunduk, membiarkan Diana yang baru tiba memeriksa kondisi Lea meninggalkan mereka berdua untuk bicara.


Kedua tangan Juan menutup wajahnya duduk di depan pintu merasakan kepalanya ingin pecah.


Dugaan Blackat benar, jika Adiknya Lea bangun dan melupakan dia lebih baik Lea tidak pernah tahu soal Black dan Imel.


Hidup Lea sudah terlalu sakit, dia akan semakin sakit jika tahu keluarga sudah tiada semua apalagi orang yang merenggut keluarganya kembarannya.


"Ada apa Juan?"


"Bagaimana kondisi Lea Kak? apa dia akan melupakan semua kisah hidupnya?"


Kepala Juna mengangguk, dia sudah membahas dengan Black sebelumnya sebagai wali. Kemungkinan besar Lea tidak akan mengingat memori lamanya.


"Pesan terakhir Kak Black agar tidak pernah menyebut dirinya dan Imel untuk selamanya,"


"Black terlalu kejam sehingga memilih pergi seperti ini, seseorang yang paling tersakiti Aira karena kehilangan lelaki yang dicintainya." Juna ingin melangkah pergi, tapi Juan menahan pergelangan tangannya.


Juna mengambil hasil pemeriksaan kesehatan Blackat, bekas luka tembak di dadanya menyebabkan dia mengindap kanker. Selama bertahun-tahun Blackat bertahan dengan bantuan obat-obatan.


Tidak ingin Aira terluka dengan kepergian Blackat, lebih baik mereka tidak memiliki hubungan apapun.


"Pemeriksaan ini tidak benar, aku dan Kak Diana secara langsung memantau kondisi Black atas keinginan Aira. Dia berjuang untuk keselamatan Black, tapi Imel membawanya dan tepat sasaran Aira hancur." Air mata Juna menetes meremas kertas hasil pemeriksaan yang sudah diubah.


Juna tahu sakitnya kehilangan seseorang yang dicintai, tidak pernah terbayangkan jika Adiknya juga akan terpuruk karena rasa kehilangan.


Kabar penemuan satu jenazah terdengar, Juna dan Juan langsung bergegas ke tempat otopsi demi memastikan jika jasad yang ditemukan oleh pemancing bukan Blackat.


"Kak, apa aku egois meminta dia masih hidup?" Juan tahu jika jasad Blackat ditemukan, Adiknya akan semakin hancur.


Di depan gedung Aira sudah melangkah keluar, tersenyum manis menatap kedua kakaknya.


"Jasad siapa Ai?"


"Imelda ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa," jawab Ai dengan ekspresi tertawa kecil.

__ADS_1


Dean juga keluar dari bangunan, kepalanya tertunduk. Bukan Black yang ditemukan, tapi Imel.


"Aira ke rumah sakit dulu untuk menemui Lea," pamit Ai kepada kedua kakaknya dan juga Dean.


"Dek, jangan bahas soal masa lalu. Lea tidak mengingat siapapun." Genggaman tangan Juan erat, meminta maaf kepada Aira karena harus egois demi kebahagiaan Lea.


Kepala Aira mengangguk dia mengerti tanpa harus diperjelas, keberadaan Blackat dianggap tidak pernah ada.


Mata Ai terpejam agar tidak meneteskan air mata, dia harus hidup meksipun tanpa Blackat. Sebisa mungkin Aira berusaha untuk tersenyum meksipun sulit baginya.


"Lea, kangen." Aira berlari ke arah Lea, memeluknya sambil tertawa kecil.


"Siapa kamu?"


"Perempuan sialan kamu berani melupakan aku," caci Ai dengan nada kesal.


Mata Lea membesar, dia tidak memiliki memori apapun dalam mengingat orang. Bahkan Lea kesulitan membaca pesan yang tertulis.


"Kamu ingin menangis, tapi memaksa tersenyum. Wajah kamu yang penuh sandiwara," sindir Lea sinis, tidak menyukai ekpresi Aira.


Air mata Ai langsung menetes, memeluk Lea lembut. Terpaksa Aira berbohong, dia merasa sangat merindukan Black. Tidak ada tempat bagi Aira untuk membicarakan soal Black karena tidak pernah tahu kepergian Kakaknya.


Tangan Lea mengusap lembut punggung Aira, memastikan jika dirinya baik-baik saja meskipun ingatannya kosong.


Meksipun Black sudah tiada, bagi para penggemar dia tetap hidup di hati. Mendoakan Blackat selalu agar berada dalam kehangatan.


Tanpa bisa Lea kendalikan, dadanya terasa sesak air matanya terus menetes. Tangisan Lea langsung sesegukan, Juan mematikan televisi.


"Sakit ... dada aku sesak. Ini kenapa?" Lea memukul dadanya merasakan ada yang hilang dari hidupnya.


"Tenang Lea, dia seorang aktris terkenal dan memiliki jutaan Fans, saat ini dunia sedang terguncang karena kehilangan. Perasaan sedih kamu normal karena memiliki perasaan." Pelukan Juan lembut mengusap kepala Lea.


Perasaan Juan juga sedih memikirkan Aira yang pastinya sangat terguncang karena di depan Lea, menghilangkan sosok Blackat.


Tangan Lea memegang pundak Aira, memintanya untuk sabar dan mendoakan yang terbaik untuk kekasihnya.


"Kamu harus kuat,"


"Aku tidak mampu Lea, kita tidak perlu membahas dia lagi. Kamu cepat sembuh, kita mulai semuanya dari nol." Jari Aira membentuk angka nol.


Tidak ingin Aira semakin terluka, Dean membawa Aira pulang karena Lea juga membutuhkan banyak istirahat.


"Kamu baik-baik saja Dean? jangan terlalu mengkhawatirkan aku, sampai saat ini aku masih sadar." Senyuman Aira terlihat, menepuk pundak Dean pelan.

__ADS_1


"Kamu ingin makan apa? ingin melakukan apa?"


"Aira ingin tidur,"


Kepala Juan mengangguk, menutup mata Aira menggunakan telapak tangannya sedangkan satu tangannya berada di setir mobil.


Panggilan di ponsel Dean masuk, langsung dijawab. Teriakan Dean membuat Aira membuka matanya kembali.


"Ada apa Dean?"


"Kamu ingin aku antar pulang atau ikut?" kecepatan mobil langsung dua kali lipat.


Ai tidak berani menjawab, langsung berpegangan kuat melihat Dean yang sangat cemas dan sesekali memukul setir mobilnya.


Jantung Aira berdegup kencang, memejamkan matanya karena takut mati dalam kecelakaan.


"Dean, tidak bisa kamu sedikit pelan?"


"Maaf Ai, kamu pejamkan mata saja," tanpa mengurangi kecepatan Dean fokus melihat ke depan.


Air mata Aira menetes, matanya pergi karena ketakutan. Dean bukan ingin menghiburnya, tapi membunuh.


Mulut Aira langsung mual, dia hampir muntah jika mobil tidak berhenti. Ai menatap jembatan tempat Black terjatuh.


Dean keluar mobil langsung berlari melihat para bodyguard yang cemas, Aira juga langsung keluar.


"Ini pertama kalinya aku mabuk mobil." Aira memuntahkan isi perutnya.


Umpatan Aira sudah seperti kebun binatang, semua jenis hewan dia sebut, perlahan melangkah menghampiri Dean.


"Ada apa ramai melihat ke bawah?"


"Kalian turun, aku tidak peduli menyelam, lompat ataupun berenang bawa dia ke daratan." Kepala Dean terasa ingin pecah melihat remaja naik perahu membawa pancing.


Tawa Aira terdengar, di dalam kesedihannya Isel masih bisa membuat lelucon dengan pergi memancing.


"Isel naik sekarang! jika arus air tinggi kamu bisa hanyut." Teriakan Dean menggema membuat Aira semakin tertawa.


"Isel naik perahu bukan pohon pisang!" teriak Isel juga terdengar.


"Kakak hitam, lihatlah penggemar gila kamu membuat masalah baru. Kakak sedang tertawa sekarang melihat tingkah gilanya." Ai tersenyum melihat ke bawah jembatan yang begitu menyakitkan.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2