
Di aula lama menunggu Isel muncul, Diana langsung berdiri dari duduknya karena ingin menjenguk Isel yang tidak muncul.
"Kenapa Isel lama?" Gemal juga berdiri.
Suara langkah high heels terdengar, Isel berjalan santai dengan kebaya yang sudah dimodifikasi karena sobek.
Tatapan Isel tajam ke arah sekitarnya karena pasti Hairin yang mengacau pestanya. Satu-satunya wanita yang wajib Isel singkirkan.
"Ada apa Al, kenapa lama sekali?" Diana menatap wajah Isel yang tegang.
"Isel tegang karena deg-degan melihat ijab kabul," ucap Ai menghindari pertanyaan lagi.
Mata Isel memincing, dia bahkan tidak tahu apa yang Dean ucapkan, harapannya bisa melihat langsung suaminya menghalalkan gagal total.
"Jangan lebai Sel, sekarang sudah sah." Diana merangkul Isel agar duduk di samping suaminya.
Helaan napas Isel terdengar, duduk di samping Dean melihat suaminya tanda tangan buku nikah dan berdoa.
"Tunggu dulu Pak penghulu, bisa tidak ijab kabul di ulang? Isel tidak bisa mendengar dan melihat jelas, sinyal di kamar atas loading," pinta Isel memelas dengan mimik wajah hampir menangis.
"Jangan aneh-aneh Sel, mana ada ijab kabul diulang." Diana memukul lengan Isel.
Kedua tangan Isel tergempal, Dean menatap tangan Isel menepuknya pelan. Isel tidak tegang, tapi marah.
Suara rusuh terdengar, Isel belum sempat dikecup kening sudah heboh sendiri karena tamu tidak diundang.
"Ibu dokter ... halo Ibu dokter, kita datang untuk memberikan selamat, semoga ibu dokter punya anak kucing selusin, terus ada banyak suami." Suara tepuk tangan terdengar, lebih dari dua puluh orang kurang normal datang ke pesta pernikahan.
"Apa ini, kenapa bisa masuk?" Gemal menatap keamanan.
Penjaga juga binggung karena mereka semua memiliki kartu undangan untuk masuk secara khusus, penjaga berpikir memang tamu spesial.
"Isel, apa ini? bagaimana jika tamu lain terganggu?" Dean menatap serius Istrinya yang tersenyum manis.
"Uncle yang mengatakan Isel boleh mengundang teman kerja?" Isel memalingkan wajahnya karena semua shock mendengar jawaban Isel.
Beberapa anggota keluarga melangkah mundur, tidak berani dekat karena banyak tamu aneh yang datang.
__ADS_1
"Semuanya ayo kita berikan selamat untuk ibu dokter," ucap salah satu orang gila yang menggunakan gaun, make up tebal dan alisnya mirip cicak.
"Selamat ibu dokter, selamat menikah dan hidup bahagia." Nyanyian berirama ulang tahun terdengar.
"Tunggu dulu Bu dokter, kenapa saya tidak bahagia?" tanya salah satu pasien Isel yang langsung menangis karena teringat suaminya selingkuh.
"Kamu bukan tidak bahagia, tapi tidak beruntung," jawab Isel santai.
"Ibu, berapa harganya beruntung?"
Tawa kecil Isel terdengar, keberuntungan bukan barang dia hanya kesempatan yang dimanfaatkan dengan baik sehingga mengubah menjadi keberuntungan. Semua orang memilikinya, tapi tidak menyadarinya.
"Kalian semua sudah makan? ingat ibu dokter tidak melarang kalian makan apapun, tapi tidak menganggu orang lain, tidak menangis dan mengamuk, tidak boleh juga teriak-teriak. Oke?" Isel membentuk tangan nol, seluruh pasiennya langsung menganggukkan kepala berdiri memberikan selamat kepada Isel dan Dean juga keluarga yang lain.
Shin dan Tika sudah berlari ketakutan begitupun dengan Aira membawa putrinya yang menangis takut.
Mora dan Mira juga duduk diam, sesekali melirik pedang yang dibawa salah satu orang gila yang dandanannya seperti pendekar.
Diana ingin mengamuk melihat kejahilan Isel yang mengundang tamu dari rumah sakit jiwa, apalagi penampilan mereka sungguh menakutkan karena make up terlalu berlebihan.
"Kamu keterlaluan Sel, ini tamu bukan orang sembarangan. Bisa-bisa kamu mengundang mereka?" Dean langsung meninggalkan tempat ijab kabul karena malas untuk naik pelaminan.
Pernikahan Isel tidak ada suasana haru sama sekali, semua orang kecewa kepada Isel karena membuat candaan yang tidak lucu di hari pernikahannya.
Di dalam hatinya Isel tersenyum, dia sengaja melakukannya agar tidak ada orang yang menangis juga sedih melihat dirinya dan Dean menikah. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan.
"Bagaimana ini, tamu undangan sudah mulai berdatangan, kita tidak punya waktu untuk berdebat," ucap Anggun yang mengusap punggung Isel.
Mommy Anggun meminta Isel menemui pasiennya terlebih dahulu di tempat makan agar tidak membuat kegaduhan.
Tamu undangan yang datang semuanya orang penting, baik pengusaha, bahan aparat. Mommy berharap Isel tidak mempermalukan keluarga.
"Maafkan Isel Nenda." Isel langsung berjalan ke arah tempat duduk tamu.
Beberapa dokter dari rumah sakit lari-larian karena panik, kaget melihat pasien datang ke tempat pesta.
"Sel, apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
"Mereka juga manusia, butuh hiburan. Biarkan mereka makan dan minum sepuasnya." Isel mendekati satu persatu pasiennya.
Di atas pelaminan, Dean yang sendirian bersama kedua orangtuanya juga Diana Gemal. Isel masih menbersihakan make up pasiennya agar tidak membuat orang takut.
"Ibu dokter ada di atas pelaminan, kalian boleh makan dan minum, tapi tetap duduk dengan rapi." Isel memberikan jempolnya.
"Baik ini dokter cantik, selamat menikah," ucap semuanya yang duduk tenang sambil makan.
Isel berjalan ke arah pelaminan, ada beberapa orang yang menatapnya karena belahan paha Isel terbuka. Wanita cantik dari keluarga Leondra, salah satu Putri paling berpengaruh.
"Sel, hati-hati jalannya." Mam Jes tersenyum melihat Isel yang sudah resmi menikah.
Di atas pelaminan Dean hanya diam saja, masih khawatir jika ada yang membuat masalah, bisa rusak nama baiknya.
"Kali ini aku benar-benar kecewa kepada kamu?"
"Mereka tidak menganggu siapapun Uncle," balas Isel meyakinkan.
"Memang iya, tapi menganggu?"
Senyuman Isel terlihat, Dean yang meminta dirinya menjadi seorang psikiater, tapi sekarang Dean juga yang merendahkan pekerjaannya. Meskipun mereka tidak memiliki akal sehat, setidaknya mereka manusia yang memiliki perasaan.
"Aku tahu Uncle memiliki pekerjaan yang terhormat, tapi mereka bukan binatang. Uncle tidak pernah tahu sulitnya perjalanan hidup mereka." Isel memalingkan wajahnya dari Dean menujukkan senyuman kecil saat tamu menyapanya.
Mommy Anggun menegur Dean yang memang tidak seharusnya berkata kasar, Isel tidak bermaksud membuat keributan.
Tamu undangan semakin ramai, Isel dan Dean saling diam. Foto keluarga juga tidak membuat keduanya bicara.
"Sel, ada apa dengan salah satu pasien kamu?" tanya Rindi berbisik karena merasa ada yang tidak sehat.
"Dia sakit Aunty, seumur hidupnya tidak pernah melihat pesta. Dia dikucilkan dari keluarga dianggap gila, Isel hanya ingin memberikan hadiah terakhir." Senyuman Isel terlihat, memeluk Rindi yang menjadi satu-satunya orang yang memahami dirinya.
Tangan Rindi mengusap punggung Isel, gadis kecil yang dulunya menjadikannya teman sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Meskipun Isel terlihat jahat, dia memiliki hati yang sangat lembut, mirip dengan Mam Jes yang bagaikan malaikat bagi Rindi.
"Selamat menempuh hidup baru Isel dan Dean," ucap Hairin yang datang bersama keluarganya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira