
Pintu ruangan perawatan terbuka, Dean berdiri bersama Aliya melihat Juna, Juan dan Diana keluar dari ruangan operasi dadakan.
Suara suami Diana pulang terdengar, menanyakan pemuda yang katanya terluka setelah membahayakan dirinya sendiri.
"Bagaimana keadaannya sayang?" Gemal berdiri di samping Dean.
"Dia akan sadar secepatnya, tapi anak ini cukup gila bisa menahan sakit luka dalam yang cukup parah." Kepala Diana menggeleng, antara kagum sama kasihan.
Mata Juan melihat tangannya sambil tersenyum, dirinya merasa bahagia saat ada di ruangan operasi darurat.
"Bersiap untuk menjadi Dokter selanjutnya." Kakak Juan berbisik kagum kepada Adiknya.
"Aku tidak sehebat Kak Juna, tapi Juan akan memutuskan mengikuti jejak Kak Juna." Senyuman Juan langsung lenyap saat melihat Maminya yang menatap sinis.
Aliya menginginkan Juan melanjutkan bisnis, Aira tidak bisa diandalkan. Dia masih sibuk dengan hobi gilanya yang harus terkenal.
Secara terpaksa Juan mengurungkan niatnya, bisnis mungkin akan menjadi pelabuhan terakhirnya.
Pintu ruangan rawat Blackat terbuka, Gemal menatap wajah pria tampan yang selalu bolak-balik layar televisi, film, sosmed.
"Dia Blackat, suaminya Isel." Teriakan Gemal terdengar langsung mengusap punggungnya karena pukulan istrinya.
"Dia juga yang digosipkan dengan Aira, dan alasan Isel pergi dari rumah." Diana menepuk jidat.
"Apa lukanya bisa cepat sembuh Kak?"
"Semoga saja Dean, apa kamu akan menyelidiki kasusnya?" Di merangkul adik lelakinya yang menganggukkan kepalanya.
Dengan senyuman lebar, Gemal menawarkan diri namun cepat juga ditolak oleh Dean. Dia akan meminta bantuan jika memang tidak sanggup lagi.
Suara Blackat terbangun membuat semua orang masuk, tangan Black menyentuh dadanya yang terasa sakit.
Diana cepat menyuntikan sesuatu, sudah Diana duga jika dibagian dada Black masih ada luka dalam yang ditahan selama bertahun-tahun.
"Bukannya dia ahli bela diri? kenapa bisa terluka parah?" Gemal memperhatikan wajah Black yang pucat.
"Dia sengaja karena ingin tahu sesuatu, Dean hanya bisa mengatakan itu." Kepala Dean tertunduk meminta bantuan Diana dan Gemal untuk menjaga Blackat sementara.
Kepala Gemal mengangguk, meminta Dean tidak khawatir karena Black akan baik-baik saja selama tinggal di rumah mereka.
"Dia sudah sadar, tapi alam bawah sadarnya mengendalikan. Kasihan sekali pemuda ini, dia masih muda namun bebannya sangat berat." Diana merasa mengenal Blackat, tapi tidak tahu di mana pernah berjumpa.
__ADS_1
"Kamu seperti mengenal semua lelaki?"
"Berhentilah cemburuan, ingat sudah tua." Diana menatap sinis suaminya yang sudah melangkah pergi.
Tangan Diana langsung ditarik membuatnya menatap Blackat yang meneteskan air matanya, remasan tangannya sangat kuat.
"Kenapa? hidup kamu pasti tidak mudah. Bertahanlah, aku tahu kamu lelaki yang kuat, jangan merasa dunia tidak adil." Di mengusap kepala Black yang diam kembali.
Panggilan dari Aira masuk, Diana tertawa memperlihat kepada Aliya jika Putrinya pasti mempertanyakan soal Blackat.
Al langsung menjawab panggilan, suara Aira terdengar mengoceh meminta Diana menjelaskan kondisi Blackat, Ai tidak menyadari jika Maminya yang mendengarkan.
[Kapan kamu pulang? apa harus Mami lenyapkan pria ini?] Al mengancam Aira yang langsung batuk karena kaget ada Maminya.
[Mami tidak boleh seperti itu dosa tahu,]
Aira kehabisan kata-kata berdebat dengan Maminya, jika pekerjaannya selesai Aira pasti akan mampir ke rumah.
[Kamu pulang sebenarnya demi Mami atau kekasih kamu ini?]
[Kekasih pastinya, tapi bohong.] Aira tertawa meminta Maminya tidak marah.
Pintu tertutup, Diana dan Aliya berkumpul dengan yang lainnya yang sudah rusuh di ruang tamu.
***
Suara berisik di luar terdengar, Black turun dari ranjang memegang perutnya sambil memegang tiang infus.
Black membuka pintu melihat dua anak kecil sedang heboh sendiri bermain kejar-kejaran, keduanya lompat tinggi, terjun membuat Blackat seperti melihat setan.
"Ternyata hantu itu cantik dan kembar?" Black menatap rumah yang seperti istana.
"Ini surga, tapi kenapa ada hantu anak-anak? jika mereka manusia tidak mungkin bisa lompat tinggi begitu." Black memberanikan diri mendekati kedua anak kecil yang tertawa cekikikan.
Kedua anak kecil berlari keluar rumah, Black mengikuti keduanya hanya sampai pintu, takut bertemu ibunya yang berbentuk kuntilanak.
"Hai, apa kalian tuyul? kenapa punya rambut dan cantik?" Black memanggil membuat dua anak kecil menatapnya.
Langkah Black mundur, dua anak kecil melangkah maju mendekatinya melihat seorang pemuda yang terluka ketakutan.
"Jangan mendekat, sampai situ saja. Kita dibatasi oleh pintu ini." Black mengulurkan tangannya meminta si kembar berhenti.
__ADS_1
Keduanya berbisik, sambil cekikikan tersenyum menatap Blackat yang semakin ketakutan.
"Haaaa hahaha." Keduanya tertawa sangat besar membuat Black menutup telinganya.
Diana yang melihat langsung berlari, Blackat jatuh pingsan kembali saat si kembar memelototi matanya,. mengeluarkan gigi juga suara kuntilanak.
Berjalan lompat-lompat, rambut diuraikan di depan, satunya berjalan menggesot. Di meminta keduanya berhenti, melihat tangan Blackat berdarah kembali.
"Atika! Arshinta! kalian di mana? hentikan anak beda rahim ini!" Diana teriak histeris memanggil orang tua dari si kembar beda rahim.
Suara Dean berlari terdengar, begitupun dengan Juan. Menatap Black yang sudah jatuh pingsan.
"Ada apa?" Atika berlari kencang.
"Pria ini pingsan karena dua anak ini, bawa pulang sekarang." Diana meminta Juan dan Dean membawa Blackat kembali ke ruangan rawat.
"Astaghfirullah, dasar anak Kunti." Tika menarik telinga Mira dan Mora untuk pulang, keduanya berteriak sangat kuat sampai semua orang berlarian keluar.
Tawa Diana terdengar, dua anak kecil berlari sambil memegang telinga masing-masing. Pulang ke rumah setelah membuat Blackat pingsan.
Di dalam ruangan rawat Dean sudah tertawa terpingkal-pingkal mengecek CCTV, Blackat takut dengan hantu dan berpikir dia sudah mati.
"Baru dua yang muncul, belum Aira pulang ditambah lagi Isel kembali. Tidak bisa dibayangkan jika Blackat akan mengalami trauma takut menikah dan punya anak." Diana memegang perutnya merasa lucu melihat Black pingsan lagi.
Secara tiba-tiba Diana langsung diam, begitupun dengan Juan dan Dean yang saling tatap. Black takut hantu karena seluruh keluarganya pergi begitu saja, hanya menyisakan satu Lea yang faktanya bukan adik kandungnya.
"Apa orangtunya sudah meninggal?"
"Iya kak, dia hidup sendiri." Juan merasa kasihan melihat Blackat.
Juan membersihkan darah, menunggu Blackat bangun sedangkan Diana menyiapkan makanan.
Black kehabisan tenaga, sampai berpikir jika dia sudah meninggal. Sialnya Blackat bertemu dengan si kembar beda rahim.
Senyuman Dean dan Juan terlihat, menatap Black yang sudah bangun kembali. Melihat sekelilingnya, tidak melihat lagi dua anak kecil.
"Bangunlah, makan dulu agar kamu fokus?" Juan membantu Blackat untuk duduk.
"Tadi ada hantu,"
Dean langsung memalingkan wajahnya menahan tawa, kasihan melihat Blackat yang sangat terkejut.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira