SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
JANJI


__ADS_3

Mobil yang Dean kendaraan melaju dengan kecepatan sedang, mereka memutuskan pulang setelah melihat bayi sekilas. Tidak ingin terlalu ramai di rumah sakit.


"Kamu tidak mengantuk Sel?"


"Tidak, di luar negeri sekarang siang." Kepala Isel menggeleng melihat ke luar jendela.


Lirikan Dean sinis, sejak lamaran hingga pesta pernikahan Isel tidak membuat keributan apapun, dia nampak tenang juga jarang mengeluarkan kenakalannya.


Dean tidak tahu Isel sedang patah hati, atau ada tekanan dalam proses belajarnya yang membuat banyak diam.


"Sel, kamu ada masalah. Uncle perhatikan kamu banyak diam?"


"Isel stres Uncle, rasanya sekarang mulai gila." Kedua tangan Isel memegang kepalanya .


Mobil langsung terhenti, Dean nampak khawatir melihat wajah Isel yang murung karena banyak beban pikir.


Papanya memberikan penawaran untuk mengalahkan Ian yang berada jauh di atasnya, apalagi Ian mahasiswa jenius.


Sekuat apapun Isel mengejar sampai kepalanya di bawah, kakinya di atas dia tidak mampu mengejar calon Dokter muda yang semakin melambung tinggi.


"Kenapa juga kamu menantang Kak Gem?"


"Isel ingin menikah tahun depan Uncle," teriak Isel sangat kuat membuat telinga Dean sakit.


"Menikah yang kamu pikirkan, percuma saja kamu kuliah jika pada akhirnya menikah. Meskipun kamu lahir dengan kehidupan mewah bukan berarti bisa menyemplekan pendidikan." Tingginya suara Dean juga sangat mengejutkannya.


Ekspresi Isel kesal, percuma saja dirinya kuliah jika pada akhirnya tujuannya tetap menjadi seorang ibu.


Kepala Dean pusing melihat tingkah keponakannya, meluruskan pikiran Isel yang sudah keluar jalur sangat sulit.


"Bagaimana jika kita buat perjanjian ulang?"


Kepala Isel menggeleng, langsung diam mencoba berpikir. Dean meminta Isel menyelesaikan kuliahnya secara normal tanpa harus memaksa dirinya untuk menjadi yang terbaik, menikmati masa kuliahnya dengan menambah pengetahuan.


Dean tidak ingin Isel menyesal di kemudian hari jika dirinya tetap keras kepala dengan keputusan menikah muda.


"Sel, Uncle juga akan lanjut kuliah khusus untuk mendapatkan gelar Jaksa, Isel juga harus memanfaatkan pendidikan, kemampuan dan kecerdasan Isel untuk orang-orang yang membutuhkan." Dean menyarankan Isel menjadi psikolog.


"Uncle Gila, Isel sudah stres diminta menjadi psikolog. Orang yang datang pada Isel sudah stres ketemu isel langsung gila," ucap Isel terheran-heran.

__ADS_1


"Kamu lebih cocok mendengarkan keluhan orang Sel, selain kamu memiliki banyak pengalaman juga mampu membaca pikiran orang dengan cepat. Uncle yakin, Isel menyadarinya." Senyuman tulus Dean terlihat, mengusap kepala Isel lembut seperti anak kecil.


Kepala Isel mengangguk, dia akan menyetujui keinginan Dean, tapi saat dirinya sudah lulus maka Dean harus mengabulkan apapun yang Isel inginkan.


"Apa yang kamu inginkan akan Uncle berikan," ujar Dean sangat yakin hanya dengan cara begini Isel berhenti stres mengejar kemapuan Ian.


"Sekalipun Isel meminta nyawa Uncle?"


Kepala Dean mengangguk, tanpa Isel minta juga pasti akan dia berikan asalkan Isel tetap hidup dan bahagia.


"Uncle kuliah di mana?"


"Masih rahasia, kamu pasti ingin ikut jika tahu." Dean menjalankan mobilnya kembali untuk segera pulang karena sudah larut malam.


Senyuman Isel terlihat, hatinya sangat bahagia jika sudah bicara dengan Dean. Pernah bertengkar hingga tidak bertegur sapa sungguh membuat Isel sedih, tapi kini semuanya sudah kembali normal.


"Uncle beli di toko itu sebentar saja." Tangan Isel menujuk ke arah toko, mobil Dean juga langsung berhenti.


Mata Dean terpejam karena merasakan kantuk, jam sudah menunjuk pukul satu dini hari, tubuhnya sudah lelah dan matanya juga berat.


Suara pintu dibanting terdengar, Dean mengelak napasnya karena mobilnya bisa hancur ulah Isel.


"Sel, pelan sedikit tutup pintunya," pinta Dean membuka matanya.


Senyuman Dean terlihat, meniup lilin sambil tertawa kecil. Mengambil kue mengucapkan terima kasih.


"Apa harapan Uncle di usia yang sudah tua?"


Wajah Dean tersentak kaget, melihat Isel yang menyebutnya tua padahal dirinya masih sangat muda.


Tawa dan candaan Isel terdengar, mengusap wajah Dean mendoakan Uncle kesayangannya segera memiliki jodoh, lancar segala keinginannya. Tercapai juga mimpi luar biasanya yang begitu besar.


"Kenapa Uncle ingin menjadi jaksa, apa gaji pengacara kecil?"


"Bukan soal gajinya Sel, awalnya aku pikir jadi pengacara bisa membela, itu benar, tapi ternyata dia juga harus membela yang jahat," ucap Dean sedikit kecewa karena karena dia tidak suka membela yang salah.


"Bagaimana dengan Jaksa?"


Senyuman Dean terlihat, saat menjadi jaksa dia bisa membela juga menjatuhkan tuntutan dan menyelidiki langsung soal kasus yang akan masuk sidang.

__ADS_1


Bahkan seorang jaksa bisa mengalahkan kepolisian dalam kasus, Dean menyukai pekerjaan Jaksa meksipun harus dengan dengan pengacara.


Kepala Isel menggeleng, dia tahu jika Dean begitu serakah, dia juga pasti akan memutuskan menjadi hakim untuk menjatuhkan hukuman.


"Lanjutkan mimpi Uncle, Isel selalu dukung." Tawa Isel terdengar memakan kue di tangannya.


"Bukannya itu kue Uncle, kenapa kamu yang makan?"


Kue di dalam mulut Isel dikeluarkan kembali, dimasukkan ke dalam mulut Dean membuat teriakkan Dean terdengar menyemburkan kue dari mulutnya.


"Dasar keterlaluan kamu Sel!" Dean menatap wajah Isel yang penuh kue karena semburannya.


"Uncle jahat!" Isel menendang Dean kuat karena mukanya hancur.


Suara deringan ponsel Isel terdengar, langsung cepat dijawab membuat Isel kaget karena ada berita terbaru soal Wenda yang dituding wanita yang pernah Blackat cintai.


"Ada apa?" Dean menbersihakan wajah Isel menggunakan tisu.


"Siapa Wenda, kenapa aku baru tahu sekarang?" Isel melirik Dean yang geleng-geleng.


"Siapa Wenda?"


Pemberitaan trending soal pesta pernikahan juga ucapan happy birthday untuk Aira memenuhi sosial media, tapi dengan cepatnya berita Wenda dan Blackat yang bertemu naik menjadi trending satu.


"Siapa dia, lancang sekali ingin naik daun!" Isel mengumpat kasar, menghubungi tim IT untuk melenyapkan kasus Wenda agar turun dari pemberitaan.


Isel keluar dari mobil, meminta Dean pulang lebih dulu, Isel melangkah pergi ke perusahaannya untuk menyelidiki soal Wenda.


"Sel, masuk mobil sekarang. Biarkan saja berita ini, kenapa kamu harus khawatir? tidak akan ada yang menyakiti Kak Angga?"


"Bisa saja Uncle, dia sedang ada di puncaknya sehingga masa lalu Angga dan Wenda akan terekspos." Isel mengikuti Dean yang memaksanya masuk mobil.


"Apa masa lalu itu dosa? biarkan saja perusahaan Kak Blackat yang melakukannya, kamu hanya penggemar tidak harus melakukan apapun." Dean menjalankan mobilnya untuk pulang.


Senyuman Isel terlihat, Dean tidak paham saja kejamnya dunia maya, apa yang mereka anggap hal sepele bisa saja besar.


"Uncle, masa lalu memang bukan dosa, tapi antusias penggemar yang berlebihan bisa menjadi dosa. Mereka yang mengikuti Blackat dari awal pasti akan ke senang dengan kemunculan Wenda," ucap Isel menjelaskan.


"Biarkan saja, paling penting Kak Angga bahagia sekarang," balas Dean masih belum mengerti.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2