SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MENGIDAM


__ADS_3

Perlahan mata Laura terbuka, menatap lampu yang menyilaukan matanya. Di samping Laura ada Vio yang setiap menemaninya.


"Syukurlah kamu sudah bangun," ucap Isel yang ada di sisi kanan Laura.


"Sel, kenapa aku di sini?"


"Memangnya kamu ingin di mana, traveling?" tanya Isel yang menarik kursi hingga membangunkan Vio.


Suara Isel mengomel terdengar, dirinya sedang hamil besar harus berdiri menunggu Laura sadar setelah dua hari.


Tiba-tiba Laura melamun, tangannya yang masih sakit tergempal. Satu-persatu jarinya digerakkan.


"Aku harus bangun, ada satu orang yang harus aku bunuh." Laura berusaha untuk duduk karena keluarganya sudah tiada, hidup sebatang kara.


Orang yang menyebabkan hidupnya berantakan suaminya sendiri, Laura tidak butuh lelaki yang hanya hidup sebagai benalu.


"Kamu tahu jika Brayen dikendalikan oleh Kim?" Vio menatap wajah Laura yang masih lemas.


"Emh, aku juga tahu jika dia mengincar kekayaan demi bisa membawa Isel pergi. Kebaikan aku tidak dihargai sama sekali." Sejujurnya Laura sangat sedih, dia tulus menyayangi bahkan rela berjuang bersama demi masa depan.


"Jika ingin menangis jangan ditahan, aku tahu kamu merasa kehilangan." Genggaman tangan Isel erat.


Lirikan mata Laura tajam, dirinya bukan wanita lemah yang akan menangis setelah disakiti.


"Bukan aku yang rugi, kehilangan satu manusia sampah lebih baik. Selama ini aku bahagia dengan duniaku." Tidak ada yang disesali karena apa yang Laura lakukan sudah lebih dari cukup.


Pintu ruangan terbuka, Weni melangkah masuk tersenyum kecil saat mendapatkan kabar Laura sudah bangun.


"Apa saja cedera kamu? Maaf baru datang menjenguk." Weni duduk di pinggir ranjang menatap sahabatnya yang baru saja menjadi korban KDRT, lebih tepatnya pembunuhan berencana.


"Bagaimana kondisi Ren, dia tertembak, tapi masih bersikap tenang agar si kembar tidak panik."


"Ada orang lain selain Kak Tika Shin?" Laura dan Weni saling pandang.


Kepala Isel mengangguk, si kembar beda rahim juga turun tangan ikut bertarung. Keduanya ketahuan karena meninggalkan jejak.


"Ra, apa yang kamu sembunyikan di pulau, kenapa Kim sangat menginginkannya?" Laura baru saja dapat kabar jika Kim mengakui siapa saja yang terlibat dan tujuannya.


Tatapan tiga wanita melihat ke arah Isel. Laura yakin Isel pasti sudah melihatnya. Dia tahu apa yang Laura sembunyikan, demi bisa mempertahankan harta orang-orang yang ingin Laura bantu, rela mengorbankan nyawanya.

__ADS_1


"Kalian ingin tahu harta apa yang aku sembunyikan di pulau?" tanya Isel sambil tersenyum malu-malu.


"Dean Dirgantara," jawab tiga wanita secara bersamaan bersamaan saat Dean juga masuk.


Tawa Isel langsung pecah, tiba-tiba meringis karena merasakan ditendang. Dean yang melihat Isel kesakitan memintanya duduk.


"Apa yang kalian tertawakan?" tangan Dean mengusap perut istrinya yang sudah besar.


"Aku tidak percaya, bagaimana bisa kamu sejak kecil mengangumi Uncle kamu sendiri?" Kepala Weni geleng-geleng karena tidak pernah tahu siapa Dean Dirgantara.


Dean yang tidak paham terlihat binggung, menatap istrinya yang menunjukkan senyuman kecil.


"Ayo kita pulang, setiap hari ke rumah sakit terus. Diminta istirahat masih saja kabur, ayo cepat," paksa Dean karena Isel menolak pulang.


"Nanti, baru juga bertemu. Nanti a a a." Tangan Isel memeluk tiang infus Laura.


Kedua tangan Dean terangkat ingin meremas kepala istrinya yang tidak pernah mendengarkan ucapannya.


Kepala tiga wanita hanya bisa tertunduk, menahan tawa karena geli melihat tingkah Isel yang biasanya selalu rusuh, berubah menjadi kekanakan.


"Mau jam berapa pulangnya?"


"Ingat dua menit, lewat dari situ aku tinggal." Senyuman Dean terlihat berjalan keluar tanpa mendengarkan teriakkan istrinya.


"Abi, bukan dua menit, tapi dua jam." Isel berjalan menyusul suaminya yang tidak menimpali.


Tangan Isel melambai-lambai pamit pulang dan akan datang lagi besok, Isel meminta Laura cepat sembuh agar bisa bertemu Brayen.


Senyuman Laura terlihat, dirinya memiliki impian mempunyai rumah tangga sebahagia Isel.


"Aku pikir dapatkannya pria sebaik Dean, ternyata sebejat Bian," gumam Laura dengan nada pelan.


"Inilah alasan aku takut menikah, sulit mencari pria baik, banyaknya pura-pura baik," ucap Vio yang merasa hidupnya penuh rasa sepi.


"Bian tidak seburuk Brayen, dia jahat memang penjahat, tapi Brayen baik, tapi jahat." Weni menceritakan jika Bian juga membantu dalam pencarian Laura.


Wajah Vio dan Laura terlihat aneh, Weni jarang sekali membela orang kecuali Ren, apalagi kelas penjahat.


Pintu ruangan terbuka, Bian memanggil Weni mengabari Ren mencarinya. Weni langsung pergi ke ruangan lain karena kondisi Ren belum stabil.

__ADS_1


"Ada apa?" Weni mengikuti Bian yang menghentikan langkahnya.


"Ren tidak mencari kamu, tapi aku yang mencari kamu. Bagaimana dengan janji kamu?"


"Janji apa?" Weni mengangkat bahunya tidak tahu menahu.


Dari balik pintu Vio mengintip keduanya, tapi Bian tahu ada Vio hanya memberikan peringatan kepada Weni untuk mengingat janjinya dan menepati.


Bian melangkah pergi begitu saja, Weni kembali ke kamar Laura sambil berpikir apa yang pernah dirinya bicarakan.


"Kebiasaan kamu itu Wen, selalu mengucapkan janji jika butuh bantuan, akhirnya Bian akan memanfaatkan kamu."


"Aku janji apa sama dia, lupa?" Weni mondar-mandir memikirkan janjinya menghubungi Isel yang sedang perjalanan pulang menanyakan janjinya kepada Bian.


"Janji, makanya jangan suka buat janji. Bagaimana jika Bian meminta kamu menyerahkan Bar, kita tidak bisa nongkrong lagi!" kemarahan Isel terdengar menegur Weni yang suka berulah.


"Aku akan meminta Bian agar segera melenyapkan Bar kalian," timpal Dean yang kesal melihat Isel perut besar masih memikirkan soal bersenang-senang.


Jika bayi mereka kembar, tidak mungkin akan meninggalkannya hanya untuk berpesta seperti belum menikah.


"Kenapa Abi marah? Isel bisa pesta membawa anak-anak. Kalau kembar dua ada Weni dan Vio, aku bisa joget-joget bersama Laura." Isel berjoget di mobil membuat tatapan Dean tajam.


"Kalau kembar lima?"


"Ada Mimor, ada Weni, Laura, dan Vio, Isel tetap bisa joget bersama Kak Ai dan Lea." Tawa Isel terdengar masih joget-joget di dalam mobil.


Tangan Dean mengusap dada, istrinya memang aneh. Keiginanya tidak normal, tidak mungkin ada bayi ikut dugem.


"Capek ya Nak, nanti bersama Abi saja di rumah. Usapan tangan Dean lembut sangat menyayangi anaknya.


"Bi, Isel pengen sekali memeluk Bian, kira-kira boleh tidak?"


"Tidak! Jangan pernah kamu pikir aku mengizinkan. Tidak peduli mengidam atau apapun, tidak mungkin anakku menginginkannya, dasar kamu saja genit." Pukulan di dasbor terdengar, Dean mendengarnya saja sakit hati, apalagi melihatnya.


Kedua tangan Isel tutup telinga, lelah mendengar suara Dean yang sangat berisik sekali.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2