SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
HEBOH


__ADS_3

Pagi-pagi media sudah dihebohkan oleh kelahiran anak pertama dari Blackat dan Aira setelah dua tahun menikah. Bukan hanya media yang terkejut, tapi seluruh keluarga juga hampir jantungan melihat banyaknya berita Aira lahiran, tapi mereka tidak dapat kabar apapun.


Aliya dan Altha yang ada di luar kota langsung pulang bersama Dimas dan Anggun yang juga tidak bisa menghubungi Angga sama sekali.


"Ini berita benar atau tidak?" Anggun menghubungi Diana yang belum menjawab.


"Ini pasti benar soalnya Angga mengazani bayi." Aliya juga menghubungi Tika yang diminta mengawasi adiknya, tapi tidak menghubungi.


Diana menjawab panggilan, dia juga baru bersiap ke rumah sakit setelah Isel memberikan kabar. Belum tahu pastinya karena tidak ada satupun anggota keluarga yang menghubungi keluarga.


"Aliya, hubungi dokter Aira saja." Altha menatap istrinya yang langsung menghubungi dokter.


Dokter membenarkan, jika Aira sudah melahirkan bayi cantik di jam tiga subuh. Ibu dan bayi dalam keadaan sehat meksipun sempat pendarahan, dan bayi kesulitan keluar.


"Aira sudah melahirkan, kita langsung ke rumah sakit saja." Tangisan Aliya terdengar karena tidak bisa menemani Putrinya saat lahiran.


Al menyesal ikut pergi, seharusnya di rumah sehingga Aira tidak sendirian hanya berdua dengan suaminya.


Di rumah sakit Angga meletakkan bayinya, belum tahu apapun soal apa yang terjadi di luar rumah sakit.


"Permisi, ini dokter Nona Aira yang sudah diisi daya." Perawat tersenyum senang bisa bertemu langsung dengan Blackat.


Angga menghidupkan ponsel, berniat menghubungi keluarga agar membawa baju bayi dan ponselnya.


Pintu terbuka kuat, Juna melangkah masuk mengecek kondisi Aira yang sedang tidur karena kelelahan.


Atika juga langsung masuk melihat adiknya yang terbaring, ada bayi juga di dalam boks sedang terlelap tidur.


"Kenapa tidak menghubungi kita?" Tika menatap Angga yang baru bisa menghidupkan ponsel.


"Maaf Kak Tika, aku tidak bisa berpikir apapun," ujar Angga meminta maaf.


"Aku paham, bahkan kamu lupa ganti celana." Tika mengusap air matanya berjalan ke arah bayi kecil yang sedang tidur manis.


Pintu kembali terbuka, Juan juga langsung masuk melihat adiknya. Wajah Juan nampak pucat karena dia semalaman sakit, tidak menyangka jika Aira juga merasakan sakit.


"Ai," panggil Juan menyentuh rambut adiknya.


"Sudah tenang, biarkan Aira beristirahat karena pasti kelelahan menahan sakit semalaman." Juna merangkul adiknya.


Juna tersenyum melihat Angga berjuang sendiri mendampingi istrinya, Juna memeluk adik iparnya memberikan selamat.

__ADS_1


Tidak bisa Angga menahan air matanya, dia dan Aira tidak memiliki pengalaman apapun, bahkan waktu kebersamaan saat hamil sangat singkat.


"Kamu bahkan tidak mengunakan alas kaki. Maaf karena kita enak tidur, tanpa tahu kamu sedang panik." Juna menepuk punggung adik iparnya yang juga hebat.


Tika menggedong bayi kecil, berkali-kali Tika menciumnya tidak membangunkan sama sekali.


"Pinjam Tika, pelan-pelan." Juna langsung menggendong bayi perempuan yang sangat cantik.


"Subhanallah, cantiknya. Selebriti kecil, kamu lagi viral hari ini." Juna tidak berani memegang karena tubuhnya masih kurang sehat.


Mata bayi terbuka, ekspresi membuat tawa. Tika sangat yakin jika baby girl paham soal pria tampan.


Ketukan pintu terdengar, Diana datang bersama Gemal, mengucapkan syukur karena semuanya dalam keadaan baik.


"Bagaimana keadaan Aira?"


"Alhamdulillah sehat, tapi di rumah sempat mengeluarkan darah makanya kita langsung ke rumah sakit." Angga menceritakan awalnya mereka tidak menyangka jika akan lahiran.


Kepala Gemal mengangguk, memeluk Angga memberikan selamat. Bisa memahami kecemasan saat melihat istri pendarahan karena Gemal lebih dulu merasakannya.


"Kamu tidak bisa keluar sementara karena ada banyak wartawan," ujar Gemal yang akan membelikan keperluan bayi.


"Menurut kamu kita tahu dari mana?" Diana menatap Adiknya yang baru sadar jika tidak mungkin ada yang tahu sebelum dirinya menghubungi, tapi kenyataannya Juna dan adik-adiknya datang lebih dulu.


Kepala Angga langsung pusing, apalagi dia tidak membawa ponsel. Keluar rumah sakit juga tidak memungkinkan.


"Lea sudah jalan ke sini membawa ponsel, dan peralatan bayi." Juan memberikan ponselnya agar Angga melihat sendiri berita.


"Astaghfirullah Al azim Aira, bagaimana bisa masih terpikirkan memberitahu publik." Angga membenturkan pelan kepalanya di dinding karena ulah istrinya.


Semua yang ada di ruangan hanya bisa tertawa melihat Angga yang stres sendiri ulah istrinya, bukan pertama kalinya Aira melakukan sesuka hatinya.


Perusahaan juga tidak bisa menuntut Ai karena dia istri dari pemilik perusahaan, tapi Angga juga prihatin dengan stafnya yang kewalahan karena didahului oleh media lain.


"Sabar, maklum saja punya istri gila memang harus ekstra sabar." Diana meminta Angga sarapan karena membawakan makanan yang dimasak oleh Shin.


"Bagaimana Angga bisa makan Kak?"


"Bawa santai saja, terkadang perusahaan harus kacau agar terbiasa." Gemal menggedong bayi cantik yang sangat menggemaskan.


Melihat baby girl membuat Gemal ingin punya anak lagi, tapi jika teringat perjuangan mereka membuat Gemal takut.

__ADS_1


"Kamu siap menambah lagi?" tanya Gemal.


"Jika bisa tidak Kak, kasihan melihat Aira kesakitan. Aku tidak tega, punya satu ini saja Alhamdulillah." Kepala Angga menggeleng masih takut karena melihat langsung prosesnya.


"Hanya aku yang tiga kali nyawa diujung tanduk, mana jaraknya dekat trauma pertama belum selesai sudah isi lagi." Juna tersenyum langsung duduk.


"Kak Juna enak, Shin dan Tika lahirnya mudah." Juan juga sepemikiran dengan Angga.


"Kalian belum sesakit Kak Gem, mendapatkan tiga anak sekaligus setelah melewati masa tersulit karena hampir gagal mempertahankan." Gemal tersenyum menatap istrinya yang sangat hebat.


Tawa Tika terdengar, dia dan Shin menjadi saksi proses kehamilan Diana karena selalu menjadi buntutnya.


Perjuangan Diana sungguh mempertaruhkan nyawa, bahkan penuh air mata dan darah karena berkali-kali pendarahan.


"Aku saksi lahirnya tiga twins." Juna angkat tangan masih ingat saat bayi terakhir hampir gagal.


Suara bayi menangis terdengar, Tika langsung menggendongnya. Aira juga terbangun mendengar suara bayinya menangis.


"Ini bagaimana menyusui?" Diana menatap Aira yang hanya geleng-geleng.


Tidak ada yang membawa pompa ASI, tidak ada pilihan Aira langsung menyusui secara langsung.


"Bisa tidak Ai?" Tika menyerahkan baby kecil.


"Lapar juga nenek lampir satu ini, sudah bermalam-malam mengamuk di perut, sudah lahir minta makan." Ai memicingkan matanya melihat Putri kecilnya.


Suara tangisan langsung kuat, bedong bayi bongkar membuat Aira tertawa karena tendangan anaknya bertenaga.


"Mami pasti sedih Ai tidak bisa mendampingi kamu." Tika mengusap wajah si kecil yang mencari susunya.


"Salah nenek satu ini, dia yang memaksa keluar padahal belum waktunya." Ai menekan hidung membuat Tika dan Diana mencubit pelan.


Suara tangisan kembali terdengar karena tidak berhasil mendapatkan susu, Diana mengusap kening meminta baby tenang.


"Tidak ada air susu," ucap Ai meminta air putih untuk minum si kecil.


"Aira jangan bercanda, kasihan." Tika menyentuh tangan kecil yang sudah keluar dari bedong.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2