
Suara anak kecil yang sedang aktif berjalan terdengar, Andri memeluk Angga yang baru saja kembali. Menciumi wajah Angga dengan sangat lembut.
"Di mana Andra?" kepala Angga menoleh ke arah tangga, Andra merosot di tangga seperti perosotan sambil tertawa cekikikan sangat bahagia.
Saat melihat Aira hanya mendengus dingin, sifat Andra dan Andri bagai pinang dibelah dua. Andri terlihat sangat baik sedangkan Andra sangat nakal dan angkuh.
Dia lebih suka bermain sendiri, tertawa dan bercanda. Bersama Kakaknya saja tidak suka bermain bersama.
"Mimi, kenapa Mimi cedih cekali, Uncle udah ulang." Andri mendekati Aira mengusap wajah Ai penuh kasih sayang.
Aira memeluk erat satu keponakan kecilnya yang sangat baik hati, Andri juga lebih sering tinggal bersama Aira dibandingkan Bundanya.
Tawa Andri terdengar, berada di dalam gendongan Angga yang menyapa Mami dan Papi.
Tatapan Aliya terarah kepada putrinya yaang terlihat sedang sedih, Ai yang ceria tidak pernah mengatakan apapun masalahnya sehingga tidak ada keluhan yang terdengar.
Apalagi Aira sibuk bekerja, dan ikut suaminya jika harus pergi lama hanya sesekali tinggal karena beda jadwal kerja.
"Aira, bantu Mami dulu sayang." Al menuju ke kolam berenang meminta Aira mengikutinya.
Tanpa protes, Aira langsung mengikuti Maminya. Duduk di pinggir kolam melihat Andra bermain ikan sendirian.
"Ada apa Mami?"
Tepukan tangan Aliya pelan di pundak Aira, meminta tidak banyak pikiran apalagi menjadi beban yang memberatkan.
Jangan karena ingin memiliki keturunan sehingga saling memaksa, jika sudah sangat mengiginkan anak maka butuh kerja sama antara dua pihak.
"Mami tahu Aira memikirkan keturunan, periksa ke dokter jika sudah siap. Bukan karena siapa yang tidak bisa memberi, kalian ikuti program dokter." Aliya menggenggam tangan Putrinya mengingatkan kembali atas perjuangan Diana mempertahankan dan melahirkan tiga bayi kembarnya.
Air mata Aira menetes, hanya bisa menangis memeluk Maminya karena dirinya terlambat memiliki anak tidak seperti anggota keluarga yang lain, hanya beberapa bulan menikah langsung hamil.
"Aira beda Mi, Aira lama. Andra Andri sudah hampir dua tahun, Ai belum ada tanda-tanda." Pelukan Aira erat tidak kuasa menahan tangisannya.
__ADS_1
Mata Andra berkaca-kaca melihat Aira menangis sesenggukan meremas perutnya yang belum juga memberikan kabar baik.
"Enti kenapa, Enti jangan sedih. Goyeng ikan aja, tapi jangan nangis." Andra meletakkan ikan di atas meja, dia langsung naik juga ke atas meja mengusap kepala Aira dengan sangat lembut.
"Tumben sekali kamu duduk dekat, Andra sudah besar, tapi Aunty belum punya dedek juga," ujar Aira menatap si kecil yang memperhatikannya.
"Enti punya Kak Andli, dia anaknya Enti." Tangisan Andra terdengar memeluk Aira yang sudah menangis sesenggukan.
Pelukan Aira erat, mengusap punggung Andra yang ternyata bisa merasakan kesedihaan yang dirasakan Aira.
Dia memberikan Kakaknya untuk Ai agar tidak sedih lagi, Andra lebih suka bermain sendiri tanpa ada yang mengusiknya.
Suara Angga berlari terdengar melihat Aira menangis, langsung duduk menggendong Andra yang juga menangis. Mengusap air mata Andra agar berhenti menangis.
Tatapan mata Angga sedih melihat istrinya yang sudah cukup lelah menutupi kesedihannya.
"Kenapa menangis, kamu ingin apa?" tanya Angga mengusap wajah istrinya.
Kepala Aira menggeleng, langsung memeluk Maminya yang tersenyum meminta Angga tenang. Aliya hanya bisa mengusap punggung Putrinya.
"Apa yang kamu lakukan Isel?"
"Tidak tahu Uncle, di mana Kak Ai?" Isel meminta Aira membujuk pasiennya agar turun dari jembatan.
Aira melihat ke arah layar, senyuman pemuda terlihat menatap Aira yang sangat dia idolakan.
Tatapan mata Isel tajam, dia baru saja menginjakkan kaki setelah menyelesaikan pendidikannya, mendapatkan pasien pertama yang terlalu terobsesi sehingga ingin bunuh diri.
"Kenapa kamu ingin bunuh diri?" Aira meminta pemuda turun, menahan tawa melihat tatapan mematikan Isel.
"Tidak ada yang mencintai saya, Aira aku sangat menyukai kamu." Senyuman pemuda terlihat lebar, langsung turun dari jembatan ingin bertemu dengan Aira.
Angga memeluk Aira dari belakang, tidak peduli seberapa apapun rasa kagum, Aira sudah menjadi miliknya.
__ADS_1
Panggilan langsung mati, tawa Aira terdengar karena merasa kasihan kepada Isel yang menuruti ucapan Dean untuk menjadi psikiater sehingga membuat Isel semakin gila.
"Isel hebat sayang bisa lulus bahkan sebelum tiga tahun, aku juga lulus empat tahun." Angga memeluk Andra yang tertidur di dalam pelukan sambil memegang ikan yang meregang nyawa tidak bisa bernapas.
"Ai juga cepat Ayang, kita keluarga jenius soal materi kecil, hanya malas saja yang besar." Ai mencium bau tubuh Andra yang sangat amis ikan.
Kepala Angga mengangguk, dia tahu jika istrinya sangat pintar. Angga sangat lemah jika soal materi, dia lebih suka langsung praktek.
"Anak siapa ini tidur memeluk ikan?" Aliya mencari Lea untuk menegur Andra yang suka main ikan.
Usapan tangan Angga sangat lembut, mengecup kening istrinya untuk berhenti memikirkan soal anak. Jika Aira tidak bisa sabar, Angga siap untuk ke dokter memeriksakan diri.
"Jangan terlalu terbebani, kalian berdua terlalu sibuk sehingga kelelahan, luangkan waktu untuk bersama melepaskan segala beban dipundak. Proses kehamilan itu harus bahagia." Atika mendengar keluh kesah Adiknya memeluk Ai dari belakang.
"Maafkan Aira yang terlalu memikirkannya," ucap Ai merasa bersalah.
"Tidak apa Aira, setiap wanita pasti memiliki pikiran yang sama, jika lambat memiliki keturunan pikiran mulai khawatir." Tika masih ingat saat hamil Hasan, dia terlalu happy dan lupa jika kebobolan.
Mira belum terlalu besar sudah punya Adik, begitupun dengan Hasan yang masih kecil sudah ada Ajun. Setelah memiliki tiga anak, Tika stress karena mirip kucing yang banyak anak barulah berpikir sudah cukup tiga saja.
"Kak Tika, sekarang Mira sudah besar, apa Kak Tika tidak berniat pisah rumah?"
Kepala Tika menggeleng, mereka sangat harmonis tinggal bersama. Rumah juga sudah sebesar rumah Diana sehingga sangat luas.
"Mora dan Mira bisa mengamuk jika pisah, apalagi sekarang mereka sedang aktif bersosialisasi. Berada di luar rumah begitu menyenangkan, tapi saat di dalam rumah menjadi waktu yang tepat untuk keduanya berbagi cerita." Tawa Angga terdengar melihat Tika yang memberikan dua jempol.
Kedua tangan Tika merangkul Angga dan Aira untuk santai saja, tidak ada kata terlambat memiliki anak jika sudah waktunya.
Jangan pernah berlomba, sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik. Terlambat lebih baik daripada gagal.
"Kak Tika bicara begini karena tidak merasakan," sindir Aira paham pikiran Kakaknya.
"Aku bicara begini karena membuatnya saja yang enak, membesarkannya membuat kepala berasap." Tika teriak kuat melihat Ajun naik pohon.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira