SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BALON


__ADS_3

Setelah tiga hari pernikahan Devan resmi dibatalkan, Isel yang mendapatkan kabar terdengar puas karena rencananya berjalan dengan lancar.


"Sudah puas belum?" tanya Dean memeluk istrinya dari belakang.


"Belum, rencana Isel sampai menikah."


"Jangan sayang, nanti mereka tidak saling mencintai lagi, jika sudah batal ya sudah," tegur Dean agar istrinya tidak banyak berulah.


Kepala Isel menggeleng, masib dengan rencananya menjadi Mak comblang. Dean mengusap perut besar istrinya agar lebih fokus kepada anaknya.


"Dean, ada Devan mencari Isel," panggil Mommy.


"Yee, ada tamu." Isel langsung berjalan keluar diikuti oleh Dean yang ikutan penasaran.


Senyuman Devan terlihat menyerahkan undangan kepada Isel, cepat Isel membukanya melihat nama calon pengantin.


"Wow, seperti rencana aku berhasil, mana Vio?" Isel menujukkan undangan kepada suaminya.


"Pernikahan dilanjutkan hanya nama pengantin wanita diganti, aku tidak tahu harus bahagia atau apa?" Dean tersenyum melihat istrinya nampak bahagia.


"Pastikan saja datang dulu sebelum lahiran, setidaknya kalian harus menyaksikan." Devan melambaikan tangannya karena harus segera kembali.


Kepala Dean mengangguk, sedangkan Isel terdiam memikirkan misi selanjutnya. Dean menatap istrinya yang mulai berulah lagi.


"Bian sekarang ada di mana?"


"Astaghfirullah Al azim Ghiselin, bisa-bisanya kamu diam memikirkan pria lain." Ekpresi wajah Dean murung.


Tawa Isel terdengar, memeluk suaminya yang mulai ngambek karena Isel terus memikirkan pria lain.


Rencana Isel selanjutnya mencarikan Bian jodoh agar mereka semua memiliki pasangan, lalu memiliki anak bersama.


"Berhentilah mengurusi percintaan orang, nanti akhirnya seperti Laura, KDRT dan perceraian." Dean tidak setuju jika percintaan Bian yang terkenal liar harus dijodohkan.


Lirikan mata Isel tajam, mengambil ponselnya menghubungi Weni karena misi selanjutnya menikahkan Bian dan Weni.


"Isel, tidak boleh seperti itu," tegur Dean.


Jari telunjuk Isel berada di bibir suaminya, melarang banyak bicara karena Isel pastikan rencananya pasti berhasil.


Suara salam terdengar, Dean melihat Bian datang berkunjung menyerahkan sesuatu kepada Dean sesuai permintaan.


"Apa ini hasil kasus Brayen?"


"Mungkin, aku tidak membukanya hanya bertugas mengantarkan secara langsung." Bian duduk tanpa dipersilahkan menjelaskan kepada Dean soal persidangan.


Senyuman Isel terlihat ke arah Bian membuat pria di hadapannya merasa aneh bahkan berkali-kali melihat ke belakang, menatap sekitarnya.


"Isel kesurupan, kenapa matanya begitu?" Bian merasa takut.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan dari Weni, kalian pasti ada sesuatu?" jari telunjuk Isel bergerak karena sudah membayangkan apa yang terjadi.


Kepala Bian geleng-geleng meminta Isel tidak ikut campur, lebih baik mengurus perutnya yang besar daripada mengurusi Bian dan Weni.


"Kalian pasti ada sesuatu?"


"Jika ada juga bukan urusan kamu, sudahlah." Dean menarik tangan Isel.


"Pasti meminta Weni ...."


"Ya, aku minta dia melayani aku, memangnya kenapa? salah dia sendiri yang sudah berjanji maka resikonya harus menepati," ucap Bian membuat Isel dan Dean terdiam karena nada bicara Bian terdengar sangat serius.


Kepala Dean geleng-geleng meminta Bian tidak melanjutkan, Isel yang memiliki tingkat kepo tinggi pasti akan mencari tahu.


Isel berdiri dari duduknya mengambil ponselnya berjalan keluar rumah membuat Dean dan Bian binggung.


Bumil aneh yang banyak maunya, sibuk mengurusi percintaan orang, tanpa sadar perutnya hampir meletus.


"Apa yang dia lakukan?" Bian berlari mengejar karena Isel membongkar mobilnya.


"Sudah aku katakan jangan banyak bicara, pekerjaan Isel sekarang bukan dokter, tapi Mak comblang." Dean memukul punggung pria di depannya karena menbuat istrinya repot.


Kepala Dean dan Bian celingak-celinguk melihat Isel yang berhasil membuka kunci mobil.


"Bunda ingin pergi ke mana? Ura ikut." Aura yang diminta les, tapi lari kabur masuk ke dalam mobil.


Banyak barang di dalam mobil di keluarkan, Isel mencari sesuatu yang ingin digunakan sebagai barang bukti.


Aura yang ada di dalam mobil hanya garuk-garuk kepala, melihat beberapa barang yang sudah dikeluarkan.


"Bun, ini buat Ura Boleh?"


"Panggil Umi, jangan Bun Bun nanti jadinya buntel. Ambil apapun yang kamu mau." Isel tersenyum melihat amplop yang berisikan beberapa foto.


Senyuman Ura terlihat meniup balon langsung lari pulang ke rumahnya menemui Pipinya.


"Pi, Pipi, lihat mainan baru Ura lucu sekali." Aura menujukkan balon kepada Pipinya.


Angga yang polos hanya mengangguk saja tidak menyadari apa yang ditunjukkan oleh Putrinya. Ura berlari kencang mencari keberadaan Nendanya untuk pamer.


"Nenda, coba lihat mainan baru Ura."


Aliya melihat ke arah cucu perempuannya yang meniup banyak balon, mata Aliya tidak berkedip sedikitpun karena masih tercengang.


"Dari mana kamu mendapatkannya?"


"Mobil, dikasih sama Umi Ura, Pipi juga suka lihatnya." Tawa Aura terdengar meniup banyak balon.


"Aira, lihat Putrimu. Ai, cepat keluar." Aliya berteriak sambil geleng-geleng.

__ADS_1


Aliya yang sedang membawa perut besar keluar kamar terkejut melihat Putrinya meniup benda terlarang yang biasanya digunakan oleh pasangan yang berhubungan demi menghindari kebobolan.


"Anak bodoh satu ini, diminta les kenapa sibuk meniup balon haram?! Berhenti tidak!" bentak Aira dengan nada kasar.


"Tidak mau, ini punya Ura." Tangisan Ura terdengar melihat balonnya disita semua.


Tangisan sampai teriak-teriak, berguling di lantai. Teriakkan Ura diiringi tangisan menggema di segala arah


Angga berlari kencang menggedong Putrinya yang memukuli dada Pipinya tidak ingin disentuh.


"Ada apa Aira?"


"Kamu lihat dia meniup balon ini," jawab Aira menujukkan balon di tangannya.


"Kembalikan," teriakan Angga terdengar mengambil balon mengembalikan kepada Ura.


Aira dan Aliya saling pandang, bisa-bisanya Angga tidak sadar apa yang sedang dimainkan oleh anaknya.


"Ini balonnya, tidak boleh marah begitu." Nada bicara Angga sangat lembut meksipun Putrinya masih teriak.


"Tidak mau lagi." Ura menginjak semua balon, berusaha memecahkan.


Pintu rumah terbuka Dean melangkah masuk karena mendengar tangisan Ura. Menggendong agar diam.


"Kenapa?"


"Kamu lihat apa yang Ura mainkan, balon haram." Ai menujuk ke arah tangan Angga.


Kerutan di kening Angga terlihat, langsung membuang balon yang ada di tangannya. Tawa Dean langsung pecah menatap wajah Ura penuh air mata.


"Dari mana kamu mendapatkannya?" Angga mengusap dada.


Isel dan Bian melangkah masuk, melihat balon-balon yang diambil dari dalam mobil menyalahkan Bian yang menggunakan balon haram.


"Bukan punya aku," ucap Bian merasa tidak salah.


"Itu ada di mobil kamu." Isel memukul punggung Ian karena mengotori mulut Ura.


"Demi apapun bukan punyaku, lagian buat apa aku menggunakannya?"


Liputan di kening Isel dan Aira terlihat, menuduh Bian yang suka main perempuan. Bukan hal yang mengejutkan jika dia memilikinya.


"Bukan punya aku," ucap Bian menatap Isel.


"Ada apa, kenapa berisik sekali?" Altha keluar dari kamarnya.


Semua orang langsung maju memunguti balon meyembunyikan jangan sampai ketahuan bisa kena ceramah sampai subuh.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2