
Mobil Juan tiba di parkiran, sebuah mobil mewah melintas langsung parkir di sampingnya.
Wanita cantik keluar, sedangkan Juan tidak bisa keluar karena pintu keluar dihalangi oleh mobil yang baru parkir.
"Eh, permisi. Mobil kamu parkirnya tidak tepat, aku tidak bisa keluar." Dean menatap wanita yang melihat ke arahnya.
Hampir saja Juan memanggil Lea, tapi penampilannya berbeda. Lea yang Juan kenal hanya menggunakan make up sederhana, tapi wanita yang ada di hadapannya terlalu penuh make up.
"Kamu bisa keluar lewat pintu sebelahnya,"
Juan malas debat, menutupi kembali kaca mobilnya keluar lewat pintu satunya mendukung tas ranselnya meninggalkan parkiran.
"Hei, kamu mengatakan jika aku salah parkir, tunjukkan parkir yang benar." Kunci mobil dilemparkan ke arah Juan.
Tangan Juan menangkap, tidak banyak bicara memarkirkan mobil Imel ke tempat yang benar.
Kunci mobil di letakan di atas mobil, Juan langsung melangkah pergi begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Imel mengambil kunci mobilnya mengejar Juan yang sudah hilang dari pandangannya, membuat Imel kesal.
"Gila ganteng banget, aku belum pernah melihat pria sedingin dia. Padahal hari ini aku cantik sekali." Senyuman Imel terlihat langsung berjalan ke arah kelasnya.
Seluruh mahasiswa masuk, mereka akan bertemu dengan dosen termuda yang menjadi incaran banyak wanita, tapi sikapnya yang dingin tidak ada tandingannya.
Di depan pintu Imel berpapasan dengan Juan kembali, kedua melihat ke atas membaca kelas.
"Ternyata kamu juga calon dokter, perkenalkan aku Imelda Taher." Tangan Imel terulur senyum lebar.
Wajah Juan tanpa ekspresi, ternyata orang yang ada dihadapannya berbeda dengan yang dia kenal. Bahkan tidak mengenali Juan, juga siapa dirinya.
Tanpa membalas jabatan, Juan berjalan masuk. Imel juga masuk menarik pergelangan tangan Juan untuk ikut duduk bersamanya.
Suasana kelas yang heboh langsung hening, tangan Imel ditepis kuat dengan tatapan sinis.
"Saya tidak suka dengan mahasiswa yang tidak punya sopan santun, sekali lagi kurang ajar silahkan keluar dari kelas saya." Juan berjalan ke arah mejanya meletakan buku yang cukup tebal.
Imel duduk di kursi kosong, menatap Juan yang ternyata seorang dosen. Memiliki wajah yang tampan, dingin dan berwibawa lelaki yang sangat Imel sukai.
"Siapa nama dokter itu?"
__ADS_1
"Dia bukan Dokter, tapi kemampuan seperti dokter. Beberapa kali kabarnya dia pelatihan di rumah sakit, tapi dirahasiakan. Nama dia Juanda dipanggil Dosen Juan." Tidak banyak yang tahu identitas Juan, dia cukup tertutup dalam banyak hal termasuk kehidupan pribadinya.
Ada yang pernah melihat dia bekerja di perusahaan besar, ada juga yang bertemu di rumah sakit, tapi Juan lebih sering di kampus.
"Dia pasti bukan dari keluarga sembarang, apa usianya sudah tua, wajahnya muda sekali?"
"Dia masih sangat muda, usianya saja tidak terdaftar. Setidaknya dia bukan anak tujuh belas tahun, kabarnya dia anak jenius dan memiliki seorang Kakak yang sama jeniusnya sebagai dokter spesialis." Pembicaraan soal Juan masih terdengar.
Senyuman Imel terlihat, sepanjang Juan menjelaskan soal materi semua orang hanya berpusat kepada wajahnya.
Imel tidak mengerti apapun, hanya menatap bibir Juan yang begituan manis saat bicara. Imel memastikan Juan harus menjadi miliknya.
"Kamu keluar dari kelas saya." Tangan Juan menunjuk ke arah Imel.
"Aku. Kenapa? apa salah aku?"
"Kamu hanya menatap bibir saya, tapi tidak ada satupun materi yang masuk ke dalam kepala kamu." Tatapan Juan sinis, mahasiswa lain banyak yang tertawa.
"Maaf Pak, bibir bapak terlalu manis." Imel tersenyum membuat gelak tawa.
"Keluar!"
"Calon istri pamit keluar,"
Tangan Juan langsung dibersihkan, kertas yang ada nomor telepon langsung masuk ke tempat sampah.
"Mulai hari ini wanita tadi tidak diizinkan masuk kelas saya. Siapapun yang melakukan hal yang sama maka bernasib sama juga. Tujuan kalian ingin menjadi dokter, bukan mencari pasangan hidup. Jika tidak berniat belajar, menikahlah jangan merusak suasana mata." Juan duduk di kursinya merasa kesal dengan sikap Imel yang memalukan.
Selesai kelasnya, Juan langsung bergegas pulang menghubungi Aira untuk datang ke apartemennya.
Apa yang baru terjadi cukup mengejutkan bagi Juan, tapi ekspresinya saja yang selalu terlihat tenang meksipun ada badai petir gempa bumi.
Sampai di apartemen bersamaan dengan Dean yang baru kembali dari firma hukum. Wajahnya juga terlihat tidak bersahabat.
"Tumben pulang cepat?"
"Kamu ingin tahu apa yang aku lihat hari ini?"
"Aku rasa jauh lebih mengejutkan dari yang aku temukan." Juan langsung duduk di sofa, melepaskan jas dengan perasaan emosi.
__ADS_1
Pintu terbuka kembali, Blackat juga datang. Menatap dua orang yang terlihat banyak pikiran.
"Apa Aira bersama Kak Black?" Dean mengambil minuman melemparkan ke arah Juan dan Black.
"Tidak, dia ada pemotretan. Dan aku bertemu seseorang." Black duduk bisa memahami ekpresi dua pria di hadapannya.
Suara tertawa terdengar di depan pintu, Aira datang bersama dengan Lea setelah menyelesaikan pemotretan untuk brand new.
Ai dan Lea terdiam melihat semuanya berkumpul, Juan dan Dean menatap ke arah Lea yang menggunakan pakaian bermerek, tapi tidak glamor.
Melihat tatapan dua pria, Ai langsung melihat ke arah Lea. Tidak ada yang salah dari penampilannya, tapi tetap saja menjadi pusat perhatian.
"Aku hari ini bertemu Lea versi glamor dengan make up setebal langit ke tujuh." Kepala Juan geleng-geleng karena hanya wajah yang sama, tapi kecantikan berbeda.
"Cantik yang mana kak?" Ai duduk di samping Black.
"Pastinya ini,"
Mulut Juan membekap, Aira dan Dean langsung tertawa. Juan tidak pernah memuji wanita, berarti dia melihat Lea dengan matanya langsung bukan batin.
"Baguslah, akhirnya kamu mengakui jika aku memang cantik." Lea duduk di samping Ai.
"Siapa wanita itu?"
"Bagaimana sikapnya Kak?" Ai menatap Juan yang duduk.
Di mata Juan Imel wanita kaya raya yang kurang ajar, dan suka merendahkan. Dia juga menjijikan karena langsung mengecap seseorang sebagai miliknya.
Juan yakin dia wanita manja, dan memiliki kehidupan mewah juga apa yang diinginkan pasti didapatkan.
"Ada yang mengejutkan, namanya ada keluarga Taher. Siapa dia sebenarnya dia?"
"Dia Anggrek, bangkit lagi dia dari kubur, tapi versi jahatnya. Seharusnya mati saja daripada memiliki hati kejam." Dean ingin membantu Papinya Lea, tapi pengacara keluarga Taher menghalangi.
Saat Dean cari tahu, dia Anggrek sehingga menyudutkan pihak lain yang sudah mencelakainya hingga koma bertahun-tahun.
"Sejak kecil aku memang tidak suka dengan keluarga Taher, rasanya ingin aku musnahkan mereka. Kalian tidak ada yang terkejut, ternyata kita berdua yang terakhir tahu." Dean memukul pundak Juan yang menghela napas.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira