
Sesampainya di rumah Lea menatap dua anak kecil yang sedang bermain sepeda, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah memilih menghampiri keduanya.
"Kenapa kalian bertengkar?"
"Bukan urusan kamu," balas Mora kesal.
"Maaf, Kakak hanya bertanya,"
Mora dan Mira langsung pulang, meninggalkan Lea yang tertunduk sedih karena tidak bisa mengingat nama keduanya.
Panggilan Juan terdengar, meminta Lea segera masuk. Maminya menunggu di dalam bersama Papinya.
"Mami sama Papi ada di rumah?"
"Mami tahu kalian akan pulang, lihat pemberitaan yang heboh karena kepulangan Aira." Tangan Mami menunjuk ke arah televisi.
Tawa Lea terdengar, menyalami Aliya dan Altha langsung duduk melihat pemberitaan. Ada beberapa wartawan yang menyebutkan nama Blackat.
"Black pasti sangat dicintai oleh penggemar, sayang dia pergi begitu cepat," ucap Lea dengan perasaan sedih.
Hanya senyuman yang diperlihatkan, Aliya mengenggam tangan Lea memintanya berhenti mengikuti Aira.
"Mami, Ai akan mengumumkan keputusannya untuk meninggalkan dunia entertainment. Lea sudah berusaha menghentikannya, tapi tidak mengubah keputusan Ai," Lea menjelaskan jika kembaliannya mereka akhir dari karier Aira.
"Kenapa Aira memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya?" Papi juga merasakan penasaran karena sangat tahu perjuangan Aira ingin menjadi aktris.
Diamnya Lea membuat Juan langsung menegurnya, tidak harus tahu alasan Ai kembali. Keputusannya sudah menjadi yang terbaik.
"Kapan kalian berdua akan menikah?" Al menatap Putranya yang kaget.
Senyuman Lea terlihat, dia ingin segera menikah. Sudah lelah dengan panggilan dari Juan tidak berkesudahan.
"Bukannya yang akan menikah Dean dan Aira? kenapa tiba-tiba harus Juan?"
"Kenapa Kak Juan bicara seperti itu? tidak ingin menikahi Lea, ya sudah putus saja. Berarti Lea sudah bisa mencari pacar baru." Tatapan sinis Lea terlihat, wajahnya yang licik seperti dahulu muncul.
Al menahan tawa melihat ekpresi Lea, dia meminta dinikahin bukan hanya menjadi pajangan yang hanya berstatus tidak jelas.
"Enak saja,"
Kepala Altha menggeleng, dia tahu jika Juan masih merasa dirinya terlalu muda untuk menjadi seorang suami.
Hentakan kaki Lea terdengar, menjawab panggilan soal tawaran pekerjaan untuk Aira. Teriakkan Lea terdengar membuat Altha dan Juan tersentak kaget.
"Sialan kalian!"
__ADS_1
"Astaghfirullah Al azim, belum berubah juga ini perempuan mudah emosi. Bisa jantungan lama-lama." Altha memegang dadanya yang berdegup kencang.
Suara Lea marah terdengar, dia tidak akan menerima pekerjaan apapun selama masa libur. Ai tidak terkontrak karena kontrak sudah habis, juga menolak melanjutkan kontrak.
"Lea, jaga ucapan kamu," tegur Juan dengan suara pelan.
Mata Lea menatap sinis, langsung menuju kamarnya Aira untuk beristirahat. Al hanya menutup wajahnya menahan tawa melihat Lea yang dua tahun di luar negeri semakin emosian.
"Juan, ku tidak ingin mencari calon baru?"
"Apa si Papi, kepala Juan sudah pusing ditambah lagi." Juan bergegas ke lantai atas untuk menemui Lea.
"Kepala kamu pusing karena kelamaan pacaran, usia kamu sudah dua puluh dua seharusnya menikah. Tika usia dua puluh menikah dua satu punya anak." Alt berteriak meminta Juan menerima perjodohan saja.
Al menatap lantai atas, Lea hanya kehilangan ingatannya bukan karakternya. Dia masih orang yang sama, namun sekitanya yang asing.
Perdebatan keduanya terdengar, Lea memaksa meminta putus karena Juan tidak ingin menikahinya.
Suara mobil Aira tiba terdengar, Isel langsung keluar membawa ikannya dan dimasukan ke dalam kolam. Aira hanya bisa geleng-geleng melihat kolam berenang berubah menjadi kolam ikan.
"Argh, sialan kalian berdua!" Isel melempar Mora dan Mira yang berenang di dalam kolamnya menangkap ikan untuk kucing.
"Ampun Kak, mimuw belum makan, minta satu." Mora menggendong ikan membawanya pulang.
Aira hanya tertawa melihat si kembar beda rahim masih saja nakal, Mira berlari membawa banyak ikan pulang.
"Berapa banyak ikan di sini?"
"Hitung saja, selama dua tahun." Lea melempar makanan ikan.
Ribuan ikan langsung bermunculan, ada banyak ikan berkumpul. Isel memelihara setiap ikan hasil memancing.
"Gila, banyaknya," kagum Aira melihat hobi baru Isel.
"Aku masuk duluan, ingat ucapan Isel jangan pernah terima pernikahan dengan Uncle." Isel langsung berjalan ke dalam rumah untuk mandi.
Ai juga melangkah pulang, mendengar suara Mora dan Mira yang sibuk bermain dengan kucing dalam keadaan baju basah.
"Mimor, apa yang sedang kalian lakukan? badan kalian kotor." Ai melangkah mendekat.
"Selamat datang Kak Ai, lihat mimuw sedang makan ikan punya Kak Isel." Tawa Mora dan Mira terdengar.
"Darimana kalian mendapatkan kucing itu?"
"Uncle," jawab keduanya serempak.
__ADS_1
Panggilan dari Lea masuk, Ai langsung menjawabnya. Suara kedua anak kecil berlari terdengar karena mamanya berteriak meminta masuk.
Aira juga bergegas pulang, menatap Mami dan Papinya yang masih menonton pertengkaran Juan dan Lea yang sudah membahas pekerjaan.
"Mami Papi, kenapa mereka berdua?" Aira memeluk Papi dan Maminya.
"Bertengkar gara-gara Lea ingin menikah sedangkan Juan masih ingin menyelesaikan proyek yang sedang berjalan." Kedua pundak Altha terangkat.
"Sudahlah Lea, terima saja cinta bule kemarin. Dia siap menikahi kamu, Aira mendukung hubungan kalian,"
Juan menuruni tangga, mendekati Aira yang tersenyum melihat Kakaknya kesal. Lidah Aira terjulur mengejek kakaknya.
"Siapa laki-laki itu?"
"Mau Aira kenalkan, dia tampan juga mapan. Selama dua tahun mengejar cinta Lea,"
"Ya sudah putus saja, silahkan menikah dengan pria lain." Juan mengambil kunci mobilnya ingin pergi.
Suara benturan keras terdengar, Lea berteriak kuat membuat Aira dan Juan berlari kencang menatap Lea memegang kepalanya.
Pelukan Juan langsung erat, tangan Lea gemetaran melihat barang jatuh dan pecah. Aira meminta Lea minum untuk menenangkan diri.
"Kenapa aku jahat sekali?" Lea menceritakan jika dia menabrak seseorang.
"Itu hanya halusinasi sayang, sudah jangan dipikirkan. Ingat pesan Dokter jangan paksa mengingat apapun, hilangnya ingatan karena kamu yang memutuskan untuk melupakannya." Aliya meminta Lea membuang pikiran apapun, dia cukup menjalani kehidupan yang saat ini ada di depan matanya.
Kepala Lea mengangguk, langsung duduk di pinggir ranjang mencoba menenangkan pikirannya. Ai merangkul Lea yang matanya tiba-tiba menatap kosong.
Ada kegelisahan, kekhwatiran dan kecemasan. Ai yakin jika Lea tahu kebenaran soal Black akan semakin menyakitinya.
"Minum obat dulu,"
"Apa aku kembar?" Kening Lea bekerut menatap Juan yang mengusap tangannya.
"Jangan dibahas lagi, tidak penting. Lebih baik kamu mandi dan istirahat." Senyuman Juan terlihat mengusap kepala Lea yang cemberut.
"Lea lapar,"
"Kamu tidak bisa masak, tapi hobinya makan." Al menggelengkan kepalanya.
Tawa Lea terdengar, memeluk Al meyakinkan calon mertuanya jika dirinya mulai bisa masak, meskipun hasilnya tidak maksimal.
***
Di sini ada yang baca novel SALAH KAMAR OM!
__ADS_1