
Pintu gerbang rumah terbuka, Bian melangkah masuk ke dalam rumah mewah. Ada banyak orang yang menunggu kedatangan Bian.
Sambutan kedatangan Bian begitu meriah, senyumannya terlihat menatap beberapa pejabat dan orang-orang penting.
"Kalian tidak perlu datang, ini sangat berlebihan." Bian tersnyum kecil mengambil segelas minuman langsung meneguk habis.
Suara tepuk tangan terdengar, pemberian selamat atas kebebasan terdengar, tapi Bian tidak menyukai sambutan karena orang yang dia harapkan tidak menyambut baik kepulangannya.
"Tuan Bian, selamat datang." Glora berlari memeluk erat Bian yang langsung mendorong tubuhnya.
Acara minum berlangsung sampai tengah malam, Bian tidak banyak bicara bahkan engan menimpali segala ocehan soal bisnis baru yang segera di jalankan.
"Aku rasa kalian semua harus pergi, aku membutuhkan istirahat." Bian memejamkan matanya karena kepalanya pusing setelah menghabiskan beberapa gelas.
"Baiklah Tuan Bian, selamat istirahat." Banyak orang yang membungkukkan kepala memutuskan untuk pergi.
Hanya tersisa Bian dan Glora yang masih duduk berhadapan karena Bian menolak di dekati oleh wanita murahan.
"Kamu tidak ingin mengatakan apapun aku yang membuat kamu bebas," ujar Glora penuh percaya diri menatap Bian yang tertawa kecil membuka matanya.
"Apa kamu berpikir aku berhutang nyawa?" tanya Bian kembali dengan wajah dingin.
"Setidaknya kamu masih setia setelah kamu mencampakkan aku," balas Glora yang nampak angkuh.
Anggukan kepala Bian pelan, di tidak pernah menyakiti istrinya jika para istri mampu menjaga perasaannya dan kepercayaannya, tapi apa yaang Bian lakukan hanya sebagai hukuman.
"Dunia menyalahkan aku menyakiti mereka, hingga aku pelaku dan mereka korban, tanpa ada yang tahu di sini aku korban. Saat cinta aku tulus, mereka semua berpaling dan berkhianat melarikan diri, apa salah aku menyiksa dan menghukum seorang pengkhianat?" Bian selalu menjaga pandangan dan hatinya untuk satu wanita, tapi jika dia dikhianati maka penyiksaan secara tragis yang di terima.
Tidak ada jawaban dari Glora, dia juga mengkhianati Bian karena hasrat Bian yang berlebihan dan tidak memberikan waktu bebas juga beristirahat sehingga menimbulkan kebosanan.
"Kita perbaiki hubungan kita Bian, aku berjanji kali ini akan menjaga cinta kita." Glora menatap Bian yang geleng-geleng menolak.
__ADS_1
"Aku mencintai wanita lain, kamu sudah tidak aku butuhkan lagi." Bian menatap wanita dihadapannya dengan tatapan jijik.
"Aku akan memperbaiki diri, aku mencintai kamu karena itu membebaskan dan melakukan segala cara agar kamu tidak ditahan lagi." Cepat Glora mengejar Bian yang melangkah ke kamarnya.
Tangan Bian ditarik, satu tangan langsung mencekik leher Glora. Menyentuhnya sama saja mengantarkan nyawa, Bian tidak peduli siapa yang menyelamatkan sekali pengkhianat maka tidak akan pernah baik di matanya.
"Sekalipun kamu mati tidak akan mengubah perasaan aku, sekali kotor maka air suci pun tidak bisa mensucikan." Tubuh Glora didorong kuat sampai terjatuh, kaki Bian menginjak tangan sampai Glora teriak histeris.
"Sakit Bian, aku membebaskan kamu bukan untuk di siksa, ingat jika aku yang sekarang berkuasa karena kamu menyerahkan semuanya kepadaku," teriakan kuat terdengar mmebuat Bian melangkah mundur.
Manusia licik tidak akan pernah berubah menjadi baik, penyesalan terbesar Bian pernah mencintai sekian banyak wanita berharap ada satu saja yang memperdulikannya dan mendukungnya sehingga menemukan keluarga juga bahagia.
Sampai puluhan cinta tapi tidak mampu mengubah apapun. Manusia hanya tergila-gila dengan harta dan bukan cinta.
"Apa yang bisa kamu lakukan, wanita rendah dan hina. Aku bisa melenyapkan kamu dengan mudah, jangan menantang aku Glora." Bian melangkah pergi menuju kamarnya karena membutuhkan istirahat.
Teriakan Glora terdengar, membanting barang yang ada dihadapannya hingga hancur berhamburan.
"Aku akan membuat kamu kembali mencintai, kita hanya salah paham. Aku tidak pernah berkhianat, tidak juga mendua." Glora akan membuktikan jika dirinya benar dan Bian yang salah paham.
Kabar Bian jatuh cinta mengusik Glora, wanita yang Bian temui sebelum pulang pasti seseorang yang dia inginkan menjaadi istrinya kesekian kalinya.
"Siapa wanita itu, aku haus menghentikannya sebelum semakin jauh. Bian tidak boleh menikahinya sehingga seluruh kekayaan Bian bisa jatuh ke tangannya." Glora meminta seseorang menemukan wanita terakhir yang Bian cintai.
Seorang wanita Bar, memiliki wajah yang sangat cantik namun menolak cinta Bian secara langsung. Kabar yang mengejutkan Glora, wanita yaang dicintai Bian istri orang.
"Kenapa Bian mencintai istri orang, apa selera dia sudah berubah?" Glora berlari ke arah kamar Bian yang sedang menatap foto seseorang.
Tatapan mata Bian tajam, tidak suka melihat Glora yang masuk ke dalam kamarnya tanpa izin.
"Kenapa kamu mengejar istri orang, wanita itu sudah menikah Bian?"
__ADS_1
"Aku mencintainya lebih dulu sebelum dia menikah, pernikahan seumur jagung tidak akan bertahan lama." Bian yakin dengan dirinya bisa merebut cintanya dari orang yang lebih dulu merebut.
Sejak awal Bian sudah memilih, tapi Dean datang menikahnya maka tugas Bian harus mengambilnya kembali karna sejak awal dialah pemiliknya.
"Obsesi kamu tidak jelas, ingat Bian jika aku yang tulus mencintai kamu , sedangkan wanita itu mencintai suaminya." Glora meminta Bian sadar jika pilihannya salah.
"Apa salah jika aku mencintai istri orang?"
"Tentu salah karena dia tidak mencintai kamu, apalagi kamu seorang penjahat."
Tawa Bian terdengar, dirinya sudah berubah bukan Bian yang dulu lagi. Bian rela menyerahkan diri kepada polisi agar bisa menjadi orang baik, jangan salahkan dirinya bebas, tapi salahkan kepolisian yang membebaskan.
"Aku akan menjadi orang baik demi Isel, aku akan menjadi lelaki terbaik yang akan mencintai dan melindunginya." Senyuman Bian terlihat dia rela kehilangan harta dunia demi bisa mendapatkan cintanya.
"Kamu akan kehilangan harta dunia, dan kehilangan cinta. Sadarlah Bian sebelum terlambat." Glora memeluk Bian erat, menangkup wajahnya agar sadar.
"Aku mencintainya, bahkan aku rela mati demi dirinya. Aku sangat mencintai Isel, aku bisa gila tanpa dia," teriak Bian sangat besar menampar Glora agar lenyap dari hadapannya.
Aira mata Glora menetes karena Bian sangat tidak tahu diri, perjuangan Glora membebaskan tidak dihargai sama sekali. Bian tetap pada pendiriannya yang mengiginkan istri orang padahal dia bisa mendapatkan cinta dari orang yang mencintainya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu bersatu dengan wanita itu, tidak akan." Bian menggelengkan kepalanya karena kesal dan kecewa.
Pintu kamar ditutup kuat, Glora melangkah pergi untuk mencari tahu siapa wanita yang Bian inginkan, sebelum hubungan keduanya jauh maka harus segera dihentikan.
"Siapa nama wanita itu?" tanya Glora kepada pelayan Bian yang menemaninya.
"Istri dari Jaksa yang mencoba menahan Tuan Bian," ujar pelayan.
"Dean Dirgantara, apa istrinya? Glora kaget karena Bian sangat berani berurusan dengan Dean kembali.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira