
Mata Isel terpejam, hanya duduk diam di tengah keluarganya yang sedang makan malam bersama.
"Kenapa kamu?" Ian menegur adiknya, merasa aneh dengan tingkahnya.
"Pa, tepati janji Papa untuk mengizinkan Isel menikah?" permintaan Isel terlontarkan di depan kelurga besarnya.
Mendengar Putrinya menagih janji, Gemal menghentikan makannya. Dirinya sudah siap dengan keinginan Isel menikah muda, sebagai seorang Ayah yang dipercaya Putrinya, Gemal akan menuruti jika lelaki yang Isel inginkan sesuai harapannya.
Papa katakan iya, tapi siapa lelaki itu?" tanya Gemal tidak ingin putrinya salah memilih.
"Sayang, kamu belum pernah memperkenalkan siapapun di rumah ini." Mommy Anggun meminta Isel membawa lelakinya terlebih dahulu, dia tidak boleh memaksa jika tidak sesuai.
"Kalian semua mengenal dia, bahkan seseorang yang sangat dekat." Jntung Isel berdegup kencang, dia sudah tahu jawaban dan konsekuensi perbuatannya.
"Siapa?" Mama Di menarik pundak putrinya.
Kepala Isel yang tertunduk dalam langung terangkat, melihat Dean yang baru bergabung karena pulang terlambat.
"Kenapa semuanya tegang, ada masalah?" Dean langsung duduk di samping Isel yaang tangganya gemetaran.
Kening Dean berkerut, menggenggam tangan Isel meminta semua orang tidak mengintrogasi jika Isel tidak ingin bicara.
"Ada apa Sel, kenapa tangan kamu dingin sekali?"
"Tolong izinkan aku menikahi Uncle Dean." Permintaan yang Isel tau akan mendapatkan penolakan keras.
Tangan Dean yang memegang langsung lepas, dia berdiri dengan wajah terkejut juga tidak suka, bukan hanya Dean yang berdiri namun Gemal dan Dimas juga berdiri terkejut, hanya Kakek Calvin yang masih duduk tenang.
Suasana hening, cuaca yang dingin berubah panas karena permintaan Isel tidak bisa diterima akal sehat.
"Bercanda kamu tidak lucu Sel," ucap Dean merasa sangat kecewa.
__ADS_1
"Kenapa Uncle, aku mencintai Uncle selama ini, apa Isel salah pada kenyataan kita bukan kandung? satu hal lagi tepati janji Uncle akan mengabulkan keinginan Isel dua tahun lalu." Tatapan mata Isel serius, dia bicara setelah berpikir beribu kali.
Tawa kecil Dean terdengar, dia tidak peduli hubungan darah karena di mata Dean keponakannya hanya gadis kecil kesayangannya bukan seorang wanita layaknya hubungan dewasa.
"Mama anggap tidak mendengar ucapan kamu,' ujar Diana yang tidak bisa terima jika putrinya mencintai Adiknya.
Meskipun Diana hanya anak angkat, tetap saja dia menganggap Dean adik kandungnya,, tidak ada pembatas antara mereka.
"Buang pikiran kamu Sel, jangan meruntuhkan kebahagiaan dan keharmonisan keluarga ini." Gemal bicara sangat tegas jika dia tidak akan mengabulkan keinginan Isel dengan alasan apapun.
Pertama kalinya permintaan Isel tidak masuk akal, apapun masalahnya seharusnya di tidak menyebut Dean menjadi daftar pilihannya.
"Kalian semua menentang, apa alasannya?"
"Sel, ingin kamu panggil apa orang tua Dean, bagaimana hubungan aku dan Dean? Jika kamu menginginkan sesuatu pikirkan perasaan orang lain." Air mata Diana menetes karena tahu putrinya tidak bohong kali ini Isel bicara sangat serius.
Senyuman Isel terlihat, dia terima semua orang menentang karena Isel tidak bisa menghentikan perasaan. Dua tahun dia menahan perasaan dan berusaha menyembunyikan.
Sakit bagi yang mendengarnya, tapi Isel jauh lebih sakit memendamnya selama dua tahun berusaha menganggap keinginannya gila, tapi Isel gagal melarikan diri.
"Aku juga tidak akan menyetujuinya, tidak akan pernah." Gemal akan menganggap Isel tidak pernah mengatakannya.
Semuanya kembali duduk, tidak ada satupun yang membela Isel seperti sebelumnya, bahkan Dimas dan Anggun juga menggelengkan kepala.
Air mata Isel menetes, ternyata rasa sakitnya berkali-kali lipat lebih sakit dari yang dirinya bayangkan selama ini.
Isel berpikir dirinya sudah kuat, namun ternyata tidak sama sekali, kedua kakaknya juga melarang dan tidak sependapat. Tidak ada satupun orang yang memahami perasaanya.
"Makanlah sayang, kamu pikirkan lagi jika apa yang dilakukan keluarga demi kebaikan kamu." Mam Jes menahan air mata melihat Isel menangis.
"Papa ingkar janji setelah Isel membuktikan jika aku mampu, Uncle juga ingkar janji karena menolak secara langsung. Seharusnya kalian tidak membuat janji, aku memiliki harapan dan berjuang untuk menepatinya karena aku berharap bisa menggunakan kesempatan itu." Suara Isel gemetaran karena rasanya sangat sakit dan mematahkan hatinya.
__ADS_1
Tidak ada satupun orang yang merespon ucapan Isel, tidak ada yang meliht ke arahnya karena hanya dirinya yang tidak normal.
Senyuman Isel terlihat, mengusap air matanya langsung berdiri dari duduknya melangkah pergi dari ruangan makan yang begitu dingin tidak ada kenyamanan lagi Isel.
Di kamarnya Isel memasukkan pakaian ke dalam koper, dia ingin menepat di luar negeri untuk mengobati rasa sakitnya, berharap lukanya bisa sembuh dan tidak membebani siapapun.
"Sel, kamu baik-baik saja?" Angga lari dari rumahnya saat tahu Isel mengakui perasaanya.
"Isel ditolak Uncle," balas Isel dengan senyuman namun menetes air mata.
Angga langsung memeluk sel, dia sudah lama tahu soal perasaan Isel, namun tidak pernah bisa menghentikan.
"Isel harus siap dengan konsekuensinya, Uncle sudah katakan dari awal kamu akan terluka." Angga mengusap air mata Isel yang terus menetes.
Aira yang baru tahu cukup terkejut, dia sependapat dengan keluarga. Hal yang sangat mustahil Isel dan Dean menikah.
Keputusan Isel untuk keluar rumah tidak dihentikan oleh siapapun, sejak dulu Isel selalu mengancam akan pergi dari rumah jika keinginannya tidak dikabulkan.
"Pa, Isel kembalikan seluruh aset yang aku gunakan, kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku. Mama, tarik semua bawahan Mama untuk tidak mengawasi Isel," ujar Isel yang mengembalikan seluruh kartu milik keluarganya, Isel hanya pergi membawa apa yang dia hasilkan dengan keringatnya.
"Apa kamu harus melakukan sejauh ini, apa tidak ada harga dirinya keluarga ini di mata kamu?" Gion menahan tangan adiknya.
"Biarkan dia pergi Gion, jangan ada yang mengawasinya. Lakukan apapun yang dia inginkan, sampai apapun aku tidak akan merestui kamu." Gemal memalingkan wajahnya tidak ingin melihat Isel pergi.
"Semuanya Isel pergi, jaga diri kalian." Senyuman Isel terlihat langsung menarik kopernya untuk melihat dunai luas.
Langkah Aira mengejar meminta Isel memikirkan kembali, dia tahu rasanya hidup dengan dana pribadi tidak akan mampu mencukupi kehidupan mewah Isel di luar rumah.
"Kak Ai tahu rasanya patah hati, gula yang manis juga berubah pahit. Aku belum dewasa dan ingin menyiksa diri dengan hidup susah, tolong pinjamkan aku uang jika aku butuh. Sementara aku akan berhenti menjadi penggemar kalian." Isel berjalan kaki keluar dari rumah mewah keluarganya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira
***