SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PERASA


__ADS_3

Bunyi high heels terdengar di lorong rumah sakit yang sepi, dua wanita cantik berjalan bagaikan model yang sedang berjalan di panggung.


"Ini or ini?" tangan Tika menujuk ke arah dua kamar.


"Maaf Kak, itu kamar mayat." Vio yang mengikuti dua wanita cantik tarik napas panjang.


Suara langkah berlari kencang terdengar, lupa dengan high heels langsung dilepas lari meninggalkan Vio.


"Keluarga aneh," gumam Vio mengikuti keduanya.


"Sebenarnya kamar Isel di lantai berapa?" Tika memegang jantungnya.


"Kenapa kita berlari?" Shin menatap sinis menunggu wanita yang menegur sebelumnya.


Senyuman Vio terlihat, merasa lucu dengan dua wanita yang dianggap ahli dalam pertarungan.


Senyuman manis Tika dan Shin juga terlihat, mengikuti Vio yang akan mengantarkannya ke kamar Isel.


"Silahkan Kak ini kamar Isel?" Vio menghentikan langkahnya.


"Tujuan kita bukan ingin menjenguk Isel," balas Tika dengan nada manja.


Vio langsung paham, kasus kecelakaan yang menimpa Isel pasti sedang diselidiki. Vio juga sama emosinya karena orang yang melukai sahabatnya sampai kehilangan anak.


Kemarahan sangat terlihat di wajah Vio, menceritakan kejadian yang menimpa Isel juga Dean.


"Kamu tahu siapa pelakunya?" Tika duduk menatap Vio yang berdiri dihadapannya.


"Iya, kasus ini ada sangkut-pautnya dengan Bian. Dia orang yang menyebabkan kecelakaan dibantu oleh seorang wanita bernama Glora." Penjelasan Vio sangat detail, dia akan membantu Tika menangkap Glora dan Bian sekaligus.


Kepala Isel mengangguk, semakin banyak orang hebat maka akan jauh lebih cepat untuk mengungkap semuanya.


Bibir atas Shin terangkat, berjalan masuk ke arah kamar rawat Isel. Hanya ada Dean dan Isel karena yang lainnya pulang ke apartemen.


Lama Shin berdiri diam melihat ke arah sepasang suami istri yang sedang lelap tidur. Kesalnya Shin karena tidak ada satupun yang berjaga setidaknya ada pengawal, bukan orang asing yang mengawasi.


Dean terbangun melihat ekspresi Shin yang nampak kesal dan ngedumel di dalam hatinya.


"Kapan datangnya Kak Shin? Mommy dan Kak Di pulang ke apartemen," ucap Dean memberitahu sebelum Shin bertanya.

__ADS_1


"Di mana Kak Gem dan Daddy?" Shin menarik kursi duduk di hadapan Dean.


Jari telunjuk Dean berada di bibirnya agar Shin tidak menganggu tidur Isel. Dia baru saja diperiksa dokter untuk memastikan rahimnya.


"Siapa wanita yang berjaga di luar sana?"


"Vio, dia sahabat Isel. Polisi yang membantu aku di sini, tapi sekarang dia pindah tugas bersama Ghion." Dean tidak tahu pastinya soal tugas baru Vio, tidak ingin tahu juga karena bukan urusannya.


"Apa wanita itu bisa dipercaya?"


Kepala Dean mengangguk, dia mempercayai Vio karena Isel begitu dekat dengannya dan sudah bersahabat sejak lama.


Dean tercengang melihat Shin keluar kamar padahal penjelasan belum selesai. Dean hanya bisa geleng-geleng.


"Shin, kita cari keberadaan Glora, Vio bisa membantu kita menemukannya." Tika sangat bersemangat sudah lama dirinya tidak bertarung berharap kali ini lawannya sangat imbang.


Tatapan mata Shin membingungkan Tika, dia paham ekspresi Shin jika meragukan seseorang. Tika sudah bersamanya hampir seumur hidup, dan tahu arti dari tatapan mata tajam Shin.


"Kalian pergi saja berdua, aku akan berjaga sampai Kak Di kembali."


"Baiklah, kamu hati-hati bisa saja Glora mengirim orang jahat untuk menyerang." Tika menepuk pundak Shin kuat, untuk bagi tugas.


"Firasat aku mengatakan dia tidak akan ditemukan karena ada seseorang yang menyembunyikan." Tawa kecil terdengar, membiarkan Tika mengalihkan perhatian.


Shin menghubungi Diana menanyakan kamar Bian, dia ingin menyapa yang mengucapkan turut berdukacita.


Dari jauh Shin melihat seorang pemuda yang lebih tua darinya melangkah mendekat, panggilan belum terjawab langsung dimatikan.


Bian datang sendiri kepadanya, tidak tahu apa tujuan Bian terpenting dia sangat tidak berdaya.


"Hai Bian, kamu mengenal aku?" Shin berdiri di hadapan pria yang berjalan menggunakan tongkat.


"Jangan halangi aku kita tidak ada urusan?"


"Sorry, aku menghalangi jalan kamu, tapi apa kamu mengenal Vio?" Shin duduk di ruang tunggu membiarkan Bian berjalan melewatinya.


Langkah Bian terhenti, pandangannya melihat ke arah wanita cantik yang terkenal sebagai koki. Kekayaan Shin juga tidak diragukan lagi karena sudah hidup mewah sejak kecil.


"Kamu siapa selain sebagai koki cantik juga kaya raya?"

__ADS_1


Tawa Shin terdengar, langsung menutup mulutnya tidak ingin Dean mendengar pembicaranya.


"Aku tidak ada sangkut-pautnya dengan kecelakaan Isel, jika kamu ingin menyelidiki maka cari keberadaan Glora. Flat mobil terdaftar sebagai milikku." Bian menatap ke arah pintu ruangan Isel melihat Dean tidur satu ranjang bersama Isel.


"Menemukan Glora terlalu mudah, tapi aku lebih suka jalan yang sulit agar lebih menantang. Daripada mengurus Glora, aku lebih tertarik dengan Vio. Bagaimana dia bisa sampai di tempat ini begitu cepat padahal dia seharusnya ada di perbatasan bersama?" Kepala Shin geleng-geleng mengambil ponselnya menghubungi Ghion menanyakan keberadaan saat tahu informasi kecelakaan Isel.


Senyuman Bian terlihat, dia sangat menyukai wanita cerdas. Diana benar akan ada ahlinya, kasus Isel bukan kecelakaan biasa.


"Kenapa kamu tidak menuduh aku, bisa saja aku melarikan diri," ujar Bian yang duduk di samping Shin.


Senyuman sinis terlihat, terlalu mudah bagi Shin menemukan Bian. Dia juga dulu seorang petarung yang hebat juga memiliki banyak musuh yang kuat.


"Aku juga orang jahat, aku selalu gagal."


"Penjahat taubat jauh lebih baik, daripada penjilat." Shin menarik napas panjang, mendengarkan keberadaan Tika.


"Kamu memiliki sahabat, mengapa kamu memilih bersahabat, apa tidak takut dikhianati?"


Kepala Shin mengangguk, tentu dirinya takut. Pengkhianatan hal yang paling mengerikan dalam hubungan apapun, tanpa terkecuali persahabatan.


Meksipun sudah menemukan kebahagiaan masing-masing, Shin tidak pernah bisa percaya melepaskan sahabatnya sekalipun tahu kemampuannya.


"Bian, jika kamu ingin tetap kuat jangan pamerkan apa yang kamu miliki, tapi jatuhlah maka kamu akan melihat siapa saja yang membantu, bahkan merangkul." Shin menatap mata Bian, bisa merasa perasaan penuh kecewa yang terpancar dari wajahnya.


Kepala Bian mengangguk, dirinya tidak memiliki jalan untuk menemukan tujuan hidupnya. Kemewahan tidak membuatnya bahagia, Bian masih saja haus kasih sayang.


"Keluarlah dari rumah sakit ini, berjalan lurus pas bertemu jalan maka berdiri di tengah jalan, pikirkan jalan kamu di sana. Pilih mati atau hidup."


"Bagaimana jika aku pilih mati?"


"Kamu melibatkan orang lain dalam masalah, ujian hidup kamu juga menjadi ujian hidupnya meskipun tidak sengaja menabrak dirinya tetap pembunuh." Senyuman Shin terlihat karena Tika tidak lelet seperti dulu, indera perasaan mulai peka, Shin juga penasaran dengan Vio.


Terlibat ataupun tidak, siapapun akan berada di daftar hitam selama mengusik salah satu keluarga apalagi sampai hilang nyawa.


***


follow Ig Vhiaazaira


***

__ADS_1


novel ini update lambat karena ada kendala, pindah ke cerita GHIANDRA terlebih dahulu ya. Judulnya ASISTENKU GADIS BUTA


__ADS_2