SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
ASMARA AURA


__ADS_3

Suara tangisan Mami Aliya terdengar tidak kuasa bertemu Aira karena tidak bisa mendampingi putri gilanya.


Dar dalam kamar Aira sudah tersenyum mendengarkan suara Maminya menangis ketakutan jika putrinya tidak tertolong.


"Mami, Ai baik-baik saja. Dia sudah bertengkar dengan anaknya." Juna memeluk Maminya yang masuk ke dalam ruangan.


"Kenapa Mami menangis?" Ai merentangkan tangannya .


Aliya memeluk erat Aira tidak kuasa menahan rasa kecewa karena tidak bisa mendampingi, sedangkan anak yang lain Al selalu menjadi yang pertama.


"Alhamdulilah Nak kamu baik-baik saja, Papi rasa hampir jantungan saat melihat tayangan Angga mengazani anaknya." Alt mengecup putrinya yang hanya tertawa kecil.


Suara tangisan haru terdengar, Aira juga meneteskan air matanya. Dirinya bahagia bisa ada di antara keluarga hebat yang saling menyayangi.


Mommy memeluk Putranya memberikan selamat kepada Putranya yang akhirnya menjadi orang tua.


"Mommy jangan sedih, bukan tidak mengabari selain waktu, Angga juga panik tidak sempat berpikir ingin lari atau menghubungi siapa. Melihat Aira pendarahan tidak mungkin Angga tinggalkan ke rumah siapapun, saat itu prioritas aku hanya Aira." Angga membungkukkan tubuhnya meminta maaf kepada para orangtua yang sedih karena tidak bisa mendampingi.


Kepala Papi menggeleng, memeluk erat menantunya yang sudah melakukan tindakan paling benar, sebagai orang tua baru pastinya dalam keadaan panik. Angga melakukan tindakan paling benar memprioritaskan Aira.


Suara ribut terdengar, seluruh anggota keluarga datang langsung berlari melihat bayi yang sudah tidur setelah mengamuk tidak mendapatkan susu.


"Mana adik bayinya?" Mora menatap kagum melihat kecantikan bayi baru lahir.


"Mama, Ajun dulu seperti ini juga?" tangan Ajun menyentuh wajah si kecil yang bergerak setelah tubuhnya dipegang.


"Kamu laki-laki, dia perempuan pastinya beda, lebih baik kamu menyingkir, laki-laki mulutnya mirip perempuan. Cepat pergi sebelum aku tendang." Mira mengambil tempat duduk Adiknya yang melangkah pergi dengan mata berkaca-kaca.


Lea memberikan ponsel kakaknya yang memiliki seribu panggilan sampai handphonenya eror ulah Aira yang memberitahukan kehadiran anaknya sebelum agensi mengumumkan.


"Sayang, aku ke ruangan Kak Juna dulu untuk ikut meeting online di perusahaan.' Angga mengecup kening istrinya yang mengangguk pelan.


"Siapa namanya adik bayi Uncle?" Hasan menghentikan langkah Angga.


Kepala Anga menoleh kearah putrinya, tersenyum melihat kepada Aira yang sudah mempersiapkan nama untuk anaknya.


"Tanya Aunty sayang," ujar Angga meminta Aira menentukan nama yang paling pas.


"Namanya Mai," pinta Mira.


"Mei, tidak suka May," balas Mora.

__ADS_1


Aira meminta keduanya idak memberitahu nama sesuka hati, Ai sudah menyiapkan nama, tidak akaan mengambil nama Mei ataupun May apalagi Mai.


"Siapa nama si cantik ini?" Shin menggendong bayi yang terbangun karena banyaknya suara.


"Namanya Anggi ...."


"Anggota?" balas ajun memotong pembicaraan membuat Aira melotot.


Tangan Genta menutup mulut Ajun agar diam dan tidak memotong ucapan orang tua. Nama yang disiapkan pasti sudah melewati persetujuan.


"Siapa namanya Ai?" Altha ingin tahu nama cucu kesembilannya.


"Asmara Aura Dirgantara, dipanggil Aura." Ai tersenyum melihat Andri duduk mendekat.


Semuanya langsung diam menatap si kecil yang memiliki nama indah, berharap bukan hanya namanya yang indah, tapi memiliki aura baik sehingga membuat nyaman sekitarnya.


"Nama yang cantik, Aliya, Aira dan Aura." Shin mengecup hidung mancung yang mirip Pipinya.


"Kenapa aku yang Tika?" wajah Tika cemberut karena dia sendiri yang tidak ada teman.


"Mama jangan protes, Mira juga bingung mengapa nama kita M bukan A saja?"


"Apapun nama itu doa terbaik dari kita semua, jangan takut karena beda nama, Mira sangat spesial bagi Papa." Genta mengusap kepala putrinya.


Senyuman Manis Mira terlihat, menganggukkan kepalanya bangga kepada namanya sendiri karena sudah terlanjur.


Ketukan pintu pelan, Ian muncul diikuti Gion yang langsung heboh karena si kembar pulang setelah melihat pemberitaan.


"Di mana Isel?" Diana tersenyum melihat Isel juga muncul meskipun dengan penampilan acak-acakan.


Isel melihat arah bayi, tatapan Isel lemas langsung duduk di sofa bersandar kepada Papanya yang mengusap kepala Isel lembut.


"Hanya ada satu orang yang belum muncul, di mana Dean?" Aliya menatap semua orang yang tidak tahu keberadaan Dean.


Suara langkah berwibawa terdengar, Dean muncul membawakan bunga untuk Aira, meletakkan di lantai karena pusing banyak penggemar yang memberikannya.


"Bunga dari mana?"


"Di depan ada banyak orang menunggu kepulangan kamu, lagian kenapa meng-upload foto sebelum aman?" Dean menatap si kecil yang langsung menggendongnya.


Senyuman Dean terlihat karena kagum melihat kecantikan dari Aura, dia memiliki wajah yang sungguh mengemaskan.

__ADS_1


"Selamat datang Aura, selamat bergabung dengan keluarga ini." Dean tersenyum melihat Aira yang tersenyum manis.


"Kamu tidak menginginkannya?" tanya Ai yang kasihan melihat Dean yang memiliki kisah cinta belum berujung.


Kepala Dean menggeleng, belum waktunya dia memiliki. Jika yang maha kuasa sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin.


"Ini Mommy, bagaiman cara meletakkannya?" Dean duduk di samping Gemal yang sedang bicara serius.


Suara Isel menghela napas terdengar, wajahnya terlihat kelelahan juga stress terlalu banyak pikiran.


Menjadi dewasa sangat sulit bagi Isel, dia tidak ingin bekerja karena menguras pikiran. Dirinya jauh lebih kaya dari tempatnya bekerja.


"Kenapa kamu Sel?" Gemal merapikan rambut Putrinya.


"Isel ingin menikah saja, tidak ingin bekerja lagi," ucap Isel membuat semua orang yang ada di ruangan terdiam seribu bahasa.


Perhatian terarah kepada Isel semua, tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun karena rencana menikah Isel sudah dia inginkan sejak lama.


"Menikahlah Sel, nanti kamu didahului Mora dan Mira." Tawa Aira terdengar mengejutkan Aura yang sedang tidur di sisinya.


"Memangnya ada calonya?" Lea menatap serius Isel yang masih tetap diam.


Diana memukul punggung Isel, dia baru saja memulai karir, tetapi sudah menyerah sebelum mendapatkan hasil apapun.


"Ada bagusnya Isel menikah, setidaknya ada yang akan menjaganya. Selama lelaki itu bisa kita percaya dan menjamin kamu bahagia. Ingat Isel, masuk keluarga ini tidak mudah." Dimas memberikan peringatan kepada gadis kecil yang sangat disayanginya.


"Papa akan menjodohkan kamu dengan anaknya Uncle Dika," ujar Gemal menatap istrinya.


Kepala Isel menggeleng, dia tidak tertarik dengan dokter gadungan yang memiliki selusin pacar. Isel memiliki pria lain yang pastinya membuat semua orang jantungan.


"Mora tahu siapa," ucap Mora sambil tersenyum.


Shin langsung memukul pelan mulut Putrinya, tatapan Mora langsung tajam memukuli Maminya yang menamparnya.


"Diam, jangan ikut campur urusan orang dewasa," bentak Shin agar Putrinya menjaga rahasia.


"Siapa juga yang ingin memberitahu, Mora hanya bercanda saja." Pukulan Mora kuat ke arah Maminya setelahnya langsung lari keluar ruangan sambil teriak-teriak.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2