SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BABY GIRL


__ADS_3

Sudah jam sepuluh malam, akhirnya pesta selesai. Lea pulang ke rumah mewah keluarga Devan, membawa anak-anak bersama Shin.


Rencana menginap di hotel dibatalkan karena paginya harus ke rumah sakit, apalagi banyak anak yang harus dijaga.


"Bunda juga pulang, siapapun yang ingin menginap di hotel silahkan. Shin, Lea pulang ke rumah bersama anak-anak."


Beberapa mobil pulang ke rumah, Lea memegang perutnya yang terasa sakit, tapi masih santai memeluk Ura yang sudah tidur.


Andra dan Andri bersama Mimor yang mengambil alih untuk menjaganya, sedangkan anak-anak yang lain sudah mandiri hanya mengikuti instruksi Shin.


Sampai di rumah setengah sebelas, jarak rumah sakit membutuhkan waktu tiga puluh menit dari rumah.


"Lea sayang, kamu tidur di kamar bawah saja. Jangan naik lagi perut kamu memang kecil, tapi sudah turun." Bunda menyentuh perut Lea.


Senyuman Lea terlihat berjalan ke arah kamar yang sudah disiapkan, Shin juga meminta anak-anak istirahat.


"Kenapa Juan belum pulang apa keadaan Aira buruk? Astaghfirullah Al azim, tidak boleh berpikir begitu Lea." Tangan Lea memukul kepalanya sendiri.


Rasa kita perut Lea semakin parah, sampai berkeringat dingin. Mengambil ponsel menghubungi suaminya yang ternyata tidak membawa ponsel.


"Ya Allah, kenapa Nak?" Lea tarik napas panjang.


Ura yang tidur terbangun melihat Lea yang mondar-mandir berjalan sambil pegang perut. Menatap wajah yang penuh keringat.


"Ada apa Mama?"


"Tidak ada sayang, kamu tidur lagi." Lea tersenyum melihat Ura tidur lagi.


Kepala Lea melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas, dirinya sudah tidak bisa tahan lagi karena sakitnya sudah tidak berhenti.


Lea melihat ada air ketuban yang sudah mengalir keluar, tidak ada pilihan langsung berjalan keluar kamar mencari siapapun yang masih bangun.


"Ada apa Lea?"


"Bunda, tolong. Lea pecah ketuban, ini bagaimana?" air mata Lea menetes melihat ke bawah apalagi usia kandungnya baru tujuh bulan.


"Tenang, jangan panik. Kita pergi ke klinik sekarang." Bunda membiarkan Lea berjalan ke ruangan praktek.


Lea menatap ruangan, baru tahu jika Bunda dokter kandungan yang sudah berpengalaman.


"Tidur dulu, Bunda periksa."


Kepala Lea mengangguk, langsung naik ke atas ranjang sambil mengusap perutnya yang sakit.


"Bukaan delapan, bayi kamu ingin lahir Lea. Kita lahiran di sini saja tidak sempat ke rumah sakit." Bunda memanggil suaminya untuk menghubungi Juan agar segera pulang jika ingin melihat anaknya lahir.


Dika menatap istrinya terkejut, sebenarnya apa yang terjadi. Satu-persatu melahirkan secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa mereka kerancuan makanan sampai melahirkan semua? Apa musik membuat joget-joget sampai anaknya turun?"


"Ayolah Yah, berhenti bercanda. Hubungan Juan atau Juna, atau Tika kita tidak bisa ke rumah sakit karena ketuban sudah pecah." Pukulan Bunda mendarat dipunggung suaminya.


Melihat pertengkaran dua orang Lea langsung tertawa, meringis kembali karena perutnya sakit, Bunda sudah memasangkan infus.


"Sabar ya sayang, Ayah Dika semakin tua semakin gila."


"Tidak apa Bunda, dulu kelahiran Juan juga Bunda yang membantu persalinan?"


Kepala Bunda mengangguk, kelahiran bayi kembar pertama yang menegangkan karena ada musibah.


Bahkan Dean yang masih belum cukup bulan terpaksa dilahirkan, sejak hari itu juga hubungan dekat dengan keluarga.


"Saat itu Dean berusia tujuh atau delapan bulan, akhirnya lahir. Jadi jangan takut, insyaallah Bunda berpegalaman." Senyuman terlihat dari Dokter yang sudah memakai baju dan sarung tangannya.


Ayah Dika memanggil Juna, lama tidak ada jawaban. Setelah tiga kali panggilan baru dijawab.


"Juna istri kamu ingin lahiran," ucap Ayah Dika.


"Ini bukan Juna Yah, ini Devan. Orang ingin malam pertama masa iya disuruh bantu lahiran." Devan mematikan ponselnya.


"Salah panggil, kamu istrinya siapa?" Dika menatap Lea yang cemberut.


Bunda langsung menghubungi Tika, cepat juga dijawab meminta Tika pulang ke rumah bersama Juan karena ada hal penting.


Meminta cepat, tidak berlama-lama karena dia harus menemani istrinya, kasihan Lea yang sudah tidak kuat lagi.


Mendengar keributan, Shin keluar kamar kaget melihat Lea yang sudah pembukaan sembilan, Mimor juga berlari keluar meninggal adiknya menatap Lea yang sudah penuh darah.


"Mimor bawa Ura ke kamar kalian, Bunda, Shin bisa bantu lahiran, mungkin tapi." Shin menawarkan dirinya untuk membantu persalinan.


"Santai saja, kita tunggu dua menit lagi."


Suara mobil tiba, Ayah Dika berlari keluar melihat dua lelaki yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Mana yang nama Juan, istri kamu ingin lahiran." Ayah memaksa gerak cepat.


Juan langsung berlari masuk melihat Lea yang sudah mandi keringat. Senyuman Bunda terlihat meminta Juan tenang.


"Bunda, apa yang terjadi? usia baru tujuh bulan," ucap Juan mengenggam tangan istrinya.


"Masalah pada servis yang tidak bisa menampung berat bayi sehingga mengalami pembukaan lebih awal. Bunda melihat kondisi janin sehat dan beratnya sudah cukup." Bunda menatap Juan yang mengusap keringat istrinya, membacakan doa di kepala Lea.


Senyuman Bunda terlihat ternyata Juan mirip sekali dengan Papinya yang bisa menutupi kecemasan.


Teriakan Lea terdengar mendorong bayi keluar, mencengkram kuat tangan suaminya yang terus menyemangati.

__ADS_1


"Aw sakit," teriakan Lea terdengar.


"Satu kali lagi sayang, kamu bisa." Kecupan Dean mendarat di kening.


Shin yang melihat perlakuan Juan membuatnya terharu, beda dengan Juna yang cuek seperti batu es, tidak ada romantisnya.


Suara tangisan bayi terdengar, gerakan tangan dan kakinya terlihat membuat Juan dan Lea tersenyum sambil mengusap air mata.


"Penerus Ura, tukang mengamuk." Shin melihat jam menujukkan pukul setelah dua belas.


"Subhanallah luar biasa cantiknya, mirip sekali dengan Juan." Bunda meletakkan bayi di samping Lea.


Tangisan Lea terdengar menyentuh jari-jemari anaknya, Juan mengambil tindakan memotong tali pusat menggedong untuk dimandikan.


"Ternyata benar jika kamu profesor multitalenta, bisa memandikan bayi." Bunda selesai mengobati Lea yang sudah memejamkan matanya karena lelah.


"Andra Andri aku juga yang memandikan," jawab Juan.


"Anak kamu sudah tiga, Bunda sudah lama tidak datang ke sana."


"Keputusan baik Bunda tidak tinggal di sana, pusing Bunda." Juan memasukkan bayinya ke dalam tabung penghangat.


Senyuman Juan terlihat, mengecup tangan istrinya yang sedang beristirahat karena kehabisan tenaga setelah pesta lanjut lahiran.


"Papi, mana Mami?" Andri menatap ke dalam ruangan.


"Sudah di azan belum Juan?" tanya Juan karena tidak mendengar apapun.


"Astaghfirullah lupa," Juan balik lagi ke arah bayi yang berjenis kelamin perempuan.


Tawa Shin terdengar, dirinya sangat yakin jika Putrinya Juan nakal seperti Ura, apalagi lupa azan, tingkah lakunya mengalahkan mahluk astral.


"Mami Kenapa Uncle?"


"Andri lihat Adiknya, subhanallah cantiknya." Juna menggedong ke arah bayi.


"Subhanallah botak." Tawa Andri terdengar.


"Alhamdulillah hari ini keluarga kita kedatangan enam anggota baru, Isel, Aira, dan Lea lahiran dengan selamat." Juna menginformasikan kabar bahagia.


Bunda langsung mengucapkan Alhamdulillah, sedangkan Shin sibuk menujukkan enam jarinya karena keadaan di rumah akan semakin kacau.


***


Follow Ig Vhiaazaira


***

__ADS_1


Untung halu, coba nyata kacau.


***


__ADS_2