SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TIDAK DITERIMA *


__ADS_3

Pintu kamar terbuka, Diana meminta Aira keluar kamar. Lelaki dan perempuan dilarang berduaan.


"Bagaimana kita tidak bersembunyi? lihat dua anak itu." Tangan Aira menunjuk ke arah dua anak kecil yang duduk di tangga menatap tajam.


"Mira, Mora kalian berdua pulang dulu,"


"Kenapa kita selalu diusir?" Mira menatap sinis langsung melangkah pergi.


Diana menghentikan keduanya, melihat kaki Mira yang terluka. Memintanya duduk diam untuk diobati.


"Kenapa bisa terluka?" Black duduk mendekat memangku Mira.


"Karena Mira nakal,"


"Nanti Uncle yang akan membelikan kalian hadiah, jangan marah lagi." Senyuman Blackat terlihat, menatap senyuman anak kembar.


"Uncle ingin membelikan apa?" Mora langsung duduk manis.


Black menggeleng, namanya hadiah tentunya rahasia. Saat Black memiliki waktu dia akan memberikannya.


Kedua anak kecil langsung memeluk Blackat, Aira dan Diana saling pandang. Biasanya hanya Juan yang bisa meluluhkan keduanya, dan sanggup mengurusnya.


"Uncle, Mira punya Adik?"


"Siapa namanya?"


"Adik pertama Mira namanya Al Hasan Gentara Leondra usianya empat tahun, satunya lagi baru dua tahun namanya Ajun Gentara Leondra." Nada bicara Mira sangat lembut, menatap Balck yang terus mengangguk.


Kepala Mora menunduk, sesekali melihat ke arah lain tidak banyak bicara. Blackat tahu jika Mora tidak memiliki Adik sehingga tidak bisa membanggakannya.


"Mora jangan sedih, ishaallah nanti Mora juga punya Adik. Tangan Blackat mengusap rambut si kecil.


Tatapan mata Mora sinis, dia juga memiliki Adik. Pertama bernama Al Husein Gentara Rahendra, dan satunya berusia satu tahun bernama Arvino Gentara Rahendra.


Black melihat Aira yang langsung tertawa, Aira hanya mengingat Husein dan Hasan yang dilahirkan secara bersamaan karena mengambil hari baik.


Saat Ajun dan Arvino lahir, Aira tidak pulang. Jarang juga berkomunikasi karena terlalu banyak anggota keluarga sehingga Aira binggung.


Suara memanggil Mora dan Mira terdengar, keduanya langsung pamit pulang kepada Aira, Diana dan Blackat.


"Apa mereka hidupnya mandiri sejak kecil?"

__ADS_1


"Siapa yang mengatakan mereka mandiri? lebih mandiri adik-adiknya, menjadi wanita satu-satunya pastinya mereka berdua sangat dimanja, apalagi Papa dan Papinya." Di menjelaskan jika wanita di keluarga mereka banyak yang menikah muda juga tidak memiliki mimpi.


Berbeda dengan anak laki-laki yang harus menjadi penerus keluarga karena itu harus didisiplinkan sejak kecil, harus mandiri dan dan dewasa.


"Para wanita dikeluarkan ini juga hanya pembuat onar, dan dinikahkan dengan anggota keluarga sini juga agar tidak keluar jauh." Di melangkah ke kamarnya sebelum suaminya pulang.


Mendengar ucapan Di, Black merasa para wanita tidak dianggap penting sehingga tidak dikhususkan.


"Jangan salah paham, para wanita istimewa dan alasan mereka menikah juga karena cinta. Kisah cinta keluarga ini unik Black, dan para wanitanya memang banyak membuat ulah." Ai meminta Black mengikutinya ke rumah orang tuanya untuk bertemu Papinya.


Black kaget mendengar kisah cinta kedua orang tua Mira dan Mora, tapi kagum juga dengan perjuangan cinta mereka.


"Oh, sekarang mengerti kenapa para wanita istimewa. Sebenarnya bukan istimewa, tapi pembuat masalah." Black tertawa karena Aira, Isel bahkan Mora dan Mira selalu membuat rusuh.


Tendangan Aira melayang, Blackat meringis kesakitan membuat Ai memegang perut Black.


"Sakit,"


Kepala Black menggeleng sambil tertawa menatap Aira yang kesal, Keduanya melangkah bersama untuk pergi ke rumah Papinya Ai.


Dari lantai atas Altha sudah melihat Putri bungsunya bergaul dengan seorang pria yang sedang tersandung kasus.


"Pi, kenapa memangil Juan?"


"Apa dia lelaki itu?"


Kepala Juan menggeleng, memastikan jika Blackat bukan orang jahat. Dia memang sedang menjadi pemberitaan heboh, tapi itu bukan kebenarannya.


"Apa yang kamu lakukan selama ini? membiarkan Aira bergaul dengan seorang pria?"


"Pi, mereka itu selebriti. Mengenal banyak orang sesuatu yang normal dan diharuskan, mana ada selebriti tidak memiliki teman." Kepala Juan menggeleng meminta Papinya tidak terlalu keras kepada Aira.


Kepala Altha menggeleng, dia tetap tidak setuju dengan hubungan Aira dengan lelaki manapun. Alt akan menjodohkan Aira dengan Dean, Putra sahabatnya yang sudah pasti asal usulnya.


"Secepatnya Aira harus meninggalkan kepopulerannya,"


"Dean tidak punya rencana menikah muda, dia memiliki target yang besar." Juan masih membela Adiknya tidak setuju dengan perjodohan.


"Dean penerus satu-satunya, dia tidak bisa menunggu lama karena Dimas menginginkan penerus, jika Anggun sudah meminta maka Dean pasti mengabulkannya." Keyakinan Altha sangat besar, dan keputusannya dan Dimas sudah sepakat untuk menjodohkan.


Senyuman Juan terlihat, terserah Papinya saja. Juan tahu siapa Mommynya Dean, dia wanita yang sangat berpikir luas, keputusan tidak bisa di pengaruh oleh siapapun.

__ADS_1


Bagi Mommy Anggun kebahagiaan Dean segalanya, apapun keputusan Putranya selalu disupport dan tidak pernah memaksa. Tidak mudah membuatnya menyetujui karena Anggun hanya akan melihat sumber kebahagiaan bukan penerus keluarga.


"Kamu juga segera putuskan ingin menjadi dokter, dosen atau pengusaha?"


"Ketiganya?"


Altha menatap kaget Putranya yang memilih apapun selain menjadi polisi, tidak ada satupun anaknya yang mengikuti jejak Altha. Keempat cucu lelakinya akan meneruskan.


Suara Aira di lantai bawah sudah terdengar, Altha menuruni tangga memeluk Putri kecilnya yang pulang setelah berbulan-bulan, tidak langsung ke rumah.


"Papi, perkenalkan dia Blackat,"


"Siapa yang tidak mengenal dia? aktor yang menggunakan obat terlarang sampai kecelakaan. Pembuatnya membahayakan pengguna jalan, tidak pantas diikuti." Tatapan sinis Altha terlihat.


Blackat masih tersenyum, meminta maaf karena pembuatnya sungguh memalukan. Black akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.


"Aku tidak peduli apa masalah kamu, jangan pernah libatkan Putriku." Alt tidak suka dengan pemberitaan mengatakan jika Aira dan Blackat berpacaran.


"Tenang saja Om, itu tidak akan terjadi." Black memastikan jika pemberitaan tidak benar.


Aira merasa Papinya tidak menyukai Blackat, dari cara bicara juga terlihat menyudutkan. Sorotan mata juga sinis ingin Black segera pergi.


Sebagai seorang aktor, Black bisa memahami hanya melihat ekspresi saja jika Papinya Aira tidak menyukai keberadaannya.


Begitupun dengan Mami Aira yang pertama kali melihatnya langsung mengusir dan melarang mendekati Putrinya.


"Apa yang kalian lakukan berdiri di situ? Black duduk kamu masih belum sehat." Aliya meletakkan minuman untuk Blackat.


"Sayang, mana minuman aku?"


"Masih membutuhkan minum? aku pikir sudah kenyang dengan menyakiti perasaan orang." Suara Aliya menyindir terdengar.


Juan menahan tawa langsung menarik lengan Blackat untuk duduk sebelum teriakan Maminya terdengar.


"Maafkan Papi, dia hanya belum siap jika Aira mencintai lelaki lain." Juan bicara pelan meminta Black tidak mengambil hati.


Senyuman Blackat terlihat, menatap Altha yang merengek mengejar istrinya karena sudah dimarahi di depan orang lain. Suara manja terdengar meminta minuman.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2