
Kedua tangan Angga meremas kuat ponselnya tidak kuasa menahan hancur hatinya melihat Aira dan Dean bertunangan di depan banyak orang.
Air shower hidup menguyur tubuh Angga sampai basah kuyup, air mata yang mengalir tidak terlihat karena basah
Satu-persatu foto saat menghabiskan waktu bersama dihapus, Angga tidak akan pernah kembali setelah dirinya pergi dari negara yang menyimpan banyak kenangan.
Sekian banyak negara yang dikunjungi, Angga hanya merasa nyaman saat bersama Ai. Sekarang dia harus benar-benar pergi dari hidup Ai.
"Selamat tinggal Ai, maaf jika aku harus mati dari hidup kamu untuk selamanya." Mata Angga terpejam membiarkan air membasahinya.
Suara barang berjatuhan terdengar, Isel tidak bisa keluar dari hotel samapi acara selesai karena dia dari pihak keluarga dan ada tanda pengenal untuk tamu undangan.
"Yakin tidak ada jalan, Put?"
"Tidak ada, penjagaan sangat ketat. Dean sepertinya menyelidiki soal Blackat yang kemungkinan hanyut ke cabang sungai kecil." Putri menunjukkan komputernya kepada Isel yang langsung melihat ke layar.
Kepala Isel menggeleng, mereka akan segera ketahuan. Kedua tangan Isel terangkat dia harus pamitan kepada papa mamanya untuk menyelamatkan diri sendiri.
Pintu kamar mandi terbuka, Isel dan Putri melihat Angga basah kuyup mengambil baju langsung bersalin.
"Ingin ke mana kak?"
"Aku harus pergi sekarang, kalian keluar dari jalur khusus dan aku jalur umum." Angga menatap Isel yang nampak binggung.
Ucapan terima kasih Angga ungkapkan, dia tidak tahu cara membalas kebaikan Isel. Permintaan maaf juga tidak bisa menggubah apapun.
"Sel, Kak Angga pergi. Suatu hari kita akan bertemu kembali dengan kehidupan yang lebih baik. Selesaikan kuliah kamu dan berhenti mengkhawatirkan kak Angga." Senyuman Angga terlihat, dia akan mulai perjalanan mengeliling dunia untuk mncari tempat tinggal.
Kepala Isel mengangguk, saat lulu kuliah Isel akan menemui Angga. Mereka akan melihat masa depan apa yang akan terjadi.
Angga keluar dari kamar hotel, menggunakan kacamata sambil menundukkan kepalanya menghindari CCTV.
Banyak tamu undangan yang mulai pulang, Angga menatap Mora dan Mira yang duduk memperhatikan.
"Mora, Almira. Uncle pamit pergi, kalian jaga kesehatan dan titip salam untuk Mami Shin. Katakan kakak Angga pamit pergi." Angga memeluk dua gadis kecil yang selalu kompak.
__ADS_1
Tangan Angga mengambil gelang pengenal dari salah satu orang penting agar dia bisa keluar.
Menjadi seorang aktor memberikan banyak ilmu untuk Angga sehingga tidak sulit baginya untuk megambil tanda pengenal.
"Bye Uncle, nanti kita main ke negara baru Uncle." Teriakan Mora sangat besar menatap punggung Angga.
"Uncle, I love you. Mira sayang Uncle Black." Teriakan menggema terdengar.
Shin mendengar suara anak kecil langsung menoleh, di depan mereka sedang heboh karena pertunangan di batalkan oleh Dean.
Genggaman tangan Aira dan Dean erat, senyuman Dean tulus menhadap kedua orangtuanya.
"Mommy Daddy, maafkan Dean. Ternyata kita tidak berjodoh, bukan Dean yang menjadi pemiliknya. Siapapun nanti yang mendampingi Aira, harus mendapatkan izin dari Dean karena sejak kecil Dean dan Kak Juan bertugas menjadi penjagaan sampai ada lelaki tepat yang menggantikan." Tubuh Dean membungkuk meminta maaf kepada kedua orangtuanya karena dirinya tidak bisa mengikuti apa yang diharapkan keluarga.
Mommy memeluk keduanya, apapun pilihan Dean dan Aira akan menjadi pilihan terbaik juga untuk Anggun. Dia tahu jika Dean sudah menjadi lelaki dewasa yang tahu batasannya.
"Jika tidak ada rasa maka lepaskan,"
"Dean sayang Aira Mom," ucap Dean serius.
"Jika bahagianya bukan bersama Dean, lalu aku bisa apa Mom? Dean tidak ingin berjuang karena akan menyakiti diri sendiri. Kita bahagia sebagai saudara sudah lebih dari cukup." Dean menatap Altha meminta maaf, Aira tidak salah, tapi Dean yang menolak perjodohan.
Seluruh keluarga harus menerima keputusannya, dan meminta maaf karena mengumumkan di depan banyak saksi mata.
"Apa yang kamu lakukan Dean? Aira dipermalukan." Juan berjalan meninggalkan pelaminan mendekati seluruh keluarga yang sedang berkumpul di ruangan khusus.
"Maaf Kak,"
"Lepaskan Aira, kamu tahu tidak sedang mempermalukan keluarga kami. Jika tidak ingin seharusnya sejak awal menolak, bukan mengumumkan di depan umum." Suara Juan meninggi menarik tangan adiknya untuk menjauh.
Kepala Dean tertunduk, dirinya juga tidak tahu kenapa ingin mengumumkan. Hati ini menunjukkan kepada seseorang meskipun tidak tahu siapa yang dimaksudkan.
"Baguslah jika batal, kalian berdua memang sejak awal sama-sama berat dengan hubungan ini," Altha menyetujui keputusan Dean yang ingin Aira bahagia meskipun tidak bersamanya.
"Kebahagiaan Aira sudah tidak Papi, jujur Ai ingin melupakannya, tapi tidak bisa. Perasaan ini menyakitkan, menyiksa dan membuat Aira mati rasa." Air mata Aira menetes, memeluk Papinya yang juga memeluk erat.
__ADS_1
Panggilan ponsel Dean terdengar, orang yang dia kirim menyelusuri sungai menemukan titik terang. Blackat masih hidup karena diselamatkan oleh seorang pria tua yang tidak bisa bicara.
Black dibawa oleh seorang remaja dua tahun yang lalu, dan tidak tahu masih hidup atau sudah mati.
"Blackat masih hidup, dugaan Dean benar. Black hanyut di sungai kecil, bukan terbawa arus karena air sedang tinggi." Dean menatap Aira yang terduduk lemas hampir jatuh pingsan.
"Di mana dia sekarang?"
"Hanya satu orang tahu keberadaannya, juga keadaannya masih hidup atau sudah tiada. Isel kunci keberadaan Kak Blackat." Dean mencari keberadaan Isel, langsung keluar ruangan menemui Diana dan Gemal yang bersama tamu.
Diana langsung menyingkir, Isel sudah pamitan pulang ke kampus. Isel pergi tidak sendirian karena dia meminta bantuan agar ada helikopter yang menjemputnya agar segera pindah ke pesawat.
"Siapa orang yang bersama Isel Kak?"
"Putri,"
"Dia pasti Black yang sedang menyamar, Isel tidak punya pikiran." Dean mengumpat kasar.
"Putri, dia anaknya Nenek Taher. Isel menyembunyikan Kakak hitam dan melakukan pengobatan di luar negeri." Aira langsung berlari untuk mengejar Isel yang membawa Blackat pergi.
Dean juga bergegas menahan Aira karena terlalu bahaya jika di bertinndak gegabah. Ghiselin pasti memiliki alasan menyembunyikan Black.
"Apa orang yang kalian bicarakan Angga? dia pemuda yang melewati maut kesekian kalinya. Angga melakukan operasi berkali-kali, dan hampir mati juga berkali-kali." Hendrik meminta semuanya tenang menyelesaikan acara sampai akhir.
Tangan Lea gemetaran, pelayan yang datang ke kamarnya tenyata seseorang yang sangat ingin dia temui.
Senyuman pria sebelum ijab kabul ternyata memang kakaknya, Lea tidak salah melihat jika Black datang mengunjungi saat pernikahan.
"Kakak, ada di sini. Dia meberikan hadiah pernikahan." Lea menatap suaminya yang masih tegang soal kabar Blackat masih hidup.
Altha meminta Dean segera menyelidiki lebih dalam, ada beberapa detektif yang akan ikut membantunya menemukan kebenaran soal Black yang masih hidup.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1